
Alan menghela nafas menghadapi sikap keras kepala Anely. Awalnya Alan merasa yakin ia bisa melepas Anely untuk Lay. Namun sampai tahap ini ternyata ia tak sesiap itu. Belum lagi perempuan itu begitu keras kepala seakan sangat ingin melepaskan diri darinya. Alan sangat kesal dibuatnya. Tapi ia sendiri tak tahu harus berbuat apa saat ini.
Di sisi lain, tangis Anely kembali pecah. Bukan karena terluka, tapi kesal dengan sikap Alan yang plin-plan. Ketika hatinya sudah sangat mantap ingin berpisah. Pria itu justru menyulitkan niatnya. Anely benar-benar tak tahan lagi dengan Alan. Terlebih di masa lalu ia diabaikan meski dalam keadaan hamil sekalipun. Selama hidup bersamanya, rasanya tak sekalipun ia melihat suaminya itu bahagia. Anely merasa hanya menjadi orang yang tak dianggap di rumah itu. Sejauh itu Anely masih bisa sabar demi pernikahannya. Namun sikap Alan beberapa hari yang lalu menjadi akhir dari kesabaran itu. Anely benar-benar tak sanggup lagi.
***
"Bertahanlah hingga akhir tahun ini. Setelahnya kalian boleh bercerai jika kau itu yang menjadi keputusan akhir," pinta nyonya Areta pada Anely
Anely terdiam di hadapan ibu mertuanya itu. Perkara perceraian akhirnya ia sampaikan pada nyonya Areta karena Alan terus menerus menghindarinya dengan berbagai alasan. Di samping itu, Anely tentu harus menyampaikan masalah itu karena memang harus di sampaikan. Tidak mungkin ia menyembunyikan masalah itu dari keluarganya.
Alan tak memberi tanggapan apa pun. Nyonya Areta juga tidak mau mencampuri lebih jauh dengan menanyakan alasan Anely menceraikan Alan. Anely maupun Alan sudah dewasa dalam menjalani kehidupan pernikahan. Anely pasti punya alasan untuk tidak menceritakan permasalahan dalam rumah tangganya. Selain itu sedikit banyak ia mengenali karakter putranya sendiri. Karena itulah ia memaklumi sikap Anely. Masa lalunya tak lebih baik dari Anely maupun Alan. Ia tak ingin hal serupa terjadi dengan putra dan menantunya. Karena itulah ia berupaya mempertahankan pernikahan itu meski Areta merasa tak pantas menjadi penasihat keduanya. Paling tidak, sarannya mampu membuat Anely mengambil waktu lebih banyak untuk memikirkan keputusannya. Maklumlah, Anely saat ini masih dilanda emosi yang menggebu-gebu.
Ekspresi Anely tampak tidak terima dengan keinginan ibu mertuanya. Matanya menatap nyonya Areta seakan-akan tak percaya dengan saran yang baru saja keluar dari mulut ibu mertuanya. Tapi ia belum bisa mengatakan apa pun.
"Hanya 5 bulan saja. Selama 5 bulan ini jalani saja kehidupanmu seperti yang kau inginkan. Aku hanya memintamu bertahan selama 5 bulan setelah itu kau bisa menceraikannya sesuai keinginanmu," pinta nyonya Areta penuh harap.
Sejenak Anely terdiam berusaha meredam gejolak jiwanya. Lima bulan itu terlalu lama. Rasanya ia tidak sanggup bertahan apalagi dengan hatinya yang sekarang dipenuhi kebencian tinggal seatap dengan Alan lagi. Apalagi pria itu jelas-jelas pernah merendahkannya, dengan berkata seolah-olah dia tidak menginginkan Anely.
"Tapi ... tapi aku sungguh tidak bisa tinggal bersamanya lagi. Aku benar-benar belum bisa menerimanya. Dia juga ... " Anely tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia terisak sembari menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Aku minta maaf jika sudah membuatmu terluka," ujar Alan tiba-tiba.
"Kenapa kau membuatnya menjadi sulit begini? Bukankah ini yang kau inginkan dari dulu?"
"Aku sudah bilang aku belum siap dengan keputusanmu. Berikan waktu untukku berpikir lebih lama lagi sampai aku benar-benar yakin dengan keinginanmu."
"Kau egois!”
"Anely ... kau punya banyak tempat untuk menenangkan dirimu sejenak jika tak sanggup untuk tinggal bersama Alan. Memintamu bertahan selama 5 bulan bukan berarti aku memaksamu untuk tinggal bersamanya. Jalani kehidupanmu seperti yang kau inginkan begitu juga dengan Alan. Sebagai ibunya aku memohon padamu untuk memberinya kesempatan merenung dan berpikir. Bukan karena aku membela dan membenarkan perbuatannya. Aku meminta hal ini demi kebaikan kalian berdua. Aku takut keputusan ini kau ambil lantaran kau masih dilanda emosi."
"Baiklah ... aku menerimanya, tapi tidak untuk tinggal bersama," ujar Anely dengan tatapan penuh harap pada mertuanya.
Nyonya areta bangun kemudian merangkul menantunya itu. "Maafkan ibu ... terima kasih sudah menerima permohonan ibu.”
__ADS_1
Anely mengangguk sembari merangkul erat mertua yang sudah ia anggap ibu kandungnya sendiri. Sebuah kecupan penuh kasih sayang menyentuh kening Anely. Areta melepas pelukannya seraya menghapus air mata Anely.
***
Lima Bulan kemudian ...
“Tolong ...
tolong kirimkan aku helikopter sekarang ...
Hana akan segera melahirkan tapi ... tapi dia tidak bisa mengeluarkan bayinya. Ia harus segera di operasi ... " Pinta Baek Hyun putus asa. Keadaannya tak karuan setelah berlari ke sana kemari mencari tempat terbaik untuk mendapatkan sinyal.
“Apa ... !?"
iya ... iya aku ... aku akan mencarinya untukmu." Chanyoel yang menerima telepon kebingungan dan mulai panik. “Tunggu sebentar jangan matikan teleponnya."
"Aku mohon cepatlah ... Hana tak punya banyak waktu," tangis Baek Hyun di sebarang sana.
"iya, iya ... tenanglah kami akan segera mendapatkan. Aku pastikan itu.” ujar Chanyoel.
"Ada apa, tanya Suho yang tampak bingung melihat Chanyoel yang panik tiba-tiba"
"Di mana kita biasa mendapatkan helikopter? Kita harus mengirimnya untuk Baek Hyun karena Hana akan segera melahirkan."
"Apa !?"
"Cepatlah ... pikirkan sesuatu, Baek Hyun sedang menunggu kita sekarang!"
"Aku akan menghubungi direktur. Dia pasti bisa membantu kita,” ujar Suho sembari mengambil handphonenya. Sekarang perasaan panik jadi menjangkiti pria itu juga.
*
"Apa aku tidak salah dengar?
__ADS_1
Baek Hyun?! Apa maksudmu ada Baek Hyun yang lain? Tapi m..
"Aku akan menjelaskannya nanti ... tolong pinjamkan helikoptermu untuk menjemput mereka. Ini benar-benar darurat. Waktunya tidak banyak."
"Baiklah, tapi ke mana kami mengirimkannya?"
"Apa?” Akh ... Suho menepuk jidatnya sendiri. Saking paniknya ia lupa nama desa yang menjadi tempat tinggal Baek Hyun.
"Ke mana kita harus mengirimkannya?" Tanya Suho pada Chanyoel."
"Ke mana kami harus mengirimkannya?” Chanyoel bertanya pada Baek Hyun ...."
***
Bertahanlah ..." ujar Baek Hyun seraya menggenggam tangan Hana di dalam ambulance yang membawa mereka ke tempat di mana helikopter akan menjemput mereka. Perempuan itu hanya mengangguk seraya sekali-kali menggigit bibirnya menahan sakit. Meski demikian ia berusaha untuk tidak menangis di hadapan Baek Hyun. Sebaliknya justru Baek Hyunlah yang terus menerus berurai air mata melihat keadaan Hana yang memprihatinkan.
Gemuruh helikopter terdengar menderu di udara. Baek Hyun mendongakkan kepalanya ke atas memastikan itu benar helikopter yang menjemputnya juga Hana.
"Itu pasti helikopternya, kau akan baik-baik saja. Kita akan segera melihat bayi kita ujar Baek Hyun menyemangati Hana.
Setibanya di tempat yang ditentukan, mereka bergegas membawa Hana menuju helikopter yang sudah mendarat.
“Hana ... aku mohon bertahanlah. Kau harus kuat. Kau bisa mendengarku bukan” Bisik Baek Hyun di telinga istrinya itu. Perempuan itu hanya mengangguk sembari memejamkan matanya. Helikopter itu meninggalkan landasan mengantar Baek Hyun dan Hana kembali pada dunia yang sudah 2 tahun lebih menganggapnya tiada. Tak pernah terlintas dalam benak Baek Hyun maupun Hana jika mereka harus kembali ke kota besar itu. Segala yang terjadi setibanya mereka di sana tak terpikirkan lagi oleh Baek Hyun. Bahkan ia juga tak punya persiapan sama sekali untuk berangkat ke sana.
Uang? Baek Hyun tak sempat memikirkannya. Untunglah ada beberapa penduduk dusun yang menemaninya di puskesmas. Mungkin mereka yang menangani biaya Hana saat meninggalkan puskesmas itu tadi. Sekarang ia pergi tanpa membawa apa-apa ke kota itu. Baek Hyun lupa segalanya karena panik, sedih, juga takut yang memenuhi jiwanya. Keadaan ini begitu tiba-tiba baginya.
*
Helikopter itu mendarat di lantai atap gedung rumah sakit terbesar di kota itu. Chanyoel dan yang lainnya sudah ada di sana.
“Berikan padaku,” ujar Chanyoel pada Baek Hyun yang siap menurunkan tubuh Hana. Pria itu menurut sementara tandu dorong juga tiba di sana. Chanyoel menyambut tubuh itu dan meletakannya di tandu. Baek Hyun meloncat turun dan ikut mendorong tandu. Pria itu tak henti-hentinya meneteskan air mata.
“Hana, kita sudah tiba. Kau pasti selamat.” ujarnya seraya menggenggam tangan istrinya itu. Tampak orang-orang yang mulai menyadari kehadiran Baek Hyun terlihat kaget dan heran dengan kemunculan Baek Hyun. Awalnya mereka tak mempercayai apa yang mereka lihat. Tapi kenyataan itu sulit ditolak melihat kehadiran Suho, Kai, dan yang lainnya di sana. Mereka tak mampu menahan diri untuk mengambil foto maupun video. Suho sendiri tak sempat berpikir untuk mengantisipasi keadaan di sekeliling mereka. Semua terlalu mendadak hingga tak sempat diatasi lagi. Dalam sekejap berita kemunculan Baek Hyun beredar luas di media sosial dan mulai membuat keributan.
__ADS_1