
Situasi yang hening membuat Pangeran Elio fokus dan konsentrasi dengan apa yang dia cari di dalam perpustakaan milik Istana Corvus ini. Sudah 2 jam Pangeran Elio tidak keluar dari perpustakaan bahkan melewatkan sarapan pagi bersama.
Pangeran Elio masih belum puas dengan apa yang dia cari saat ini, sudah sangat jelas jika di atas meja tempat dia membaca sudah penuh dengan tumpukan buku sehabis dia baca.
Kriet...
Pintu perpustakaan terbuka dan menampakkan Raja Aiden yang sedang berjalan menghampiri tumpukan buku yang menutupi tubuh Pangeran Elio.
Raja Aiden tersenyum tipis dan dia duduk berhadapan dengan tumpukan buku tersebut. Beberapa detik diam, Raja Aiden tertawa kecil dan bergumam.
“Dia serius sekali, apa yang sedang dia cari?” gumam Raja Aiden
“Apa yang sedang kau cari, anakku?” tanya Raja Aiden sambil berdiri dari duduknya
Yang ditanya pun tidak menjawab, dia masih fokus dengan buku yang berwarna dengan judul “Sejarah Pedang Saphire” yang berwarna kuning emas.
Raja Aiden mengambil satu buku di depannya, kemudian dia ketuk keatas kepala Pangeran Elio.
“Siap- Yang Mulia? Salam... Maaf aku tidak tahu kalau anda sudah hadir disini. Sudah berapa lam-“
“Apa yang kau cari sampai fokus begitu?” potong Raja Aiden
“Aku hanya membaca seputar pedang saphire, Yang Mulia” ucap Pangeran Elio sembari tersenyum lebar
Raja Aiden beralih membaca semua judul buku yang diambil Pangeran Elio dan menghela nafas.
“Tampaknya kau penasaran sekali dengan pedang Saphire, ya?” tanya Raja Aiden
“Be-benar Yang Mulia, karena saya ingin tahu lebih dalam mengenai pedang itu” ucap Pangeran Elio
“Tentang pedang atau pemiliknya?” tanya Raja Aiden
“Hm.. Sebenarnya kedua nya, Yang Mulia.” Jawab Pangeran Elio diakhiri dengan senyuman manis
Raja Aiden bersandar pada tepi meja, kemudian dia bersedekap sambil menatap jendela perpustakaan yang berjarak 3 meter didepannya.
“Sebenarnya, buku-buku itu tidak cukup. Petinggi kerajaan di zaman dahulu menyembuyikan beberapa fakta tentang Pedang Saphire. Buku saja tidak cukup, beruntung Yang Mulia memberi tahu ku tentang salah satu rahasia Pedang Saphire saat umut ku 9 tahun.” jelas Raja Aiden.
“Hm... Bisakah anda menceritakannya padaku, Yang Mulia?” tanya Pangeran Elio
Raja Aiden membalikkan tubuhnya dan memberikan senyuman manis miliknya.
“Tentu, setelah kau merapikan semua buku ini.” ucap Raja Aiden
“Baik, Yang Mulia!” jawab Pangeran Elio dengan semangat.
Pangeran Elio langsung merapikan tumpukan buku yang ada diatas meja, setelah dia merapikannya ke tepi meja, Raja Aiden langsung duduk di tempat semula.
“Sebelumnya, aku akan bertanya. Kenapa kau ingin tahu sekali tentang Pedang Saphire? Apa ada kejadian yang membuat dirimu menjadi ingin tahu begini?” tanya Raja Aiden
“Baiklah, saya akan menceritakannya sedikit. Saat Festival Istana Pejasone dimana para putri dari semua kerajaan membuat pertunjukkan tari pedang. Aku melihat pedang salah satu putri yang berkilauan saat terkena sinar matahari. Dan aku memfokuskan pandanganku padanya, aku terkejut saat pedang itu terdapat batu Saphire di bagian gagangnya. Saat aku kejar, dia kabur.” jelas Pangeran Elio.
“Jadi begitu ceritanya. Tapi, kenapa kau ingin menemui sang pemilik?” Raja Aiden
“Entahlah, aku pun tidak tahu kenapa ingin tahu lebih dalam soal pemilik pedang itu. Selain itu, bukankah pemilik Pedang Saphire tidak bisa keluar kerajaan sebebas itu?” tanya Pangeran Elio
Raja Aiden menganggukkan kepala dan tersenyum.
“Mendengar ucapan mu, aku yakin sepertinya kau menyukai putri itu. Benar bukan?” tanya Raja Aiden
“Yang Mulia, aku sudah bilang bukan? Aku hanya ingin tahu, bukan karena aku suka apalagi jatuh cinta.” elak Pangeran Elio
“Baiklah, kau menyukainya atau tidak hanya perasaanmu yang bisa menentukan. Akan aku katakan salah satu fakta tentang Pedang Saphire dan bercerita sedikit tentang itu.” ucap Raja Aiden.
Pangeran Elio langsung memasang pendengarannya dengan baik, dia tidak ingin kehilangan barang satu katapun yang keluar dari mulut Raja Aiden.
“Sembilan puluh lima persen pemilik Pedang Saphire adalah laki-laki. Para petinggi kerajaan di tahun 44 menggunakan permata Saphire untuk membedakan mereka antara para petinggi dan keluarga kerajaan. Namun, image pemilik pedang permata Saphire jadi buruk ketika beberapa dari mereka melakukan pembantaian secara ilegal. Bahkan saat itu sempat ada organisasi untuk mereka yang memiliki Pedang Saphire. Jika kau mengatakan bahwa seorang putri muncul dengan pedang seperti itu kemungkinan pedang itu turunan dari petinggi-petinggi sebelumnya...”
“Karena zaman dulu, Yang Mulia Maverick mengatakan bahwa organisasi Pedang Saphire telah dihabiskan, tidak ada yang tersisa bahkan satu orang pun. Pedang mereka pun diletakkan di dalam peti kayu dan dibakar.” jelas Raja Aiden
“Jika memang sudah dibakar dan dilenyapkan, kenapa masih ada yang menggunakan pedang itu? Atau mungkin mereka menggunakan permata baru yang memang ditempelkan di gagang pedang mereka?” tanya Pangeran Elio
Raja Aiden menggeleng tipis dan menatap Pangeran Elio.
__ADS_1
“Mendapatkan Permata Saphire tidak semudah memburu kancil. Permata Saphire bisa di dapatkan jika kau berkelana menuju hutan jingga, hutan dimana daun yang terdapat pada pohon-pohon tersebut berwarna jingga. Dan, disaat-saat tertentu akan muncul permata itu di hilir sungai didalam hutan itu, namun hewan buas pun bersarang disana. Bahkan saat ini, permata itu sudah tidak muncul lagi karena petinggi kerajaan yang serakah saat itu.” jelas Raja Aiden.
(Jadi satu alasan yang masuk akal adalah, putri itu merupakan keturunan petinggi yang memiliki Pedang Saphire. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki pedang yang sudah bakar dan lenyap?) batin Pangeran Elio.
“Jadi... Bagaimana menurutmu, Pangeran Elio?” tanya Raja Aiden
“Menurutku, putri itu adalah keturunan petinggi yang memiliki Pedang Saphire. Manusia bisa ceroboh, kemungkinan ada salah satu keturunan petinggi yang memang pedangnya dia sembuyikan dan diganti yang palsu sebelum pedang-pedang itu dibakar.” Jawab Pangeran Elio
“Bisa jadi, karena bisa saja dia melakukan apapun demi mengamankan pedang berharga itu” ucap Raja Aiden
Pangeran Elio menundukkan kepala dan dia berpikir dengan logika yang dia miliki.
“Jadi, setelah mengetahui semua ini. Apa yang akan kau lakukan? Kau masih ingin mengetahui sosok putri Pedang Saphire itu, pangeran?” tanya Raja Aiden
“Lambat laun aku pasti akan menemukan putri itu, Yang Mulia.” Pangeran Elio
“Setelah mendapatkannya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Raja Aiden
“Aku akan membunuhnya, karena bisa saja dia membangun organisasi berbahaya semacam itu dan melakukan hal berbahaya lagi.” jawab Pangeran Elio
“Membunuh pemilik Pedang Saphire tidak akan kena hukuman atau sanksi. Karena mereka sudah masuk ke dalam organisasi terlarang di dunia kerajaan. Jadi, jika kau membunuhnya itu tidak akan bersalah.” papar Raja Aiden
Pangeran Elio menganggukkan kepala, namun seketika otaknya menampilkan memori dimana putri pemilik pedang itu menari dengan lihai dan piawai. Bahkan tariannya memukau mata Pangeran Elio saat pertama kali melihatnya.
(Iya, jika aku menemukannya dia akan ku bunuh sebelum kejadian yang lama terjadi lagi) batin Pangeran Elio.
“Terima kasih atas informasi yang telah anda berikan, Yang Mulia.” ucap Pangeran Elio berdiri dan memberikan hormat.
“Lain kali jangan melewatkan jam sarapan pagi hanya karena hal ini.” ucap Raja Aiden
“Saya mohon maaf, Yang Mulia.” jawab Pangeran Elio
Raja Aiden tersenyum kemudian mengepalkan tangan dan mendorongnya ke hadapan Pangeran Elio. Pangeran Elio tampak berpikir beberapa detik sebelum dia mengepalkan tangan dan mengadukannya ke tangan Raja Aiden.
Mereka saling senyum satu sama lain setelah itu Raja Aiden langsung pergi dari perpustakaan. Pangeran Elio juga melakukan hal yang sama, namun di tengah perjalanan menuju kamarnya, seorang pengawal memberikan surat kepada dirinya.
“Salam Yang Mulia Pangeran Elio. Saya ingin menyampaikan surat ini dari kepala surat Pak Ran. Ini untuk anda, Yang Mulia.” ucap sang pengawal
Pangeran Elio melanjutkan kembali perjalanannya, saat sudah berada di dalam kamarnya Pangeran Elio membuka surat itu dan dia mengkerutkan dahi.
“Putri Kanzia?” gumam Pangeran Elio
Pangeran Elio membuka suratnya kemudian dia membacanya.
Salam Pangeran Elio,
Aku Putri Kanzia dari kerajaan Diamond, kurasa tidak perlu memperkenalkan diri ya karena kau pasti sudah tahu kalau ini dariku. Baiklah, apa yang sedang kau lakukan siang ini? Apa aku mengganggu waktumu siang ini, Pangeran?
Aku mengirim surat ini bukan tanpa alasan, mohon baca dengan baik dan respon surat ini jika kau mau, jika tidak aku juga tidak memaksa. Gunanya kau merespon suratku adalah agar aku tahu tanggapan atau jawabanmu.
Aku ingin meminta maaf padamu, mungkin kau tersinggung pada kata-kataku saat kita mengadakan kemah di hutan. Kau langsung diam dan meninggalkanku beserta Putri Quely setelah membantuku.
Jika perkataanku menyakiti hatimu, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya. Aku tidak tahu jika hal itu akan menyakiti hatimu, aku tidak ingin seseorang membenciku karena aku belum lama bergabung bersama kau dan yang lainnya, pangeran.
Jadi aku akan berusaha sebaik mungkin ke depannya untuk menjalin pertemanan yang baik denganmu, jadi aku berharap kau merespon permintaan maaf ini.
Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya padamu, terima kasih sudah membaca surat ini sampai akhir.
Salam,
Putri Kanzia
Diamond.
“Kenapa tidak mengatakannya secara langsung?” gumam Pangeran Elio
Pangeran Elio langsung meletakkan surat itu diatas meja, sedangkan dia langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang. Karena hari ini dia tidak memiliki jadwal kerajaan jadi Pangeran Elio mengambil kesempatan untuk berbaring.
...• • •...
Sementara di sisi lain, Putri Quely sedang asyik duduk di taman bunga istana Rumpelstiltskin. Dia seketika teringat tentang harimau putih milik Pangeran Elio—Igr.
Dia langsung begidik ngeri ketika mengingat macan itu hendak menyerang dirinya saat itu.
__ADS_1
“Yang benar saja, Pangeran Elio memiliki harimau putih? Di hutan dan tidak dipelihara di Istana? Kenapa ya? Apa aku harus bertanya pada ayah, apa benar bibi Carla tidak diserang oleh harimau itu? Tapi bukankah saat itu sudah jelas bahwa bibi terkena cakaran besar di tubuhnya?” gumam Putri Quely
“Pangeran Elio berhutang penjelasan padaku tentang ini” Putri Quely
...• • •...
Pangeran Elio berencana untuk mengunjungi warga di sekitar istana Corvus. Pangeran Elio merasa sangat senang ketika melihat para warga bahagia dengan sistem pemerintahan yang Raja Aiden terapkan.
Pangeran Elio berjalan santai ditengah kerumunan para warga, bahkan wajahnya membuat para gadis-gadis desa terpukau. Semua gadis yang melintas langsung menundukkan kepala namun banyak juga yang menatap secara terang-terangan ke wajah Pangeran Elio.
“Salam Yang Mulia, saya membawakan ini untuk Yang Mulia. Saya harap anda menyukainya.” ucap seorang gadis yang membawakan kotak berisi makanan kepada Pangeran Elio
Pangeran Elio hanya diam dan menatap gadis itu, namun gadis itu menunduk sedangkan tangannya masih setia di depan Pangeran Elio. Dia menahan pegal demi hasil kerja keras yang dia lakukan tadi pagi.
“Terima kasih” Pangeran Elio mengambil hadiah itu dan pergi begitu saja
Gadis tersebut tersenyum, dia mengangkat kepalanya dan pipinya memerah.
“Pangeran, menerima hadiahku” gumamnya
Pangeran Elio memang sering mendapatkan hadiah ketika dia berjalan ke daerah desa, namun banyak juga yang mengirim hadiah ke Istana Corvus. Namun sayangnya hadiah yang datang hanya beberapa saja tidak semua. Karena petugas kerajaan menyeleksi hadiah-hadiah tersebut.
Keputusan Pangeran Elio untuk mengujungi desa memakan waktu 3 bulan lamanya untuk di setujui oleh Raja Aiden, bukan tanpa sebab.
Raja Aiden ingin memastikan apakah lingkungan Corvus aman untuk anaknya berkeliaran seperti ini karena dia juga tidak tahu kapan musuh akan menyerang di tengah lingkungan Corvus.
Karena terus didesak, Raja Aiden juga mengadakan banding dengan penasihat Raja untuk keputusannya. Selain itu, Pangeran Elio juga ikut meyakinkan jadwal yang ingin dia miliki tersebut.
Setelah dilakukan banding selama 3 kali. Raja Aiden tidak kungjung memberikan jawaban, Raja Aiden tidak memberikan jawaban karena saat kunjungan pangeran tidak ingin membawa pengawal.
Setelah terus di desak dengan mengandalkan keyakinan, Raja Aiden akhirnya menyetujui jadwal baru untuk Pangeran Elio. Yaitu mengunjungi pemukiman warga Corvus.
...• • •...
Pangeran Elio kembali ke istana untuk membawa kuda miliknya, dia berencana menungganggi kuda untuk pergi jalan-jalan. Namun di perjalanan dia bertemu dengan Putri Quely yang sedang menghadang jalannya bersama dengan kuda putih miliknya.
“Ada apa?” tanya Pangeran Elio pada Putri Quely
“Kau berurusan denganku, pangeran.” ucap Putri Quely
“Urusan apa? Aku tidak punya banyak waktu” ucap Pangeran Elio
“Igr, kau harus menjelaskannya padaku. Se.ka.rang!” Putri Quely
“Igr? Kau ingin bertemu dengannya?” tanya Pangeran Elio dengan senyuman licik
“Tidak, kau harus menjelaskan tentang hubungan harimau itu dengan kematian Bibi Carla. Kau tahu sesuatu kan? Sudah jelas bibi meninggal karena cakaran harimau kenapa kau mengatakan bahwa bukan harimau itu yang membunuh bibi?” tanya Putri Quely
“Ceritanya panjang dan aku tidak punya waktu untuk itu” ucap Pangeran Elio
“Kalau begitu aku ikut denganmu, jadi kau bisa bercerita di perjalanan” ucap Putri Quely
“Tidak! Kau tidak boleh ikut” ucap Pangeran Elio
“Baiklah, aku akan menginap. Aku sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Jadi bersantai lah, lakukan kegiatanmu hingga selesai nanti kau akan bercerita denganku di sini. Sampai jumpa~” ucap Putri Quely
“Hei!” Pangeran Elio langsung turun dari kudanya ketika Putri Quely melongos masuk ke dalam halaman istana Corvus.
“Siapa yang mengizinkanmu menginap disini?” tanya Pangeran Elio sambil mencengkram lengan kiri Putri Quely.
“Raja Aiden, kenapa? Kau tidak menyangka bukan kalau aku akan izin ke Raja? Lakukan kegiatan mu itu, aku akan menunggu disini bersama dengan Raja. Hahaha” ucap Putri Quely dengan nada meledek.
“Terserah kau” jawab Pangeran Elio
Pangeran Elio menghela nafas dan dia melepaskan cengkraman tangannya setelah itu langsung menunggangi kudanya meninggalkan Istana Corvus.
“Dia kasar sekali, di kira cengkramannya pelan. Rasanya seperti di cengkram burung elang. Ya~ mau bagaimanapun dia memang Pangeran Elio. Seperti itulah sifatnya.” gumam Putri Quely menatap Pangeran Elio yang lama kelamaan hilang dari pandangannya.
...•...
...•...
.... to be continued ....
__ADS_1