Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2

Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2
14. Tak Ingin Bertahan


__ADS_3

"Ayahnya baru saja menjemput Shymponi beberapa menit yang lalu."


             Anely menghela nafas, lagi-lagi Alan melakukan ini. Seharusnya ia menghubunginya dulu agar ia tidak  melakukan hal yang sia-sia sepeti ini


"Baik terima kasih. Saya permisi dulu," ujar Anely kemudian berlalu pergi.


"Lain kali beritahu aku jika kau ingin membawa Shymponi bersamamu. Jadi aku tidak perlu melakukan hal yang sia-sia seperti ini lagi," Anely mengirim pesan untuk pria yang masih berstatus suaminya itu.


Di seberang sana, Alan hanya melihat pesan teks itu tanpa berniat membalasnya.


"Ibumu suka makan apa?" Tanya Alan seraya  menatap putrinya yang sedang menikmati makan siangnya.


Kepala gadis kecil itu sedikit terangkat, mencoba mengingat-ingat makanan yang paling sering dimakan ibunya. Tapi tak Satu pun jenis makanan yang tampak dominan. Dalam ingatan Shymponi. Ibunya makan apa saja.


"Sepertinya ibu menyukai semua makanan. Ibu tidak pilih-pilih makanan. Semuanya dia makan."


“Jika makan bersama paman Lay, apa yang biasanya ibumu makan."


"Waktu itu, ibu makan steak."


"Baiklah, ayah belikan steak  untuk ibumu."


*


Anely tak memedulikan Alan yang tak membalas pesannya. Ia sudah terbiasa. Yang penting Alan tahu keinginannya. Dan biasanya pria itu menurutinya.


Sekarang kehidupan Anely terasa jauh lebih baik. Tak banyak yang tahu juga peduli dengan cara hidupnya termasuk keluarganya juga keluarga Alan. Sungguh aneh. Tapi begini lebih baik. Anely merasa bersyukur karena tidak ada yang berniat mencampuri urusan keluarganya. Alan sendiri juga menikmati hidup yang seperti ini. Sungguh pria yang aneh, ia tidak pernah berniat menanda tangani surat perceraian itu. Ia tidak ingin bercerai, meski menjalani hidup terpisah seperti ini. Beruntung Anely sendiri secara perlahan bisa menerima keadaan ini. Kenyataan ini juga menyadarkan Lay secara perlahan, jika sebenarnya Anely hanya menganggapnya sebatas ipar sekaligus paman Shymponi. Meski ditolak secara tidak langsung melalui kenyataan di mana Anely menjalani hidup tanpa bercerai, Lay tidak pernah berubah. Ia tetap dekat dengan ipar dan keponakannya itu. Tetap baik seperti sebelumnya.


***


       Helikopter itu mendarat di lantai atap gedung rumah sakit terbesar di kota itu, Chanyoel dan Suho sudah ada di sana.


             “Berikan padaku,” ujar Chanyoel pada Baek Hyun yang siap menurunkan tubuh Hana. Pria itu menurut sementara tandu dorong juga tiba di sana. Chanyoel menyambut tubuh itu dan meletakannya di tandu. Baek Hyun meloncat turun dan ikut mendorong tandu. Karyawan rumah sakit yang membawa tandu tampak terkejut melihat siapa yang mereka jemput. Awalnya mereka pikir itu adalah kerabat salah satu anggota EXO atau bisa jadi artis karena ia di bawa ke rumah sakit besar itu dengan sebuah helikopter. Melihat sosok yang tak asing itu membuatnya terkejut. Bukankan Baek Hyun sudah lama dinyatakan meninggal akibat kecelakaan?


             “Hana, kita sudah tiba, kau pasti selamat,” ujarnya seraya menggenggam tangan istrinya itu.


Perempuan itu hanya mengangguk. Wajahnya sekali-kali meringis menahan sakit.


Tandu didorong ke dalam. Keadaan yang darurat seperti itu sudah biasa terlihat di rumah sakit itu. Namun kali ini ada yang berbeda. Kemunculan anggota EXO di sanalah yang menarik perhatian orang-orang di rumah sakit itu. Lebih lagi sosok Baek Hyun yang sama-samar terlihat di antara orang-orang yang mendorong tandu.


Mereka berbisik satu dengan yang lain.


"Apakah aku tidak salah lihat? Itu seperti Baek Hyun?"


"Tapi bukankah ia sudah dinyatakan meninggal?


"Apa mungkin itu Baik hyun"


"Jika bukan baik Hyun siapa lagi. Tidak mungkin ada orang yang semirip itu, dan jika bukan baekhyun kenapa ada anggota EXO yang lain?


"Tidak salah lagi, itu pasti Baik Hyun, Dia masih hidup"


Demikianlah orang-orang itu mempergunjingkan kenyataan yang mereka lihat. Mereka tidak mau melewatkan momen itu begitu saja. Mereka menyimpannya dalam bentuk video dan foto lalu dengan gemetar dan hati berdebar mulai menyebarluaskan sebagai berita. Mereka pikir sebenar lagi mereka akan membuat heboh jagat raya. Video dan foto mereka akan dibagi-bagikan, akan menjadi bahan dan topik berita terkenal. Mereka akan merasa bangga karena dari merekalah sumber berita menghebohkan itu.


Baek Hyun merasakan itu. Meski dalam keadaan panik, Baek Hyun masih sadar dengan keadaannya. Namun pria itu berusaha untuk tidak peduli dan tetap fokus dengan istrinya.  Dalam hatinya sesungguhnya ia takut. Entah kenapa ia takut berada di sini sekarang, berada di kota yang membuat hidupnya terasa hancur hingga membuatnya memilih mati. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


 Baek Hyun berusaha menenangkan diri. Ada sahabat-sahabatnya di sini. Ia yakin akan baik-baik saja. Mereka pasti bisa mengatasi semua ini.


"Tolong tunggu di sini, kami akan menangani istri Anda."


Baek Hyun menurut. Hana dibawa ke dalam untuk di tangani.


"Hana, akan baik-baik saja," hibur Suho seraya menepuk punggung Baek Hyun.


Pria itu menangis lalu memeluk sahabatnya itu, "Terima kasih," ucapnya.


Aku ingin bicara sebentar. Chanyoel menarik Suho dan membawanya keluar dari ruangan itu. Sementara Xiumin dan Chen masuk ke ruangan itu menghampiri  Baik Hyun.


"Ada apa? Sikapmu barusan bisa membuatnya khawatir," ujar Suho sesampainya di luar.


“Apa kau tidak lihat orang-orang tadi merekam kehadiran Baek Hyun. Aku yakin mereka sudah menyebarluaskan video atau foto itu. Sebentar lagi seisi dunia ini tahu kalau Baek Hyun masih hidup. Mungkin sebentar lagi akan terjadi kehebohan di sini. Apa kau sudah memikirkan itu?" Cecar Chanyoel dengan ekspresi panik.


"Aku sudah memikirkannya."


"Lalu kenapa kau tampak tenang-tenang saja?"


"Mau bagaimana lagi? Kita memang tidak bisa menutupi semua ini, Tidak mungkin kita membohongi semua orang dan mengatakan kalau itu hanya orang yang mirip Baek Hyun."


"Tapi paling tidak kita punya rencana menghadapi masalah ini. Ini bukan masalah kecil."


"Aku tahu. Aku sudah minta manajer untuk menghubungi keamanan untuk mengatasi situasi yang di luar kendali kita."


"Baiklah ... tapi aku rasa bukan itu saja. Apa yang harus kita katakan pada semua orang tentang Baek Hyun?"


"Ya kita katakan saja sesuai fakta. Apa pun reaksi mereka kita harus siap. Seberapa keras kita berusaha, kita tidak bisa mengendalikan reaksi orang. Jadi untuk apa kita menghabiskan energi untuk panik, takut dan cemas."

__ADS_1


Chanyoel hanya bisa mengaruk-garukan kepala mendengar penjelasan Suho. Inilah salah satu alasan pria ini menjadi pemimpin mereka. Dalam keadaan segenting ini, ia bisa setenang itu. Bahkan ia sudah memikirkan semuanya sampai sejauh ini. Memang benar, tidak ada yang harus ditutupi. Mereka hanya perlu membeberkan kenyataan yang sebenarnya. Toh bukan mereka yang salah. Baek Hyun lah yang memutuskan untuk menghilang selamanya. Kenyataannya Baek Hyun memang mau bunuh diri. Tapi takdir berkata lain. Lalu semua orang menganggapnya mati. Bukan salah Baek Hyun pada akhirnya tidak berani menampakkan diri ke muka publik. Lagi pula, orang-oranglah yang membuatnya takut muncul. Siapa pun jika berada di posisi Baek Hyun saat itu mungkin melakukan hal yang sama.


"Apa kau masih ingin di sini atau masuk ke dalam?” Tanya Suho membuyarkan lamunan Chanyoel.


"Apa kita perlu membicarakan masalah ini ke Baek Hyun dulu. Maksudku ... Apa kita perlu minta pendapatnya? Dia maunya seperti apa?"


"Situasinya belum tepat, kecuali jika dia yang memulai pembicaraan. Dia juga tampak tidak tenang. Kita perlu menenangkannya. Tapi jangan membahas hal yang membuatnya takut "


"Baiklah ..." Chanyoel mengangguk.


*


"Beritanya menyebar dengan cepat." Ujar Chen yang sejak tadi mengamati handphonenya. "Tapi kau tidak perlu khawatir, manajer sudah mengantisipasi bahkan dalam situasi yang berat sekalipun. Yang penting Hana dan bayinya selamat. Masalah lain masih bisa kita atasi bersama.”


"Sebaiknya kau makan dulu," Xiumin menarik Baek Hyun duduk di kursi tunggu. Pria itu mengambil kimbab, membuka bungkusannya dan menyerahkannya pada Baek Hyun. Pria itu menerimanya dan melahapnya.


Xiumin tersenyum, bahagia rasanya bisa melihat sahabatnya itu lagi, ya ... meski situasi yang akan di hadapi akan menegangkan. Baek Hyun sendiri mungkin tidak tenang saat ini.


"Bagaimana dengan ini, kau suka?" Chen membuka  bungkusan yang dibawanya kemudian memperlihatkan pada Baek Hyun.


Pria itu tersenyum. Seketika perasaan gundahnya hilang melihat baju bayi tersebut.


"Wuah ... kapan kau menyiapkan itu?" Xiumin bertanya, kagum.


             "Aku langsung berpikir membelinya saat mendengar Hana akan dibawa kemari. Aku membeli banyak untuk semua umur, tapi aku meninggalkannya di mobil. Nanti kuambilkan.”


"Sepertinya kau juga tidak membawa pakaian ganti?"  Tebak Xiumin.


Baek Hyun menggeleng. "Aku terburu-buru. aku bahkan tidak membawa apa-apa kecuali dompet ini.  Baek Hyun mengeluarkan dompet dari sakunya lalu mengeluarkan kartunya yang sudah semenjak lama tidak ia gunakan. Berita kemunculanku sudah menyebar, jadi tidak ada gunanya lagi aku menutupi semua ini. Tapi saat ini aku tidak bisa keluar. Jadi aku minta tolong belikan beberapa lembar pakaian untukku dan Hana." Pinta Baek Hyun seraya menyerahkan kartunya pada Xiumin.


Xiumin mengangguk.


 "Kau tunggu di sini. Ayo Chen ... temani aku.”


"Kalian mau ke mana?" Tanya Suho yang baru bersama  Chanyoel.


"Baek Hyun dan Hana perlu pakaian ganti. Aku dan Chen akan keluar membelikannya."


*


Dua jam berlalu ...


Baek Hyun ...”  Suara perempuan yang terdengar tak asing di telinga Baek Hyun menggema di ruangan itu. Suara yang dua tahun lalu kerap ia dengar di kota itu. Yura datang bersama manajer Eight dan putrinya. Mata perempuan itu tampak  berkaca-kaca  lantas berlari kecil merangkul Baek Hyun yang berdiri mematung.


             “Ya Tuhan ... ini benar-benar dirimu. Kau nyata dan masih hidup,” tangis Yura. “Kenapa kau begitu tega tak memberi kabar apa pun? Kenapa kau biarkan kami terluka karena kehilangan dirimu?” Tangisnya.


             “Baek Hyun ... kau benar-benar menyebalkan” ujar manajer Eight sembari mendekat, lalu membaur memeluk sosok yang sudah ia anggap seperti adik kandung sendiri itu. " Jika kau tidak mempercayai orang lain, paling tidak kau memercayai kami. Kenapa kau menghilang begitu saja tanpa memberi kabar sedikit pun. Kau anggap apa kami ini, Hah!" Di ujung kalimatnya manajer Eight  menekan rangkulannya.


"Maaf ..." Air mata Baek Hyun mengalir di pipinya. Ada banyak alasan yang ingin ia sampaikan tapi hatinya tak punya kesanggupan untuk melontarkan semuanya.


"Tuan Baek Hyun ..."


Suara seseorang membuat ketiga orang itu melepas rangkulannya. Baek Hyun menoleh, dan mendapati seseorang yang tak asing menggendong bayi berjalan ke arahnya.


"Selamat atas kelahiran putri Anda," ujarnya  tersenyum.


Baek Hyun yang awalnya kaget pada akhirnya tak jadi berucap  ketika dokter Lu menyerahkan bayi perempuan itu ke pelukannya.


"Nyonya Hana akan di bawa ke ruang rawat inap. Ibunya masih belum siuman, tapi keadaannya baik-baik saja. Bayinya juga sangat sehat. Sekali lagi selamat ya."


"Terima kasih dokter," ucap Baek Hyun tulus.


"Sama-sama, aku pergi dulu."


*


"Wah, dia cantik sekali ..." ujar manajer Eight sembari mendekat. Yang lain pun ikut mendekat melihat bayi mungil itu. Tak lama, ruang tempat penanganan Hana terbuka. Beberapa perawat keluar bersama Hana yang terbaring di atas tandu dorong. Baek Hyun pun bergegas menghampirinya dan mendapati Hana yang terbaring dengan mata terpejam.


Sementara di luar puluhan wartawan dan peliput berita mulai berdatangan. Berita kehadiran Baek Hyun yang sudah beredarlah yang mengundang kehadiran mereka di sana. Hal itu memang tak bisa di pungkiri karena kehadiran member EXO lain dalam video itu. Mustahil itu seseorang yang hanya mirip Baek Hyun sementara sahabat-sahabatnya juga muncul di sana.


"Apa yang harus kita lakukan? Wartawan-wartawan itu sudah menunggu di depan Rumah sakit" tanya Xiumin pada Chen.


Chen menghela nafas seraya menatap keluar melalui jendela mobilnya


"aku coba tanyakan Suho" ujar Xiumin seraya mengambil handphonenya. Beberapa saat kemudian ia berhasil menghubungi pimpinan grupnya itu


"Apa yang harus kami lakukan, wartawan-wartawan itu sudah menunggu di depan rumah sakit.”


Suho yang menerima kabar tersebut bergegas menghampiri manajer Eight kemudian menariknya keluar dari ruang tempat hana di rawat.


"Ada apa?” Tanya pria itu keheranan.


"Wartawan sudah di depan, Xiumin dan Chen akan ke sini membawa pakaian ganti untuk hana dan Baek Hyun."


"Tidak ada gunanya menutup-nutupi ini semua. Menunda-nunda konfirmasi hanya akan membuat mereka makin penasaran dan bisa saja menimbulkan kehebohan. Ini rumah sakit. Orang lain juga bisa terganggu akibat ulah mereka. Katakan saja kalau itu benar-benar Baek Hyun. Kita akan mengadakan konferensi pers untuk membahas masalah ini."

__ADS_1


Xiumin dan Chen saling bertatapan mendengar perbincangan antara leader dan manajernya itu. "Apa kalian mendengarnya?" suara Suho terdengar di telepon itu.


"Baiklah..." ujar Xiumin.


Kedua orang itu akhirnya masuk ke halaman rumah sakit itu dengan penuh keyakinan. Beberapa wartawan yang mengenal mobil Xiumin bergegas menghampiri diikuti wartawan yang lainnya. Baru saja keluar keduanya langsung dicecar pertanyaan-pertanyaan dari puluhan wartawan.


"Iya ... itu sahabat kami Baek Hyun," Chen menjawab dengan pasti.


"Apa ia baik-baik saja?"


"Jadi ia telah berbohong dengan kematiannya?" pertanyaan yang membuat kuping panas mulai terdengar. Namun kesabaran Xiumin dan Chen sudah sangat terlatih menghadapi semua itu.


"Besok manajer kami akan mengadakan konperensi pers untuk membahas masalah ini, mohon menunggu dengan sabar." ujar Chen seraya berlalu.


"Benarkah Baek Hyun datang kemari karena persalinan istrinya?"


"Apakah bayinya laki-laki atau perempuan?"


"Kami akan jawab itu nanti, mohon menunggu dengan sabar." Ujar Xiumin lagi


Beruntung bagian keamanan yang sudah disiapkan manajer Eight berdatangan melindungi kedua member EXO itu hingga mereka bisa lolos dari serbuan wartawan. Namun tentu saja hal itu tak membuat mereka pergi. Perlahan namun pasti tempat itu mulai didatangi orang-orang yang merasa penasaran dengan kehadiran Baek Hyun


***


Hana menatap sosok yang barusan masuk ke ruangannya itu lekat-lekat. Pria berwajah cantik itu tersenyum menyambutnya.


"Bagaimana dia bisa ada di sini?" Hana ingat betul dia di bawa dari desa kecil itu menuju ke rumah sakit kota dengan sebuah helikopter. Dan Hana sadar dia masih berada di salah satu ruang rumah sakit besar itu. Lagi pula tidak mungkin puskesmas desa punya ruang sebagus dan semewah ini. ini jelas bukan mimpi.


"Tunggu, apa pria ini yang menangani operasinya?"


“Bagaimana keadaanmu?"


"Baik ... aku baik-baik saja." Hana memalingkan mukanya menatap langit-langit kamar itu dengan wajah yang kurang senang.


"Kenapa dokter bisa berada di sini?"


             "Ini rumah sakit punya ayahku?" bisik dokter Lu


Kelopak mana Hana melebar. Rasanya sulit menerima pernyataan itu.  "Mungkinkan dokter Lu hanya membual. Kalau itu benar, kenapa ia mau bekerja di puskesmas desa itu?”


"Aku yang memilih di tempatkan bekerja di puskesmas desa itu,” ujar dokter Lu seakan tahu apa yang ada di benak Hana. “Aku suka tantangan. Mendengar ada pasien dari desa akan melahirkan dengan operasi, aku jadi mengajukan diri untuk ikut serta."


"Kelopak mata Hana menciut.  Jelas sekali ia terlihat tidak menyukai kenyataan itu. Pasti dokter Lu sudah melihat semuanya. Pria ini sengaja ikut di ruang operasi agar bisa melihat segalanya bukan?" Jana berpikiran kotor.


"Kenapa Anda memilih menjadi dokter kandungan? Maksudku, Anda seorang pria, tapi kenapa tertarik menjadi dokter ahli kandungan?"


Dokter Lu menghela nafas ...


“Dahulu ada seorang pasien yang akan melahirkan di sebuah rumah sakit. Perempuan itu kesakitan karena akan melahirkan. Tapi orang-orang di rumah sakit itu tampak tidak begitu memedulikannya karena dia hanya pasien yang miskin. Bahkan salah satu petugas di sana membentaknya karena ibu itu terus-terusan berteriak. Sampai akhirnya bayi dalam kandungan ibu itu meninggal karena terlambat di tangani. Karena dia hanya orang miskin dia tidak punya daya dan upaya untuk menggugat. Saat itu usiaku masih remaja, aku hanya bisa terdiam dalam kegeraman. Aku ingin berbuat sesuatu untuk menolong ibu itu, tapi aku tidak punya kemampuan apa-apa. Sejak saat itu aku berpikir untuk menjadi seorang dokter kandungan."


             Dokter Lu menatap Hana, "Aku sudah jujur tentang diriku, sekarang aku penasaran tentang sesuatu. Rain ... ah bukan ... namanya Baek Hyun bukan? Pantas saja aku merasa tak asing dengannya. Tapi aku berpura-pura tidak tahu.


             "Apa orang-orang sudah tahu kami ada di sini?"


             "Sepertinya begitu. Makin banyak orang-orang di luar sana berdatangan karena penasaran dengannya"


             "Apa!?" Mata Hana terbelalak hampir saja ia bangun. Namun nyeri bekas operasi membuatnya meringis.


             "Kau tidak apa-apa?" tanya dokter Lu khawatir. “Kenapa kau bangun tiba-tiba seperti itu?!"


             "Aku terkejut."


             "Kau tak perlu khawatir. Yakinlah semuanya akan ditangani dengan baik."


             "Bagaimana dengan suamiku?"


             "Dia sedang berbicara dengan rekan-rekannya di luar sana. Pikirkan saja kesehatanmu juga bayimu. Percayalah semua akan baik-baik saja."


             "Istirahatlah, dan jangan banyak pikiran, aku pergi dulu." ujar dokter Lu seraya berlalu.


...***...


             "Jadi kau akan tetap kembali ke sana setelah Hana diizinkan pulang?"


             Baek Hyun mengangguk.


             Wajah manajer Eight tampak sedih. “Aku mohon bantuanmu kali ini. Tolong tangani semua untukku.”


             "Bagaimana dengan penggemarmu? Setelah mengetahui keadaanmu mereka benar-benar berharap kau kembali."


             "Kau bisa jelaskan semuanya untuk mereka.”


             "Aku tidak pandai merangkai kata-kata. Apa yang dapat kujelaskan?!"


             "Katakan saja jika aku merasa tidak pantas untuk kembali. Aku rasa itu cukup. Dan katakan saja itu kemauanku.  Apa pun reaksi mereka aku tidak peduli."

__ADS_1


             "Baiklah ... aku akan menyampaikan sesuai yang kau inginkan." Konperensi persnya akan diadakan besok. Para wartawan itu pasti akan datang ke sana. perhatian mereka pasti teralihkan ke sana. Jadi kau bisa pergi dengan tenang besok. Jaga dirimu baik-baik. Jika tidak ada halangan, aku sempatkan ke sini nanti malam sebelum kau pergi meninggalkan kota ini. Keberangkatanmu besok juga dirahasiakan. Jadi kau tenang saja. Aku pergi dulu."


Manajer Eight pergi dengan wajah tertunduk. Jelas sekali pria itu sedih juga kecewa dengan keputusan Baek Hyun. Suho dan yang lainya yang sejak tadi mendengar perbincangan itu hanya bisa terdiam. Sejak awal mereka sudah menerima kenyataan jika Baek Hyun memang tidak ingin kembali. Mereka sudah maklumi itu. Bisa jadi mereka akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi Baek Hyun.


__ADS_2