
Di Star Road, tampak tiga mobil balap saling salip menyalip. Semua patroli yang lagi tugas cuma bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa setelah tahu kalau itu mobil Reno dan Dude.
Mereka (Reno-Dude) sudah kenal banget tabiat buruk Satria yang suka emosional. Dia paling suka ugal-ugalan di jalan buat melampiaskan marahnya. Sama kaya yang Nicken lakukan waktu dia lihat (mantan) cowoknya selingkuh.
Mereka mengerti banget sama perasaan Satria sekarang. Juara Asianya kaya tidak berarti apa-apa setelah dikalahkan sama pembalap baru cewek biarpun cuma setengah detik. Reno yang lebih merasa bersalah banget sudah membuat “adik”nya merasa dipermalukan. Tapi dia beneran tidak menyangka kalau Nicken bisa melakukan itu. Disatu sisi dia senang banget karena Nicken tidak mengecewakan dia, tapi di sisi lain, dia malah mengecewakan Satria.
Gimana bisa dia menang setengah detik dari gue? Kemarin gue lawan banyak pembalap hebat dan enggak ada yang bisa mengalahkan gue setengah detikpun, tapi kenapa..
"Argh!!"
Satria memukul setir mobilnya dengan marah. Kayanya dia emang tidak terima banget sama keputusan yang dia dapat tadi. Dan yang lebih parah, media tahu hal ini dan itu bisa jadi mimpi buruk buatnya.
“SIALLLLL.........!!!” Teriak Satria sambil menambah kecepatan mobilnya.
...***...
Nicken menjatuhkan badannya di tempat tidur yang dilapisi seprai warna pink bermotif bunga-bunga warna biru muda. Dia merasa capek banget. Sejenak dia memejamkan matanya tapi kembali menatap langit-langit kamarnya. Kejadian di Ferrari tadi kembali terbayang di matanya. Satria masih sempat tersenyum ke dia waktu keluar dari mobil setelah selesai balapan. Tapi seketika senyumannya menghilang pas tahu Nicken berhasil mengalahkan dia.
Dia pasti marah banget sama gue. Tapi gue juga enggak tahu punya kekuatan apa sampai bisa mengalahkan dia? Gue beneran enggak tahu. Gue cuma melakukan apa yang bisa gue lakukan dan gue enggak menyangka kalau hasilnya kaya gini. Nicken menghela nafas. Sukses banget deh bikin idola gue benci sama gue.
JOGJAKARTA.
Satria memarkirkan mobil balapnya di parkiran sekolahnya. SMU Capella. Masih ada jeda seminggu sebelum Kejuaraan Ferrari, jadi dia memutuskan buat bolak-balik Jakarta-Jogja, karena buat pembalap yang lokasinya tidak terlalu jauh dan masih bisa ditempuh lewat darat, hanya makan waktu beberapa jam tanpa menggunakan rem mobil mereka.
Tadinya dia tidak mau sekolah gara-gara incident kemarin. Tapi Dude selalu mengajarkan dia buat menghadapi apapun kenyataan yang harus dia hadapi dan sayangnya patroli Dude mengawal dia sampai masuk gerbang sekolah, jadi celah buat bolos sekolah tidak ada.
Satria menghela nafas panjang lalu turun dari mobilnya dan masuk ke dalam gedung sekolahnya. Dan seperti yang dia duga sebelumnya, berita kekalahan setengah detiknya sudah sampai ke tangan-tangan anak sekolahannya.
Satrialah korban utama dari semua berita di tabloid dan juga diinternet. Banyak banget yang berkomentar sinis tentangnya, tapi ada juga yang prihatin karena mereka pikir Satria juga tidak mau hal itu terjadi. Untung dia punya banyak teman yang siap membungkam mulut-mulut yang berani komentar lagi.
Tapi itu tidak membuat Satria merasa lebih baik. Dia merasa kalau imagenya sudah hancur di hari dia dikalahkan sama Nicken. Satria emang terkenal banget di sekolah yang dicap sebagai sekolah high-class bukan hanya karena yang punya sekolah adalah bokapnya yang tajir sangat itu, (jadi intinya Satria yang punya sekolahan) tapi karena dia juga pembalap (ganteng) terbaiknya Firelli.
“Katanya juara pertama se-Asia, kok bisa kalah ya sama pembalap amatiran, cewek pula.”
Satria dan beberapa temannya menoleh mendengar seorang cowok ngomong dari arah belakang.
“Diem lo, Xel, tidak usah banyak bacot!” Cowok yang berbadan paling besar ingin menghampiri cowok itu, tapi Satria menahannya.
“It’s okay, Bro..” Satria menatap cowok yang berdiri tidak jauh di depannya. “Komentar saja sepuas lo, gue enggak peduli.”
Cowok itu tersenyum sinis. “Gue enggak perlu komentar banyak-banyak, cukup para media saja yang komentar, bakal lebih seru.” Cowok itupun berlalu pergi diikuti oleh beberapa temannya.
“Enggak usah lo dengerin, Sat, kita bakal bereskan dia nanti.” Kali ini cowok yang berbadan atletis coba menenangkan Satria. “Dan kita bakal menyita semua tabloid, kalau itu yang lo mau.”
“Enggak perlu, Guys..” Satria juga berlalu.
__ADS_1
Teman-temannya hanya saling pandang dan terlihat bingung. Tapi mereka kaya kasih waktu Satria buat sendirian makanya mereka tidak mengikuti dia pergi.
Satria duduk bersandar di bawah pohon akasia yang keliatan sudah berumur, mungkin seumuran sama pohon beringin di taman belakang sekolahan Nicken yang suka dijadiin tempat bertapa (ingat?), tapi viewnya mungkin lebih indah di sini, karena dari posisi Satria sekarang dia bisa memandangi danau buatan yang airnya kehijauan dan tenang banget di hadapannya.
Beberapa anak yang lagi bersantai di pinggir danau langsung beranjak tanpa diperintah waktu sadar kalau ada Satria yang keliatannya lagi galau berat. Jadi tinggalah Satria di sana bersama rumput yang bergoyang.
Omongan cowok tadi tergiang lagi di telinganya. Axelino Nugraha. Dia juga anak pemegang saham tertinggi (tapi masih dibawah Satria) di sekolah. Dan ternyata mereka juga sepupuan. Jadi intinya lagi mereka berdua yang punya sekolahan. Tapi hubungan mereka tidak terlalu baik sejak SD, jadi sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah akur. Tidak jelas penyebabnya apa.
Masalah cewek? Tipe cewek mereka beda banget, tidak pernah menyukai cewek yang sama, jadi kayanya bukan karena itu. Masalah pelajaran? Mereka juga sama-sama juara kelas. Beda sama kedua papa mereka yang tidak menunjukkan ada slek sedikitpun. Karena emang mereka (para papa) sama-sama punya peranan penting di sekolah. Jadi tidak jelas deh sebenarnya Satria sama Axel itu saingan soal apa.
Satria menghela nafas. Ini bakal jadi hari-hari terberat buat gue..
JAKARTA.
Kali ini baru terjadi kehebohan di SMU Canopus. Beberapa anak tampak bergerombol di sepanjang koridor dengan satu tabloid ataupun ponsel di tangan mereka. Nicken sudah tahu banget apa yang mereka lagi omongin. Jadi dia mengabaikan semua tatapan mata yang mengarah kepadanya waktu dia lagi jalan ke kelasnya.
Tumben enggak ada pemeriksaan? Gue yakin banget di Gudang ntar bakal kaya lapak koran.
Biasanya emang anak Keamanan bakal menyita semua barang yang tidak sesuai dibawa ke sekolah. Tapi kayanya hari ini pengecualian karena berita balapan Nicken kemarin. Paling tidak bertahan lama sih, ntar jam istirahat juga bakal diambil anak Keamanan.
“Menang setengah detik, Ky? Artinya mereka setara ya? ” Tanya Aca butuh jawaban yang lebih meyakinkan. Pagi itu empat sekawan ini sudah nongkrong di Gudang, tempat keramat mereka. Ryan lagi tugas jaga di depan.
“Hebat ya adik gue.” Ujar Nicky bangga sambil mengetik laporan di laptopnya. “Gue enggak menyangka dia bisa mengalahkan Satria.” Tambahnya.
Vicky tidak ikutan megang tabloid kaya yang Aril dan Aca lakukan. Dia terlalu sibuk menggonta-ganti channel TV, tidak jelas juga dia mau menonton apa.
Tanpa dikomando dua kali, mereka semua pun berdiri lalu keluar dari Gudang mereka.
Anak-anak di kelas Nicken juga sama noraknya kaya di koridor. Soalnya pas Nicken masuk ke kelas, mereka langsung bisik-bisik ngomongin dia. Nicken cuek, dia tidak komentar apa-apa. Nicken juga melihat Nila, Romi dan Aci sedang serius banget baca tabloid yang ada di meja mereka tanpa sadar kalau Nicken sudah duduk di bangkunya. Ivan hanya tersenyum ke Nicken lalu kembali membaca bukunya.
“Kalian percaya enggak sih kalau Cken bisa mengalahkan dia?”
“Gue sebenarnya juga enggak percaya sih, tapi enggak mungkin banget ini berita cuma hoax kan?”
“Iya Nila benar. Cken hebat ya.”
“Gue saranin kalian buang tuh majalah sebelum dapat masalah.” Kata Nicken dan membuat mereka menoleh lalu menatapnya. “Apa?”
“Lo serius mengalahkan idola lo itu?” Tanya Romi yang masih tidak bisa percaya. Ivan pun tersenyum.
“Bisa ngomongin yang lain enggak?”
“Jawab dulu, benar atau enggak?”
Nicken menghela nafas. “Iya, terus kenapa?”
__ADS_1
Respon ketiga sahabatnya ini di luar dugaan Nicken. Mereka bersorak girang banget yang membuat beberapa anak di kelas menoleh dan menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat kelakuan 3 anak itu.
“Sumpah, Cken, lo hebat banget, Satriakan hebat banget, tapi lo bisa mengalahkan dia, that’s awesome girl.” Puji Nila tulus yang pagi ini dandanannya lagi cantik banget. Rambutnya yang panjangnya melebihi bahu sedikit dan setengah dicat coklat tua dia biarkan terurai rapi.
Aci pun tidak kalah dari Nila. Rambutnya yang panjang sebahu dengan warna yang sama kaya Nila -cuma Aci mewarnai semua rambutnya- dia ikat kepang dua dengan pita warna putih di setiap ujungnya yang senada dengan kacamata minus berframe warna putih di hidung mancungnya.
“Tapi dia jadi marah sama gue..” Nicken melepaskan cardigan warna pinknya. Hari ini dandanan dia tidak seheboh Nila dan Aci. “Gue jadi enggak enak banget.” Sambungnya.
“Enggak perlu kaya gitu lagi, Cken. Namanya juga kejuaraan, pasti ada yang menang sama yang kalah dong?” Sahut Ivan dengan mata masih menatap bukunya.
“Ivan benar, Cken, sudah enggak usah terlalu dipikirin, ntar juga dilupain.” Romi berusaha sebijak mungkin.
Enggak mungkin dia bisa cepat melupakan kejadian itu.
Nicken terdiam lalu tersadar waktu salah satu teman sekelasnya teriak kalau anak Keamanan lagi razia tabloid. Beberapa anak tampak panik termasuk Nila yang emang bawa tabloid.
See? Enggak bertahan lama kan? Nicken tersenyum.
“Buang saja, La, daripada lo kena masalah, percuma jugakan diumpetin, mereka pasti tahu.” Ujar Ivan lalu mengajak Nicken ke kantin.
Ivan mengajak Nicken duduk di pojokan kantin, yang jauh dari rusuhnya suasana kantin biarpun pagi itu hanya beberapa meja saja yang terisi, itu juga tidak penuh, dan anak yang lagi di sanapun anteng tidak rusuh, tapi Ivan tetap mau duduk di pojokan-modus lain yang diajarkan Nico buat pedekate terselubung sama Nicken.
“Gimana rasanya?”
“Maksud lo rasanya yang gimana? Belum juga gue makan mienya.”
“Maksud gue, dekat sama idola lo, at last. (pada akhirnya)”
Nicken tersenyum sambil meniup mie yang ada di sendoknya. “Biasa saja, dia pasti benci banget sama gue gara-gara insiden kemarin.”
“Enggak mungkinlah, Cken..” Sahut Ivan sambil menyeruput coklat hangatnya. “Dia mungkin shock saja ternyata anak baru kaya lo bisa mengalahkan dia.”
“Kebetulan kayanya.”
“Tapi pasti sesuatulah sekarang lo enggak perlu ribet kalau mau ketemu dia langsung.”
“Iya sih, tapi kalau pada akhirnya dia malah enggak suka lihat gue, mendingan gue mengidolakan dia dari jauh saja deh.”
Ivan tersenyum menatap Nicken yang sedang makan. Tapi kenapa gue merasa cemburu banget ya, Cken? Apa mungkin gue sudah beneran jatuh cinta sama lo?
Tidak berapa lama, Ivan melihat Nathan duduk tidak jauh dari tempat mereka. Itu alasannya kenapa Nicken lebih memilih pergi. Ivan lalu berdiri dan menghampiri Nathan.
“I think you did a great mistake." (Gue rasa lo sudah melakukan kesalahan besar.) Nathan menatap dia dengan jutek. Ivan pun tersenyum sinis. "Coz you let her go and you chose the wrong person." (Karena lo sudah melepas dia dan memilih orang yang salah.)
“I don’t understand what are you talking ‘bout." (Gue enggak mengerti lo lagi ngomongin soal apa.)
__ADS_1
“Think ‘bout it by yourself." (Lo pikir saja sendiri.) Ivan lalu meninggalkan Nathan yang terdiam.
To be continued......