
“Dia masih hidup. Kakinya menginjak tanah, dan tanganku bisa menyentuh tubuhnya. Wajah, senyum, juga baunya persis Baek Hyun. Dan perempuan itu, Hana ... Hana juga ada di sana, di sisinya,” ujar Chanyoel berapi-api di hadapan sahabat-sahabatnya yang terlihat bingung dengan ceritanya. Bagaimana tidak. Pria jangkung itu muncul di hadapan ke enam sahabatnya dan tanpa kata-kata pengantar menyampaikan cerita yang terdengar mustahil dengan begitu gusarnya. Koper ia letakan begitu saja di lantai, sementara tas punggungnya dilempar ke dekat Sehun.
"Bagaimana mungkin? Apa kau mengambil foto bersamanya?" Tanya Kai tak percaya.
"Bagaimana mungkin aku sempat melakukan itu?! Aku bahkan sangat marah dan kecewa padanya!!"
"Apa kau tak salah mengenali mereka. Bisa saja mereka hanya orang-orang yang mirif?"
"Tidak!! Itu benar-benar Baek Hyun dan Hana."
"Kau bicara dengan mereka?" Tanya Suho.
"Tentu saja! Jika tidak, bagaimana mungkin aku bisa sekesal ini!"
"Wuah ... kau tidak berfoto bersamanya, tapi kau diam-diam merekamnya," ujar Sehun seraya menonton video Baek Hyun bersama Hana dan anak-anak Dusun itu. Entah kapan Handphone itu sudah berada di tangan Sehun.
"Kenapa kau memeriksa handphoneku tanpa izin!” Teriak Chanyoel sembari berusaha merebut handphonenya kembali. Sehun berhasil menghindarinya sementara ke enam member itu segera berkumpul untuk melihat video itu. Chanyoel tak punya daya mencegah mereka.
“Ini benar-benar dia? Baek Hyun masih hidup?” Xiumin bertanya meyakinkan dirinya.
Perasaan mereka berdebar tatkala menyaksikan video itu. Perasaan mereka jadi tak karuan antara sedih, terharu, juga rindu. Suho tak mampu menahan air matanya, demikian pula Chen, dan Sehun.
"Ada apa dengan kalian?" Chanyoel bertanya dengan hati dongkol. "Apa hanya ia yang tidak terima dengan perlakuan Baek Hyun? Bagaimana mungkin mereka terlihat begitu haru sementara dirinya begitu emosi?"
"Jadi kalian benar-benar bertemu dan bicara? Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Chen penasaran.
"Tentu saja dia baik-baik saja. Aku bahkan pingsan setelah mendapat pukulan dengan panci baja di kepalaku.”
“Dia memukulmu?” Tanya Kai terkejut.
“Bukan! Tapi Hana yang memukulku.”
Ke enam member tampak menahan tawanya.
“Apa yang lucu!!”
“Hana memukulmu? Apa dia tidak mengenalmu? Jangan-jangan ia kehilangan ingatannya lagi?!" ujar Xiumin.
"Aku berkelahi dengan Baek Hyun dan Hana tiba-tiba menyerangku dari belakang dengan panci baja itu."
"Kau berkelahi dengan Baek Hyun?" Tanya Suho terkejut. "Kenapa?!"
“DIA MENUTUPI INI SEMUA DARI KITA! Aku tidak mampu mengendalikan emosiku lagi, jadi aku langsung menyerangnya! Tunggu ... Apa hanya aku yang kesal? Tidakkah kalian kesal setelah ia berbohong tentang kematiannya?!”
"Tidakkah kau bersyukur ia masih hidup bahkan hidup dengan baik?”
"TAPI DIA MEMBUAT KITA BERADA DALAM KEHANCURAN SELAMA INI!! KITA SEDIH, SAKIT, DAN TERLUKA. KITA MERANGKAK, BANGUN, DAN JATUH BERKALI-KALI SELAMA INI!! DAN LUKA ITU SEJUJURNYA MASIH BELUM BENAR-BENAR SEMBUH DI SINI?" teriak Chanyoel sambil memukul dadanya sendiri. Tangisnya tak mampu ia tahan lagi.
"LALU MAU BAGAIAMANA LAGI?! KAU SEMARAH INI MELIHATNYA HIDUP. APA KAU INGIN DIA BENAR-BENAR MATI! APA MAUMU SEBENARNYA!" Bentak Suho sembari berdiri menatap Chanyoel penuh emosi.
"Tolong tenangkan dirimu," Sehun menarik tangan Suho agar duduk kembali.
"Apa kau benar-benar sahabatnya?" Suho bertanya lagi seraya duduk. Pria itu juga tak mampu menahan air matanya lagi.
Chanyoel terdiam dengan air matanya yang terus berderai. Ia berlalu dari ruangan itu meninggal rekan-rekannya yang larut dalam emosi masing-masing.
*
“Bagaimana? Apa kita mendatanginya ke sana?” Tanya D.O pada rekan-rekannya ke esokkan harinya.
"Aku rasa kita harus ke sana memastikannya," sahut Chen.
“Untuk apa kalian ke sana. Dia sudah dengan sengaja menghindari melupakan kita semua. Kenapa kalian masih ingin mendatanginya." Sahut Chanyoel seraya menikmati sarapan paginya.
“Aku merindukannya,” jawab Sehun pendek.
“Ayo kita ke sana," ujar D.O sembari menatap Suho.
__ADS_1
Namun yang ditanya hanya diam lantaran tak menyadari pertanyaan itu ditujukan padanya. Pria itu masih saja menatap video Baek Hyun bersama Hana dan anak-anak Dusun itu.
“Langkahi dulu mayatku!!” Ancam Chanyoel gusar. Beruntung perkataan itu seperti berlalu begitu saja dari telinga Suho.
"Ada apa denganmu? Jika kau tidak suka, kau tak perlu membawa kami," sahut Chen.
"Jadi kalian ingin pergi dan meninggalkanku begitu saja. Baik! Pergilah! Tinggalkan aku sendiri!" ujar Chanyoel seraya meninggalkan sarapannya di meja. Chen hanya bisa tertunduk seraya memijit keningnya sendiri. Sementara yang lainnya hanya bisa terdiam kelu. Mereka tak habis pikir dengan sikap Chanyoel. Sebesar itukah kekecewaannya?
***
Chanyoel terbangun ...
Pria itu menggeliat untuk sekedar meregangkan otot dan tulangnya. Setelah puas pikiran pria yang masih berkabut karena kantuknya mulai terang. Ia kembali teringat dengan pertemuannya dengan Baek Hyun di Dusun itu. Pria itu kemudian meraba-raba kasurnya sendiri untuk mencari handphonenya. Ia ingin melihat video itu lagi.
Chanyoel juga merindukan Baek Hyun. Tapi kecewa masih menguasai perasaannya. Ia masih belum bisa menerima dan memaafkan sahabatnya itu.
Chanyoel beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur untuk minum. Tak seperti biasanya ruang itu tampak sunyi. Biasanya Suho dan Xiuminlah yang bangun pagi-pagi untuk sekedar bersih-bersih. Ada D.O dan Chen yang menyiapkan sarapan, juga Sehun yang berbaring di sofa sembari mengotak-atik handphonenya. Chanyoel mencoba mengabaikan suasana itu. Perdebatan kecil kemarin masih membuatnya kesal dan kecewa. Pria itu memilih duduk di sofa dan menonton TV.
Sunyi...
Tak ada suara apa pun kecuali suara Tevisi. Sahabat-sahabatnya itu masih belum keluar juga dari kamarnya. Mungkinkah mereka juga kesal padanya hingga menghindarinya seperti ini? Atau mungkin sebagian dari mereka sudah keluar mencari bahan makanan? Bukankah mereka memang akan beristirahat 3 hari ke depan?
Pikiran terakhir yang muncul membuat perasaan Chanyoel mulai tak nyaman. Gelas minuman yang tadinya sudah terangkat dan siap diteguk isinya kini hanya tertahan di bibirnya. Ia meletakan gelas itu kembali seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha membuang jauh pikiran yang terlintas. "Itu mustahil" pikirnya.
Tapi kesunyian itu membuatnya makin gelisah.
“Akh ...” Chanyoel akhirnya bangun dari sana. Rasa penasaran membuatnya berusaha melawan gengsinya sendiri untuk melangkah menuju kamar Kai dan D.O.. Ia mencoba mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. Perlahan ia memberanikan membuka pintu. Namun tak seorang pun ada di kamar itu. Chanyoel tahu dengan pasti, Kai adalah member yang paling malas bangun pagi. Jika D.O menghilang sepagi itu. Bisa jadi pria itu pergi keluar untuk membeli keperluan dapur. Mungkinkah ia mengajak Kai bersamanya?
Chanyoel beranjak menuju kamar Suho dan Sehun. Perasaan gengsinya ia buang jauh-jauh. Ia mendahulukan menjawab rasa penasarannya ketimbang menyiapkan alasan jika ke dua orang di kamar itu bertanya-tanya tujuannya datang ke kamar itu.
Pintu diketuk, namun tak ada jawaban. Perlahan ia membuka pintu kamar, namun lagi-lagi ia tak menemukan siapa pun di sana.
Kini Chanyoel makin yakin dengan pikiran yang menghantuinya tadi. Ia bergegas ke kamar Chen dan Xiumin. Tanpa mengetuk, pria itu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Tapi tak ada siapa pun juga di sana. Ia bergegas menuju lemari pakaian. Jelas terlihat perlengkapan ke dua orang itu berkurang bahkan tidak ada di tempatnya. Koper yang biasa mereka gunakan untuk bepergian pun menghilang. Sudah pasti, mereka benar-benar pergi meninggalnya untuk menemui Baek Hyun juga Hana.
Chanyoel menghela nafas, sembari meremas kepalanya sendiri. Tidak begini juga harusnya. Paling tidak mereka mencoba merayu dan menawarkannya untuk ikut serta. Mungkin saja ia akan mempertimbangkan untuk ikut pula ke sana. Ini di luar dugaannya. Ia ditinggal sendiri.
Chanyoel bergegas ke kamarnya untuk mengambil handphonenya. Saat tiba di depan pintu, barulah ia menyadari ada pesan dalam selembar kertas yang di tempelkan di sana.
Chanyoel menatap jam dinding, sudah pukul 9.12.
"Yaiiish!!!"
Tidak ada waktu lagi. Pria itu hanya sempat mengambil handphone, dan dompetnya. Saat berlarian ke luar ia masih sempat meraih jaket yang entah jaket siapa lalu bergegas keluar mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi.
"Tolong ambil mobilku di bandara." Chanyoel masih sempat mengirimkan pesan suara ke manajernya.
Pukul 9. 30 pria itu tiba di bandara dan berlarian menuju orang-orang yang mengantri untuk pengecekan tiket dan lain-lain. Beruntung ia langsung menemukan sahabat-sahabatnya itu.
Para member itu tak mampu menahan tawanya lagi melihat kondisi Chanyoel yang masih mengenakan piama dan sendal bulu yang biasa di gunakan di rumah. Beruntung ia masih sempat mengenakan jaket dan menutupi kepalanya dengan tudung jaket itu hingga tidak ada yang mengenalinya.
“Saat melewati metal ditektor, pria yang memeriksanya tampak berusaha menahan tawanya. Atasan Chanyoel masih bisa diselamatkan, tapi celananya tak bisa ia sembunyikan demikian pula sendalnya. Hari itu ia benar-benar sial. Kenapa juga ia harus menyusul sahabat-sahabatnya itu. Chanyoel tak habis pikir dengan dirinya sendiri.
“Kenapa kalian pergi diam-diam,” protesnya setelah duduk di pesawat.
“Kami tak tega melihatmu mati dan melangkahinya sebelum berangkat,” jawab Sehun yang duduk di belakang Chanyoel.
“Semoga tidak ada media yang melihat kita hari ini,” Harap Chen yang duduk di sebelah Chanyoel sembari tersenyum penuh arti.
“Berapa lama kita akan tiba di sana?” Tanya Kai.
“Sekitar satu jam. Dari sana kita akan berangkat lagi menggunakan mobil sewaan. Kurang lebih 3 jam baru sampai di desa, barulah kita menyeberang lagi menggunakan kapal nelayan setempat," jelas Suho.
“Setiba di kota, kita ke toko sepatu dulu,” lanjutnya lagi di sambut kekehan member lainnya. Chanyoel hanya terdiam dengan wajah kesalnya.
“Bagaimana Baek Hyun dan Hana bisa sampai sejauh itu,” Tanya Kai lagi.
“Nanti kita tanyakan padanya,” jawab Sehun sembari memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
Pesawat itu pun lepas landas.
*
“Aku juga harus mandi,” pinta Chanyoel setelah mendapatkan pakaian ganti dan sepatu.
“Apa kau pikir kita sedang liburan? Semakin banyak kita berhenti, semakin banyak orang yang melihat kita. Jika ada yang mengenali kita bagaimana?” Sahut Suho. “Ganti pakaianmu di mobil," ujarnya lagi.
“Sepertinya mobilnya sudah datang.” ujar Kai sembari menatap Chen yang sedang berbicara dengan pemilik mobil. Keduanya tampak sedang melakukan transaksi. Setelah selesai, Chen melambai pada teman-temannya.
“Apa kalian tahu arahnya?” Tanya Chanyoel.
“Apa gunanya GPS?” jawab D.O santai.
***
“Petualang sejati tidak akan pernah tersesat,” Chen merentangkan tangannya setelah tiba di pinggir laut. Mereka menitipkan mobil tadi pada salah satu penduduk Desa. Dan kini akan bersiap menuju Dusun yang menjadi tempat persembunyian Baek Hyun selama ini.
Meski sudah berpenampilan sebiasa mungkin, ke 7 orang tetap saja terlihat mencolok di antara penduduk Desa yang lalu lalang di pelabuhan itu.
“Kalian dari kota?” Tanya salah satu penduduk yang akan mengantar mereka ke seberang.
“Iya, kami memang dari kota. Kami ingin berkunjung ke Dusun kecil yang katanya pernah dijadikan lokasi Suting artis itu,” Jawab Sehun ramah.
“Oh ..." pemilik kapal itu mengangguk-angguk. "Dusun itu jauh lebih maju semenjak kedatangan sepasang suami istri ke sana. Mereka bersama warga Dusun membangun sebuah penginapan di bukit. Di sanalah orang-orang yang melakukan Suting itu menginap. Kemungkinan kalian aku menginap juga di sana.”
“Sepasang suami istri? Tanya Suho.
“Iya, sekarang istrinyalah yang mengurus penginapan itu.”
Chanyoel tersenyum kecut. Ia tahu sepasang suami istri yang di maksud. Dalam hatinya sebenarnya ia berharap mereka akan mengalami kesulitan untuk bertemu Baek Hyun. Jika itu terjadi, maka ke enam sahabatnya itu akan merengek padanya untuk menjadi penunjuk jalan. Dan dia bisa bersikap seenaknya setelah mereka berani membantahnya, bahkan tega meninggalkannya. Belum lagi ia harus berangkat tergesa-gesa dengan penampilan yang paling menyedihkan. Tapi sayangnya kenyataan justru berkebalikan dengan harapannya.
“Ayo naik, aku akan mengantar kalian ke sana. Tidak ada yang mabuk laut bukan?”
“Kami akan baik-baik saja” jawab D.O.
***
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Mereka tiba di pesisir pantai yang pemandangannya luar biasa indah. Ke 6 orang yang baru menjejakkan kakinya di sana tampak terpukau dengan pemandangan itu.
Beberapa anak Dusun berlarian menghampiri mereka hanya sekedar melihat orang-orang itu dari dekat. Para member itu bersikap seramah mungkin pada anak-anak itu. Suho mengeluarkan snack yang ia bawa lalu memberikan pada anak-anak tadi.
"Wah ... paman datang lagi." Sambut anak-anak yang baru menyadari kehadiran Chanyoel di sana.
"Apa mereka teman-teman paman?"
"Paman akan bekerja di sini lagi?" Tanya anak-anak itu pada Chanyoel.
“Kami mau bertemu teman-teman kami. Namanya Hana dan Baek Hyun. Apa kalian mengenalnya?" Suho mendahului menjawab pertanyaan anak-anak itu.
"Tidak ada orang yang bernama Baek Hyun di sini, tapi kami tahu bibi Hana."
"Apa mereka pasangan suami istri?" Tanya Kai.
"Iya, nama suami bibi Hana 'Rain'”.
"Jadi paman-paman ini temannya paman Rain dan bibi Hana."
"Iya, kami teman-temannya. Bisakah kalian mengantar kami ke sana?"
"Tentu saja." Jawab anak-anak itu semangat.
Suho dan teman-temannya kecuali Chanyoel tampak tersenyum lega. Mereka tidak mengalami kesulitan apa pun meski mereka tidak pernah menginjakkan kaki di daerah itu. Diiringi anak-anak Dusun itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Di belakang tampak Chanyoel menyusul dengan perasaan yang tidak bersemangat sama sekali.
"Jantungku berdebar-debar? Apa kalian merasakannya juga?" Tanya Chen seraya menatap sahabat-sahabatnya.
"Aku juga," jawab Xiumin.
__ADS_1
"Rasanya aku masih belum percaya kalau aku akan bertemu dengan Baek Hyun lagi," ujar Sehun seraya menatap jalanan di hadapannya.
Dalam benak mereka masing-masing mulai membayangkan akan seperti apa pertemuan mereka? Akan seperti Baek Hyun dan Hana menyambut mereka? Sama seperti Chen juga Xiumin member lainnya juga merasakan debaran yang sama. Kecuali Chanyoel yang masih jengkel, juga anak-anak Dusun yang tampak bahagia mengantarkan orang-orang asing itu.