
Pagi hari yang cerah ini, para pangeran dan putri sedang duduk tenang sambil meneguk minuman dan sekedar saling mengobrol satu sama lain. Karena pagi ini adalah jadwal para putri dan pangeran berkumpul di Istana Pejasone.
“Besok kita akan berkemah, jadi aku rasa sebaiknya ada hal baru yang menarik dari perkemahan besok.” ucap Pangeran Raynor
“Hal baru apa lagi? Jangan sampai aku melemparkan sepatu ku ini jika ide mu selalu aneh-aneh.” ucap Putri Hera dengan perasaan kesal.
Pangeran Raynor dan Putri Hera memang jarang akur, terlebih saat Pangeran Raynor berbicara rasanya sudah membuat Putri Hera naik darah.
“Aku hanya mengusulkannya, kenapa kau sudah marah?” ucap Pangeran Raynor sambil bersedekap
“Apa usulannya? Tunggu sebelumnya, kita harus bertanya dulu apakah para putri dan pangeran lainnya setuju untuk menambah kegiatan berkemah besok?” tanya Putri Quely
“Berkemah selama 5 jam, ditambah harus berburu dan berpetualang. Terkadang bisa kita selesaikan tepat waktu namun aku juga tidak bisa mengelak kalau kita pun sering kekurangan waktu.” Pangeran Zaire
“Benar, aku setuju dengan Pangeran Zaire. Itu pun kita sering mengalami keterlambatan. Jadi, aku rasa menambah kegiatan lain saat berkemah besok tidak masuk akal. Bukan begitu Pangeran Elio?” tanya Putri Hera
“Pangeran Zaire dan Putri Hera benar, dengan waktu 5 jam menyelesaikan 3 aktifitas juga masih kurang. Jadi aku rasa itu kurang efektif... Lain kali bisa aku pikirkan jika kalian ingin menambah kegiatan lain di jadwal hari itu.” ucap Pangeran Elio
Putri Hera meneguk minuman di gelasnya, sambil menaikan satu alisnya kepada Pangeran Raynor sebagai tanda bahwa Putri Hera menang.
Kriet
“Salam Yang Mulia pangeran dan putri. Saya kemari ingin menyampaikan pesan bahwa Yang Mulia Ratu Ails memanggil Pangeran Elio di singgasana nya.” ucap kepala pelayan Istana Pejasone.
“Baiklah, aku akan segera kesana.” ucap Pangeran Elio
Pangeran Elio berdiri dari duduknya dan langsung berjalan menuju ruang singgasana Ratu Ails, ratu yang memimpin Kerajaan Pejasone. Istana Pejasone memang menjadi tempat berkumpulnya para pangeran dan putri dari 7 Kerajaan Besar.
Namun, bukan berarti Istana itu sepi tanpa pemimpin. Istana Pejasone pun sering kali sepi, jadi pemimpin Kerajaan Pejasone sejak dahulu sudah menyetujui bahwa istana ini akan digunakan sebagai tempat berkumpulnya para pangeran dan putri.
Warga Kerajaan Pejasone juga sedikit tidak seperti warga kerajaan lainnya. Ratu Ails pun memimpin Kerajaan Pejasone saat ini.
Istana Pejasone menyediakan satu ruangan besar dan luas untuk para pangeran dan putri berkumpul setiap jadwal berkumpul. Jadi, mereka jarang sekali mendapatkan panggilan dari pemimpin Istana Pejasone karena mereka di berikan kebebasan dan privasi.
Pangeran Elio pun terkejut, dia tidak tahu apakah ini salahnya atau salah salah satu pangeran dan putri? Namun yang Pangeran Elio ketahui saat ini adalah para pangeran dan putri tidak membuat kesalahan atau kekacauan selama ini.
Saat pintu besar yang terbuat dari emas itu terbuka, Pangeran Elio melangkah dengan tegap dan penuh percaya diri. Kemudian matanya menangkap sosok putri berambut pirang tergulung rapi menggunakan kembang sebagai hiasan.
Namun dia kembali fokuskan pandangan pada Ratu Ails yang sudah berdiri tegap di depan sana. Ratu Ails tersenyum pada Pangera Elio saat dia memberikan salam hormat.
“Salam Yang Mulia Ratu Ails, saya disini memenuhi perintah anda.” ucap Pangeran Elio.
“Aku senang kau menjadi pemimpin para pangeran dan putri dari 7 Kerajaan Besar. Jangan khawatir, aku memanggil mu bukan untuk memberi teguran atau hukuman. Aku memanggil mu kesini karena kalian kedatangan seorang putri cantik yang akan bergabung mulai hari ini...”
“Silahkan perkenalkan dirimu pada Pangeran Elio, putri.” ucap Ratu Ails
“Salam... Saya Putri Charlotte Kanzia Bernadette Leo Diamond, anda bisa memanggil saya Putri Kanzia. Saya dari Kerajaan Diamond” ucap Putri Kanzia
“Salam... Saya Pangeran Elio dari Kerajaan Corvus.” ucap Pangeran Elio
“Senang bertemu dengan anda, Pangeran Elio” Putri Kanzia
Pangeran Elio memberi hormat untuk menjawab ucapan Putri Kanzia.
“Sekarang kalian bukan lagi 7 Kerajaan Besar, tapi 8 Kerajaan Besar. Lengkapnya Putri Kanzia bisa menceritakannya di lain waktu jika memungkinkan.” ucap Ratu Ails.
“Baik Yang Mulia, terima kasih atas informasinya.” ucap Pangeran Elio
“Kalian bisa kembali ke ruang kumpul” ucap Ratu Ails yang membalikkan badan dan kembali duduk di singgasana nya.
Pangeran Elio dan Putri Kanzia memberi salam hormat lalu setelahnya mereka keluar dari ruang singgasana Ratu Ails. Sepanjang perjalanan di koridor Istana Pejasone, Putri Kanzia terus-terusan berbicara. Pangeran Elio kebetulan orang yang tidak suka banyak bicara jika bukan hal yang penting.
“Kerajaan Corvus ya? Saya sering dengar tentang Kerajaan Corvus, suatu kebanggaan untukku bisa bertemu dengan Putra Mahkota dari Corvus. Kita akan berteman bukan?” Putri Kanzia
“Aku rasa” ucap Pangeran Elio
“Oh begitu rupanya... tidak apa, mungkin anda tidak suka dengan orang baru. Namun saya yakin anda akan terbiasa, anggap saja saya tidak pernah masuk ke lingkaran kerajaan anda, pangeran.” Putri Kanzia
“Lain kali jika sudah berteman, bolehkah saya berkunjung ke rumah mu?” tanya Putri Kanzia
“Silahkan..” ucap Pangeran Elio
“Wah... sebuah kehormatan besar bagi saya saat Pangeran Elio mengizinkannya.” ucap Putri Kanzia
Pangeran Elio berhenti didepan pintu emas besar yang dilapisi perak di pinggirnya, dia menarik nafas kemudian dia menghadap ke arah Putri Kanzia namun tidak dengan menatap matanya. Dia menatap rambut Putri Kanzia.
__ADS_1
“Biar aku jelaskan, di dalam ruangan ini ada banyak pangeran dan putri. Mereka juga teman barumu, jadi perkenalkan diri dengan baik jika waktunya memungkinkan kau bisa bercerita tentang latar belakang kerajaan jadi semua orang tidak berpikir negatif tentang kerajaan mu yang masuk ke lingkup 7 Kerajaan Besar. Setelahnya aku akan mengirimkan jadwal para putri dan pangeran setiap harinya.” ucap Pangeran Elio menjelaskan semuanya pada Putri Kanzia.
“Baiklah, saya mengerti.” Putri Kanzia mengangkat gaunnya dan merendah sedikit memberi hormat.
“Satu lagi, kau bisa berbicara biasa seperti itu. Memakai saya-anda terlalu formal. Sesuaikan saja dengan yang lain, kau bukan orang asing lagi bagi kami.” ucap Pangeran Elio
“Baik, aku mengerti!” ucap Putri Kanzia bersemangat.
Saat pintu terbuka, semua putri dan pangeran yang ada di dalam menatap ke arah Putri Kanzia. Mereka memasang wajah yang ceria jadi tidak terkesan untuk menyudutkan seakan mereka ramah dengan orang asing.
“Ayo masuk.” ucap Pangeran Elio
Putri Kanzia mengikuti Pangeran Elio untuk melangkah masuk ke ruangan kumpul. Putri Kanzia berhenti tepat disebelah kanan Pangeran Elio kemudian dia memberikan penghormatan dan memperkenalkan diri.
“Salam... Senang bertemu dengan kalian semua, aku Putri Charlotte Kanzia Bernadette Leo Diamond, kalian bisa memanggilku Putri Kanzia. Aku berasal dari Kerajaan Diamond, kerajaan ku sudah resmi masuk ke dalam lingkup 7 Kerajaan Besar yang mungkin saat ini menjadi 8 Kerajaan Besar...”
“Alasan mengapa Kerajaan Diamond masuk ke lingkup 7 Kerajaan Besar karena 3 hari yang lalu kami sudah menaklukan Kerajaan Tamsil dan Kerajaan Yoama. Ayahku, Raja Parvio sudah resmi mendaftarkan Kerajaan Diamond pada ketua 7 Kerajaan Besar ini, Yang Mulia Raja Harris 1 hari yang lalu. Jadi aku minta tolong bantuan kalian selagi aku beradaptasi disini, terima kasih.” ucap Putri Kanzia dengan intonasi yang jelas.
Para putri langsung berdiri dan berjajar rapi di belakang kursi masing-masing, kemudian mereka memberikan salam penghormatan pada Putri Kanzia.
“Salam Putri Kanzia” ucap para putri bersamaan.
“Aku harap kau bisa beradaptasi dengan kami” ucap Putri Hera memberikan senyuman yang membuat matanya menghilang
“Berteman baik lah dengan kami, Putri Kanzia” ucap Putri Quely memberi senyuman manis
“Kami akan membantumu.” ucap Putri Lizzie dengan membungkukkan badannya
Putri Kanzia tersenyum lebar, kemudian Putri Hera mendampingi Putri Kanzia untuk duduk di kursi kosong sebelah Putri Eudora. Sementara itu, Pangeran Elio kembali duduk di tempatnya dan meneguk air mineral.
Setelah semua duduk, yang semula suasana canggung berhasil cair kembali karena pertanyaan dari Pangeran Theonor.
“Kerajaan Tamsil dan Kerajaan Yoama, itu kerajaan dari Utara bukan?” tanya Pangeran Theonor sembari menatap air mineral yang ada di depan Putri Kanzia.
“Benar, mereka kerajaan dari Utara.” Putri Kanzia
“Iya... memang saat itu sedang beredar rumor kerajaan dari Utara sedang goyah. Rupanya sedang terjadi penaklukan ya... Selamat untuk mu, Putri Kanzia.” Pangeran Xavier
“Iya, Pangeran Xavier benar. Kerajaan Utara sedang tidak baik-baik saja. Ternyata hal itu membuat lingkup kita bertambah satu kerajaan ya..” Pangeran Theonor senyum manis.
“Jadi, istana mu mendapatkan perluasan wilayah ya?” tanya Putri Jannesa
“Iya, kami memperluas wilayah. Karena Kerajaan Yoama lebih luas wilayahnya di bandingkan Kerajaan Tamsil.” Putri Kanzia.
“Baiklah, aku mengerti sekarang. Semoga kita bisa menjadi teman!” Pangeran Raynor tersenyum dan mengangkat tangannya ke udara.
“Jangan berteman dengannya jika ingin kondisi kesehatanmu baik-baik saja. Itu adalah peringatan dan saran dariku, Putri Kanzia.” ucap Putri Hera.
“Hei... kenapa kau berkata begitu?” tanya Pangeran Raynor
“Apakah ucapanku salah? Itu bukti, bukti nyata.” Putri Hera kesal
“Hei... hanya kau saja yang bertingkah seperti ini. Yang lainnya tidak mempermasalahkan hal itu.” ucap Pangeran Raynor tidak kalah kesal.
“Lebih baik mereka menikah saja” ucap Putri Eudora pelan, namun hal itu membuat Putri Kanzia tertawa kecil karena mendengarnya.
“Hei hei... Apa yang sedang kalian lakukan? Sampai kapan kalian akan bertengkar seperti itu? Kita kedatangan teman baru, kenapa kalian memberikan kesan buruk begitu? Kau tidak lihat raut wajah Putri Kanzia ketakutan?” ucap Pangeran Aragon yang sedang menengahi aksi perkelahian dari Pangeran Raynor dan Putri Hera.
“Lebih baik tunjukkan ketampanan kalian di depan Putri Kanzia” ucap Pangeran Aragon sambil membenarkan rambut dan pakaiannya lalu mengedipkan mata.
“Apa yang kau lakukan? Kau lebih mengerikan dari pertengkaran tadi. Jangan menggodanya.” ucap Putri Quely kesal pada sepupunya itu.
Putri Kanzia tertawa kecil, dia bahagia bisa disambut dengan hangat oleh para pangeran dan putri yang baru saja dia kenali hari ini.
...• • •...
"Baiklah, aku rasa cukup sampai disini rapat pertemuan kita. Aku harap besok kalian semua bisa mengikuti jadwal yang ada. Jangan terlambat dan persiapkan dengan baik." ucap Pangeran Elio sambil menatap semua orang yang duduk di ruangan ini.
"Baik!" jawab para putri dan pangeran kemudian mereka berdiri dari duduknya untuk kembali ke istana masing-masing.
Saat Putri Kanzia hendak pergi, Pangeran Elio mengejarnya. Kemudian dia berdiri di hadapan Putri Kanzia.
"Oh? Salam Pangeran Elio... Ada keperluan apa?" tanya Putri Kanzia dengan tatapan bingung
"Besok para pangeran dan putri akan melakukan kegiatan berkemah. Yang memang dilakukan satu kali dalam seminggu. Kau ikut kegiatan itu kan?" tanya Pangeran Elio dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Tentu! Karena aku sudah jadi bagian dari kalian, tentu saja aku harus mengikuti apapun jenis kegiatannya kan?" ucap Putri Kanzia
"Baiklah, kalau begitu persiapkan dengan baik yang sudah di rapatkan tadi." ucap Pangeran Elio, dia membungkuk memberi hormat kemudian membalikkan badan.
Namun, Putri Kanzia menghadang Pangeran Elio di depan gerbang utama Istana Pejasone.
"Ada apa?" tanya Pangeran Elio tanpa berekspresi sama sekali
"Aku akan mengatur jadwal ku di istana, jadi bisakah aku mendapatkan jadwal itu hari ini?" tanya Putri Kanzia sambil menatap kedua mata Pangeran Elio.
"Bisa, kau bisa ikut aku ke Istana." ucap Pangeran Elio
"Baik, aku menunggang kuda. Jadi aku bisa mengikuti mu dari belakang" ucap Putri Kanzia di ikuti senyum lebarnya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat" Pangeran Elio mendahului Putri Kanzia.
Namun, sosok Putri Athanasia sedang menunggu di tempat kuda di simpan. Dia bahkan tersenyum saat Pangeran Elio hendak datang.
"Salam Pangeran Elio" ucap Putri Athanasia sambil memberi hormat
"Salam Putri Atha, kenapa kau belum pulang?" tanya Pangeran Elio sambil membuka pintu kandang kuda.
"Aku? Aku menunggumu, pangeran." Putri Athanasia
"Jangan menungguku, kau akan kelelahan." ucap Pangeran Elio sambil mengelus kudanya
"Aku tidak pernah merasa lelah menunggu mu" ucap Putri Athanasia
(Apa ini? Apa mereka saling mencintai?) batin Putri Kanzia yang hanya menyimak suasana di depannya.
"Lebih baik kau pulang" ucap Pangeran Elio mengalihkan pandangan pada Putri Athanasia sementara.
"Aku akan pulang ketika kau pulang, pangeran" ucap Putri Athanasia
"Putri Atha, aku sudah mengatakan padamu untuk tidak menungguku. Itu membuang-buang waktu mu." ucap Pangeran Elio sambil menggiring kuda nya untuk keluar kandang.
"Kenapa kau berdiri disitu Putri Kanzia? Ambil kuda mu" ucap Pangeran Elio, kemudian dia menaiki kudanya itu.
(Dia seperti pangeran tampan yang ada di dongeng) batin Putri Athanasia saat menatap Pangeran Elio dari bawah.
"Sebaiknya kau pulang ke istana mu, tuan putri. Aku pamit, salam..." Pangeran Elio memberi salam di dada kemudian dia menunggangi kuda untuk kembali ke Corvus diikuti Putri Kanzia di belakangnya.
...• • •...
Sesampainya di Corvus, Pangeran Elio menyerahkan kudanya pada prajurit yang menjaga di halaman istana. Begitu pula dengan Putri Kanzia.
"Ikuti aku."
Pangeran Elio langsung masuk ke dalam istana dan masuk ke dalam ruang kerja pribadi miliknya.
Namun karena berjalan menunduk, kening Putri Kanzia menabrak pintu kayu berwarna coklat didepannya.
"Aduhh... sakit rasanya. Aku tambah malu" gumam Putri Kanzia sembari mengusap dahinya.
Pangeran Elio keluar dari ruang kerjanya membawa satu gulungan kertas, kemudian dia berikan pada Putri Kanzia. Putri Kanzia menerimanya masih dengan kepala menunduk malu.
"Kau tak apa-apa?" tanya Pangeran Elio
Putri Kanzia langsung menatap Pangeran Elio di depannya dengan tatapan terkejut hingga membulatkan bola matanya. Dan saat itulah Pangeran Elio bisa melihat kening Putri Kanzia memerah.
"Ti-tidak aku-"
"Sepertinya menabrak dengan keras ya. Akan aku antarkan kau ke tabib istana" Pangeran Elio sudah melangkah namun bajunya ditahan oleh Putri Kanzia.
Mata Pangeran Elio dan Putri Kanzia bertemu, Putri Kanzia buru-buru melepaskan tangannya dari baju Pangeran Elio kemudian dia menundukkan kepala lagi.
"Tidak perlu pangeran, aku baik-baik saja. Karena aku masih ada jadwal lain di istana aku pamit pergi. Terima kasih jadwalnya, salam Pangeran Elio" Putri Kanzia memberikan salam hormat kemudian dia pergi dengan terburu-buru.
"Aduhh... aku malu banget. Semua orang menatapku begitu, kenapa aku harus menabrak pintu, semua orang makin menatapku aneh." gerutu Putri Kanzia sepanjang perjalanan keluar Istana Corvus.
...•...
...•...
.... to be continued ....
__ADS_1