Pembalap Idola

Pembalap Idola
FIRST KISS


__ADS_3

Satria memarkirkan motor sport CBR hitam punya Reno yang lagi dia pinjam buat menjalani rencana selanjutnya buat menjebak Sara. Nico pun tidak putus kasih dia kabar tentang posisi Sara biar pas dapat momennya.


Tidak berapa lama, Nico mengabari lagi dan bilang kalau taksi yang ditumpangin Sara, dalam 10 detik masuk ke komplek. Satria langsung buka helm dan turun dari motornya lalu akting lagi memeriksa motornya. Dan emang benar, taksi melintas lalu berhenti tidak jauh dari dia. Seorang cewek keluar dari taksi dan menghampiri dia.


“Hai.” Satria menoleh lalu tersenyum dan berdiri. “Kamu yang kemarin nanya alamat kan?”


“Hai, kita ketemu lagi.”


“Motor kamu mogok?”


“Iya nih, enggak tahu kenapa. Aku mengertinya mesin mobil, kalau motor aku menyerah. Mana teman aku ternyata lagi enggak di rumah. Jadi bingung deh nih.”


Sara tertawa. “Kalau kamu enggak keberatan, gimana kalau ke rumah aku? Ntar aku suruh satpam aku buat mengecek motor kamu.”


“Emang enggak merepotkan kamu?”


“Enggak kok, ya sudah yuk.”


Satria akhirnya mengikuti Sara menuju rumahnya sambil menuntun motornya.


Gotcha!


Satria mengajak Sara makan siang yang alasannya buat mengucapkan terima kasih gara-gara satpam rumahnya bisa membetulkan motor Satria yang dibuat mogok sendiri sama dia. Sebenarnya, Sara itu cantik, tapi siapapun bakal illfeel kalau lihat sikapnya yang agresif banget.


Jujur saja, Satria tidak menikmati makan siangnya kali ini, tapi dia tetap tersenyum. Dan tanpa Satria duga, tiba-tiba Sara memegang tangan Satria trus bilang kalau dia suka sama Satria dari pertama kali ketemu. Dia juga berharap Satria mau menerima dia jadi ceweknya.


What?! Benar kata Nico, ini cewek sakit jiwa!


Satria memaksakan buat mengeluarkan senyumnya yang paling manis sambil melepaskan tangan Sara.


“Apa kamu selalu begini sama setiap cowok yang baru kamu kenal?”


“Enggak kok, baru sama kamu saja.”


“Jangan kamu kira tadi di rumah kamu kita bisa ketawa-ketawa dan sekarang kita makan siang bareng kamu pikir ada yang spesial.”


“Aku pikir kita..”


“Kamu tuh cantik, Sar, tapi kalau sikap kamu kaya begini, aku yakin cowok manapun bakal takut. Mungkin kalau kamu bisa berubah, bakal banyak cowok yang suka sama kamu, dan kamu enggak perlu merebut cowok orang lain.”


“Maksud kamu?"


“Nathan? Dan 2 orang cowok Nicken dulu pernah kamu rebutkan?” Sara terkejut dan salah tingkah. “Dan sekarang kamu nembak aku. Aku yakin kamu cuma semata-mata mau membuktikan ke Cken kalau kamu berhasil lagi merebut cowoknya.”


“Tapi kamu sama Cken kan belum jadian.”


“Emang belum, Sar, tapi aku sayang banget sama dia. Aku enggak mau mengkhianati dia biarpun sampai sekarang dia belum bisa menerima aku.”


“Tapi aku bisa menerima kamu, Sat.”


“Sorry Sar, you’re definitely not my type.” (Kamu sama sekali bukan tipe aku.)


“Aku pikir, kamu juga suka sama aku.”


“Cuma ada Cken di hati aku, Sar. Dan enggak bakal ada cewek manapun yang bisa menggeser dia di hati aku, termasuk kamu dan sekeras apapun kamu usaha. Sorry, aku harap kamu bisa berubah.”


“Kalau aku berubah, apa kamu bisa terima aku?”


“Cowok lain mungkin, yang pasti aku enggak bisa.” Satria lalu pergi meninggalkan Sara.


...***...


Besok paginya di sekolah, Aci kaya kesetanan mencari Nicken, jadi dia bolak balik depan kelasnya sambil kelihatan cemas banget. Tidak lama kemudian, di ujung koridor akhirnya dia melihat Nicken sama Nila dan Romi lagi jalan menuju kelas. Aci pun kasih isyarat buat mereka biar jalannya cepetan.


“Aci lebay deh, kenapa sih?” Tanya Romi yang langsung merangkul dia sambil masuk ke dalam kelas.


“Cken sudah lihat twitter belum?”


“Emang ada apaan?” Nicken menaruh tasnya lalu duduk di bangku Aci.


“Nih baca.” Aci kasih lihat ponselnya ke Nicken dan Nila pun ikutan menengok. “Cken sama Nila pasti enggak percaya, tapi Aci yakin dia enggak mungkin bohongkan?”


Nicken memberikan ponsel Aci ke Nila dan Romi akhirnya penasaran dan ikutan baca lalu terdiam melihat Nicken yang juga langsung speechless terus berdiri dan keluar kelas.


“Kalau pun ini benar, Satria punya alasan, Ci.”


“Ya sudah, gue menemani Cken dulu ya.” Nila akhirnya bangun dari duduknya dan menyusul Nicken.


Nila mendapatkan Nicken lagi duduk di bangku taman belakang, dia pun menghampirinya. “Lo mau sendirian apa mau gue temani?”


“Enggak papa kok, La.”


Nila akhirnya duduk di samping Nicken.


“Gue sudah pernah bilangkan kalau ini pada akhirnya bakal kejadian.”


“Dan lo benar, La, gue merasa takut kehilangan Satria. Biarpun gue masih enggak percaya kalau Satria sengaja melakukan itu semua.”


Nila memposisikan badannya menghadap Nicken. “Jujur sama gue, Cken, lo sayang sama Satria?”


Nicken menatap mata Nila. “Gue cuma lebih merasa takut kehilangan Satria daripada Ivan.”


“Berarti lo sayang sama dia. Bukan sekedar antara fans sama idolanya. Dan gue bisa lihat kalau Satria juga sayang sama lo. Kenapa sih kalian enggak jadian saja? Biar si Nenek Lampir itu enggak bisa macam-macam lagi sama lo dan enggak bakal ganggu Satria.”


“Satria sayang sama gue cuma sebatas sama fansnya, La.”


“Bullshit, Cken. Kalau lo enggak bisa melihat itu pakai mata lo sendiri, pakai ini..”


Nila menunjuk ke tengah dada Nicken.

__ADS_1


“Pakai mata hati lo. Lihat perlakuan dia ke lo. Jogja-Jakarta jauh, Cken, tapi dia rela jauh-jauh ke sini buat menemui lo. Enggak mungkin kalau itu cuma sekedar rasa sayang terhadap fans."


Nicken terdiam sambil membuang pandangannya.


“Jangan pernah menghalangi perasaan yang mungkin ada buat Satria dan selalu ikutin apa kata hati lo.” Nila mengelus rambut Nicken dan mereka tidak sadar kalau Ivan ikut terdiam mendengar omongan mereka.


Ivan menghampiri Nicken yang lagi duduk di bangku taman belakang waktu istirahat. Ada beberapa anak juga di sana yang sibuk sama kegiatannya masing-masing dan tidak peduli sama Nicken yang dari awal duduk cuma melamun, tapi kayanya mereka sudah punya antisipasi kalau sampai ada kejadian Nicken kesurupan biarpun belum ada tanda-tanda kearah sana sih. Nicken mau berdiri waktu tahu Ivan duduk di sampingnya, tapi Ivan menahan dia dan akhirnya Nicken pun duduk lagi.


“Mau apa lo?”


“Gue tahu lo marah sama gue, lo kecewa, tapi kasih gue kesempatan buat menjelaskan semuanya ke lo.”


“Gue rasa enggak perlu, Van.”


“Please, Cken, kasih gue waktu, setelah ini, gue enggak bakal maksa lo buat temenan lagi sama gue.”


Nicken pun terdiam.


“Gue pernah satu sekolah sama Nathan di Paris, sebelum dia pindah ke Indonesia. Dan enggak lama gue pun menyusul dia, tapi gue enggak langsung masuk sini, tapi ke Elang dulu.”


Ivan terdiam sejenak menunggu reaksi Nicken, tapi dia tidak bereaksi.


“Jujur, awalnya gue menyusul Nathan buat membalas perlakuan dia yang membuat gue sakit hati sampai sekarang. Karena gue tahu kelemahan dia adalah lo, makanya gue coba mendekati lo biar dia cemburu. Tapi selama gue dekat sama lo, gue enggak bisa bohongi hati gue kalau gue..”


Ivan menoleh ke Nicken yang masih menatap lurus ke depan. “Gue sayang sama lo. Nathan bodoh sudah melepaskan lo demi Sara. Dan gue enggak mau kaya dia, kehilangan cewek yang berarti di hidup gue, dan itu lo, Cken.”


Nicken masih belum bereaksi.


“Gue minta maaf Cken, apa yang gue lakukan emang salah, tapi gue jujur, kalau gue sayang sama lo. Gue cemburu melihat lo sama Satria. Tapi semua terserah lo, gue terima apapun keputusan lo.”


Nicken menghela nafas lalu menoleh ke Ivan. “Kayanya gue tahu harus milih siapa dan yang pasti itu bukan lo. Dan satu lagi, gue enggak peduli urusan lo sama cowok enggak penting itu, karena sekarang buat gue, lo sudah sama enggak pentingnya kaya dia.”


Nicken berdiri lalu pergi meninggalkan Ivan yang tertunduk diam.


Nathan menggeser bangku yang ada di samping Nicken lalu menahan Nicken buat tidak beranjak dari tempat duduknya. Beberapa anak yang ada di kelas pun langsung keluar, karena paham pasti ada hal serius yang mau Nathan bicarakan makanya dia nekat mendatangi Nicken ke kelasnya.


“Please, just give me a few minutes. (Tolong kasih aku waktu sebentar.)” Nicken terdiam. Antara kesal sama lagi galau. “I know what are you feeling now." (Aku mengerti perasaan kamu sekarang.)


Nicken mendengus sinis. “Jangan sok tahu.”


“*But we are in the same position*." (Posisi kita sama)


“In what position do you mean?" (Posisi yang mana maksud lo?)


“Sara left me for Satria and Satria definitely betray you for her." (Sara meninggalkan aku demi Satria dan Satria mengkhianati kamu demi dia.)


“Don’t be ridiculous. Satria isn’t you." (Jangan konyol. Satria bukan lo.)


“But, Cken..”


“If you don’t really know about Satria, don’t judge him like that. He’s not what you’re thinking." (Kalau lo enggak benar-benar kenal sama Satria, jangan menilai dia kaya gitu. Dia enggak seperti yang lo tuduhkan.)


...***...


Nicken semakin menginjak gas mobilnya yang membuat mobilnya semakin melaju. 2 orang pembalap yang ikut pun mesti ikhlas menerima kekalahan mereka, karena dari awal start, Nicken sudah meninggalkan mereka jauh di belakang.


“Adik lo kenapa, Ky?” Tanya Reno yang matanya tidak pernah lepas dari mobil Nicken.


“Ada masalah kayanya. Dia enggak biasanya enggak kekontrol begitu.”


“Gue harap itu enggak ganggu konsentrasi dia buat Blackhawk ya.”


“Iya, Kak, lo tenang saja.”


“Kayanya dia ada masalah sama Ivan, Sat. Sudah beberapa hari ini mereka enggak kelihatan bareng. Malah kata Nila, Cken pindah duduk.”


“Ada apaan ya, Ky?”


“Dia belum cerita ada apaan.”


“Ya sudah, gue sudah masuk perbatasan, ntar gue langsung menemui adik lo deh.”


“Take care, Sat.”


Abis latihan tadi, Nicken langsung menyepi di tribun paling atas yang emang selalu sepi kalau tidak ada kejuaraan. Dan kata Reno, tempat ini cocok buat yang ada masalah karena pemandangan dari sini membuat hati dan pikiran lebih tenang. Saking khusyuk melamun, Nicken pun sampai tidak sadar kalau Satria sudah duduk di sampingnya.


“Loh, Kak? Kapan sampai?


“Sudah 15 menit gue duduk di sini.”


“Serius?” Satria mengangguk sambil tersenyum. “Ya sudah, pergi sana. Ntar kalau ada media Nascar lihat terus buat berita yang aneh-aneh, kan gue enggak enak sama cewek lo.”


Satria tersenyum lalu meraih tangan Nicken. “Ikut gue.” Nicken pasrah ditarik pergi sama Satria, yang ternyata membawanya ke pantai.


“Gue sama cewek itu enggak ada apa-apa, Cken. Lo tahu enggak, gue mendekati dia kenapa?”


Nicken menatap Satria yang di mata Nicken selalu tampan.


“Gue cuma mau dia merasakan apa yang pernah lo rasakan.” Satria melihat kalau Nicken kaget. “Gue mau dia tahu gimana rasanya dikhianatin.”


“Kenapa lo lakukan itu, Kak?”


“Gue enggak mau cewek yang gue sayang disakitin sama orang enggak penting.”


“Maksud lo?”


Satria meraih tangan Nicken. “Gue sayang sama lo. Bukan rasa sayang idola ke fansnya. Dan gue harap rasa sayang lo lebih besar ke gue daripada sama Ivan.”


“Gue sudah lupakan soal Ivan.”

__ADS_1


“Jadi..”


“Gue belum bisa jawab lo sekarang, Kak.” Nicken meletakan kepalanya di bahu Satria lalu menatap laut di depannya. “Gue masih perlu waktu buat mengartikan perasaan gue ke lo.”


Satria lalu merangkul Nicken. “It's okay, Cken, just take your time.” (Enggak usah terburu-buru)


Biarpun gue tahu mesti milih siapa, tapi gue belum bisa mengartikan perasaan gue yang sebenarnya ke lo, Sat. Gue harap waktu bisa kasih gue jawabannya.


Satria memarkirkan mobil balapnya di depan rumah Nicken lalu menoleh ke Nicken yang kayanya melamun di sebelahnya. Diapun meraih tangan Nicken dan digenggamnya yang membuat Nicken tersadar lalu menoleh.


“Soal perkataan gue di pantai tadi, enggak usah dipikirkan ya.”


Nicken tersenyum lalu membuka sabuk pengamannya. “Maaf ya, Kak, gue belum bisa jawab lo. Gue cuma perlu waktu meyakinkan hati gue.”


“It’s okay, Cken.”


“Kak, gue boleh..”


“Lo mau apa?”


Nicken terdiam sejenak.


“Gue boleh.. memeluk lo?”


Satria tersenyum lalu membuka sabuk pengamannya dan kemudian merengkuh badan Nicken ke pelukannya.


“Kenapa mesti enggak boleh? Lo boleh meluk gue kapanpun dan selama apapun yang lo mau.”


Nicken tersenyum dan semakin memeluk Satria sambil menikmati harumnya parfum Satria.


Kenapa gue merasa nyaman banget sama lo, Sat? Apa mungkin ini beneran perasaan cinta gue sama lo?


Gue sayang banget sama lo, Cken. Apa yang membuat lo masih ragu buat mengakui perasaan lo ke gue?


Setelah beberapa saat Nicken akhirnya melepaskan pelukannya. “Makasih ya, Kak.”


Satria mengelus pipi Nicken. “Kalau setelah ini lo malah membenci gue, gue bakal terima, Cken. Tapi gue harap setelah ini lo makin yakin sama perasaan lo yang sebenarnya ke gue.”


“Maksud lo?” Satria mendekatkan mukanya ke muka Nicken. “Kak? Lo mau apa?”


Satria tersenyum lalu mencium bibir Nicken untuk beberapa saat.


“I love you, Cken.”


Nicken keliatan banget *shocknya* sambil menatap mata Satria yang masih dekat banget.


Gue mimpi apa gimana nih? Satria mencium gue? Gue first kiss sama Satria? Oh my..


Sedetik kemudian Nicken tersadar lalu melepaskan tangan Satria yang masih ada di bagian samping kepalanya.


“Gue masuk dulu ya, Kak, lo hati-hati di jalan." Nicken ingin membuka pintu tapi Satria masih menahannya.


“Please, Cken, jujur sama gue apa yang lo rasakan?”


Nicken tersenyum sambil kembali menatap Satria lalu mencium pipinya dan memeluknya lagi. Kali ini Satria yang keliatan shock.


“Kalau emang ternyata gue beneran sayang sama lo, lo bakal tahu pada akhirnya." Nicken melepaskan pelukannya lalu tersenyum menatap Satria. "Bye.”


Nicken lalu turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah. Setelah beberapa saat, dia mendengar mobil Satria menjauh.


...***...


Ivan membuka pintu rumahnya dan langsung terkejut waktu menerima tonjokan di rahang kirinya. Dia memijit rahangnya yang kerasa sakit dan melihat Satria berdiri sambil memijit tangannya juga.


“Sorry, I can’t hold myself to do that." (Maaf, gue enggak bisa menahan diri buat memukul lo.)


Ivan lalu menyuruh Satria masuk dan mereka pun duduk di sofa.


“Gue paling enggak suka ada orang yang menyakiti Cken.”


“Mungkin gue pantas dapat ini, Sat. Karena gue sudah mengecewakan dia.”


“Ada masalah apa?”


“Cken enggak cerita ke lo?”


“Dia cuma bilang, kalau dia sudah melupakan lo.”


Ivan terdiam. “Kemarin dia mendengar omongan gue sama Nathan.”


“Nathan? Lo dekat sama dia?”


“Gue pernah satu sekolah di Paris sama dia, dan alasan gue pindah ke Indonesia, ya karena dia.”


“Maksud lo?”


“Nathan pernah melakukan satu hal yang bikin gue sakit hati sampai sekarang. Dan pas tahu kalau Cken kelemahan dia, gue..”


“Manfaatin dia?”


“Gue menyesal banget, Sat. Gue cuma pengen Nathan merasakan apa yang gue rasakan. Gue sama sekali enggak bermaksud mau menyakiti, Cken.. Gue.. gue tulus sayang sama dia. ”


“Tapi enggak seharusnya lo lakukan itu, Van. Kalau gue jadi, Cken, gue bakal bersikap yang sama kaya dia.”


Ivan menghela nafas. “Gue pasrah kalau emang dia sudah enggak mau temenan sama gue. ”


“Mungkin Cken perlu waktu, Van.”


To be continued.....

__ADS_1


__ADS_2