Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2

Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2
Pendatang Baru di Dusun Terpencil


__ADS_3

“Haruskah aku menggantikan namaku menjadi Seven? Jadi namaku sekarang manajer Seven buka manajer Eight lagi.”


“Kenapa kak Eight punya pikiran seperti itu? Apakah Baek Hyun benar-benar sudah terhapus dalam hidupmu?”


“Bukan, bukan seperti itu. Aku sama sekali tidak pernah menghapus Baek Hyun dalam hidupku. Hanya saja kenyataan pahit ini ...”


“Baek Hyun akan tetap menjadi bagian dari EXO walau tinggal bayangannya saja” tegas Suho.


Hampir setahun berlalu. Setelah kepergian Baek Hyun, ke 7 member EXO yang tersisa mulai mencoba bangun kembali bersama agensi yang baru. Tak mudah memang, sangat tidak mudah. Terlebih kepergian Baek Hyun yang teramat kejam dan tragis. Hampir setahun, ternyata tak cukup bagi mereka untuk mampu melupakan semua kejadian itu. Apalagi ketika mereka memulai kegiatan mereka sebagai EXO lagi, itu sama saja dengan mengorek kembali luka lama karena sekarang mereka harus memulai tanpa Baek Hyun. Tak dapat dipungkiri, di setiap sisi tempat dan apa pun yang mereka lakukan semuanya mengingatkan mereka tentang sahabat mereka itu. Hal itulah yang kerap membuat mereka tak fokus, jatuh, bahkan menangis sedih saat kembali latihan. Mereka merindukannya, merindukan orang yang sudah tiada.


*


“Jika Baek Hyun masih hidup, seperti apa kira-kira kehidupannya sekarang?” Xiumin bertanya sembari menatap langit-langit kamar. Malam itu ke 7 member itu memutuskan tidur dalam satu kamar yang sama. Rutinitas yang biasa mereka lakukan karena esok akan menjadi debut pertama mereka di agensi baru setelah 3 bulan persiapan.


“Kenapa kau melontarkan pertanyaan itu?” Kai bertanya dengan suara memelas.


“Karena itulah caraku bisa bertahan sampai sekarang. Aku tidak peduli entah itu nyata atau aku ditipu perasaanku sendiri. Aku selalu berpikir dia masih hidup. Dia hanya tak mau menunjukkannya pada dunia” Jawab Xiumin.


“Ah ... sudahlah, jangan membuat kita hidup dalam pikiran semu itu,” rengek Sehun sembari memeluk D.O yang berbaring di sebelahnya.


“Jika itu benar aku akan menghajarnya!” tegas Chanyoel.


“Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Kita sedang mencoba bangun dengan menerima kenyataan ini, tapi kenapa kalian membicarakan sesuatu yang terdengar mustahil seperti itu. Berbicara kenyataan yang tak pasti sama saja menipu perasaan kita sendiri” keluh Kai.


“Jangan terlalu larut dalam perasaan kehilangan itu” ujar Suho seraya duduk. “Entah dia berada di tempat lain atau di alam lain, dia akan melihat kita. Sekarang tergantung bagaimana kita menyikapi apa yang kita yakini. Kita semua sudah dewasa untuk mengatur perasaan dan pikiran kita. Ingatlah ... kita yang tersisa sekarang tetap harus melanjutkan hidup dan memenuhi harapan banyak orang. Coba bayangkan ... ada banyak yang menunggu dan memikirkan kita dengan kesedihan. Salah satu dari mereka adalah Baek Hyun sendiri. Jika kita terus larut dalam perasaan kita, kapan kita punya kekuatan untuk bangun dan kembali? Masih banyak waktu di hadapan kita untuk tidak berduka lagi. Artinya kesedihan kita hanya soal waktu. Jangan paksakan untuk melupakan. Menangis saja bila ingin menangis. Jangan pernah menyiksa perasaan dengan berpura-putra bahagia. Ingat tanggung jawab kita. Kita harus bisa mengikis kesedihan dan luka orang-orang yang kehilangan, meski kita sendiri mengalami kesedihan itu.”


“Sekarang aku ingin mendengar pendapatmu. Apa yang kau pikirkan tentang Baek Hyun, apakah masih bersama kita di dunia ini?” tanya Kai


“Dia akan selalu bersamaku sampai kapan pun” jawab Suho ambigu.


***


Mobil berkecepatan penuh itu lepas landas, melayang, dan menabrak bibir jurang yang berada persis di seberang bukit tempat mereka lepas landas. Sentakan keras akibat tabrakan itu membuat Baek Hyun dan Hana yang sama sekali tak mengenakan sabuk pengaman terdorong keras, menabrak kaca depan mobil, dan terlempar di atas rerumputan yang tumbuh subur di daratan itu. Ledakan keras mengiringi terlemparnya Baek Hyun dan Hana dari sana. Badan mobil yang hanya sempat mencium bibir jurang dan memuntahkan penghuninya itu hancur bersamaan dengan ledakan tadi. Serpihan-serpihannya berguguran lalu jatuh ke dasar jurang yang teramat dalam itu.


Sungguh kenyataan yang lucu dan menggelikan bagi seorang Baek Hyun. Berpikir membawa mobilnya dengan kecepatan penuh memastikan mereka melesat dan jatuh, namun kenyataannya mobil mereka hanya mampu mencium bibir jurang, dan justru memuntahkan keduanya, seakan sengaja mengantarkan Baek Hyun dan Hana ke sisi lain bukit itu. Tubuh Hana terlepas dari rangkulan Baek Hyun, menggelinding dan menabrak dinding batu. Baek Hyun yang masih sadar berupaya bangkit. Merangkak dengan tertatih-tatih menghampiri Hana yang tampak diam tak bergerak.


“Hana … Hana …” panggil Baek Hyun mencoba menyadarkan kekasihnya itu. Tidak ada jawaban “HANA!!!!” teriaknya sembari merangkul kekasihnya itu sembari menangis.


***


Baek Hyun tersadar. Matanya menatap nanar ke langit-langit rumah yang terbuat dari jerami kering itu dengan nafas yang masih tersengal. Mimpi itu terasa begitu nyata hingga meninggalkan kesakitan dalam jiwanya. Kesakitan akan kehilangan sosok yang ia cintai. Perlahan pria itu memalingkan tubuhnya dan menatap sosok dalam mimpinya itu. Hana ada di sana, tidur menyamping menghadapnya. Matanya terpejam rapat, begitu pulas di atas tumpukan jerami beralaskan kain yang menjadi tempat peraduan mereka saat ini. Terdorong perasaan sakit yang baru saja ia alami dalam mimpinya, Baek Hyun bergeser mendekat, meraih kepala Hana dan mendekapnya dalam pelukannya.


Perempuan itu terbangun, kepalanya bergerak kian kemari menatap ke sekeliling. Hari mulai pagi.


“Tidurlah … hari masih terlalu pagi” bisik Baek Hyun sambil meraih kembali kepala Hana dan memeluknya lagi.


Kantuk Hana terlanjur menguap setelah pergerakan Baek Hyun tadi. Ia mencoba memejamkan matanya, namun sesuatu yang semenjak lama mengusik pikirannya kembali datang menghampiri. Matanya terbuka menatap kelopak mata Baek Hyun mengatup rapat.


“Tidak kau menginginkan anak? Sudah hampir satu tahun kita hanya berdua di rumah ini” tanyanya membuat mata Baek Hyun kembali terbuka menatapnya.


“Aku bukan tidak menginginkannya, hanya saja belum saatnya. Lihatlah keadaan rumah kita. Rumah kita masih jauh dari layak untuk menjadi naungan seorang bayi. Apalagi jika bayi kita bisa merangkak atau berjalan. Tidak apa-apa kan bila kita menundanya sementara waktu?” tanyanya sembari tersenyum.


Hana mengangguk “Kau benar juga, aku tidak berpikir ke sana. Anak kecil mana mengerti yang kotor dan bersih. Aku tak bisa membayangkan bila ia merangkak di lantai tanah ini. Kita juga akan kelelahan memandikannya juga mencuci pakaiannya.”


“Bukan hanya itu, bagaimana kalau dia sakit? Tunggulah beberapa saat lagi, aku akan bekerja dengan giat, mengumpulkan uang, dan memperbaiki rumah ini sedikit demi sedikit sampai benar-benar layak seperti rumah penduduk lainnya.”


“Eum…” Hana menangguk sembari tersenyum senang, namun Baek Hyun justru menatapnya curiga.


“Sebenarnya apa maksudmu bertanya seperti itu.”

__ADS_1


“Maksudku? Aku tak punya maksud apa pun.”


“Katakan saja kalau kau menginginkannya, aku akan dengan senang hati melakukannya untukmu.”


Hana meringis dan memandang sinis ke Baek Hyun. Pria itu terkekeh, lantas bangun lalu mengecup gemas sisi wajah Hana.


“Kantukku sudah benar-benar hilang, aku harus mempersiapkan diri untuk melaut hari ini.”


“Aku akan menyiapkan bekal untukmu.”


*


Baek Hyun menyiapkan perapian lalu meletakkan sebuah wadah mirip panci di atasnya. Tungku perapian itu ia susun dari bebatuan sungai yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Baek Hyun dan Hana kerap mandi dan mencuci di sana. Tak jarang pula mereka masak bersama di atas bebatuan sungai yang besar, lalu menikmatinya di sana seakan sedang piknik berdua. Baek Hyun dan Hana begitu bahagia. Bahagia karena mereka menemukan tempat mereka yang baru. Bahagia karena mereka begitu diterima dan disayangi penduduk dusun itu.


“Apakah apinya sudah siap?” tanya Hana sembari menghampiri Baek Hyun dengan beberapa buah ubi jalar di wadah yang ia bawa.


Baek Hyun mengangguk, kemudian mengambil alih ubi itu lalu meletakannya ke dalam panci tadi.


Hana duduk rapat di samping Baek Hyun sembari menghangatkan diri di dekat perapian itu.


“Apa kau yakin hanya sarapan ubi?”


Baek Hyun mengangguk


“Bagaimana dengan bekalmu, kau mau dibuatkan apa?”


“Aku hanya mau makan ubi dengan lauk cumi goreng.”


“Jika hanya makan ubi, itu tak akan baik buat perutmu. Belum lagi kau akan terkena angin laut. Bisa-bisa kau akan terus-terusan kentut saat bekerja. Aku akan memasak nasi dan lauknya cumi goreng. Aku juga akan menumis beberapa sayuran."


“Kenapa pagi ini au rewel sekali” Baek Hyun mencubit gemas hidung Hana. "Kau takut aku kurang gizi atau takut dengan bau kentut"


Baek Hyun mendongakkan kepalanya sejenak seraya berpikir.


“Lobster panggang?”


“Dengan saus dari tumisan bawang putih cincang dan cabai?”


Baek Hyun mengangguk. Setiap kali menikmati makanan itu akan membuatnya teringat saat pertemuan pertamanya dengan Chanyoel.


“Kau teringat dengan Suho dan Chanyoel lagi.”


“Sampai kapan pun aku akan selalu teringat mereka setiap kali melihat lobster, dan bagiku, menu itu pula yang paling enak dibandingkan masakan apa pun.


“Kau merindukan mereka?”


Baek Hyun mengangguk. “Aku sangat merindukan mereka”


***


Setelah bangun dari gagalnya kematian, Baek Hyun dan Hana sempat menjadi gelandangan yang hidup dalam pelarian. Mereka hidup berpindah dari satu tempat ketempat lain. Melakukan pekerjaan kasar untuk sekedar mendapatkan makanan atau mendapatkan tumpangan untuk lari sejauh-jauh mungkin. Setelah berbulan-bulan berkelana menyusuri jalanan, bukit bahkan lautan, keduanya tiba di sebuah dusun kecil yang hanya ditempati belasan kepala keluarga. Sebuah insiden menjadi awal mereka dikenal dan diterima penduduk dusun itu. Di mana saat itu, di dusun itu, ada seorang bandit yang sering kali membuat keonaran. Selama bertahun-tahun, tak satu pun warga yang berani melawan bandit itu.


Senja itu, Baek Hyun dan Hana baru tiba di dusun bersama salah seorang penduduk yang sengaja membawa mereka ke sana. Dari kejauhan Baek Hyun melihat bandit itu menyerang dan memukul salah seorang penduduk secara membabi buta. Penduduk yang dihajar itu berupaya lari namun terus dikejar oleh bandit yang terlihat sangat marah. Baek Hyun mengambil batu lalu berlarian ke sana. Penduduk yang tadinya sedang dikejar kini terjatuh dan bandit itu tengah mengayunkan parang ke arahnya.


“Berhenti!!!” teriak Baek Hyun sembari melemparkan batu dan mengenai bandit tadi.


Perhatian bandit itu kini teralih padanya. Baek Hyun tak takut sama sekali meski kini bandit itu berlari menyerangnya. Baek Hyun bersiap, pria yang memang menguasai ilmu bela diri itu menghadapi bandit itu dengan tangan kosong sementara bandit itu berupaya menebasnya dengan parang yang dibawanya.


Penduduk dusun itu semakin histeris melihat pertarungan itu, terlebih lagi dengan Hana yang baru pulih dari mabuk lautnya. Setelah berkali-kali gagal menyerang lawannya, bandit itu nampak mulai kewalahan, dan pada satu kesempatan Baek Hyun berhasil menendang tangan bandit yang memegang parang hingga parang itu terpelanting jauh. Kini giliran Baek Hyun yang berbalik menyerang dan menghajar bandit tadi hingga akhirnya dia terkapar tak sadarkan diri. Seorang penduduk tiba-tiba datang dan langsung menusukkan parang kepunyaan bandit tadi ke tubuh bandit yang terkapar. Seketika bandit tadi tewas disambut teriakan dan sorakkan riuh penduduk dusun.

__ADS_1


Lutut Hana melemah hingga ia terduduk di tempatnya. Sementara penduduk dusun tadi bersorak lalu beramai-ramai menghampiri dan mengelilingi Baek Hyun. Di tempatnya Hana hanya bisa terdiam menekuk lutut dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Baru kali ini ia melihat pembunuhan langsung di depan matanya sendiri.


Baek Hyun yang masih syok melihat bandit yang tewas itu dieluk-elukan penduduk. Bahkan ada yang menangis memeluknya sembari mengucapkan terima kasih. Jenazah bandit tadi diangkat entah kemana. Kini tinggal Baek Hyun yang berdiri dengan wajah bingung sembari berusaha tersenyum menyambut perlakuan penduduk dusun itu padanya.


“Aku baru melihatmu, apa kau pendatang di sini?” seseorang tiba-tiba menghampiri Baek Hyun


“Iya … aku, aku datang bersama istriku” jawabnya sembari mencari-cari Hana. Matanya berhasil menemukan Hana yang juga nampak syok ketakutan. Baek Hyun berlarian menghampiri Hana diikuti penduduk dusun yang masih penasaran dengannya.


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya pada Hana seraya membantu perempuan itu berdiri.


Hana mengangguk “Bagaimana denganmu?” tanyanya sembari mengamati keadaan Baek Hyun dengan perasaan khawatir.


“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir.”


“Jadi ini istrimu?”


“iya ... ini istriku, namanya Hana, dan aku ... namaku Rain” jelas Baek Hyun.


Hana membungkukkan badannya memberi salam.


“Namaku Aspir pimpinan dusun ini. Aku mengucapkan banyak terima kasih. Berkat kau penduduk dusun ini akhirnya terbebas dari bandit tadi. Sudah bertahun-tahun dia selalu bikin keonaran di dusun kami dan tak ada satu pun yang bisa menghentikannya. Bahkan beberapa penduduk dusun ini pernah tewas di tangannya. Tapi berkat dirimu, kebrutalan bandit itu berakhir. Tapi kenapa kalian bisa kesini, ada apa?”


“Sebenarnya ...”


“Aku yang membawanya kemari” seorang pria paruh baya lain datang ke tempat itu. “Aku tidak sengaja menjatuhkan sekeranjang ikan yang ingin kujual ke pasar, lalu dia dan istrinya datang membantuku. Mereka juga membantuku menjual hasil laut. Mereka datang dari jauh dan kebetulan sedang membutuhkan pekerjaan. Mereka juga tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, karena itu aku membawanya ke sini sementara.”


Aspir mengangguk-ngangguk


“Tapi ... percayalah kami buka penjahat yang melakukan pelarian. Aku dan istriku memang tinggal tak menetap. Jadi dimana pun kami singgah, di sana kami bekerja dan beristirahat sejenak.”


Aspir kembali mengangguk “Kalau begitu kalian bisa menetap di sini. Dusun ini hanya ditinggali belasan kepala keluarga.”


“Iya benar, menetaplah di sini. Biar bagaimana pun kau sudah menjadi pahlawan bagi penduduk di sini.” sambut salah seorang ibu-ibu.


“iya benar” sambut penduduk yang lainnya. Wajah-wajah mereka tampak antusias menerima Baek Hyun dan Hana di sana.


“Kau dengar? Semua orang menerimamu di sini, tak sia-sia aku membawamu kesini” ujar pria paruh baya yang membawa Baek Hyun dan Hana tadi, bangga. “Aku percaya mereka orang-orang baik. Tadi waktu di pasar, tidak ada satu pun yang membantuku kecuali mereka. Aku juga tidak menyangka kalau dia akan mengalahkan bandit itu untuk kita.”


“Iya, iya” sorak penduduk itu riuh.


Baek Hyun tersenyum mendengar pujian itu.


“Kau jangan takut, bandit itu memang sudah sepantasnya mati. Kami pernah meminta bantuan pihak berwenang, tapi karena keadaan dusun kami yang sangat terpencil ini, mereka jadi kurang memperhatikan kami. Saat polisi datang, bandit ini menghilang, lalu saat polisinya pergi, ia muncul lagi dan bikin keonaran sampai melukai bahkan membunuh penduduk. Untunglah kau berhasil mengalahkannya. Kami sangat berterima kasih dan tentu saja kami akan sangat senang bila kau ingin tinggal bersama kami.”


“Benar tinggal di sini, dan jadilah penduduk di sini. Jangan khawatir soal pekerjaan kau bisa menjadi nelayan atau petani seperti yang lainnya” sambut salah satu penduduk.


“Bagaimana? Kau setuju?” tanya Aspir penuh harap.


Baek Hyun memandang Hana, meminta pendapat perempuan itu. Hana menjawabnya dengan anggukan. Sungguh tak nyaman baginya menolak tawaran itu walau awalnya ia takut karena Baek Hyun sudah melakukan tindakan kekerasan. Tapi setelah mendengar penjelasan penduduk tadi, berangsur-angsur perasaan takut itu menghilang.


“Terima kasih, aku dan istriku sangat senang bila bisa di terima di sini.”


“Tentu saja.” jawab Aspir senang disambut sorak-sorai penduduk dusun.


“Oh ya, kalian tentu belum punya tempat tinggal. Sementara ini, bawalah istrimu menumpang di rumahku. Di ujung dusun ini, ada sebuah rumah yang sudah ditinggal pemiliknya. Rumah itu memang sudah rusak parah. Tapi penduduk di sini pasti akan dengan senang hati bergotong royong memperbaiki rumah itu untuk kalian tempati. Besok aku akan bicara dengan mereka.”


“Tapi ... aku tidak punya apa-apa untuk diberikan pada warga desa sini.”


“Aku paham maksudmu. Tapi warga di sini tidak membutuhkan itu. Tidak kah kau lihat wajah-wajah mereka yang teramat senang dan lega setelah kau mengalahkan bandit tadi. Mereka akan dengan senang hati membalas jasamu dengan membatumu. Di sini semua masalah tidak selalu diselesaikan dengan uang atau harta. Jika kau memberi jasa, mereka akan membalas serupa. Warga di sini jarang menggunakan uang bila ingin mendapatkan sesuatu. Sistem barter masih berlaku di sini. Kau akan paham bila lama tinggal di sini. Ayo, kita ke tempatku sekarang.” ajak Aster yang pada Baek Hyun dan Hana diiringi oleh penduduk dusun itu.

__ADS_1


__ADS_2