
“Baiklah... Semua orang sudah berkumpul ya?” ucap Pangeran Elio sembari mengedarkan pandangan untuk mengecek satu persatu para pangeran dan putri.
“Baiklah, kita bisa berangkat sekarang.” ucap Pangeran Elio
Para pangeran dan putri langsung berjalan kaki menuju hutan, mereka akan sampai dalam 15 menit. Diperjalanan Pangeran Aragon sibuk berbincang dengan Pangeran Elio bisa dibilang Pangeran Aragon bergosip tentang Putri Kanzia.
Pangeran Elio tentu saja tidak peduli, dia hanya diam dan mengedarkan pandangan melihat pohon-pohon di sekitarnya.
“Kau tau, dari banyaknya putri yang pernah aku lihat... Putri Kanzia adalah putri yang paling cantik dan anggun. Kau merasa seperti itu tidak?” tanya Pangeran Aragon
“Tidak” ucap Pangeran Elio
“Hei... Kau sebenarnya normal atau tidak sepupuku? Bukalah matamu-“
“Mataku sudah terbuka” potong Pangeran Elio
“Baiklah, maksudku kau harus lihat sekitar. Kita itu dikelilingi banyak putri cantik. Aku pun sempat di tawari menikah dengan salah satu putri, memang saat itu masih kecil tapi aku sudah merasa tampan dan banyak yang menyukaiku.” Pangeran Aragon
“Siapa yang bilang kau jelek?” tanya Pangeran Elio sembari menatap sepupunya, Pangeran Aragon.
“Kau, kau pernah bilang aku jelek.” jawab Pangeran Aragon diakhiri desisan dan tatapan sinis
“Tapi kau memang kadang jelek kadang tampan, wajahmu tidak konsisten” ledek Pangeran Elio
“Biarpun tidak konsisten, tapi banyak yang suka denganku.” jawab Pangeran Aragon dengan senyumannya
“Kita sudah masuk ke area hutan” ucap Pangeran Elio
“Biar aku saja” ucap Pangeran Aragon dan di jawab anggukan kepala oleh Pangeran Elio.
“Baiklah, karena kita sudah masuk area hutan dan medan tidak mudah. Kita harus saling membantu satu sama lain. Kalian dengar kan?” ucap Pangeran Aragon dengan berteriak.
“Mengerti!!!” teriak Putri Quely paling keras
Mereka melanjutkan perjalanan dan para pangeran tanpa diperintah sudah lansung mengawal para putri di belakang mereka. Hingga Pangeran Elio harus berjalan di belakang Putri Kanzia dan sepupunya—Putri Quely.
“Wahh... Kau yang menjagaku dan Putri Kanzia” ucap Putri Quely
“Aku hanya ingin dibelakang saja” ucap Pangeran Elio
“Harusnya kau inisiatif menjagaku, aku kan sepupumu.” ucap Putri Quely
“Mungkin Pangeran Elio benar, dia hanya ingin dibelakang.” ucap Putri Kanzia
“Sebaiknya kalian perhatikan jalannya” ucap Pangeran Elio
“Baiklah baiklah” jawab Putri Quely dengan nada rendah
“Putri Kanzia, apa besok aku boleh ke Istana mu? Hanya untuk berkunjung saja.” tanya Putri Quely
“Tentu saja, kau bisa datang semau mu.” ucap Putri Kanzia
“Aku akan datang bersama Pangeran Elio, benar kan?” tanya Putri Quely
“Tidak, besok aku pelatihan perang.” ucap Pangeran Elio
“Ayolah pangeran... Raja berkata aku boleh pergi jauh jika bersama denganmu. Kau adalah salah satu pangeran yang sangat dipercaya Raja Harris.” ucap Putri Quely
“Tapi aku ada kegiatan di Corvus” ucap Pangeran Elio
Putri Quely berpegangan pada batang pohon untuk menaiki tanah yang lebih tinggi didepannya, ketika sampai diatas dia berdiri sambil berkacak pinggang.
“Kau ikut ya Pangeran Elio?” tanya Putri Quely
Pangeran Elio dan Putri Kanzia yang masih di tanah yang rendah pun mendongak melihat Putri Quely, setelahnya Putri Quely mencoba berpegang pada akar pohon yang menonjol ke permukaan tanah. Namun, dia tergelincir dan kembali di posisi awal dia berdiri.
“Mungkin dia tidak ingin menemanimu, dia punya hal yang lebih penting dibanding hal itu Putri Quely.” ucap Putri Kanzia
Pangeran Elio menghela nafas, dia memasang ekspresi datar. Kemudian dia memegang pinggang Putri Kanzia dan mengangkatnya untuk menaiki tanah yang lebih tinggi.
“Tidak ada hal yang lebih penting, aku akan menemanimu Putri Quely” jawab Pangeran Elio setelah Putri Kanzia sejajar dengan Putri Quely.
Putri Kanzia langsung membulatkan matanya, dia tidak menyangka Pangeran Elio akan menjawab candaannya sehingga suasana menjadi tampak tegang karena tatapan Pangeran Elio dan wajah datarnya.
Kemudian Pangeran Elio langsung menaiki tanah yang lebih tinggi dan langsung berjalan mendahului Putri Quely dan Putri Kanzia begitu saja. Putri Quely mengangkat kedua bahunya dan membuat downsmile.
“Apa dia tersinggung dengan ucapanku barusan, tuan putri?” tanya Putri Kanzia
“Jangan pedulikan sikapnya tuan putri, dia memang seperti itu.” jawab Putri Quely sembari menepuk punggung Putri Kanzia.
Putri Quely langsung mengikuti langkah Pangeran Elio, sedangkan Putri Kanzia masih diam ditempatnya.
“Haruskah aku meminta maaf?” gumam Putri Kanzia.
“Apa dia marah hanya karena candaan itu?” gumam Putri Kanzia lagi
“Putri Kanzia!! Ayo!” teriak Putri Quely sembari mengayunkan tangan kanannya ke udara.
“Baik tuan putri!” jawab Putri Kanzia dengan keras.
...• • •...
Setelah para pangeran dan putri selesai mendirikan tenda, Pangeran Aragon mengumpulkan semua nya dan membagi tim untuk melakukan satu misi.
“Silahkan berkumpul berdasarkan tim nya masing-masing” ucap Pangeran Elio
Semua langsung mencari timnya dan berkumpul menjadi satu dan disitulah semua orang mengeluh satu sama lain.
“Kenapa aku harus satu tim denganmu? Bisa aku pastikan misi kali ini kalah” ucap Putri Hera sambil menatap sinis Pangeran Raynor.
__ADS_1
“Hei tuan putri, kau kira jika aku satu tim denganmu akan menang?” jawab Pangeran Raynor
“Firasatku sudah tidak enak” gumam Pangeran Dragomir yang pasrah berada ditengah keributan timnya.
“Bisakah Pangeran Zaire bertukar denganku? Aku ingin bersama Putri Lizzie” ucap Putri Jannesa
“Aku tahu kalian tidak bisa dipisahkan, setidaknya terima saja pembagian ini” jawab Putri Eudora sambil tertawa
“Aku akan menjadi beban tim kalian” gumam Putri Jannesa bersedih
“Aku memohon kerja samanya, tuan Putri Kanzia” ucap Pangeran Theonor dengan lembut dan memberi hormat, hingga Putri Kanzia terkejut dan spontan ikut memberi hormat.
“Aku senang bisa masuk menjadi tim mu, tenang saja. Kau bisa mengandalkan aku dalam hal ini” ucap Putri Kanzia sambil tersenyum tipis
“Terima kasih tuan putri” jawab Pangeran Theonor
“Lihatlah tim bahagia dan damai disana, Pangeran Theonor memang cocok dengan Putri Kanzia” ucap Putri Athanasia yang sempat memperhatikan Putri Kanzia dengan Pangeran Theonor.
“Aku akan melindungimu kak” ucap Pangeran Xavier
“Aku sangat berterima kasih, tapi jangan buat dirimu terbebani karena satu tim denganku” ucap Putri Athanasia.
Pembagian tim kali ini benar-benar diluar dugaan, karena yang membuat timnya bukan Pangeran Elio melainkan Raja Aiden. Karena saat malam hari, Pangeran Elio akan membagi tim untuk misi berburu kali ini namun Raja Aiden datang dan memiliki ide untuk membantu anaknya itu dengan catatan dia tidak boleh membuka kertas pembagian tim hingga saatnya tiba.
Pembagian tim kali ini terdapat 5 tim. Tim 1 terdiri Pangeran Raynor, Pangeran Dragomir dan Putri Hera. Tim 2 terdiri dari Pangeran Elio, Putri Athanasia dan Pangeran Xavier.
Tim 3 terdiri dari Pangeran Aragon, Putri Eudora dan Putri Jannesa. Tim 4 terdiri dari Pangeran Zaire, Putri Lizzie dan Putri Quely. Tim 5 terdiri dari Pangeran Theonor dan Putri Kanzia.
Setelah Pangeran Elio memberikan peta dan petunjuk misi kali ini, para tim langsung menyebar dan mencari misi mereka masing-masing. Pangeran Elio pun tidak mengetahui apa yang Raja Aiden tuliskan di kertas masing-masing tim.
Dan sudah menjadi peraturan untuk mereka, jika sudah terbagi menjadi tim maka tim satu dan yang lainnya itu musuh. Jadi yang menang akan mendapatkan penghargaan dari Ratu Ails di Istana Pejasone berbeda dengan peraturan zaman dahulu.
Mereka mulai menyisiri rute hutan yang ada di peta, saat di tengah perjalanan Putri Athanasia mendengar suara kemudian dia langsung menarik busur panah dan mengarahkannya menuju asal suara berasal, dibelakangnya Pangeran Elio dan Pangeran Xavier bersiaga.
“Apa kau mendengar suara musuh tuan putri?” tanya Pangeran Elio
“Bukan, aku rasa itu hewan buas” ucap Putri Athanasia
“Tapi aku rasa dia hanya lewat saja” imbuh Putri Athanasia dan menurunkan busur panahnya.
“Ya sudah, mari kita lanjutkan perjalanannya” ucap Pangeran Xavier
Mereka langsung melanjutkan perjalanan.
“Apa kali ini kau yang menyusun peta dan pembagian tim nya?” tanya Pangeran Xavier
“Tidak, Raja Aiden yang melakukannya.” jawab Pangeran Elio
“Ini terlalu detail, apakah Raja Aiden pernah menyusuri hutan ini?” tanya Putri Athanasia.
“Iya, Raja Aiden suka berkelana dari hutan ke hutan jika memiliki waktu senggang.” Pangeran Elio memberikan senyum tipis
“Waah... tidak aku sangka kita akan bertemu dipersimpangan yang sama” ucap Pangeran Dragomir
“Kami siap bertarung” ucap Pangeran Theonor didepan Putri Kanzia
“Kau dapat keberanian darimana Pangeran Theonor?” tanya Pangeran Dragomir
“Aku memang pemberani, kalian saja yang tidak menyadari” ucap Pangeran Theonor
“Terlalu lama” Putri Hera sudah mulai menyerang
Pertarungan antara tim 1 dan tim 5 pun terjadi, mereka saling beradu skill berperang yang selama ini mereka pelajari. 3 lawan 2 jumlah yang tidak sepadan namun Pangeran Theonor dan Putri Kanzia bisa mengatasinya.
Putri Kanzia berguling dan menusuk pedang ke arah punggung Putri Hera, tentu saja Putri Hera terkejut gerakan cepat seperti berkedip. Dibalik punggung Putri Hera, Putri Kanzia tersenyum miring.
“Tidak akan aku biarkan kau lari” Putri Kanzia
“Ku rasa kau mengambil lawan yang salah” ucap Putri Hera segera berbalik dan melawan serangan.
Dengan menggunakan beladiri yang mereka jaga agar tidak terlepas, Putri Hera berhasil tersungkur ke tanah, Putri Kanzia membantu Pangeran Theonor dengan melawan Pangeran Dragomir.
Mereka beradu pedang, sementara saat sedang duduk diatas tanah, Putri Hera mengamati gerak-gerik perlawanan Putri Kanzia yang lihai dan menggunakan gerakan cepat itu membuat dia seakan sedang menyaksikan perang sungguhan antar kerajaan.
“Sepertinya Putri Kanzia tidak selemah lembut yang dilihat” gumam Putri Hera.
“Dia lincah dan cekatan sekali” gumam Putri Hera lagi.
Setelah berhasil mengalahkan tim 1, tim 5 langsung kabur sesuai dengan rute yang sudah mereka pahami.
"Mereka keren juga" ucap Pangeran Raynor sambil memegangi pundak sebelah kiri dengan tangan kanan.
"Iya, Putri Kanzia juga hebat. Sepertinya mereka juga tidak boleh di remehkan" ucap Putri Hera
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan. Waktunya tidak banyak." ucap Pangeran Dragomir
Tim 1 langsung berjalan lagi menyusuri hutan sambil membawa peta dan petunjuk.
Sedangkan tim 2 dan tim 3 sudah menemukan ikon mereka, binatang kijang. Mereka mengejar Kijang itu bersama-sama hingga berpencar.
Tidak lupa dengan panah yang mereka bawa di tangan masing-masing.
"Ke Utara!" teriak Pangeran Elio
Semua berpencar hingga tim 2 dan tim 3 di pertemukan pada 1 tempat bersama dengan kijang itu juga.
"Wah... ternyata ini sebuah kompetisi untuk mendapatkan satu binatang yang sama ya." ucap Pangeran Aragon
"Tidak aku sangka kalau kalian adalah musuh kita" ucap Putri Eudora
__ADS_1
"Lebih baik selesaikan sekarang, sebelum terlambat" ucap Putri Jannesa sambil mengeluarkan busur panah untuk memanah kijang tersebut.
Putri Jannesa berebut dengan Putri Athanasia. Mereka fokus membidik sementara yang lainnya bertarung menggunakan pedang.
Masing-masing mengeluarkan skill yang dimiliki, Putri Eudora melawan Pangeran Elio sedangkan Pangeran Aragon dengan Pangeran Xavier.
"Kau tidak tega dengan perempuan, pangeran?" tanya Putri Eudora disertai smirk di akhir kalimat nya
"Musuh, apakah dia perempuan atau laki-laki. Aku tidak pernah punya rasa tidak tega." jawab Pangeran Elio dengan tatapan dinginnya
Putri Eudora sempat tersentak dan membulatkan matanya, atmosfer diawal mereka berkontak mata berbeda dengan yang sekarang.
(Dia... rasanya kejam sekali. Ini kan hanya permainan kenapa terasa seperti sungguhan) batin Putri Eudora.
Pangeran Elio membuyarkan pikiran Putri Eudora dengan menyingkirkan pedang di wajahnya menggunakan pedang yang Pangeran Elio pegang.
Pedang Putri Eudora langsung terjaruh ke tanah dan Putri Eudora langsung menarik nafas panjang.
"Kalah" ucap Pangeran Elio
"Kita menang!" teriak Putri Athanasia
Semua mata tertuju pada kijang yang sudah mati dengan panah yang terdapat bendera tim 2.
"Baiklah. Tim 2 menang" ucap Putri Jannesa
Tim 2 langsung membawa hasil buruan mereka dan kembali ke area perkemahan.
...• • •...
Sampai di area perkemahan, para pangeran dan putri memakan daging kijang yang sudah mereka bersihkan dan bakar di hutan ini.
Mereka pun duduk di melingkari daging kijang yang beralaskan daun. Setelah itu, mereka masing-masing berbincang satu sama lain.
"Putri Kanzia... Besok aku ke istana mu ya bersama Pangeran Elio." ucap Putri Quely
"Iya, aku menunggu kedatangan mu dan Pangeran Elio, tuan putri." ucap Putri Kanzia sembari tersenyum manis
"Kau suka koleksi apa?" tanya Putri Quely berbisik
"Aku? Aku suka mengoleksi pedang." jawab Putri Kanzia diakhiri senyum kudanya
"Pedang? Kau ahli bertarung menggunakan pedang?" tanya Putri Quely
"Tidak, aku tidak ahli. Ada banyak pedang yang diantara nya ada dari nenek moyang atau turun temurun bahkan hadiah. Jadi semuanya aku simpan sampai saat ini" ucap Putri Quely dengan tenang
"Berbeda denganku, aku justru mengoleksi perangko dan stamp kerajaan lain" ucap Putri Quely
"Itu pasti menyenangkan, sudah sebanyak apa koleksi mu tuan putri?" tanya Putri Kanzia
"Belum banyak, aku mulai mengumpulkan nya sejak umur 10 tahun." ucap Putri Quely
"Nanti aku akan mengirimi mu surat, agar perangko dan stamp kerajaan Diamond kau simpan juga hahaha" ucap Putri Quely di akhiri tawanya
"Itu ide bagus, karena kau baru bergabung aku ingin mengoleksinya juga" ucap Putri Quely sembari bertepuk tangan pelan
"Kabari aku kalau kau butuh banyak perangko dan stamp, tuan putri. Aku siap mengirim surat setiap hari untuk mu" ucap Putri Kanzia diakhiri senyum manis serta matanya yang membentuk satu garis.
"Siap, tuan Putri Kanzia" jawab Putri Quely
Sementara disisi lain, Putri Athanasia sedang berbincang dengan Pangeran Elio. Putri Athanasia memang banyak bicara ketika bersama Pangeran Elio dibanding pangeran lainnya.
"Bagaimana kabar jadwal diklat mu, pangeran?" tanya Putri Athanasia
"Seperti biasa, tidak ada yang spesial. Aku hanya berbincang tentang keadaan kerajaan satu sama lain" ucap Pangeran Elio
"Terakhir kau singgah di kerajaan mana, Yang Mulia?" tanya Putri Athanasia
"Black Cart, itu semua berdasarkan kemauan Raja Aiden" jawab Pangeran Elio diakhiri helaan nafas
"Apakah sesulit itu, pangeran?" Putri Athanasia mengambil ubi bakar yang ada di depannya, karena panas ubi itu tidak sengaja terjatuh.
Pangeran Elio mengambilnya, dia membersihkannya kemudian dia kupas kulitnya untuk Putri Athanasia.
"Tidak sulit, aku biasa melakukan nya sendirian" ucap Pangeran Elio, kemudian dia memberikan ubi nya yang sudah terkupas.
Sambil diberi kain kecil di bawahnya agar Putri Athanasia tidak merasa kepanasan.
"Gunakan ini" ucap Pangeran Elio.
Putri Athanasia merasakan wajahnya panas, dia menunduk dan menerima ubi itu dengan senyuman yang dia sembunyikan.
"Terima kasih Pangeran Elio" ucap Putri Athanasia.
"Tak masalah" jawab Pangeran Elio dengan santai.
Yang Putri Athanasia sukai dari Pangeran Elio adalah sifat diam namun peduli nya. Walaupun Pangeran Elio tidak terlalu peduli padanya namun jika sifatnya itu datang hati Putri Athanasia akan meleleh begitu saja.
Putri Athanasia suka lelaki yang cuek dan sulit untuk di dekati, dia suka berjuang demi seseorang dari pada yang mudah di dekati atau tidak butuh effort.
Mendekati Pangeran Elio butuh effort itulah alasan Putri Athanasia mendekati Pangeran Elio setelah mereka 5× terlibat jadwal kerajaan.
(Bagaimana caranya agar kau tahu bahwa aku menyukai mu, Pangeran Elio? Apakah kau tidak menyadari sikap ku padamu selama ini?) batin Putri Athanasia.
...•...
...•...
.... to be continued ....
__ADS_1