Pangeran Elio

Pangeran Elio
Aku Mengingatmu Ibu


__ADS_3

Dinding yang dibangun menggunakan marmer senada dengan lantai, lampu penerangan yang terlihat mewah, serta nuansa yang berwarna coklat menambah kesan indah diruang makan Istana Corvus.


Rutinitas yang setiap hari dan setiap pagi selalu dilakukan bersama, yaitu sarapan pagi. Kakek Maverick, Raja Aiden dan Pangeran Elio berkumpul di satu meja makan yang sama menyantap berbagai macam makanan yang sudah disediakan oleh para pelayan istana.


“Hari ini jadwal bersantai kan?” tanya Raja Aiden


“Benar ayah” jawab Pangeran Elio


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Raja Aiden


“Belum tahu, aku pun bingung aku harus apa hari ini. Mungkin aku akan menghabiskan waktu di hutan.” ucap Pangeran Elio


“Lakukan hal yang kau suka dan kunjungilah teman-teman mu yang lainnya. Kita ini termasuk saudara, kita terikat janji yang besar. Itulah alasan ayah berteman dengan baik dengan seluruh raja lingkup 7 besar saat ini.” ucap Raja Aiden


“Ya... suatu saat aku akan seperti ayah” jawab Pangeran Elio


“Jangan malu untuk berdiskusi dan bercerita pada kakek atau ayahmu.” ucap kakek Maverick


“Iya iya kakek, kau sudah mengatakan itu lebih dari 10 kali padaku” ucap Pangeran Elio dengan raut wajah yang kesal


kakek Maverick tertawa mendengar jawaban Pangeran Elio ditambah ekspresi kesalnya.


“Kakek hanya ingin tahu apakah kau akan bercerita tentang perempuan yang kau suka nantinya. Itu yang kakek maksud” ujar kakek Maverick


“Kakek... Aku belum sampai ditahap seperti itu. Aku masih ingin menikmati masa mudaku” ucap Pangeran Elio


“Masa muda yang dipenuhi cinta itu menyenangkan” ucap kakek Maverick


“Kakek rindu masa muda?” tanya Pangeran Elio


“Iya, kakek rindu masa muda kakek. Melihatmu sudah cukup puas mengingat masa kakek muda dulu.” jawab kakek Maverick.


“Aku akan ceritakan semua yang aku rasakan ketika bertemu dengan wanita yang aku sukai, pada kakek. Bagaimana?” tanyaku


“Kau berjanji pada kakek?” tanya kakek Maverick dengan antusias


“Aku berjanji kakek” ucap Pangeran Elio


Pangeran Elio meletakkan peralatan makannya, membersihkan mulutnya kemudian dia berdiri dari kursinya melakukan penghormatan pada Raja Aiden dan kakek Maverick.


“Aku sudah selesai, jadi aku akan keluar lebih dahulu.” Ucap Pangeran Elio


Raja Aiden dan kakek Maverick mengangguk dan tersenyum, Pangeran Elio langsung keluar dari ruang makan dan menemui kuda yang masih muda namun dia bersikap sedikit emosional.


Pangeran Elio tersenyum dan mengelus leher kuda berwarna coklat yang dibilang emosional ini, beberapa perawat yang memberi makan kuda ini mengaku beberapa kali di gigit saat ingin memberikan makan.


Jadi, tidak semua penjaga kuda betah merawat kuda ini. Pangeran Elio juga jarang menggunakannya selain dilarang karena takut membahayakan dia juga ingin menunggu kuda ini jinak setidaknya 70%.


“Tenang... Aku adalah pemilik mu, aku Pangeran Elio. Kita akan berteman dengan baik bukan? Aku tidak membahayakan dirimu, aku berjanji akan merawat dan menjagamu, jadi baiklah padaku. Ya Guston?” ucap Pangeran Elio dengan lembut sembari mencoba memberinya makan dengan tangannya sendiri.


Guston, akhirnya menerima makanan yang disodorkan Pangeran Elio, dia bisa kalem sejenak karena belaian yang Pangeran Elio lakukan. Setidaknya Guston tenang sebelum diajak untuk bermain.


Guston adalah kuda berwarna coklat pekat yang tubuhnya tinggi, besar serta kekar. Mungkin Guston bisa jinak jika pemiliknya bisa selaras dengan suasana Guston.


Pangeran Elio mengeluarkannya dari kandang, tanpa penjagaan dan tanpa pengawasan Pangeran Elio menunggangi Guston di area pacuan kuda selama beberapa putaran.


Kemudian, ada suara tepuk tangan keras yang datang dari arah timur, Pangeran Elio langsung menoleh dan melihat kehadiran Putri Quely.


“Kau tampak gagah bersama kuda itu. Siapa namanya? Dia kuda jantan bukan?” tanya Putri Quely sembari memasang wajah cantiknya.


Pangeran Elio berdecak, dia bersedekap dan menatap Putri Quely dengan tatapan datar.


“Kenapa? Kau ingin membawanya? Dia tidak jinak jika dengan perempuan, itu informasi yang cukup untuk mu aku rasa.” ucap Pangeran Elio


“Dimana-mana kuda jantan akan merasa senang jika pemiliknya wanita, kau ini meremehkan aku ya? Biar aku tunjukkan” ucap Putri Quely


Putri Quely masuk ke area pacuan kuda, Pangeran Elio hanya menunggu apa yang akan terjadi pada sepupunya itu. Dia sudah memberikan informasi yang bisa dijadikan pertimbangan namun Putri Quely memaksa.


Putri Quely langsung mendekat dan mengelus leher Guston namun yang terjadi adalah Guston menoleh dan hendak mengigit tangan Putri Quely. Spontan Putri Quely menjauhkan tangannya dan membuka lebar matanya itu karena terkejut.


“Kenapa dia jahat” ucap Putri Quely


“Aku sudah mengatakannya padamu, dia tidak jinak jika bersama wanita. Jangan mengadu pada raja dan mengatakan ini salahku? Ini salah mu sendiri” oceh Pangeran Elio


“Letakkan dia didalam kandang” ucap Putri Quely

__ADS_1


“Kenapa? Aku sedang bermain bersamanya. Lagipula kenapa kau disini?” tanya Pangeran Elio


“Hei tampan! Aku kemari ingin bertemu peliharaanmu, Igr.” ucap Putri Quely


“Igr? Kenapa kau ingin bertemu?” tanya Pangeran Elio


“Tidak tahu, namun dia tampak keren sekali” jawab Putri Quely


“Jika bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Pangeran Elio


“Hanya berteman baik dengannya. Hei! Kau kira, hanya dirimu saja yang bisa berteman dengan hewan buas? Aku juga ingin tahu” ucap Putri Quely dengan memasang wajah cemberut.


“Mintalah para Raja Harris” ucap Pangeran Elio


“Ayah tidak akan mengizinkanku” jawab Putri Quely


“Mengundang Igr tidak semudah itu, aku butuh umpan. Dia tidak langsung muncul semudah itu.” Pangeran Elio


“Jadi, kenapa kau seakan bingung? Kita bisa berburu” jawab Putri Quely


“Kau akan aku jadikan umpan, bagaimana?” tanya Pangeran Elio


“Tidak! Apa kau sakit? Bagaimana bisa aku dijadikan umpan?” tanya Putri Quely dengan rasa kesal


“Jujur saja, Igr muncul lebih cepat ketika umpannya adalah manusia. Terbukti saat kau datang pertama kali disana” ucap Pangeran Elio


“Siapa yang mau menjadi umpan? Tidak ada, kau saja” ucap Putri Quely


“Kau yang ingin bertemu jadi kau harus muncul lebih dahulu. Kenapa aku?” oceh Pangeran Elio


“Terserah, aku akan menyapa kakek Maverick dahulu” ucap Putri Quely langsung meninggalkan Pangeran Elio


“Kau lihat Guston? Dia memang keras kepala seperti itu” ucap Pangeran Elio pada kudanya


“Baiklah, sepertinya kau memang harus masuk ke kandang. Besok kita main lagi.” Ucap Pangeran Elio


Dia langsung menungganggi Guston untuk sampai di dalam kandanganya dan keluar dari sana.


Pangeran Elio langsung masuk ke dalam istana dan beralih untuk sampai ke atap istana paling tinggi. Hari ini dia bebas jadwal kerajaan, Raja Aiden menetapkan kebijakan agar Pangeran Elio tidak terlalu lelah dengan semua kegiatan kerajaan yang dimiliki.


“Apa kabarmu ibu? Jika kau masih hidup dan berada disampingku, apakah yang sedang kita lakukan saat ini? Apakah kita akan balapan kuda? Memanah atau apa? Bu... Aku rasa ayah butuh pendamping, namun dia menolak karena kau cinta pertama dan terkahir ayah yang tidak bisa tergantikan. Itulah yang ayah katakan ketika aku tidak sengaja mendengarnya.” gumam Pangeran Elio saat melihat langit.


“Betapa beruntungnya kau ibu, ayah adalah lelaki setia yang sangat menyayangimu dan tulus padamu. Aku ingin tahu ayah seperti apa bagimu, aku ingin tahu tentang ayah lewat penilaianmu. Namun, aku memang kurang beruntung untuk mendengarkan itu. Bagaimana kalau aku mengunjungimu ibu? Kau tidak keberatan kan?” Pangeran Elio berdiri dari duduknya.


Kemudian masuk ke dalam istana, Pangeran Elio memetik bunga yang ditanam dihalaman belakang istana. Kemudian dia membawanya menuju makam ibunya—Ratu Carla.


“Ayah?” gumam Pangeran Elio ketika dia melihat ayahnya sedang menangis disamping tumpukan tanah.


(Ayah sesayang itu sama ibu, pasti rasanya sangat sakit dan terpukul ketika orang yang sangat ayah cintai meninggalkan dirinya untuk selamanya) batin Pangeran Elio.


Pangeran Elio memberanikan diri untuk mendekati ayahnya, namun saat sudah tersisa 3 langkah lebih dekat. Raja Aiden berdiri dari posisi duduknya dan membalikkan tubuh, dia terkejut ketika Pangeran Elio sudah berada didepannya dan melihat kondisi matanya yang memerah dan mengeluarkan air mata.


“Elio? Kau kemari untuk menemui ibumu bukan? Temui dia, dia pasti sangat merindukan mu.” Ucap Raja Aiden


Raja Aiden tersenyum, matanya yang berair dan memerah menyipit menjadi sebuah pemandangan yang indah untuk ditatap sangat dia tersenyum. Raja Aiden berjalan melewati Pangeran Elio dan menepuk pundak anaknya sekali.


“Ayah” panggil Pangeran Elio


Raja Aiden diam ditempatnya, dia menunggu apa yang akan anaknya katakan saat ini.


“Elio tahu ayah merasa terpukul melihat makam ibu, Elio tahu ayah sayang pada ibu. Kalau kau merasakan kesepian dan butuh teman, Elio selalu ada untuk ayah kapanpun itu. Ayah jangan merasakan semua kesedihan ini sendiri, darah ibu dan ayah mengalir di tubuh Elio. Elio juga berhak merasakan apa yang ayah rasakan.” Ucap Pangeran Elio


Raja Aiden membalikkan tubuhnya, dia tersenyum lagi kemudian mendekati Pangeran Elio dan memeluk anaknya tersebut dengan penuh kasih sayang.


“Kau tahu, ayah tidak berani menatap wajahmu terlalu lama. Ayah merasa takut.. ayah merasa gagal menjadi ayahmu karena tidak melindungi ibumu saat itu. Wajahmu... wajahmu mengingatkan ayah pada ibumu. Kau mewarisi banyak sekali dari ibumu dibandingkan ayah. Itulah alasan ayah tidak berani menatapmu terlalu lama karena ayah selalu merasa sedih mengingat ibumu...”


“Terima kasih nak, kau sudah menjadi anak yang baik untuk ayah. Kau sudah dewasa dan menjadi pangeran yang baik untuk Kerajaan Corvus. Terima kasih sudah menawarkan untuk saling berbagi kesedihan, ayah hanya ingin kau tidak ikut bersedih, namun ternyata... kita merasakan hal yang sama.” Papar Raja Aiden disela pelukannya dengan Pangeran Elio


Raja Aiden kembali meneteskan air mata dan dia menghapusnya segera sebelum melepaskan pelukan ini dengan anaknya.


“Ayah... Ibu tidak akan tenang jika ayah selalu sedih, ibu juga mau ayah bahagia bukan bersedih seperti ini.” Pangeran Elio melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Raja Aiden sembari menatap matanya.


“Ayah, lihatlah aku. Kau melihat sosok ibu di wajahku, bukankah itu sudah menjadi penawar rasa rindumu? Peluklah aku ketika kau ingin memeluk ibu, jangan ragu ayah.” Ucap Pangeran Elio


Pangeran Elio beralih memegang tangan ayahnya dan mengangkatnya ke depan wajah, menguatkan genggaman itu dan tersenyum.

__ADS_1


“Mulai sekarang, ayah tidak perlu menangis lagi. Kita harus bahagia dan senang sekarang. Bukankah itu yang ibu inginkan dari kita?” Pangeran Elio


Raja Aiden tersenyum, tangan kanannya meraih tautan tangan bersama anaknya.


“Baiklah, kita harus bahagia. Berjanjilah jangan menangis dibelakang ayah karena ibumu?” Raja Aiden


“Berjanjilah untuk tidak menanggunng beban kesedihan ini sendirian?” sahut Pangeran Elio


“Janji!” ucap Raja Aiden dan Pangeran Elio bersamaan.


“Baiklah, ayah masih harus mengurus sesuatu. Kau lanjutkan saja yang ingin kau lakukan sekarang. Putri Quely terus mengoceh karena kau tidak mau mengajaknya bermain.” Ucap Raja Aiden


“Dia selalu seperti itu sejak dulu, abaikan saja” ucap Pangeran Elio


“Dia sepupumu, kalau di abaikan dia akan menangis seperti dulu. Kau ingatkan?” Raja Aiden


“Yaa~ mau bagaimana lagi? Seperti itu lah sifatnya.” Jawab Pangeran Elio


“Kalian harus akrab. Ya sudah, ayah pergi dahulu.” Ucap Raja Aiden


Pangeran Elio menganggukkan kepala kemudian Raja Aiden pun pergi meninggalkan Pangeran Elio.


Pangeran Elio melangkahkan kaki mendekati makam Ratu Carla, kemudian dia meletakkan bunga itu di atas tumpukan tanah dan mencium nisan ibunya.


“Ibu, aku disini. Ibu lihat kan apa yang baru saja terjadi padaku dan ayah? Selama ini pasti ayah membuatmu tidak tenang karena selalu menangis disini kan? Tapi ayah sudah berjanji untuk tidak bersedih lagi seperti tadi. Ibu jangan khawatir, aku akan melindungi ayah walaupun nyawaku taruhannya. Ibu baik-baik saja kan disana? Aku yakin ibu sudah tersenyum sekarang melihat ayah yang sudah tersenyum lepas lagi...”


“Aku merindukanmu bu, aku tidak yakin apakah aku bisa mendapatkan perempuan yang sebaik dirimu, yang rasa sayangnya seperti mu. Aku ingin punya pasangan yang seperti ibu. Ibu cantik, ibu penyayang, ibu baik, ibu selalu ada untuk Elio, ibu juga berbakat bahkan ibu bisa membuat ayah jatuh cinta. Elio mau punya pasangan seperti itu, apakah Elio bisa mendapatkan wanita seperti itu bu? Elio rasa yang seperti itu hanya ibu saja ya... Ibu lihat Elio dari atas sana kan? Aku berharap ibu selalu bahagia, Elio sayang ibu.”


Pangeran Elio memeluk nisan ibunya, kemudian dia mengenggam tanah ditangannya untuk dia cium setelah itu diletakkan kembali. Pangeran Elio berdiri dari posisi jongkok nya.


“Sampai ketemu lagi, bu...”


Pangeran Elio membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam istana. Saat hendak masuk ke dalam kamar, Putri Quely langsung menghalangi jalan dengan berdiri dan merentangkan tangan didepan Pangeran Elio.


“Kenapa?” tanya Pangeran Elio


“Ajari aku menunggang kuda” ucap Putri Quely


“Kau bercanda? Kau sudah ahli menunggang kuda.” Jawab Pangeran Elio


“Ajari aku, aku tidak mau tertinggal dari Putri Kanzia.” Ucap Putri Quely


“Ada apa dengannya?” tanya Pangeran Elio


“Kau tahu? Kemarin Putri Kanzia memenangkan sesi berkuda dan memanah, bahkan gelar Putri Eugenie yang juara tiga kali berturut-turut dipatahkan oleh Putri Kanzia. Aku juga ingin memenangkan sesi itu untuk tahun depan, setidaknya sekali dalam hidupku.” Jelas Putri Quely


“Putri Kanzia yang menang?” tanya Pangeran Elio memastikan


“Iya benar, aku juga ingin memang seperti itu” ucap Putri Quely


“Jadi?” Pangeran Elio bertanya untuk memastikan tekad sepupunya.


“Ajari aku, mulai sekarang di hari ini dan di jam ini kau harus melatihku untuk berkuda. Setiap hari Sabtu di jam ini, aku akan kesini setiap Sabtu bersama kudaku, bagaimana? Kau setuju, tampan?” tanya Putri Quely


“Baiklah, aku akan membantumu.” Ucap Pangeran Elio


“Baiklah! Terima kasih sepupuku yang paling tampan, kau memang baik sekali” ucap Putri Quely saat dia memeluk Pangeran Elio saat ini.


“Hei, jangan erat-erat. Kau ingin membunuhku?” ucap Pangeran Elio ketika Putri Quely memeluk lehernya terlalu erat.


“Hahaha maaf, aku senang sekali.” Jawab Putri Quely.


“Kalau berlatih kau harus rajin dan jangan pernah membolos atau bolong. Mengerti? Jika membolos, bolong, atau bermalas-malasan kau akan aku beri hukuman.” Ucap Pangeran Elio


“Hukuman? Seperti apa?” tanya Putri Quely


“Ada, ini rahasia. Menyingkirlah.”


Pangeran Elio mendorong kening Putri Quely menggunakan jari telunjuknya kemudian dia masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu.


“Aku kan tamu disini, kenapa dia melayani tamu seperti ini? Huh, si tampan itu memang tidak pernah berubah!” oceh Putri Quely didepan kamar Pangeran Elio.


...•...


...•...

__ADS_1


.... to be continued ....


__ADS_2