Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2

Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2
11. Kesempatan


__ADS_3

Ketika Suho, Lay dan Chen bercengkerama bersama anak-anak dusun di tengah sungai itu, D.O, Kai, Baek Hyun dan Chanyoel sibuk mempersiapkan makan siang mereka. Ya ... ke 9 orang bersama anak-anak dusun akan makan siang bersama di atas hamparan batu di tengah sungai seperti yang biasa Baek Hyun lakukan bersama Hana. Di sisi lain tampak Sehun yang hanya duduk santai sembari menikmati suasana sungai yang tidak pernah ia dapatkan di kota. Pria itu benar-benar tidak menyiakan suasana langka yang ia dapatkan.


Meski terlihat biasa saja bagi yang lain, Chanyoel yang sebenarnya masih merasa tak nyaman dengan Baek Hyun mencoba mendekati Baek Hyun senatural mungkin.  Pada dasarnya Chanyoel merasa sahabat-sahabatnya itu terus memperhatikan sikapnya pada Baek Hyun yang mulai melunak. Nyatanya, hanya Suho yang menyadari akan hal itu. Dari kejauhan Suho hanya tersenyum melihat Chanyoel yang mulai mendekati Baek Hyun dan duduk di sisinya. Pria itu mulai mengalah pada sisi dirinya yang sebenarnya sangat ingin menjalani persahabatan seperti dulu lagi.


Pandangan Chanyoel kini tertuju pada panci baja yang  D.O letakkan di atas tungku yang di susun dari bebatuan sungai. Spontan pria itu meraba kepalanya. Kejadian waktu itu terbayang kembali. Panci baja itu cukup besar juga tebal. Pantas saja kepalanya terasa mau pecah ketika dihantam menggunakan panci itu. Dirinya sampai tak sadarkan diri. Tengkorak kepalanya juga pasti retak saat itu. Tapi nyatanya, ketika ia sadar, ia baik-baik saja. Bahkan kepalanya tak terasa sakit sama sekali. Seingatnya, kepalanya hanya diolesi ramuan dalam botol itu. Ia jadi menyesal tidak mengambil obat itu dari Hana. Tapi mungkinkah Baek Hyun masih menyimpannya?


"Ramuan obat waktu itu, apakah kalian masih menyimpannya?" Tanya Chanyoel tiba-tiba.


"Eum ..." Baek Hyun mengangguk. "Kenapa? Kau ingin membawanya pulang?" Tebak Baek Hyun.


Chanyoel jadi salah tingkah. Baek Hyun tahu jalan pikirannya


"Ah ... iya. Aku tidak akan pernah mendapatkan yang seperti itu di kota."


"Obat apa?" Tanya D.O seraya menuangkan air ke panci tadi.


"Obat herbal untuk luka luar," jawab Baek Hyun.


"Oh, aku dengar Hana memukul Chanyoel menggunakan panci baja. Aku penasaran bentuknya."


"Yaaaais!!  Kenapa kau mengungkit hal itu lagi?!"  Chanyoel geram dengan pertanyaan D.O.


"Kau menggunakannya sekarang." jawab Baek Hyun seraya tersenyum.


D.O mengalihkan Pandangannnya ke panci yang dipegangnya. Matanya melebar melihat panci yang ia gunakan. Ya ... panci baja itu memang besar dan tebal. Seharusnya Chanyoel tidak baik-baik saja jika memang benar dipukul menggunakan panci itu.


"Karena itulah dia menanyakan obat itu." Ujar Baek Hyun menjawab katakjuban yang tergambar jelas dari raut wajah D.O.


D.O  hanya mengangguk-angguk sementara Chanyoel hanya bisa menyabarkan diri dengan tingkah D.O.


"Aku tidak melihat Hana sejak kemarin. Apa mungkin kehadiran kami membuatnya tak nyaman?" Tanya Sehun dari kejauhan.


"Sebenarnya ... Hana merasa tak nyaman karena dia menjadi satu-satunya perempuan di sini," jawab Lay sok mengerti.


"Bukannya biasanya perempuan itu senang dan merasa istimewa jika dikelilingi laki-laki?"  ujar Sehun lagi seraya memainkan air dengan kakinya.


"Aku rasa dia hanya ingin memberi kesempatan sebebasnya kepada Baek Hyun untuk berkumpul bersama kita. Aku melihatnya begitu bahagia saat membiarkan Baek Hyun bersama kita kemarin. Bukankah begitu?" Tanya Kai pada Baek Hyun.


"Iya ...  Hana bahagia dengan kehadiran kalian di sini."


"Apa kau juga bahagia?" Selidik Kai.


"Tentu saja ... aku pikir kalian akan membenciku."


"Seharusnya seperti itu, Tapi kami lebih penasaran juga rindu padamu," jawab D.O seraya menatap baik Hyun.


“Apa kau yakin dengan keputusanmu? tidak bisakah kita bersama kembali?” Tanya Sehun memastikan.


Baek Hyun terdiam. Sebenarnya hatinya tak ingin mendengar pertanyaan itu lagi. Ia kesulitan merangkai kata-kata yang sekiranya nyaman untuk diterima teman-temannya sebagai penolakannya. Jelas di hati mereka akan menyusup kekecewaan, terlebih mereka sudah jauh-jauh mendatanginya.


"Kau tak perlu menjawabnya. Aku memahaminya," ujar Chen.

__ADS_1


"Eum ... yang penting kami tahu kau baik-baik saja, itu sudah cukup membuat hati kami kembali bahagia," sambung Xiumin.


Baek Hyun mengangguk seraya tersenyum. Kata-kata itu cukup membuatnya tenang sekarang.


"Sering-seringlah kemari. Aku tidak peduli jika orang-orang pada akhirnya tahu keberadaanku karena kalian sering mendatangiku kemari."


"Apa kau juga tidak tertarik untuk jalan-jalan ke kota.  Tempat ini memang menyenangkan. Tapi sekali-kali nikmati kembali suasana yang sudah lama kau tinggalkan."


"Bagaimana kalau dia ketahuan. Kau tahu, mata manusia bahkan bisa lebih tajan dari teropong bintang."


"Ah .. benar juga. Tapi jika kau ingin ke kota, kabari saja kami. Kami pastikan kau akan baik-baik saja di sana," ujar Sehun meyakinkan.


"Eum ..." Baek Hyun mengangguk setuju. "Aku akan memberi kabar jika akan ke sana."


***


Mata Lay memandang ke sekeliling. Hati kecilnya berharap sosok yang ia rindukan itu datang menjemputnya. Namun mustahil, dia bukan siapa-siapa untuk bisa diperlakukan se istimewa itu. Lay menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Bibirnya mengumbar senyum namun hatinya meratap akan harapannya yang tidak mungkin terjadi.


"Paman ... "


Samar-samar Lay mendengar suara yang terdengar tidak asing. Alam sadarnya mencoba memastikan itu sebaik mungkin. Sambil terus  melangkah seakan tak mendengar suara. Lay terus mempertajam telinga untuk memastikan suara itu lagi. Di balik kaca mata hitamnya, bola mata Lay bergerak kian kemari  mengawasi sekitarnya.


"Paman .... "


Lay terdiam di tempatnya.  Sosok gadis kecil berlari ke arahnya se orang diri  sembari membuka lebar kedua tangannya.


Jantung Lay bergetar, seperti tanaman di musim semi, bunga –bunga itu tumbuh dan bermekaran di hatinya. Pria itu merjongkok menyambut gadis kecil tadi. Dengan penuh sukacita Lay memeluk sementara bola matanya awas mencari sosok yang membawa gadis kecil itu kemari.


"Paman punya banyak pekerjaan di sana," jawab Lay seraya mencium gemas kemenakannya itu.


"Jika paman pergi lama lagi, paman harus membawaku ya ..." rengek Shimpony dengan wajah memelas.


"Jika paman membawamu, ibumu akan sendirian. Bagaimana jika nanti ia menangis.”


"Ibu juga akan ikut bersama kita."


Lay tersenyum, hatinya berbunga Andai saja itu terjadi, ia kan sangat senang.


"Apa ibumu bersedia pergi bersama kita?"


"Jika untuk bersenang-senang, aku mau. Aku juga akan membawa Alan bersama kita," jawab Anely seraya tersenyum.


"Apa kalian sudah makan?"


"Kebetulan sekali aku dan Shimpony tak sempat makan siang. Itu semua karena Shimpony mendengar kau  datang hari ini. Jadi dia merengek memintaku menjemputmu ke sini sepulang dari sekolah tadi."


"Oh, maafkan aku. Kau pasti laparkan?" Tanya Lay pada Shimpony yang langsung dijawab dengan anggukan oleh gadis kecil itu.


Lay teramat sangat senang. Ini kado terindah untuk kepulangannya kali ini. Pria itu tersenyum seraya membawa Shimpony dalam gendongannya. "Ayo kita makan bersama," ujarnya seraya melangkah melewati Anely. Dalam angannya, Lay ingin sekali, sekalian meraih dan mengenggam tangan perempuan itu seraya membawanya berlalu dari tempat itu. Namun sepertinya ia harus bersyukur dengan hanya membawa Shimpony dalam gendongannya sementara Anely membuntutinya di belakang.


***

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Tanya Hana pada Baek Hyun yang sedang melamun.


"Tentu saja, aku hanya belum melupakan masa-masa kebersamaan kami kemarin. Rasanya seperti mimpi saja. Lay yang lama menghilang juga tiba-tiba muncul. Itu hal yang di luar dugaan."


"Apa kau benar-benar tidak ingin kembali?"


Baimek Hyun berputar menghadap Hana dan menatap perempuan itu dengan saksama. "Jika saja masa lalu kita tidak seburuk dan semenakutkan itu, aku ingin kembali. Tapi kejadian di masa lalu itu terlalu menakutkan untuk membawaku kembali. Aku merasa tidak ada tempat di sana untuk kita. Aku merasa dunia sudah membuang kita dan tidak menginginkan kita lagi. Di sinilah tempat kita.


Kenapa? Apa kau berniat untuk kembali?"


Hana spontan menggeleng. Dirinya juga takut untuk kembali. Dia takut jika harus berpisah dengan Baek Hyun. Dia takut akan lebih dibenci karena membohongi banyak orang dengan kematian mereka. Orang-orang di sana pasti akan sangat marah dengan hal itu. Lebih lagi mereka pasti tidak menerimanya di sisi Baek Hyun. Tempat ini jauh lebih baik sekarang. Ya, Hana lebih takut jauh dengan Baek Hyun.


"Aku pikir kau bosan di sini, dan ingin kembali pada kehidupan sebelumnya "


"Tidak, asal bersamamu aku bahagia." Jawab Hana sejujurnya.


Tentu saja, sampai kapan pun Baek Hyun tetaplah kekasih juga artis kebanggaannya.


Baek Hyun mengacak-ngacak gemas rambut Hana, lalu menariknya ke arahnya seraya mencium kening perempuan itu.


***


Alan terlihat tak peduli, itu pula alasan yang menjadikan Lay lebih berani merapatkan diri pada kehidupan Anely juga putrinya. Lay kerap berada di rumah sepasang suami istri itu, bahkan menjelang  makan malam tiba. Jika kebetulan mereka sedang bersantai bersama dan Alan kebetulan pulang. Pria itu berlalu begitu saja seakan kehadiran Lay bukan apa-apa baginya. Setiap kali Lay menyapanya, Alan hanya menjawab seperlunya saja. Jika bukan urusan pekerjaan, Alan tak akan menanggapi Lay dengan serius.


*


"Kapan kau punya waktu luang selama beberapa hari. Aku berencana membawamu liburan bersama ke tempat kelahiran Lay dulu."


"Aku tidak berminat. Pergilah, jika kau ingin pergi."


"Aku akan membawa Shimpony bersamaku,"  ujar Anely tanpa menoleh pada Alan yang barusan melewatinya begitu saja.


"Kau juga bisa memilikinya jika kau menginginkannya." ujar Alan.


Perempuan itu akhirnya memutar badan. Kata-kata tadi nyatanya tidak ditujukan padanya. Melainkan pada Lay yang entah kapan tiba-tiba sudah berdiri di depan Alan.


"Benarkah? "Lay berusaha menekan amarah dalam dirinya. Serendah itu Alan memandang istrinya sampai bisa diberikan begitu saja pada orang lain.


"Meskipun  kita menikah bukan atas dasar cinta, jangan memandangku seumpama barang yang bisa seenaknya kau berikan pada orang lain.  Hidupku, tetaplah miliku. Akulah yang berhak menentukan akan ke mana aku melangkah dan pergi. Kau sama sekali tak berhak memberikanku pada siapa pun karena aku bukan milikmu sama sekali.”


Lay tersenyum kecut mendengar perkataan Anely. Skak mad, orang yang dianggap pintar itu tampak tak bisa mengatakan apa-apa. Pria itu  kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang itu tanpa mengatakan apa pun lagi.


*


Ketika baru masuk ke dalam mobilnya, Alan menerima pesan masuk,


"Terima kasih


Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kau berikan."


Pesan dari Lay.

__ADS_1


__ADS_2