Pembalap Idola

Pembalap Idola
PUTUS


__ADS_3

Semenjak dari waktu Ivan menanyakan tentang Sara (yang membuat Nicken bete banget karena bukunya diambil paksa sama Ivan cuma buat menanyakan soal Sara, ingat?) Nicken sudah mulai terlihat bisa menerima kehadiran Ivan, dalam arti dia sudah melupakan soal “tabrakan” di koridor waktu pertama kali mereka ketemu.


Soalnya Nicken sudah tidak terlalu jutek lagi kalau ngomong sama Ivan, dan mau menanggapi kalau Ivan mengajak ngobrol. Kaya yang terlihat kali ini. Nila dan Aci juga seneng banget melihat mereka. Itu artinya mereka tidak akan mendengarkan makian Nicken lagi soal Ivan kalau Nicken lagi curhat.


Waktu mereka lagi asyik-asyiknya mengobrol, ada yang mengirim chat WA ke Nicken dan setelah dibuka ternyata dari Nila yang minta dia ke taman belakang sekarang juga, dan harus pakai lari, itu artinya “harus amat sangat cepetan karena urgent banget.”


Dengan bingung Nicken akhirnya pergi dan tanpa dia tahu, Ivan mengikuti dia jauh di belakang, karena feeling Ivan bilang pasti ada yang tidak beres.


Setelah sampai di tempat yang dituju, Nicken melihat Nila dan Aci lagi keliatan bingung banget dan langsung mengisyaratkan Nicken buat tidak bersuara lalu menunjuk ke arah samping taman yang agak menjorok ke dalem. Nicken pun kaget banget melihat Nathan di sana, sama Sara dan mereka lagi pelukan!


Taman belakang emang selalu sepi. Makanya tempat ini sering dijadikan tempat pacaran sama melakukan “kenakalan-kenakalan” lain kaya merokok, bahkan ada juga yang menjadikan tempat ini tempat pertapaan atau mencari wangsit (biasanya ramai kalau menjelang ulangan umum) karena emang ada pohon beringin besar banget yang katanya sudah ratusan tahun.


Tanpa pikir panjang Nicken menghampiri dan melepaskan pelukan mereka. Mereka berdua kaget banget sampai kelabakan karena tidak menyangka Nicken bakal tahu apa yang lagi mereka lakukan.


“Cken, we just..” (kita cuma..)


“Just what!!" (cuma apa?) Tanpa sadar Nicken menampar pipi Nathan kencang banget karena setelahnya Nicken merasakan sakit banget di telapak tangannya tapi tidak seperih sakit hatinya. “You’ve made a promise, Nat? Don’t you remember that?!" (Kamu sudah janji sama aku, Nat, kamu enggak ingat?)


“Cken, listen to me.. (dengar aku dulu..)” Nathan mencoba menenangkan Nicken dengan memegang kedua pundaknya, tapi langsung Nicken tepis dengan kasar.


Jangan sentuh gue sama tangan kotor lo, Nat!!


“This isn’t like what you’re thinking, Cken." (Ini enggak seperti yang kamu pikirkan, Cken.)


Nicken tersenyum sinis lalu berpaling ke Sara yang dari tadi hanya bisa tertunduk malu.


“Lo, hebat banget ya, berarti benar apa yang gue bilang tadi di kantin tentang lo, dan gue salut banget.”


“Cken? What’s wrong? (Ada apa?)” Ivan tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang mereka.


“What are you doing here? It’s not your business." (Lagi apa lo di sini? Ini bukan urusan lo.)


Karena Nicken marah banget sama Nathan dan sebenarnya tidak suka juga Ivan ikut campur, tapi dia malah membela Ivan dari Nathan.


“Enggak apa-apa, Van, cuma mau kasih pelajaran saja ke 2 pengkhianat.”


Nicken bisa lihat kalau Sara salting banget ada Ivan, karena Nicken tahu dia suka sama Ivan. Dan kejadian ini membuat harga dirinya sebagai “cewek baik-baik” sudah tercoreng di depan Ivan.


Nicken kembali menatap Nathan dengan pipi kirinya yang masih terlihat merah banget. “I think Sara can give you so much love." (Aku rasa, Sara bisa kasih kamu kasih sayang lebih.)


“No, Cken, don’t say that." (Jangan ngomong kaya gitu.)


“I can’t stand of this again, enough." (Aku sudah enggak tahan lagi. Cukup.)

__ADS_1


“Cken.. Please, let me explain it to you first." (Aku mohon, biarkan aku menjelaskan ke kamu dulu.)


“From this moment, don’t ever call me, show your face to me.." (Mulai detik ini, jangan pernah hubungi aku lagi, tunjukkan muka kamu..)


Nathan ingin meraih tangannya tapi Nicken menepisnya. “And don’t ever touch me again!!" (Dan jangan pernah sentuh aku lagi.)


Nicken berjalan mundur hingga sampai di samping Ivan dan tanpa Ivan duga, Nicken memegang lengannya. Dia terkejut tapi coba dia tutupi. Mungkin Nicken punya maksud lain melakukan itu.


“It’s over Nat, thanks for everything you’ve done to me." (Sudah berakhir, Nat. Makasih untuk semua yang sudah kamu lakukan.)


Nicken memberi isyarat Ivan buat pergi dari situ, tapi Sara memanggil Ivan. Mereka pun kembali balik badan.


“Ini enggak.. enggak seperti yang kamu lihat.” Jelas Sara ke Ivan. Ivan menatapnya bingung.


“Kenapa lo ngomong itu sama gue? Gue kan bukan cowok lo.”


Bagus Van, gue suka sama omongan lo. Nicken tersenyum sinis dan mengejek banget ke Sara.


“Dia suka sama kamu, Van, masa kamu enggak bisa lihat?”


“Loh? Bukannya dia suka sama cowok kamu ya?”


“Ex-boyfriend, Van.”


“Ups, sorry, your-ex-boy-friend.” Ivan sengaja motong-motong ucapannya dengan maksud bikin Nathan gondok dan itu berhasil. Nathan kesel banget.


Muka Sara sudah memerah banget. Malu!


“Itu enggak benar, Van..” Sara menyanggah omongan Nicken.


“Sorry, but you’re definitely not my type. (Maaf, lo sama sekali bukan tipe gue.)”


“Tapi, Van..”


“Ayo, Cken, we gotta go from here." (Kita pergi dari sini.)


Mereka pergi tanpa ngasih kesempatan Sara ngomong lagi. Nathan melihat Nicken pergi dengan pasrah.


...***...


Nicken berjalan menuju kelasnya tanpa menunggu Nila dan Aci yang mencoba mensejajarkan langkahnya karena emang cepat banget. Ivan juga tidak tahu kemana, karena setelah di belokan koridor yang menuju taman belakang, Nicken langsung melepaskan tangannya di lengan Ivan dan jalan cepat-cepat kaya sekarang.


Sampai kelas, Nicken cuma bisa duduk diam tidak marah-marah kaya biasanya kalau dia lagi kesal apalagi kalau kaya sekarang, tapi dia cuma bisa melamun. Nila dan Aci juga bingung harus apa. Tidak berapa lama, Ivan masuk dan duduk di tempatnya. Dia juga keliatan bingung melihat sikap Nicken.

__ADS_1


Jangan-jangan dia kesambet penghuni pohon beringin belakang? Gawat..


Ivan meraih tangan Nicken yang terlihat merah (karena menampar Nathan keras banget tadi) terus meletakkan seplastik kecil es batu secara perlahan di atasnya. Nicken pun tersadar. Nila dan Aci pun terlihat lega, temennya tidak kenapa-napa.


“Cken, lo enggak apa-apa?” Tanya Aci.


Nicken tersenyum lalu menggeleng.


“Maaf ya, tadi gue lihat Sara sama Nathan jalan berdua dan kita ikutin, ternyata..”


“Enggak apa-apa kok La, Ci, thanks sudah kasih tahu gue. Dan lo..” Nicken berpaling ke Ivan. “Biarpun gue enggak suka cara lo yang sok ikut campur urusan orang, tapi.. thanks.”


Ivan pun tersenyum. “Anytime, Cken.”


Sepulang sekolah Nicken dan Ivan, untuk pertama kalinya, kelihatan jalan bareng menuju parkiran mobil. Nila dan Aci juga kaya sengaja meninggalkan mereka berdua.


“Van, makasih ya tadi.”


“Ya ampun, Cken, lo sudah hampir 20 kali bilang makasih ke gue, emang lo enggak bosen? Gue malah enek banget dengarnya.”


Nicken tertawa lalu membuka kunci pintu mobilnya ketika mereka sampai di parkiran. Nicken masuk ke mobilnya tanpa menutup pintu dan Ivan berdiri di sampingnya sambil bersandar di pintu mobil Nicken yang terbuka.


“Besok-besok enggak usah bawa mobil deh.”


“Kenapa?” Kening Nicken berkerut karena bingung.


“Lo bareng gue saja, gimana?”


Nicken hanya tersenyum. Kemudian semua kakaknya pun menghampiri.


“Hayo, pada ngapain nih?” Goda Nico sambil merangkul Ivan.


“Lo bareng Ivan saja, De, katanya enggak mau ikut Nicky latihan.” Tambah Vicky lebih menggoda mereka.


Ivan hanya tersenyum.


“Cerewet, sudah cepetan masuk.”


Semuanya tertawa.


“Kita duluan ya, Van.” Pamit Nicky. Nico dan Vicky sudah masuk ke dalam mobil.


“Okay, hati-hati.”

__ADS_1


Nicky masuk ke mobil dan duduk di depan samping Nicken. Ivan menutup pintu mobil Nicken setelah Nicken bilang makasih lagi ke dia. Mobil sedan putih itu pun pergi. Ivan tersenyum lalu menuju mobilnya dan pergi tanpa sadar kalau Sara melihat ke arahnya.


To be continued......


__ADS_2