
Mobil berkecepatan penuh itu lepas landas, melayang, dan menabrak bibir jurang yang berada persis di seberang bukit. Berbarengan dengan ledakan besar, Baek Hyun dan Hana yang sama sekali tak mengenakan sabuk pengaman terdorong keras, menabrak kaca depan mobil, dan terlempar di atas rerumputan yang tumbuh subur di daratan jurang itu.
Sungguh kenyataan yang menggelikan. Dengan membawa mobilnya dalam kecepatan penuh, Baek Hyun berharap ia dan Hana akan jatuh ke jurang dan mati. Namun kenyataannya, mobil berkecepatan penuh itu justru membuat keduanya terlempar keluar, seakan sengaja mengantarkan Baek Hyun dan Hana ke sisi lain bukit itu.
Tubuh Hana terlepas dari rangkulan Baek Hyun, menggelinding dan menabrak dinding batu. Baek Hyun yang masih sadar berupaya bangkit. Merangkak dengan tertatih-tatih menghampiri Hana yang tampak diam tak bergerak.
“Hana … Hana …” panggil Baek Hyun mencoba menyadarkan kekasihnya itu. Tidak ada jawaban.
“HANAAAAAAAA!!!!” teriaknya sembari merangkul kekasihnya itu sembari menangis.
Baek Hyun terjaga. Matanya menatap nanar ke langit-langit rumah yang terbuat dari jerami kering itu dengan nafas yang masih tersengal. Mimpi itu terasa begitu nyata hingga meninggalkan kesakitan dalam jiwanya. Kesakitan akan kehilangan sosok yang ia cintai. Perlahan pria itu memalingkan tubuhnya dan menatap sosok dalam mimpinya itu. Hana ada di sana. Tidur menyamping menghadapnya. Matanya terpejam rapat, begitu pulas. Terdorong perasaan sakit yang baru saja ia alami dalam mimpinya, Baek Hyun bergeser mendekat. Meraih kepala Hana dan mendekapnya dalam pelukannya.
Perempuan itu terbangun. Kepalanya bergerak kian kemari menatap ke sekeliling. Hari mulai pagi.
“Tidurlah … hari masih terlalu pagi,” bisik Baek Hyun sambil meraih kembali kepala Hana dan memeluknya lagi.
Kantuk Hana terlanjur menguap. Ia mencoba memejamkan matanya, namun sesuatu yang semenjak lama mengusik pikirannya kembali datang menghampiri. Matanya terbuka menatap kelopak mata Baek Hyun mengatup rapat. Mungkin ini saat yang tepat baginya untuk menanyakan itu.
“Tidakkah kau menginginkan anak? Sudah hampir satu tahun kita hanya berdua di rumah ini,” tanyanya membuat mata Baek Hyun kembali terbuka menatapnya.
“Aku bukan tidak menginginkannya, hanya saja belum saatnya. Lihatlah keadaan rumah kita. Rumah kita masih jauh dari layak untuk menjadi naungan seorang bayi. Apalagi jika bayi kita bisa merangkak atau berjalan. Tidak apa-apa kan bila kita menundanya sementara waktu?” Tanyanya sembari tersenyum.
Hana mengangguk. “Kau benar juga. Aku tidak berpikir ke sana. Anak kecil mana mengerti yang kotor dan bersih. Aku tak bisa membayangkan bila ia merangkak di lantai tanah ini. Dia akan selalu kotor bahkan bisa saja terserang penyakit. Kita juga akan kelelahan memandikannya juga mencuci pakaiannya. ”
“Itulah yang aku khawatirkan. Tunggulah beberapa saat lagi. Aku akan bekerja dengan giat, mengumpulkan uang, dan memperbaiki rumah ini sedikit demi sedikit sampai benar-benar layak seperti rumah warga desa lainnya.”
“Eum …” Hana menangguk sembari tersenyum senang, namun Baek Hyun justru menatapnya curiga.
“Sebenarnya apa maksudmu bertanya seperti itu.”
“Maksudku? Aku tak punya maksud apa pun.”
“Katakan saja kalau kau menginginkannya. Aku akan dengan senang hati melakukannya untukmu.”
Hana meringis dan memandang sinis Baek Hyun. Pria itu terkekeh, lantas bangun lalu mengecup gemas sisi wajah Hana.
“Kantukku sudah benar-benar hilang. Aku harus mempersiapkan diri untuk melaut hari ini.”
“Aku akan menyiapkan bekal untukmu.”
*
Baek Hyun menyiapkan perapian lalu meletakkan sebuah wadah mirip panci di atasnya. Tungku perapian itu ia susun dari batuan sungai yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Baek Hyun dan Hana kerap mandi dan mencuci di sana. Tak jarang pula mereka masak bersama di atas batuan sungai yang besar, lalu menikmatinya di sana seakan sedang piknik berdua.
“Apakah apinya sudah siap?” Tanya Hana sembari menghampiri Baek Hyun dengan beberapa buah ubi jalar di wadah yang ia bawa.
Baek Hyun mengangguk, kemudian mengambil alih ubi itu lalu meletakannya ke dalam panci tadi.
Hana duduk rapat di samping Baek Hyun sembari menghangatkan diri di dekat perapian itu.
__ADS_1
“Apa kau hanya sarapan ubi?”
Baek Hyun mengangguk.
“Bagaimana dengan bekalmu? Kau mau dibuatkan apa?”
“Aku hanya mau makan ubi dengan lauk cumi goreng.”
“Jika hanya makan ubi, itu tak akan baik untuk perutmu. Belum lagi kau akan terkena angin laut. Bisa-bisa kau akan terus-terusan kentut saat bekerja. Aku akan memasak nasi dan lauknya cumi goreng. Aku juga akan menumis beberapa sayuran. Kau mau sayuran apa?”
“Kenapa pagi ini kau rewel sekali” Baek Hyun mencubit gemas hidung Hana. Kau takut aku kurang gizi atau takut dengan bau kentut?"
“Dua-duanya” jawab Hana jujur. “Kau mau kumasakkan apa saat pulang nanti?”
Baek Hyun mendongakkan kepalanya sejenak seraya berpikir.
“Lobster panggang?”
“Dengan saus dari tumisan bawang putih cincang dan cabai?”
Baek Hyun mengangguk. Setiap kali menikmati makanan itu akan membuatnya teringat saat pertemuan pertamanya dengan Chanyoel.
“Kau teringat dengan Suho dan Chanyoel lagi?”
“Sampai kapan pun aku akan selalu teringat mereka setiap kali melihat lobster, dan bagiku, menu itu pula yang paling enak dibandingkan masakan apa pun."
Baek Hyun mengangguk. “Aku sangat merindukan mereka.”
*
Setelah bangun dari gagalnya kematian, Baek Hyun dan Hana sempat menjadi gelandangan yang hidup dalam pelarian. Mereka hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Melakukan pekerjaan kasar untuk sekadar mendapatkan makanan atau tumpangan. Setelah berbulan-bulan berkelana menyusuri jalanan, bukit, bahkan lautan, keduanya tiba di sebuah Dusun kecil yang hanya ditempati belasan kepala keluarga. Sebuah insiden menjadi awal mereka dikenal dan diterima penduduk Dusun itu.
Ada seorang bandit yang sering kali membuat keonaran di Dusun itu. Selama bertahun-tahun, tak satu pun warga yang berani melawan bandit itu.
Senja itu, Baek Hyun dan Hana baru tiba di Dusun bersama salah seorang penduduk yang sengaja membawa mereka ke sana. Dari kejauhan Baek Hyun melihat bandit itu menyerang dan memukul salah seorang penduduk secara membabi buta. Penduduk yang dihajar itu berupaya lari namun terus dikejar oleh bandit yang terlihat sangat marah. Baek Hyun mengambil batu lalu berlarian ke sana. Penduduk yang tadinya sedang dikejar kini terjatuh dan bandit itu tengah mengayunkan parang ke arahnya.
“BERHENTI!!!” Teriak Baek Hyun sembari melemparkan batu mengenai bandit tadi.
Perhatian bandit itu kini teralih padanya. Baek Hyun tak takut sama sekali. Bandit itu kini berlari menyerangnya.
Baek Hyun bersiap. Pria yang memang menguasai ilmu bela diri itu melakukan perlawanan dengan tangan kosong sementara bandit itu berupaya menebasnya dengan parang yang dibawanya. Penduduk Dusun itu semakin histeris melihat pertarungan itu, terlebih lagi dengan Hana yang baru pulih dari mabuk lautnya. Setelah berkali-kali gagal menyerang lawannya. Bandit itu tampak mulai kewalahan. Pada satu kesempatan Baek Hyun berhasil menendang tangan bandit yang memegang parang hingga parang itu terpelanting jauh. Kini giliran Baek Hyun yang berbalik menyerang dan menghajar bandit tadi hingga akhirnya terkapar tak sadarkan diri. Seorang warga tiba-tiba datang dan langsung menusukkan parang kepunyaan bandit tadi ke tubuh bandit yang terkapar. Seketika bandit tadi tewas disambut teriakan dan sorakkan riuh penduduk Dusun.
Lutut Hana melemah hingga ia terduduk di tempatnya. Sementara penduduk Dusun tadi bersorak dan beramai-ramai menghampiri dan mengelilingi Baek Hyun. Di tempatnya Hana hanya bisa terdiam menekuk lutut dengan tubuh yang gemetar karena takut. Baru kali ini ia melihat pembunuhan di depan matanya sendiri.
Baek Hyun yang masih syok melihat bandit yang tewas seketika karena hunjaman parang di tubuhnya di eluk-elukan penduduk. Bahkan ada yang menangis memeluknya sembari mengucapkan terima kasih. Jenazah bandit tadi dibawa entah ke mana. Kini tinggal Baek Hyun yang berdiri dengan wajah bingung sembari berusaha tersenyum menyambut perlakuan penduduk Dusun itu padanya.
“Aku baru melihatmu. Apa kau pendatang di sini?” Seseorang tiba-tiba menghampiri Baek Hyun.
“Iya … aku ... aku datang bersama istriku,” jawabnya sembari mencari-cari Hana. Matanya berhasil menemukan Hana yang juga tampak syok ketakutan. Baek Hyun berlarian menghampiri Hana diikuti penduduk Dusun yang masih penasaran dengannya.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya pada Hana seraya membantunya berdiri.
Hana mengangguk. “Bagaimana denganmu?” Tanyanya sembari mengamati keadaan Baek Hyun.
“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.”
“Jadi ini istrimu?” Pria paruh baya tadi mendekat.
“Iya ... ini istriku. Namanya Hana, dan aku ... namaku Rain,” jelas Baek Hyun.
Hana membungkukkan badannya memberi salam.
“Namaku Aspir pimpinan Dusun ini. Aku mengucapkan banyak terima kasih. Berkatmu penduduk Dusun ini akhirnya terbebas dari bandit tadi. Sudah bertahun-tahun bandit itu selalu bikin keonaran di Dusun kami dan tak ada satu pun yang bisa menghentikannya. Bahkan beberapa penduduk Dusun ini pernah tewas di tangannya. Tapi berkat dirimu, kebrutalan bandit ini berakhir. Bolehkah aku tahu kenapa kalian bisa ke sini?”
“Sebenarnya ...”
“Aku yang membawanya ke mari.” Seorang pria paruh baya lain datang ke tempat itu. “Aku tidak sengaja menjatuhkan sekeranjang ikan yang ingin kujual ke pasar. Lalu dia dan istrinya datang membantuku. Mereka juga membantuku menjual ikan-ikan itu. Mereka datang dari jauh dan kebetulan sedang membutuhkan pekerjaan. Mereka juga tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, karena itu aku membawanya ke sini sementara.”
Aspir mengangguk-angguk.
“Tapi percayalah. Kami buka penjahat yang melakukan pelarian. Aku dan istriku memang tinggal tak menetap. Jadi di mana pun kami singgah, di sanalah kami bekerja dan beristirahat sejenak.”
Aspir kembali mengangguk. “Kalau begitu kalian bisa menetap di sini. Dusun ini hanya ditinggali belasan kepala keluarga.”
“Iya benar, menetaplah di sini. Biar bagaimana pun, kau sudah menjadi pahlawan bagi penduduk di sini,” sambut salah seorang perempuan paruh baya.
“iya benar ...” sambut penduduk yang lainnya antusias. Wajah-wajah mereka tampak bersemangat menerima Baek Hyun dan Hana di sana.
“Kau dengar? Semua orang menerimamu di sini. Tak sia-sia aku membawamu kesini,” ujar pria paruh baya yang membawa Baek Hyun dan Hana tadi. “Aku percaya mereka orang-orang baik. Tadi waktu di pasar, tidak ada satu pun yang membantuku kecuali mereka. Aku juga tidak menyangka kalau dia akan mengalahkan bandit itu untuk kita.”"Iya ... iya ...” sorak penduduk itu riuh.
Baek Hyun tersenyum mendengar pujian itu.
“Kau jangan takut. Bandit itu memang sudah sepantasnya mati. Kami pernah meminta bantuan pihak berwenang. Tapi, karena keadaan Dusun kami yang sangat terpencil ini, mereka jadi kurang memperhatikan kami. Saat polisi datang, bandit ini menghilang. Saat polisinya pergi, ia muncul lagi dan membuat keonaran sampai melukai bahkan membunuh penduduk. Untunglah kau berhasil mengalahkannya. Kami sangat berterima kasih, dan tentu saja kami akan sangat senang bila kau ingin tinggal bersama kami.”
“Benar tinggal di sini, dan jadilah penduduk di sini. Jangan khawatir soal pekerjaan. Kau bisa menjadi nelayan atau petani seperti yang lainnya.” Sambut penduduk lagi.
“Bagaimana? Kau setuju?” Tanya Aspir penuh harap.
Baek Hyun memandang Hana meminta pendapat perempuan itu. Hana mengangguk setuju dengan senyuman di wajahnya. Sungguh tak nyaman menolak tawaran baik itu walau awalnya ia takut karena Baek Hyun sudah melakukan tindakan kekerasan. Tapi setelah mendengar penjelasan penduduk, berangsur-angsur perasaan takut itu menghilang.
“Terima kasih. Aku dan istriku sangat senang bila bisa di terima di sini.”
“Tentu saja,” jawab Aspir senang di sambut sorak-sorai penduduk desa.
“Oh ya ... kalian belum punya tempat tinggal bukan? Sementara ini, tinggallah di rumahku. Di ujung Dusun ini, ada sebuah rumah yang sudah ditinggal pemiliknya. Rumah itu memang sudah rusak parah. Tapi penduduk di sini pasti dengan senang hati bergotong royong memperbaiki rumah itu untuk kalian tempati. Besok aku akan bicara dengan mereka.”
“Tapi ... aku tidak punya apa-apa untuk diberikan pada mereka.”
“Kau tidak perlu khawatir. Mereka tidak membutuhkan itu. Tidak kah kau lihat wajah-wajah mereka yang teramat senang dan lega setelah kau mengalahkan bandit tadi. Mereka akan dengan senang hati membatumu. Di sini semua masalah tidak selalu diselesaikan dengan uang atau harta. Jika kau memberi jasa, mereka akan membalas serupa. Warga di sini jarang menggunakan uang bila ingin mendapatkan sesuatu. Sistem barter masih berlaku di sini. Kau akan paham bila lama tinggal di sini. Ayo, kita ke tempatku sekarang,” ajak Aspir pada Baek Hyun dan Hana diiringi oleh penduduk Dusun itu.
__ADS_1