
***************************************
Flashback
Cahaya matahari pagi menyadarkan Baek Hyun dari pingsannya. Langit cerah menjadi pemandangan pertama yang dilihat Baek Hyun saat membuka matanya. Seluruh tubuhnya terasa sakit smua. Pria itu bangun dan mendapati dirinya terbaring di atas rerumputan dengan jurang yang dalam di sekitarnya.
“Hana ... “ Baek Hyun teringat kekasihnya itu. Susah payah ia bangun dan mendapati Hana terbaring tak sadarkan diri tak jauh darinya. Baek Hyun merangkak menghampirinya, saat melihat kekasihnya itu terbaring layaknya orang mati, muncul ketakutan dalam dirinya.
“Hana ...” panggilnya sembari mengguncang pelan tubuh itu seraya terisak sedih. Sesaat kemudian perempuan itu nampak meringis.
“Hana ...” panggilnya lagi. Perasaan lega menyiram jiwanya yang dipenuhi ketakutan tadi. Hana masih bernafas dan hidup. Baek Hyun menarik tubuh itu dan merangkulnya erat. Timbul penyesalan dalam dirinya setelah memaksakan Hana melakukan kehendaknya.
*
Takdir cukup bermurah hati kali ini. Saat keduanya terlempar akibat tabrakan keras itu. Beberapa barang juga ikut terlempar ke sana termasuk tas mungil yang berisi dompet dan handphone Baek Hyun. Tempat di mana tubuh ke duanya terlempar juga terdapat sebuah gua kecil yang menjadi naungan mereka sementara. Tidak ada yang tahu tempat itu karena belum terjamah siapa pun. Di dalam gua, Hana terbaring lemah di atas tumpukan rerumputan yang sengaja Baek Hyun kumpulkan sebagai alas pembaringan. Gadis mengalami demam ringan.
Baek Hyun menghampiri Hana sembari mengambil kompres di kening gadis itu. Ia merabanya, lalu tersenyum lega karena panas Hana sudah turun ditambah lagi gadis itu sudah bisa menatapnya dengan sorot mata kesal😒
Baek Hyun tidak memedulikannya ia justru senang karena itu menandakan kondisi kejiwaan Hana pasca kecelakaan itu, sudah normal kembali. Tanpa peduli Hana yang nampak ngambek Baek Hyun menegakkan tubuh Hana kemudian memberinya minum.
“Ada desa kecil di dekat sini, Aku mendapatkan beberapa singkong dari kebun kepunyaan penduduk. Aku juga memancing dan mendapatkan seekor ikan. Tadi aku merebus singkong juga membakar ikan untuk makan siang kita. Bangunlah, kau haru segera mengisi perutmu. Jika kau sudah baikkan, kita akan pergi dari sini.”
“Aku akan mengikuti kemana pun kau pergi, asal jangan membawaku mati lagi.” pinta Hana dengan wajah merengut.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
*
“Waaaaaah ...” Hana bertepuk tangan saat melihat ikan sebesar pergelangan kaki itu terhidang di atas dedaunan.
Baek Hyun tersenyum, perempuan itu nampak sehat dan bahagia seakan lupa pada nasib mereka yang menyedihkan. “Makanlah yang banyak, jika kau sudah benar-benar sehat nanti, bersiaplah melakukan perjalanan jauh dengan kakimu karena Aku tidak mau menggendongmu.”
“Jangan meremehkanku, aku pikir kaulah yang akan banyak merengek nantinya"
Baek Hyun tak bisa menjawab pernyataan Hana. Memang benar dirinya terbiasa hidup nyaman. Tapi kenyataan saat ini membuatnya harus mampu menjalani kehidupan barunya. Apalagi sosok di sampingnya telah sepenuhnya menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Ia benar-benar akan memelihara perempuan itu kini dan seterusnya. Pergi kemana pun ia pergi. Ia juga bertanggung jawab penuh membuat mereka tetap bisa makan, menemukan tempat untuk sekedar tidur dan beristirahat di malam hari dan banyak lagi. Sekarang ia bertanya-tanya, mungkinkan Hana sanggup mengikutinya? Tapi Baek Hyun sendiri tak punya keberanian untuk menanyakannya. Ia takut pertanyaan itu justru meruntuhkan sukacita yang berapi dalam diri Hana saat ini.
“Tapi ... kemana kita akan pergi?” Hana membuyarkan pemikiran Baek Hyun.
“Aku juga tidak tahu, kita ikuti saja kemana arah jalan menuntun kita. Semakin jauh semakin baik. Sampai di mana tak seorang pun yang mengenal dan mengingat tentang kita.”
“Ah ... 😃 kita akan menjadi petualang sekarang, seperti pengembara.” Wajah Hana tampak berbinar-binar senang membayangkannya.
“Kenapa kau terlihat senang, ini tak semudah yang kau bayangkan. Kita bukan gelandangan biasa yang bisa menampakkan wajah sesuka hati. Aku yakin kabar kematian kita sudah tersebar sampai ke penjuru bumi. Akan menghebohkan jika orang-orang melihat kita. Jadi kita harus berhati-hati. Jika kita sampai ketahuan, aku akan membatalkan janjiku.”
Hana yang mau memasukkan potongan singkong ke mulutnya seketika menghentikan aksinya.
__ADS_1
“Aku hanya bercanda.” Kata Baek Hyun lagi.
“Aku akan berusaha sebisa mungkin agar kita tidak ketahuan.” Kata Hana dengan muka sedikit memelas🙁
“Bukan hanya kau saja, tapi aku juga.”
“Ah ...” Hana meraba-raba saku celananya.
“Waktu itu kakakku menitipkan uang ini untuk membeli beberapa kotak susu. Aku tak sengaja menyelipkannya di saku celanaku karena terburu-buru menemui polisi yang ternyata pria brengsek itu.”
“Jangan mengingatnya lagi,” ujar Baek Hyun sembari mengambil uang itu dari Hana dan menaruhnya di dompetnya. Lantas menyerahkan dompet itu pada Hana kembali.
“Mulai sekarang, kaulah yang menyimpan uang kita.”
“Kenapa aku yang menyimpannya? Bagaimana kalau kau perlu sesuatu?”
“Aku akan memintanya padamu jika aku memerlukannya” ujarnya seraya mengambil tangan Hana dan meletakkan dompet itu di telapak tangannya.
“Aku membeli beberapa keperluan darurat kita di desa tadi. Kau juga harus mengganti pakaianmu. Maaf, aku membeli seadanya dan murah. Kita juga harus berhemat.”
“Terima kasih” ucap Hana sembari tersenyum tulus. “Di mana kau memancing ikannya?”
“Di dekat sini ada sungai, kau ingin memancing ikan juga?”
“Tidak, aku ingin mandi dan mencuci pakaian. Dimana kau meletakkan pakaian kotormu, biar ku cucikan juga.”
***************************************
Surga kecil di Dusun Terpencil
Hampir setahun berlalu Baek Hyun dan Hana sudah benar-benar menjadi bagian dari penduduk dusun itu. Pola kehidupan di sana masih begitu primitif. Mereka menggantungkan hidup dari hasil alam. Mereka bekerja dan mendapatkan upah dalam bentuk bahan makanan atau barang kecuali jika mereka keluar dari dusun itu menuju desa terdekat di seberang lautan. Tidak ada pasar, tidak ada listrik, apalagi internet. Mereka tidak begitu mengenal teknologi. Jika ingin berumah tangga, hanya sebagian saja yang benar-benar melangsungkan upacara pernikahan. Sebagiannya lagi, tidak melakukan hal tersebut. Mereka langsung tinggal bersama dan memiliki anak. Mungkin karena itulah Baek Hyun dan Hana merasa nyaman tinggal di sana. Karena mereka sendiri tinggal bersama tanpa melalui pernikahan yang resmi yang diakui negara. Mereka tak perlu takut dipergunjingkan. Bagi keduanya, sumpah dan janji yang mereka ucapkan di hadapan Tuhan dan semesta dimasa lalu itu sudah cukup.
Hana dan Baek Hyun seakan menemukan surganya sendiri. Ada-ada saja kebaikan yang mereka terima setiap hari. Hana dan Baek Hyun punya kemampuan lebih dalam hal lain yang membuat mereka makin dihormati dan disayangi di sana. Keduanya tak segan berbagi, Baek Hyun mesti membagi jadwalnya untuk pergi melaut, menjualnya ke pasar, juga melatih penduduk dusun ilmu bela diri dan berbagai kegiatan lainnya. Baek Hyun bersedia mengajarinya dengan syarat, ilmu itu digunakan untuk melindungi diri dan menolong sesama. Tua, muda laki-laki dan perempuan ikut belajar bersama Baek Hyun secara gratis.
Demikian pula dengan Hana, perempuan itu tak dengan senang hati mengajari anak-anak di sana mengenal huruf angka, mengajari mereka membaca dan berhitung. Tak jarang yang dewasa pun ikut belajar bersama.
Layaknya penduduk desa lainnya, Baek Hyun dan Hana juga berkebun di sekitar rumah mereka sendiri. Penduduk dusunlah yang membantu mereka membuka lahan dan bercocok tanam. Keduanya tak pernah khawatir lagi soal makan. Meski tak punya uang yang berkelebihan seperti dahulu. Tapi hidup mereka berkelimpahan bahan makanan dan cinta dari penduduk. Sungguh kebahagiaan yang tiada tara.
***
Hana tersenyum senang sembari melangkah pulang ke rumahnya. Ia baru saja di ajak salah satu penduduk ke kebun dan memanen buah-buahan segar di sana. Senja itu ia pulang dengan membawa buah-buahan segar dan sekantung beras.
Sesampai di rumah ia memasak nasi untuk hidangan makan malamnya bersama Baek Hyun. Ia juga menyiapkan tumisan bawang putih dan cabai cincang sebagai pelengkap lobster panggangnya nanti. Tak lupa ia juga memasak sayuran yang ia petik dari kebunnya sendiri. Perempuan itu nampak tersenyum-senyum sendiri membayang Baek Hyun yang sebentar lagi akan datang dan makan malam bersamanya. Andai baek Hyun diam-diam datang dan melihatnya, bisa jadi pria itu menganggap Hana, gila, dan Hana pasti mengamuk karenanya.
Serupa dengan Hana, Baek Hyun juga nampak bersemangat melakukan pekerjaannya sebagai nelayan. Sesekali Ia tertawa lepas mendengar lelucon nelayan lainnya sembari memilih hasil laut yang akan ia bawa pulang untuk Hana. Ia memilih beberapa ekor lobster dan ikan laut lainnya hasil tangkapan mereka. Setiba di pinggiran pantai, Baek Hyun membantu para nelayan itu membereskan barang-barang mereka, dan menyiapkan hasil laut yang akan dijual ke desa seberang esok. Walau disuruh pergi, pria itu tetap bertahan di sana dan membantu sampai semuanya benar-benar selesai. Hal itulah yang membuat ia disenangi dan menjadi kesayangan nelayan-nelayan itu.
__ADS_1
***
Malam tiba, di bawah cahaya bulan Baek Hyun berari-lari kecil sembari membawa hasil tangkapannya. Di depan rumah Hana sudah menunggunya. Ia tersenyum riang menyambut kehadiran Baek Hyun.
“Kau bawa banyak tangkapan?” Hana berlarian menyambut suaminya itu
“Eum” Aku membawa banyak lobster untuk kita panggang nanti ujar Baek Hyun sembari menunjukkan sebuah wadah ikan yang ia bawa di punggungnya. Ada kepiting dan kerang juga.”
Hana ingin mengambil wadah di bawa Baek Hyun, tapi pria itu segera menolaknya. “Aku akan membersihkannya.”
“Tidaak … kau mandi saja sana, aku yang akan membersihkan,” Hana berhasil merampas wadah itu dari Baek Hyun.
Baek Hyun menatap Hana sembari berkecak pinggang
“Jika kau membersihkan lobsternya, kapan kau mandi? Kapan kita makan? Mandilah, sementara kau mandi, aku akan membersihkan ini, kau selesai mandi, lobsternya sudah bersih, kita tinggal memanggangnya, dan makan bersama.” Hana menatap Baek Hyun merayu😊
“Baiklah istriku yang baik hati”. Jawab Baek Hyun sembari mengacak-ngacak gemas rambut Hana.
“Apa perlu kumandikan?” goda Hana.
“Berhenti menggodaku, kau mandikan lobsternya sana.”
*
Di bawah cahaya rembulan, di pekarangan rumah mereka Hana menggelar tikar pemberian penduduk, memasang lampu minyak di beberapa sisi juga menyiapkan api dan panggangannya. Di atas tikar tadi ia juga menyiapkan peralatan makan, nasi, sayuran, buah-buahan dan seteko air. Sejenak gadis itu tersenyum puas menatapnya. Di kota orang-orang kaya melakukan hal serupa untuk makan malam romantis bersama keluarga. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk menghidangkan menu seperti yang ia siapkan saat ini. Bahkan di masa lalu, meski keluarganya terbilang cukup mampu. Tak mudah baginya untuk bisa menikmati hidangan laut sepeti saat ini. Hana merasa bersyukur luar biasa, meski dahulu di masa awal mereka hidup dalam pelarian, mereka harus melakukan apa pun untuk bisa makan.
Selepas dari maut itu, satu-satunya pekerjaan yang paling sering di lakukan Baek Hyun adalah menjadi kuli bangunan. Jika ia mendapatkan kesempatan itu, maka Ia dan Baek Hyun akan bertahan sejenak di tempat itu sampai bangunan itu selesai. Baek Hyun sengaja memilih tempat di mana ia bisa mendapatkan upah harian. Jadi ia dan Hana bisa tetap makan dan membeli keperluan. Hana juga tak tinggal diam, ia juga berusaha sebisanya untuk mendapatkan uang dan menabung. Menabung? Terdengar mustahil bukan? Tapi nyatanya ia bisa. Hana seorang pengelola keuangan yang luar biasa bagi ia dan Baek Hyun.
Sekarang mereka tak perlu bekerja sekeras itu. Laut dan daratan menyediakan semuanya untuk mereka. Belum lagi cinta dari penduduk dusun. Lengkaplah sudah surga kecil di dusun terpencil itu.
“Apa yang kau lamunkan.” Baek Hyun berbisik di telinga Hana. Rambut pria itu masih meneteskan air setelah mandi.
Hana mengambil handuk yang menggantung di leher Baek Hyun lalu menggosoknya pelan di kepala pria itu. “Aku sedang mengenang masa lalu kita yang luar biasa.”
“Yang mana?”
“Tentu saja setelah kita lolos dari maut. Kita benar-benar petualang yang luar biasa. Kita bisa tinggal dan diterima di dusun ini dengan sangat baik setelah aksi kepahlawananmu, bukankah itu mirip dongeng?”
“Eum, aku hebat bukan? Ingatlah dulu kau sempat meremehkanku” Baek Hyun mencubit gemas hidung Hana.
“Itu karena aku khawatir padamu” ujar Hana seraya menggantung kembali handuk itu di leher Baek Hyun. “Aku sudah menyiapkan panggangannya, kita tinggal membakar lobsternya saja.” Hana menggenggam tangan Baek Hyun dan menarik pria itu ke dekat panggangan.”
“Besok pagi-pagi sekali, kami akan ke desa untuk menjual hasil tangkapan, ada sesuatu yang ingin kau beli?”
“Belikan aku pembalut .”😊
__ADS_1
Catatan :
Hana tak pernah ikut menyeberang ke desa yang di maksud Baek Hyun adalah karena ia pernah pingsan ketika pertama kali menyeberangi lautan menuju dusun kecil yang menjadi tempat tinggal mereka sekarang.