
Setelah 3 hari dirawat, Nicken akhirnya dibolehkan pulang sama dokter dengan larangan panjang buat dia, termasuk tidak boleh capek dulu, padahal bulan depan ada kejuaraan buat dia. Selama 3 hari itu pula, Satria tidak mau pulang ke Jogja biarpun Nicken memaksa. Dia mau memastikan kalau Nicken benar-benar sudah sembuh total.
“Hi, Sat. Cken pasti kaget pas tahu lo masih di sini.”
Satria tertawa dan Nico ikut duduk di kap mesin mobilnya.
“Nicky mana?”
“Katanya mau rapat dulu.” Nico lalu melihat Sara berjalan menuju gerbang sekolah. “Itu yang namanya Sara, arah jam 2 lo.”
Satria sedikit melirik ke arah yang dikasih tahu Nico dan melihat seorang cewek berjalan. “Rumahnya dimana?"
“Blankverse, 1 komplek sebelum Stanza.”
“Lo enggak usah khawatir, Nick, gue sudah punya rencana buat dia. Tapi lo jangan bilang ke Cken kalau gue mau mengerjai dia ya.”
Nico menatapnya bingung.
“Kenapa?”
Satria tersenyum. “Gue mau membuktikan saja, Cken punya perasaan apa ke gue.”
“Apalagi sih yang lo ragukan? Adik gue tuh sebenarnya sayang sama lo. Sudah lama.”
“Kalau sudah lamanya gue tahu, Nick, tapikan sebagai fans ke idolanya.”
“Tapikan, Sat..”
Tiba-tiba Satria bangun dari duduknya lalu berjalan menuju koridor. Nico melihat Nicken sedang menghindari Nathan yang kayanya memaksa mau ngomong sama dia. Dan Satria datang lalu melepas pegangan tangan Nathan di lengan Nicken dan kemudian mengandeng tangan Nicken menuju mobilnya.
“Lo baik-baik saja, De?” Nico masih melihat Nathan berdiri di ujung koridor sambil melihat ke arah mereka.
“It's okay, Nick.”
“Ya sudah, lo pulang sama Satria ya. Gue masih ada urusan dulu sebentar.” Nico mencium kening Nicken lalu menepuk pundak Satria sebelum pergi dengan motor sportnya.
Satria membuka pintu mobilnya buat Nicken lalu mereka pun pergi.
“Kayanya semalam ada yang pamitan mau pulang.” Satria tertawa. “Lo kan sudah berapa hari bolos sekolah, Kak. ”
__ADS_1
“Lo lupa ya, kalau gue yang punya sekolahan, jadi gue bakal punya banyak asisten yang bakal bantu gue belajar. Jadi lo enggak usah khawatir gue bakal ketinggalan pelajaran.”
“Iya deh. Makasih ya, Kak, soal yang tadi.”
Satria hanya tersenyum sambil mengangguk dan mengacak rambut Nicken.
Gue enggak pernah menyangka ada orang yang bisa jahat sama lo, Cken. Gue saja menyesal banget dulu pernah kasar sama lo. Gue janji sama lo, Cken, gue bakal balas perlakuan cewek itu buat lo, karena gue mau dia merasakan apa yang pernah lo rasakan.
“Gue sudah masuk ke kompleknya, Nick. Trus gue mesti kemana?“
Satria mengendarai mobilnya perlahan sambil celingukan. Habis memastikan Nicken minum obat dan istirahat dia langsung pergi mencari rumah Sara.
“Dari gerbang, lo lurus saja sampai menemukan putaran air mancur, terus lo ke kanan, hitung rumah ke-5 dari rumah pertama pas lo ke kanan. Pagarnya dari kayu.”
“Oke, Nick, ntar gue kabari lagi.” Satria meletakkan ponselnya lalu membawa mobilnya sesuai instruksi Nico tadi.
Tunggu kejutan gue buat lo.
Satria memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah Sara. Dia keluar dari mobilnya lalu pura-pura kebingungan. Itu dia lakukan waktu melihat ada cewek yang keluar dari rumah yang dia yakini itu Sara. Satria langsung menghampiri Sara.
Ekspresi Sara pun sudah bisa ketebak sewaktu bertemu Satria. Terpesona. Soalnya Satria mengeluarkan jurus tebar pesonanya dan cewek manapun tidak bakalan tidak berekspresi kaya ekspresi Sara sekarang.
“Kalau emang bukan karena mau membalas dendam, gue malas Nick berurusan sama cewek itu.”
Di telepon Satria mendengar Nico ketawa. “Ya itulah dia, Sat. Disabarin dulu saja. Tapi tadi gimana? Dia pastinya terpesona sama lo kan?”
“Kalau itu mah enggak usah diragukan, Nick. Dari awal gue yakin dia bakal masuk perangkap gue.”
“Gue yakin cuma lo yang bisa membalas dia, Sat. *Thanks for your help*.”
“Apapun gue bakal lakukan buat adik lo, Nick.”
“Thank you. You take care ok.”
“Bye.” Satria mematikan ponselnya lalu menambah laju mobilnya.
...***...
“You’ll never get her as hard as you try." (Lo enggak bakal berhasil sekeras apapun usaha lo.)
__ADS_1
Ivan berhenti lalu berbalik menghampiri Nathan yang bersandar di tembok belokan koridor mau ke taman belakang.
“At least, she doesn’t keep away from me." (Seenggaknya dia enggak menghindar dari gue.)
“She’ll leave you when she knows your first reason behind why you’re so care with her." (Dia bakal pergi waktu dia tahu alasan lo kenapa lo bisa perhatian banget sama dia.)
Ivan tersenyum sinis. “But, I don’t think she’ll believe in you. So, I don’t care with your threat." (Tapi gue rasa dia enggak bakal percaya sama lo. Jadi, gue enggak peduli sama ancaman lo.)
“Oh really? Dia akan really disappointed with you, kalau lo ternyata..” Nathan diam sejenak kaya lagi mencari kata-kata. Ivan tersenyum sinis sambil merasa geli menunggu Nathan ngomong. “Lo ternyata take advantage (mengambil keuntungan) from her buat membalas gue.”
“Gue emang mau lo merasakan apa yang dulu pernah gue rasakan, dan itu semua karena lo. And it works, she’s more trusting me than you." (Dan itu berhasil, dia lebih percaya sama gue daripada sama lo.)
“Maksud lo apa, Van?” Ivan dan Nathan terkejut lalu melihat Nicken sudah berdiri di dekat mereka. “Maksud dia apa, lo mengambil keuntungan dari gue?”
“Cken, ini enggak seperti yang lo dengar. Gue.. gue bisa jelaskan.”
“Jadi selama ini, lo mendekati gue buat membalas dia? Iya!?”
“Cken, please, listen to me.”
Nicken menepis tangan Ivan yang mencoba meraih lengannya.
“Bener kata dia, gue kecewa sama lo. Dan lo sama saja kaya dia!!”
Nicken berbalik pergi dan Ivan langsung menatap Nathan.
“Puas lo!!” Ivan lalu mengejar Nicken dan Nathan pun tertunduk diam.
Nicken duduk di atap Gudangnya anak Keamanan. Dia yakin banget Ivan tidak bakal menemukan dia di sini. Dia masih tidak percaya kalau ternyata Ivan cuma memanfaatkan dia buat membalas mantannya.
Dia pun menyeka airmata yang tidak sengaja jatuh di pipinya. Dia tidak mau menangis, tapi kayanya dia terlalu lemah buat tidak menangis. Terlalu sakit hati pas tahu kenyataan Ivan tidak tulus selama ini.
“Cken?” Aril duduk di samping Nicken yang langsung memeluknya. Aril pun mengelus rambutnya. “Gue mengerti kok, Cken. Caranya dia emang sudah salah, tapi gue perlu kasih tahu lo, kalau selama dia dekat sama lo, dia beneran sayang sama lo.”
“Tetap saja, Kak, gue enggak terima dan gue sudah kecewa banget sama dia.”
“Ini hidup lo, jadi cuma lo yang paling tahu mana yang terbaik buat hidup lo.”
Nicken semakin memeluk Aril.
__ADS_1
To be continued....