
^^^Flashback ... ^^^
^^^Baek Hyun dan Hana sama-sama menggunakan topi jerami yang kini menggantung di pundak belakang mereka. Menjelang senja keduanya menyusuri jalanan setapak yang berbatu sembari menunggu kendaraan bisa mereka tumpangi, lewat. Tangan keduanya menggenggam satu dengan yang lain. Hana tampak bahagia. Semenjak sadar dan sembuh dari sakitnya, terutama saat Baek Hyun berjanji untuk tidak membawanya mati, semenjak itu binar kebahagiaan selalu terpancar di wajahnya. Begitu pun dengan Baek Hyun. Hana adalah alasan dari semangat dan kebahagiaannya. Melihat gadis itu bahagia, bisa tersenyum bahkan tertawa tanpa beban ia pun merasa demikian. ^^^
^^^Di luar dugaan Baek Hyun bisa segera menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya seakan-akan memang hidup seperti itu semenjak lama. Pria itu benar-benar menunjukkan sikap dewasa yang bertanggung jawab terhadap hidup keduanya. Ia seorang nakhoda kehidupan bagi Hana. Seorang pria sejati yang tak pernah mengeluh apalagi risi dengan kehidupan mereka sekarang yang benar-benar lepas dari serba ada yang dinamai kemewahan. Hana sempat berpikir Baek Hyun tidak akan terbiasa. Tapi nyatanya, Baek Hyun malah bersikap seakan-akan sudah biasa menggelandang, walau memang nyatanya di masa lalu Baek Hyun memang pernah jadi gelandangan. Tinggal dirinya yang kini harus bisa menyesuaikan diri. Jauh di lubuk hatinya, Hana bahagia. Ia bahagia bisa hidup dengan sosok yang ia sukai. Hana adalah penggemar berat Baek Hyun dan sekarang mereka hidup dalam suka duka meski Baek Hyun bukanlah seorang artis lagi. ^^^
^^^Baek Hyun meraba kepala Hana lalu meraba kepalanya juga ^^^
^^^“Kenapa? Aku tidak merasa sakit sama sekali,” ujar Hana sembari meraba kepalanya sendiri. ^^^
^^^“Jika kita menemukan desa lagi, sebaiknya kita ke dokter. Kita harus memeriksa kepalamu, siapa tahu terjadi sesuatu karena efek benturan itu.” ^^^
^^^“Aku tak merasa aneh atau sakit sama sekali.” ^^^
^^^“Justru itu, aneh bukan? Kau tidak merasa sakit, tapi semenjak kau sadar aku lihat kau hampir selalu tersenyum entah saat lapar, kenyang, susah apalagi senang dan itu ... Akh ... Aaaaakh ..." Pekik Baek Hyun. Hana tiba-tiba mencubitnya dengan kuat. ^^^
^^^“KAU PIKIR AKU GILA!!” Marahnya seraya menghempas tangan Baek Hyun. Lantas berjalan mendahului Baek Hyun dengan wajah merengut. ^^^
^^^Baek Hyun tertawa terbahak-bahak. “Hana!! Awas!! Di depanmu ada orang gila!!” Teriaknya tiba-tiba. Gadis itu spontan berbalik arah dan berlari ketakutan ke arah Baek Hyun. Tapi beberapa langkah kemudian ia sadar Baek Hyun menipunya. Semenjak tadi tidak ada siapa pun di sana kecuali mereka berdua. Merasa kesal Hana berlarian mengejar Baek Hyun, dan pria itu berlari pula sembari tertawa, menghindari Hana yang mengamuk. ^^^
^^^***^^^
“Hana, maaf jika pertanyaanku menyinggungmu. Aku lihat kau selalu menempel dan bahagia dengan suamimu itu, tapi kenapa kau belum juga memiliki bayi? Apa terjadi sesuatu? Coba ceritakan padaku siapa tahu aku bisa membantumu. Kami memiliki ramuan yang bisa membuatmu segera punya anak.”
“Kami memang menundanya. Rumah kami belum layak untuk menerima kehadiran seorang bayi, jadi kami menundanya sementara waktu.”
Melihat Hana seperti sedang berbicara serius dengan ibu itu, Baek Hyun mengurungkan niatnya untuk memanggil Hana. Pria itu memang sengaja datang ke sana untuk menjemput istrinya itu.
“Tidak apa-apa jika kau bahagia dengan pilihanmu. Aku pikir terjadi sesuatu.”
“Dahulu kami pernah hampir mati.” cerita Hana.
“Benarkah?”
“Eum ... karena itulah aku selalu menempel padanya dan berusaha membuatnya bahagia. Aku ingin ...”
“Rain ...” sapa seorang pria yang merupakan suami dari ibu yang tengah berbicara dengan Hana.
“Kau ke sini untuk menjemput istrimu? Waaaah kau benar-benar baik dan setia. dahulu ketika aku muda, aku juga sepertimu.”
“Jangan percaya padanya. Dia bahkan tak pernah menjemputku ke rumah apalagi mendatangiku bekerja,” jawab ibu itu.
“Ah ... sepertinya aku harus pulang.” Hana permisi lalu menghampiri Baek Hyun.
*
“Ada apa denganmu? Tanya Hana yang berjalan di belakang Baek Hyun. Tak seperti biasanya pria itu terlihat cuek bahkan berjalan mendahuluinya.
Baek Hyun menoleh menatap hana “Jadi selama ini kau menempel padaku dan terlihat senang karena kau takut aku membawamu mati lagi. Bukan karena kau benar-benar bahagia?!”
“Tentu saja karena aku bahagia.”
“Lalu apa yang kau bicarakan tadi.”
__ADS_1
“Ah itu ... kau belum mendengar cerita kami sampai selesai.”
Baek Hyun melanjutkan langkahnya, dan meninggalkan Hana.
“Dia benar-benar marah. Ahk ... bagaimana mungkin dia berpikir aku berpura-pura bahagia karena takut mati?"
“Baek Hyun ...” Hana berlari mengejar.
***
Ulang tahun putri pertama manajer Eight dan Yura hanya dihadiri ke 7 member EXO. Serangkaian acara berlangsung dengan sederhana namun penuh sukacita. Setelah insiden yang menimpa Baek Hyun, Yura memutuskan untuk berhenti bekerja meski cuti melahirkannya belum tiba. Menyusul kemudian EXO dan manajer Eight yang memutuskan kontrak sepihak. Kini mereka mulai menata kehidupan baru bersama di tempat kerja yang baru. Sementara manajer Eight bekerja, Yura memutuskan untuk fokus pada anak mereka yang masih bayi. Kelak, ia juga akan kembali mengurus ke 7 bayi besar itu lagi.
“Eiyu” itulah nama yang diberikan manajer Eight dan Yura pada bayi perempuan mereka. Nama itu merupakan gabungan dari dua suku kata awal nama Eight dan Yura.
“Kita harus foto bersama untuk kenang-kenangan,” ujar manajer Eight sembari mengeluarkan handphonenya. Setelah memasangkan kamera itu pada tiangnya. Mereka pun foto bersama, sebagai sahabat ... sebagai keluarga. Ya... mereka adalah keluarga.
Sebuah panggilan kemudian mengalihkan perhatian manajer Eight. Pria itu tampak terkejut. Untung saja para member itu termasuk istrinya tidak begitu menyadarinya.
"Aku mengangkat telepon sebentar," ujar manajer Eight seraya beranjak keluar.
"Selamat ulang tahun untuk putrimu, maaf tidak bisa merayakannya langsung di sana."
"Tidak masalah, yang penting hadiah untuk putriku bisa segera hadir di sini"
Lay tertawa. "Tunggu saja, hadiahnya didatangkan langsung dari sini. Eum ... apa yang lainya juga ada di sana?"
"Ya, mereka semua ada di sini. Kapan Kau akan kembali?"
"Saatnya belum tepat. Aku belum mengatakan hal ini pada ayahku juga. Saatnya belum tepat. Aku belum mengaAku tidak mau akan terjadi masalah ke depannya terutama bagi kalian."
"
"Terima kasih sudah mau menunggu."
***
“Sudah Dua hari ini Baek Hyun bersikap dingin pada Hana. Ia memang kecewa setelah berpikir bahwa selama ini Hana menipunya. Jadi senyuman dan binar kebahagiaan itu semuanya palsu? Memikirkan semua itu entah kenapa membuatnya merasa marah dan kecewa. Seperti apa perasaan Hana sebenarnya padanya?. Jangan-jangan Hana terpaksa mengikutinya selama ini.
*
“Jadi dia marah setelah mendengar pembicaraan kita waktu itu?”
Hana mengangguk. “Dia pikir aku menipunya selama ini hanya karena aku takut dia membawaku mati lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak terbiasa seperti ini. Dia sulit sekali diajak bicara. Dia selalu bilang capek, esok saja, dan berbagai macam alasan lain untuk menghindariku.”
“Hana ... biasanya masalah akan dengan mudah selesai jika dibicarakan di atas ranjang.”
“Aku sudah mencobanya, tapi dia selalu tidur lebih dahulu.”
“Masa kau tidak mengerti maksudku?”
Wajah Hana memerah. Soal itu ... Aku ... aku tidak pernah menggodanya lebih dahulu,” bisik Hana.
“Kau tak mesti jadi perempuan penggoda, dan rayuan tak mesti dilakukan dengan genit.”
__ADS_1
“Lalu aku harus melakukan apa?”
***
Baek Hyun baru saja berpakaian. Pria itu juga mengenakan jaketnya karena udara malam terasa lebih dingin kali ini. Hana menghampiri dan duduk di sampingnya. “Berputarlah aku akan memijat punggungmu,” ujar Hana seraya mendorong tubuh Baek Hyun membelakanginya.
Tanpa permisi tangan Hana menyelinap di balik pakaian Baek Hyun.
“Hana ... Hentikan,” ujar Baek Hyun seraya berputar ke posisi semula.
“Ada apa? Aku sedang memijadmu sekarang,” jawab Hana seraya memutar tubuh Baek Hyun lalu melanjutkan kegiatannya dengan lebih maksimal lagi.
Baek Hyun tiba-tiba berbalik menghadap Hana. Kedua tangannya mendorong kasar bahu Hana dan menekannya ke sandaran kursi itu. “Apa kau ingin di p*****a?! Kau tidak sedang memijatku, tapi kau menggerayangiku!!” Bentak Baek Hyun sambil menatap tajam Hana.
Wajah Hana memerah. Jantungnya berdebar tak karuan. Ini memang kali pertama ia menggoda Baek Hyun. Ia tidak pernah tahu jika reaksinya akan seperti ini .
“Itu ...” Hana tak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Berbaring di sana sekarang!!” Bentak Baek Hyun lagi.
Hana menurut. Ia berbaring terlentang sembari sekali-kali melirik, mengawasi Baek Hyun yang masih diam di tempatnya. Kedua tangannya saling berpaut satu dengan yang lain menandakan ke kegelisahannya.
Melihat Hana yang dengan polosnya menuruti perintahnya, perasaan Baek Hyun jadi makin gusar. Ia pikir bentakanya tadi akan membuat Hana diam atau menghindarinya. Ia tidak menduga reaksi Hana yang seperti itu.
Apa Hana benar-benar menginginkannya?
Walau sempat terlintas keraguan dalam benaknya, pada akhirnya Baek Hyun melepas jaketnya lalu melangkah menghampiri Hana dan ...
***
“Bisakah kau mendengarkanku sekarang?”
“Aku mengantuk ... Aku juga sudah melupakannya. Anggap saja kau tak pernah mengatakannya, jadi lupakan dan tidurlah,” jawab Baek Hun sembari berbalik membelakangi Hana.
Hana merapatkan tubuhnya ke punggung Baek Hyun lalu menempelkan kepalanya ke punggung pria itu. Meski sempat regu, secara perlahan Hana memberanikan diri melingkarkan tangannya ke tubuh suaminya itu.
“Memang benar aku masih takut kau akan membawaku mati lagi. Bertahun-tahun kau hidup dalam kenyamanan dan kemewahan, lalu tiba-tiba saja kau harus meninggalkan semua itu dan hidup seperti ini denganku. Kadang aku berpikir, jika kita tidak pernah bertemu setelah *setahun itu *(perpisahan pertama saat Hana di jemput orang tua angkatnya) mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
“Kau menyesal bertemu denganku?” Tanya Baek Hyun dengan mata yang masih terpejam.
“Tidak, justru aku takut kaulah yang akan menyesal. Kau meninggalkan segalanya, bahkan hasil kerja kerasmu, hasil jerih payahmu yang kau dapatkan dengan susah payah. Segalanya seakan terbuang sia-sia dan tak berarti apa-apa. Kadang aku takut kau menyesal, merasa lelah dan menyerah dengan kehidupan kita saat ini. Tapi aku tidak pernah menemukannya pada matamu, sikapmu, juga kata-katamu. Justru sebaliknya, kau terlihat bangga dan senang dengan apa yang kau dapatkan saat ini padahal nilainya tidak ada apa-apanya dari yang pernah kau dapatkan sebelumnya. Karena itulah aku merasa terharu juga bahagia. Karena itulah aku selalu tersenyum, dan bahagia sampai kau berpikir aku gila. Jadi bukan saja karena aku takut kau membawaku mati lagi. Aku bahagia melihatmu bisa melupakannya, dan menjalani kehidupan ini dengan semangat juga bahagia. Aku juga benar-benar bahagia bisa hidup bersamamu. Asal kau tahu, mungkin ada banyak penggemarmu yang menginginkan hal seperti ini. Bisa hidup dengan sosok yang mereka idolakan, yang mereka kagumi dan mereka sayangi. Kesusahan itu bahkan tak berarti apa-apa asal bisa hidup dengan sosok yang mereka cintai.
Baek Hyun berbalik dan menatap Hana. “Jadi kau masih menjadi penggemarku sekarang?”
“Sebesar 50%, ah tidak ... mungkin 70 %, tapi rasanya lebih ke 100 %. Aku adalah istri juga penggemarmu. Itu tak masalah bukan?”
“Ya ... jika itu jawabanmu, aku percaya,” ucap Baek Hyun sembari menarik kepala Hana hingga menempel ke dadanya.
“Besok kau ingin masakan apa?” Hana mendongakkan kepalanya berharap bisa menatap mata pria itu.”
“Lobster panggang.”
“Itu lagi? kau tak bosan?”
__ADS_1
“Aku tidak pernah bosan. Besok kita masak di sungai saja. Sekarang tidurlah,” ujar Baek Hyun dengan mata terpejam.