
^^^Flashback^^^
^^^Baek Hyun dan Hana duduk di tebing yang di bawahnya terhampar sungai. Di seberang sungai menjulang bangunan atap gereja dengan salib di puncaknya. Pemandangan itu tampak semakin indah dengan matahari senja di belakangnya. Bangunan itulah yang selama ini dikerjakan Baek Hyun bersama rekan-rekannya dan pemandangan itulah yang senantiasa dilihat Baek Hyun dan Hana ketika senja tiba. Mereka bersyukur dalam keadaan seperti sekarang, mereka sama sekali tak pernah jatuh sakit, dan kelaparan. Hal yang lebih di syukuri keduanya adalah ketika masih bisa tersenyum bahkan tertawa bahagia meski dalam keadaan serba kekurangan. ^^^
^^^Bangunan tempat Baek Hyun bekerja sudah selesai dalam 8 bulan ini. Hari itu menjadi senja terakhir mereka di sana. Baek Hyun dan Hana akan melanjutkan perjalanan mereka sejauh mungkin sampai di mana mereka tak perlu sembunyi-sembunyi lagi dalam beraktivitas. ^^^
^^^“Hana …” ^^^
^^^“Eum?” ^^^
^^^“Apa kau masih mau hidup bersamaku seperti ini?” ^^^
^^^Hana memutar badanya menghadap Baek Hyun. “Tentu saja. Itu jauh lebih baik daripada membawaku mati seperti kemarin.” ^^^
^^^“Kenapa kau masih mengingat hal itu?” ^^^
^^^“Itu hal yang paling mengerikan yang pernahku alami, tentu saja tidak terlupakan. Aku mau bersamamu dalam keadaan apa pun, asal jangan membawaku mati lagi.” ^^^
^^^Baek Hyun tersenyum. “Aku berjanji tidak akan membawamu mati lagi. Kalau begitu apa kau mau menjadi istriku?" ^^^
^^^Hana terdiam sejenak. Namun jelas ia tak mampu menahan senyum kebahagiaannya. Kata-kata itulah yang paling ia nantikan selama ini. “Bukannya kita selalu mengatakan hal itu pada orang lain? Hanya saja kita tidak benar-benar menikah." ^^^
^^^"Kau mau menikah denganku?" ^^^
^^^ Hana merasa salah tingkah. Namun ia berusaha menjaga sikapnya. “Kita menikah di mana? Bukankah akan berbahaya jika ada mengenali kita?” ^^^
^^^ Baek Hyun memutar badannya menghadap Hana. “Tidak harus didalam gereja. Tidak harus ada pendeta atau jemaat. Kita hanya perlu Tuhan yang menjadi saksi perjanjian dan yang menaruh restu serta berkat atas kita,” ujar Baek Hyun sembari menatap salib yang tampak bercahaya karena sinar matahari berada persis di belakangnya. ^^^
^^^ Baek Hyun meraih ke dua tangan Hana seraya menatap gadis itu penuh ketulusan. “Hana … aku mengambil engkau untuk menjadi istriku, untuk menjagamu, setia dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan berkelimpahan maupun kekurangan, dalam keadaan sehat maupun sakit, untuk mengasihi dan menghargaimu sampai maut memisahkan. Tuhan adalah saksi janjiku ini padamu.” ^^^
^^^ "Sekarang giliranmu," ujar Baek Hyun. ^^^
^^^ Hana tercengang menatap Baek Hyun. "Aku tidak tahu kata-katanya." ^^^
^^^ Baek Hyun terkekeh. Sebenarnya ia hanya mengingat dan mengucapkannya seadanya saja. Tapi, tentu saja hal itu ia lakukan dengan sepenuh hati. ^^^
^^^ "Ikuti kata-kataku," ujar Baek Hyun dengan penuh keyakinan. ^^^
^^^ Hana mengangguk sembari memejamkan matanya. ^^^
^^^ "Jangan pejamkan matamu, tapi tataplah mataku dengan penuh perasaan." ^^^
^^^ Hana membuka matanya kembali. Dengan sekali tarikan nafas menjadi aba-aba kalau dirinya sudah bersiap mengucapkan janji itu. ^^^
^^^ "Mulailah dengan menyebut namaku," pinta Baek Hyun. ^^^
^^^ "Baek Hyun ..." ^^^
^^^"Aku mengambil engkau untuk menjadi suamiku." ^^^
^^^"Aku mengambil engkau menjadi suamiku," ^^^
^^^ "Untuk menjagamu," ^^^
^^^ "Untuk menjagamu," ^^^
^^^"Setia dalam keadaan susah maupun senang," ^^^
__ADS_1
^^^"Setia dalam keadaan susah maupun senang," ^^^
^^^"Dalam berkelimpahan maupun kekurangan," ^^^
^^^"Dalam berkelimpahan maupun kekurangan," ^^^
^^^"Dalam keadaan sehat maupun sakit," ^^^
^^^"Dalam keadaan sehat maupun sakit," ^^^
^^^"Mengasihi dan menghargaimu sampai maut memisahkan." ^^^
^^^"Mengasihi dan menghargaimu sampai maut memisahkan." ^^^
^^^"Tuhan adalah saksi janjiku ini padamu.” ^^^
^^^"Tuhan adalah saksi janjiku ini padamu.” ^^^
^^^ Baek Hyun mengambil cincin dari sakunya, dan memasangkan cincin itu di jari Hana. Perempuan itu tampak murung sembari menatap cincin di jarinya. ^^^
^^^ “Bagaimana denganku? Aku tidak punya cincin untukmu?” ^^^
^^^ Baek Hyun mengambil satu cincin lagi dan meletakkannya di telapak tangan Hana. Perempuan itu menatapnya tak percaya. Cincin itu pernah ia berikan saat ia akan berpisah dengan Baek Hyun 16 tahun yang lalu. ^^^
^^^ “Kau masih menyimpan ini?” Hana senang sekaligus terharu. ^^^
^^^ “Bukankah ini jaminanmu? Kau pernah bilang, kau sendiri yang akan memasangkannya bila aku benar-benar menikahimu. ^^^
^^^ Tanpa menunggu lama, Hana meraih tangan Baek Hyun dan memasangkan cincin itu di jari manisnya. Pria itu meraih kepala Hana lalu dengan penuh cinta mencium kening gadis yang kini menjadi istrinya di hadapan Tuhan itu. ^^^
^^^ *** ^^^
Baek Hyun seketika terdiam. Pikirannya berkecamuk dan perasaannya mulai gelisah.
"Dia meminta kita menyediakan tempat dan dia bersedia menanggung semua biaya diperlukan. Bagaimana pendapatmu?”
Baek Hyun tak langsung menanggapi. Ia juga tak tahu harus mengatakan apa.
“Rain??”
“Oh itu ... aku belum memikirkannya.”
"Kami tentu saja mengandalkanmu dalam hal ini. Kedatanganmu bersama istrimu telah mengubah banyak hal di sini. Bagaimana menurutmu? Bukankah ini akan menjadi hal yang baik untuk Dusun kita. Dia bilang tempat kita ini punya daya tarik yang luar biasa. Bisa saja setelah ini, Dusun kita akan dikenal banyak orang dan kita pun akan mendapat pemasukan. Dusun kita bisa lebih ramai dan maju dari sekarang."
Baek Hyun tertegun mendengarkan perkataan orang tua itu. Memang ada benarnya seperti yang dikatakan. Hanya saja, bagaimana dengan dirinya dengan Hana. Ini jelas akan menjadi masalah bagi mereka. Tapi ia tidak mungkin pula mengabaikan keinginan pimpinan Dusun itu demi kepentingannya.
"Apa mereka akan benar-benar mengadakan kegiatan itu di sini?”
“Mereka sudah memastikannya. Tinggal menunggu persetujuan dan kesiapan kita saja.”
“Jika mereka sanggup mengeluarkan biayanya terlebih dahulu, kita akan menyediakan tempat bagi mereka. Ada tempat bagus di atas bukit. Kita bersama warga bisa membangun sebuah penginapan di sana. Kelak jika ada yang datang lagi, kita bisa menyewakan tempat itu dan hasilnya bisa kita bagikan untuk penduduk atau kita gunakan untuk kemajuan Dusun ini. Uang yang nantinya mereka belikan seluruhnya kita gunakan untuk membeli bahan bangunan dan untuk upah penduduk yang membantu. Kita akan membangun penginapan yang seluruhnya terbuat dari kayu yang mencerminkan bangunan rumah penduduk di Dusun ini.”
"Sudah kuduga kau pasti memiliki rencana yang bagus," puji Aspir.
Baek Hyun tersenyum tipis. Hal itu memang sudah sejak lama terpikirkan olehnya setelah melihat pemandangan di bukit itu.
“Jadi kita akan membuat bangunan dari kayu di bukit itu?"
__ADS_1
“Iya ... Kita manfaatkan sumber daya yang ada daripada membeli dari luar sana. Jadi kita bisa menghemat biaya dan uangnya bisa dijadikan upah untuk penduduk yang membantu."
“Baiklah, aku akan membicarakannya dengan mereka.”
“Mereka masih di sini?”
"Iya, mereka menginap di desa sebarang. Aku sudah berjanji akan menemui mereka setelah membicarakan ini denganmu. Apa kau mau ikut menemui mereka?”
“Sepertinya aku tidak bisa. Maafkan aku.”
Tidak apa. Ini sudah jadi tanggung jawabku. Ah soal dana tadi, ayo temani aku memperhitungkan berapa yang kita butuhkah.”
***
Semuanya berjalan sesuai rencana dengan Baek Hyun sendiri yang dipercaya sebagai pemimpin dari proyek itu. Pekerjaan mereka dapat berjalan dengan lancar. Bangunan yang dirancangkan sendiri oleh Baek Hyun berdiri dengan kokoh dalam waktu 3 bulan di puncak bukit dengan panorama yang begitu menawan. Siapa pun akan terpukau dengan pemandangan yang ada di sana, dan kemungkinan akan membuat mereka berniat untuk kembali menginap di sana.
Tempat yang dirancang sendiri oleh Baek Hyun merupakan tempat yang cocok bagi siapa pun dengan keuangan yang mendukung untuk berlibur atau sekadar mengistirahatkan pikiran. Belum lagi suasana Dusun yang tenteram damai dan pola kehidupan yang masih alami. Tidak ada kendaraan yang menimbulkan polusi, tidak ada sampah yang bertebaran sana sini. Ruang lingkup Dusun yang tak begitu luas membuat warganya bisa menjaga lingkungannya tetap bersih.
Baek Hyun sendiri merasa puas dengan kerja kerasnya bersama penduduk. Demikian pun penduduk yang membantu. Mereka merasa nyaman bekerja di bawah pimpinan Baek Hyun. Apa lagi dari kerja keras mereka, mereka bisa mendapatkan upah yang sepadan. Tak memandang tua muda bahkan anak-anak semua yang bekerja mendapatkan upah yang sama. Mereka pun meminta pendapat Hana untuk menggunakan uang mereka, karena penduduk dusun itu tak paham betul tentang peralatan rumah tangga.
"Kumpulkan saja uangnya sebanyak mungkin. Jika sudah cukup, kita bisa membeli panel listrik tenaga surya.” ujar Baek Hyun sembari merangkul pundak Hana.
“Apa itu?" Tanya salah satu warga.
“Semacam alat yang bisa menampung panas matahari yang nantinya bisa digunakan untuk menyalakan lampu listrik. Jadi saat malam hari kita tak perlu lagi menggunakan lampu minyak.”
“Wah ... itu terdengar bagus sekali. Desa kita akan jadi terang berderang di malam hari.”
“Karena itu kumpulkan saja uangnya. Kita bisa memesan alatnya nanti ke kota.”
*
"Aku mendapat kabar kalau mereka akan datang kurang dari sebulan lagi. Apa kau bisa bersamaku menyambut mereka nanti?"
"Sepertinya aku tidak bisa?"
"Tidak bisa? Kenapa?"
Baek Hyun menatap Aspir dalam, seakan ada sesuatu yang ragu untuk ia ceritakan.
"Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau ceritakan," Pak tua itu paham arti pandangan Baek Hyun.
Baek Hyun menarik nafas dalam. Mungkin memang sudah saatnya ia menceritakan masa lalunya yang sebenarnya.
***
“Wuaaaah ...” Chanyoel terpesona dengan bangunan yang akan menjadi penginapan mereka selama syuting.
“Tidak sia-sia aku mengeluarkan uang banyak kemarin. Mereka menyiapkan semuanya melampai harapanku. Walau mereka hanya orang-orang yang tinggal jauh di tempat terpencil ini. Tapi mereka mampu menyiapkan semuanya sesempurna ini.”
“Bagaimana kita membeli bahan makanan kita? Aku dengar pasar hanya ada di desa seberang. Itu pun ada harinya saja.”
“Kau tenang saja. Penduduk Dusun ini mata pencahariannya nelayan dan bercocok tanam. Mereka kerap menjualnya ke desa seberang. Kau bisa menikmati hidangan laut sepuasmu di sini. Akan ada scane melaut bersama nelayan dan juga bertani bersama penduduk.”
“Benarkah ... " Mata Chanyoel berbinar senang.
"Ya ... itulah tujuan kita selama seminggu di sini. Menjadi warga Dusun yang sebenarnya. Kau harus bersiap dan tampilah semaksimal mungkin. Ujar sutradara sembari menepuk pundak Chanyoel.
__ADS_1
“Tentu saja. Aku akan melakukannya sebaik mungkin. Aku akan menyukainya.” Ujar Chanyoel penuh semangat.
***