Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2

Patah Tumbuh Dan Tak Mati 2
12. Hal yang tak terduga


__ADS_3

Tangis Anely akhirnya pecah ...


Selama ini ia tegar tengkuk menghadapi kenyataan. Ia tahu pernikahannya tak didasari perasaan cinta. Ia tahu kehadiran putrinya di dunia ini hanya sekedar pemenuhan tanggung jawab sebagai seorang suami. Setelah tahu dirinya hamil, Alan seakan melepaskan diri darinya. Ia bahkan tidak menunjukkan tanggung jawab sebagai seoarang suami maupun sebagai seorang ayah . Anely mengurus dirinya sendiri bagai seorang janda yang ditinggal suaminya. Alan hanya memenuhi kebutuhan finansial yang tanpa Alan beri sekalipun Anely masih memilikinya. Sampai saat sebelum kejadian tadi pagi Anely masih sabar bahkan menganggap kelakuan Alan bukan apa-apa. Namun perkataan Alan pagi itu benar-benar menghancurkan hatinya. Alan berhasil meluluh lantakan perasaan dan ketegarannya selama ini.


Sepertinya memang dirinyalah yang terlalu memaksa hubungan mereka selama ini. Selama ini Anely lupa diri, terlalu percaya diri kalau suatu saat nanti Alan akan luluh padanya. Padahal di masa lalu, meski bukan keinginannya. Dirinya menjadi bagian dari penyebab kehancuran hubungan Alan dengan kekasihnya yang pada akhirnya membuat perempuan itu bunuh diri. Seandainya dirinya tahu, ia tidak akan pernah mau menerima pernikahan itu. Anely hanya tahu kelasih Alan sudah meninggal dan Alan dipaksa menikah dengannya. Dan Anely begitu percaya diri akan bisa menggantikan perempuan itu di hati Alan.


***


Alan tidak menyadari  perubahan suasana yang terjadi dalam rumahnya. Seperti biasa, ketika pulang ke rumah, pria itu langsung melangkah ke kamarnya. Tak seperti Anely yang merasakan dampak dari perkataan Alan tadi pagi. Alan tampak biasa-biasa saja seakan tidak terjadi apa-apa. Demikian juga keesokan paginya. Seperti biasa Alan mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor.


Entah kenapa belakangan ini dirinya enggan untuk sekedar berkunjung ke dapur dan menikmati sarapan di sana. Alan lebih memilih langsung berangkat dan menikmati sarapan di kantor. Hal itulah yang membuat dirinya tidak menyadari ada hal yang menghilang dari rumah itu. 


*


Hari ke tiga Alan menemukan paket di depan pintu rumahnya. Paket itu ditujukan untuk Anely. Pria itu mengambilnya dan meletakkan paket itu begitu saja di meja tamu. Setelah itu ia melangkah ke kamarnya.


Keesokan harinya, ketika akan berangkat bekerja, Alan menyadari paket itu masih berada di tempatnya. Pria itu tertegun sejenak sembari menatap paket itu lalu meletakkan kembali ke tempatnya.


Malam hari, ketika kembali ke rumah paket itu masih saja berada di tempatnya. Karena penasaran Alan pun kembali mengamatinya. Jelas sekali tertera di sana jika paket itu memang ditujukan untuk Anely, dan perempuan itu sama sekali belum pernah menyentuhnya.  Jadi bukan tanpa alasan paket itu bahkan tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.


Alan tertegun sembari menatap sekeliling. Perlahan kesadaran mulai membuka perasaannya. Suasana rumah itu belakangan sunyi. Tidak hanya itu,  aroma dalam rumah itu terasa berbeda, lantainya juga  berdebu. Alan melangkah menuju dapur. Tempat itu seakan tak pernah di jamah sama sekali. Ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh meja. Lagi-lagi ia menemukan sedikit debu di sana. Alan mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melihat Anely.  Bukankah itu empat hari yang lalu?


Alan melangkahkan kakinya menuju kamar Anely dan membuka pintunya.


Gelap ...


hanya kegelapan yang pertama kali menemui matanya. Alan meraba-raba dinding untuk menyalakan lampunya. Ketika cahaya menerangi kamar itu. Ia tidak menemukan siapa pun.  Kamar itu juga tampak bersih dan rapi. Alan berjalan menuju lemari pakaian dan membuka pintunya. Alan tak menemukan apa pun di sana. lemari itu kosong sama sekali. Saat menoleh ke sisi sebelah lemari itu. Alan juga melihat meja rias yang telah kosong sama sekali. Sekarang Alan menyadari, istrinya sudah meninggalkan rumah itu. Mungkin sejak empat hari yang lalu. Dan Alan baru menyadarinya sekarang.


Alan mencoba mengingat-ingat hal yang membuat Anely mengambil keputusan itu.  Kejadian empat hari yang lalu saat ia akan berangkat bekerja ...


"Kapan kau  punya waktu luang selama beberapa hari. Aku berencana membawamu liburan bersama ke tempat kelahiran Lay dulu."


"Aku tidak berminat. Pergilah, jika kau ingin pergi."


“Mungkinkah karena itu?”  Alan teringat akan ajakan Anely yang ia tolak waktu itu.


"Aku akan membawa Simpony bersamaku,"

__ADS_1


 


"Ah tidak, sepertinya bukan itu,” Anely terlihat tidak tersinggung sama sekali menanggapi penolakannya waktu itu.


"Kau juga bisa memilikinya jika kau menginginkannya."


"Meskipun  kita menikah bukan atas dasar cinta, jangan memandangku seumpama barang yang bisa seenaknya kau berikan pada orang lain.  Hidupku, tetaplah miliku. Akulah yang berhak menentukan akan ke mana aku melangkah dan pergi. Kau sama sekali tak berhak memberikanku pada siapa pun karena aku bukan milikmu sama sekali. "


Alan tersadar akan sesuatu. Alan ingat betul Anely yang sepertinya tidak terima dengan perkataannya pada Lay waktu itu. Tidak biasanya  pula Anely berkata-kata setajam itu. Perkataan itu seperti jarum yang menembus perasannya namun itulah yang membuatnya biasa-biasa saja. Tusukkan sebuah jarum tak menimbulkan dampak apa-apa baginya. Namun kepergian Anely yang di luar dugaannya ini meninggalkan dampak yang sedikit lebih besar dibandingkan perkataan Anely waktu itu. Sampai membuat dirinya merasa sedikit menyesal telah melukai perempuan yang tak pernah sedikit pun dengan sengaja mengusik atau mengganggu hidupnya itu. Ia memang  tidak menyukai Anely. Tapi bukan ini juga yang ia inginkan. Kalaupun Anely pergi meninggalkan rumah ini. Ia tidak menginginkan hal itu sebagai akibat dari tindakannya yang melukai perasaan Anely.


*


Baru saja tertidur, Alan sudah terbangun kembali. Cahaya matahari menyelip masuk di kamarnya menandakan hari sudah pagi dan Alan benar-benar tidak bisa tidur dengan baik semalaman.


Alan meraih handphonenya di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Anely. Dengan cepat ia membukanya sembari duduk.


"Mari bertemu di rumah makan di depan kantormu jam makan siang nanti. Ada yang inginku sampaikan."


Alan meletakan kembali handphonenya tanpa membalas pesan Anely. Alan lega, setidaknya ia mendapatkan kabar dari Anely. Tampaknya Alan tak begitu penasaran mengapa istrinya itu mengajaknya bertemu. Alan terlalu sombong dengan berpikir ‘semua akan baik-baik saja.’


***


"Aku sangat yakin!"


"Apa keputusan ini ada sangkut pautnya dengan Lay? Aku perhatikan dia begitu memperhatikanmu. Kalian sangat dekat," Selidik Moly.


"Tidak, keputusan ini aku ambil setelah sadar dari kebodohan. Bertahun-tahun mata hatiku tertutup akan keegoisanku sendiri.  Aku terlalu memaksakan hubungan kami sampai puncaknya Alan mengatakan hal itu pada Lay. Mungkin ia sudah terlalu muak padaku. Ketika melihat Lay selalu berada di sisiku. Dia jadi berpikir Lay menginginkanku demikian pun sebaliknya.  Karena itulah dia memperlakukankanku seperti barang yang bisa diberikan begitu saja pada orang lain.”


"Jika itu alasannya, aku juga tak bisa menahanmu. Tapi ... apa sebenarnya kau mencintai Alan?”


"Sebenarnya ia. Hanya saja, melihatnya cuek seperti itu lama-lama aku bosan. Aku sudah cukup puas hidup bersamanya selama hampir 5 tahun."


"Kau yakin setelah ini akan baik-baik saja?"


Anely tersenyum.  "Entahlah ... aku tidak mau sombong dengan berpikir 'aku akan baik-baik saja di masa depan' Bagiku sekarang itu keputusan yang tepat dan aku sangat baik-baik saja saat ini. Entahlah suatu saat nanti. Aku berharap perasaan ini akan terus bertahan selamanya. Ada dirinya dalam diri Simpony. Aku rasa itu akan cukup membuat puas di masa depan."


"Bagaimana jika kelak ia berlutut memohon padamu?"

__ADS_1


"HA HA HA HA HA ... kau lucu sekali seperti tak mengenali sepupumu itu. Itu SAAAAANGAAAAT MUSTAHIIIIL HA HA HA HA HA HA,"


***


Anely sudah berada di sana, di tempat yang ia janjikan melalui pesan singkatnya pada Alan di kantor siang itu. Hanya mereka berdua saja di ruang itu. Tanpa berkata-kata Alan menarik kursinya dan duduk di hadapan Anely.  Sebelumnya Alan sempat membayangkan kalau Anely akan terlihat kurus dan menyedihkan. Nyatanya perempuan itu benar-benar baik-baik saja, dan Alan lega karenanya.


Anely mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya kemudian menyerahkannya ke hadapan Alan.


"Itu surat persetujuan perceraian kita. Aku sudah menandatanganinya dan Moly menjadi saksiku. Tanda tangani ini sekarang agar aku bisa segera mengurusnya ke pengadilan."


Alan tertegun sembari menatap Anely tak percaya. Ia tak langsung terkejut karena ia masih sulit mempercayai ini. Ini terlalu tiba-tiba, ini di luar dugaannya. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya.


"Aku baik-baik saja sekarang. Maaf telah memaksamu sekian lama. Aku benar-benar minta maaf. Perkataanmu kemarin menyadarkanku akan kebodohan juga keegoisanku selama ini. Sebenarnya aku tak sejahat itu. Aku hanya menikmati hidupku saja. Sampai aku lupa kalau aku sedang mengabaikan seseorang yang menanggung luka. Aku rasa ini tidak terlalu terlambat untuk dilakukan. Setelah ini, kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing.  Aku akan membawa Simpony bersamaku. Jadi kau bisa lebih fokus dengan hidupmu. Oh ya, kau juga tak perlu memikirkan tanggung jawabmu atas Simpony. Warisan orang tuaku bahkan terlalu berlebihan untuk memenuhi kehidupan kami berdua meski kami berfoya-foya. Aku juga punya keluarga yang selalu siap sedia membantu kami meski aku pikir aku mungkin tak memerlukannya," ujar Anely sembari tersenyum lebar tanpa beban. Wajahnya tampak berbinar-binar penuh semangat seakan-akan ia tak sedang menghadapi keputusan yang berat. Ya ... saat ini Anely benar-benar bersemangat. Tapi sebenarnya tidak bagi Alan.


Anely tidak menyadarinya. Mimiknya yang kaku masih tampak sama walau dalam hatinya ia masih terlalu terkejut dengan kenyataan ini.


"Tanda tangani sekarang, aku harus bergegas karena Simpony menungku."


"Jadi sekarang kau sudah setuju dengan Lay?" Tanya Alan tiba-tiba. Pertanyaan itu muncul begitu saja setelah mendengar perkataan Anely sebelumnya. Alan jelas menduga kalau Simpony sedang menunggu Anely bersama Lay di suatu tempat.


"Belum ... aku belum punya perasaan apa-apa padanya. Rasanya sangat aneh jika aku menjalin hubungan dengan saudara iparku sendiri.  Lagi pula, apa kata orang jika setelah bercerai denganmu, lalu aku menikah lagi dengan adikmu. Aku akan sangat tercela di mata orang-orang. Aku juga perlu menjaga harga diriku sebagai perempuan."


"Aku belum bisa tanda tangani ini sekarang.  Terlalu mengejutkan jika ayahku mendengar kabar ini secara tiba-tiba. Aku akan membicarakan ini dengan ayahku perlahan-lahan."


"Sampai kapan 'perlahan-lahan itu?' Aku tidak bisa menunggunya terlalu lama.  Atau kau setuju dulu perceraian kita. 'perlahan-lahan' itu bisa kau lakukan setelahnya. Kita masih bisa berpura-pura baik-baik saja. Lagi pula ayahmu juga tak pernah peduli dengan pernikahan kita."


"Ayahku seperti itu karena ia mempercayai pernikahan kita akan baik-baik saja. Aku jika tidak bisa membayangkan jika tahu kita akan bercerai."


"Kenapa kau menyia-nyiakan kesempatan ini dengan memikirkan ayahmu. Aku rasa ayahmu juga tidak akan peduli juga tidak akan memaksamu karena ia masih memiliki harapan melewati Lay. Lay masih bisa memberikan cucu sebagai penerusnya. atau jangan-jangan kau khawatir dengan penerusmu sendiri? Kau bisa menikah dan punya anak lagi bukan?"


"CUKUP!!! Teriak Alan seraya berdiri menggebrak meja dengan kedua tangannya.


Anely tampak terkejut dengan Alan yang terlihat emosi. Ini kali pertama ia melihat Alan marah seperti itu.


"Jangan memaksaku. Aku tidak akan memberikan apa yang kau minta sampai aku bisa mengambil keputusanku sendiri."  Pria itu berlalu dari hadapan Anely.


Anely mengambil dokumen yang ditinggalkan Alan begitu saja lalu berlari menghadang langkahkah pria itu.

__ADS_1


"Bawa ini!!" Anely  menekan dokumen itu di dada Alan. "Aku tak perlu menunggu keputusanmu. Dengan tanda tanganku di sana, itu menandakan kalau kita sudah tak memiliku hubungan apa-apa lagi,” ujar Anely seraya meninggalkan Alan  dengan dokumen yang  terjatuh di lantai.


__ADS_2