Pembalap Idola

Pembalap Idola
IMPIAN JADI NYATA


__ADS_3

LOMBOK.


Kejuaraan Blackhawk pun tinggal 2 hari. Dalam perjalanan ke sana, Nicky yang setia menyetir untuk Nicken cuma bisa diam melihat adiknya melamun terus. Dia pun tidak mau merusak acara melamun Nicken, makanya dia tidak bertanya-tanya, karena dia tahu apa yang lagi Nicken pikirkan. Nicky meraih tangan Nicken dan digenggamnya, berharap itu bisa menguatkan adiknya.


Satria hanya memutar-mutar cangkir Cappucinonya sambil melamun dan memandangi pemandangan dari cafe hotel yang jadi tempat menginap semua pembalap untuk kejuaraan lusa. Tadi Nicky kasih kabar kalau Nicken harus tidur buat jaga kondisinya dia, jadi dia sendirian sekarang. Dude pun harus mengurusi semua persiapan anak buahnya sama Reno juga. Akhirnya dia tersadar waktu ada cewek duduk di hadapannya.


“Sorry, I’m really unmood to talk with you." (Maaf gue enggak mood ngomong sama lo.)


“Lo masih marah sama gue, Sat?”


“Lo pasti tahu jawaban gue apa.”


Maira tersenyum. “Lo berubah, Sat. Pasti karena cewek itu.”


Satria menatap Maira tajam. “Maksud lo cewek yang mana?”


“Pembalap Nascar.”


“Namanya Nicken. Dan mungkin lo benar, dia yang membuat gue berubah. Kalau gue enggak kenal sama dia, seumur hidup keadaan gue masih sama kaya waktu lo meninggalkan gue gitu saja.”


“Tapi, Sat, gue melakukan itu karena..”


“Lo enggak perlu ingatkan gue lagi alasan lo pergi.”


“Gue masih sayang sama lo, Sat. Gue enggak bisa melupakan apa yang terjadi sama kita.”


Satria mendengus sinis. “Lo enggak benar-benar sayang sama gue. Karena kalau lo emang sayang sama gue, lo enggak bakalan melakukan apa yang sudah lo lakukan ke gue.” Satria berdiri lalu pergi meninggalkan Maira.


Kalau gue enggak bisa memiliki lo, gue enggak bakal rela ada cewek lain yang bisa memiliki hati lo, Sat.


Sorenya, Maira menghampiri Nicken yang lagi mengecek mesin mobilnya di pinggir sirkuit bersama 2 orang mekanik pribadinya. Waktu melihat Maira, mereka pun pamit pergi.


“Pasti lo yang lagi dikabarkan dekat sama Satria.”


Nicken menoleh lalu menjauhkan badannya dari mesin mobilnya kemudian menatap Maira. “Gue sama Satria enggak ada apa-apa, kalau emang itu jawaban yang mau lo dengar.”


“Bullshit. Cewek mana sih yang rela menolak cowok kaya Satria? Cowok gue.”


Nicken tersenyum sinis. “Oh, dia masih cowok lo toh? Gue pikir selama ini kalian sudah putus, semenjak lo meninggalkan dia gitu saja.”


Maira terlihat kesal. “1 hal yang harus lo tahu, Satria enggak mungkin bisa dengan gampangnya melupakan gue. Lo enggak akan bisa menggantikan posisi gue.”


“Kenapa enggak bisa? Lo saja gampang banget meninggalkan dia.”


“Enggak akan ada yang bisa memiliki dia selain gue, atau lo bakal menyesal.”


“Tapi ada hal yang harus lo ingat, Satria punya hak buat menentukan mana yang terbaik buat hidupnya, dan yang bakal merasa menyesal itu lo, karena lo sudah menyia-nyiakan cowok sebaik dia.”


“Tunggu saja nanti.”


Maira berbalik pergi namun kaget sewaktu melihat Satria lagi berdiri tidak jauh dari mereka. Diapun melewati Satria dan menuju mobilnya lalu pergi.

__ADS_1


Satria menghampiri Nicken sambil tersenyum lalu meletakkan tangannya di kepala Nicken.


“Gue dengar semuanya, dan gue suka sama semua jawaban lo.”


“Gue pernah bilangkan kalau dia masih sayang sama lo? Jadi dia enggak bakal membiarkan cewek lain dekat sama lo.”


“Tapi lo juga tadi bilang, kalau gue berhak menentukan apa yang terbaik buat hidup gue. Dan jawabannya lo, Cken.”


Nicken tersenyum sambil meraih tangan Satria yang ada di kepalanya lalu menggandengnya.


“Gue janji sama lo, Kak, setelah balapan besok, gue bakal kasih jawabannya.”


“Thanks.”


...***...


Satria menatap sirkuit dari tribun sambil sesekali menghisap rokoknya. Nicky pun lalu duduk di sampingnya dan mengambil rokok di tangan Satria lalu mematikannya.


“Adik gue enggak suka sama cowok perokok, jadi jangan sampai dia melihat lo lagi merokok atau lo bakal kehilangan nilai lebih di matanya.”


Satria tersenyum. “Gue sayang banget sama dia, Ky. Gue bakal melakukan apa saja buat dia.”


“Kaya yang pernah gue bilang, gue lebih suka lihat Cken sama lo daripada sama Ivan. Mungkin karena gue sudah kenal lo banget dan gue yakin lo enggak bakal menyakiti adik bontot gue.”


“Enggak akan pernah, Ky. Tapi Cken masih perlu waktu buat meyakinkan hatinya.”


“Lo pada akhirnya bakal tahu sendiri kok kalau Cken emang sayang sama lo.”


“Tapi gue juga khawatir sama Maira. Kayanya dia enggak rela kalau Cken bisa menggeser dia di kehidupan gue. Gue takut dia berbuat nekat sama Cken.”


“I will." Gue bakal menjaga lo, Cken.


...***...


Esoknya kejuaraan pun dimulai. Dari awal Satria sudah mewanti-wanti Nicken buat menghindari Maira, karena dia punya feeling tidak enak semenjak kemarin dia tahu kalau Maira mengancam Nicken. Tapi Nicken selalu memastikan kalau dia bisa jaga dirinya sendiri.


Putaran pertama sampai putaran ke delapan, balapan pun berjalan lancar. Posisi Satria masih memimpin dan Nicken selalu menempel di belakangnya. Tapi di putaran terakhir, terlihat mobil Nicken dan Maira saling susul menyusul. Siapapun tahu hanya dari cara laju mobil mereka, terlihat siapa yang emosi dan yang pasti bukan Nicken. Mobil Maira tampak tidak stabil dan Satria kelihatan memikirkan keselamatan Nicken, karena Maira kaya ngotot tidak mau jauh-jauh dari mobil Nicken.


Dan apa yang ditakutkan banyak orang pun terjadi. Mobil Maira oleng lalu menyenggol mobil Nicken yang ada di sampingnya. Sedetik kemudian, keriuhan terjadi. Mobil keduanya pun terbalik dan terguling beberapa kali karena kecepatan mereka yang belum berkurang dan mobil Nicken berhenti terguling dengan posisi melintang di tengah sirkuit sedangkan mobil Maira terbalik di lapangan rumput tengah sirkuit.


Satria panik. Dia langsung memutar balik mobilnya lalu berhenti tidak jauh dari mobil Nicken. Diapun turun dan langsung berlari ke arah mobil Nicken berbarengan sama Nicky dengan beberapa paramedik dan juga kru Nascar. Beberapa orang lagi pun berlari ke arah mobil Maira.


Satria dibantu Nicky mencoba mengeluarkan Nicken yang pingsan dari mobilnya yang terbalik. Setelah beberapa menit, akhirnya Nicken berhasil dikeluarkan dan Satria memapahnya menuju mobil ambulance dan membiarkan Nicken ditangani secara intensif.


“Gue bakal di belakang lo.”


“Use my car." (Pakai mobil gue.) Satria lalu naik ke dalam ambulance yang langsung pergi dari sana disusul kemudian oleh Nicky dengan mobil Satria lalu ambulance yang membawa Maira.


Di dalam mobil ambulance, Satria kelihatan panik banget melihat parahnya keadaan Nicken. Kening, hidung dan juga mulutnya mengeluarkan darah. Mungkin kalau tidak ada helm, she didn’t make it ‘till now. (dia enggak akan bertahan sampai saat ini.) Satria meraih tangan Nicken lalu menggenggamnya.


Please, don’t leave me now, Cken. (Gue mohon, jangan tinggalin gue sekarang, Cken.)

__ADS_1


Di rumah sakit, Satria terlihat gelisah sambil bolak-balik di depan ruang operasi. Nicky, Reno dan Dude sama gelisahnya di tempat duduk mereka. Setelah sekitar 3 jam, seorang dokter keluar dari ruang operasi dan mereka pun langsung menghampirinya.


“Sorry, we’ve tried the best we can do, but, unfortunately.. we lost one." (Maaf, kita sudah berusaha semampunya, tapi sayangnya.. kita kehilangan salah satunya.)


Semuanya terkejut.


“Who is that, Doc? (Siapa, dok?)”


Dokter hanya bisa menghela nafas.


...***...


Satria berjalan perlahan dengan membawa sebuket bunga lili putih, bunga kesukaan Nicken. Sebelum dia tahu kalau Nicken suka lili, dia sering memberikan Nicken bunga mawar putih, tapi Nicken tidak pernah sekalipun komplain, malah Satria pernah melihat puluhan bunga itu terawat dan menghiasi kamar Nicken.


Satria tersenyum dan berhenti lalu duduk di bangku taman yang menghadap ke sebuah danau sambil meletakkan bunga itu di pangkuan seorang cewek lalu mencium keningnya.


“Hi, Kak.”


“I’m glad you’re okay, Cken.” Nicken tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Satria.


“So sorry for Maira.”


“It wasn’t your fault, but hers. Don’t blame yourself, please?" (Itu bukan salah lo tapi dia. Jangan salahkan diri lo sendiri.)


“Tapi, Kak..”


Satria menghadapkan badan Nicken ke arahnya. “Gue yakin, kak Reno sudah mendidik lo dengan baik, karena siapapun pembalapnya, sehebat apapun dia di sirkuit, kalau dia balap pakai emosi, pasti itu bakal menyelakai dia. Lo pasti ingat insiden Andra kan? Dan kemaren gue bangga sama lo, karena lo enggak kepancing sama sekali waktu Maira mengincar lo. Dan gue bersyukur buat itu Cken karena sekarang lo yang ada di sini. Lo enggak meninggalkan gue.”


Nicken tersenyum lalu memeluk Satria. “Gue bersyukur masih dikasih waktu buat ngomong sama lo.”


“Ngomong apa?”


Nicken melepaskan pelukannya lalu menatap Satria sambil tersenyum. “Gue sayang sama lo. Gue enggak tahu dari kapan gue bisa merasa nyaman banget sama lo. Bahkan waktu gue tahu lo dekat sama Sara, gue merasa sakit, Kak. Gue benar-benar takut.. kehilangan lo.”


Satria tersenyum lalu menggenggam tangannya.


“Tapi maaf kalau gue perlu waktu buat memastikan apa yang gue rasa. Dan sekarang gue yakin.”


Satria mencium punggung tangan Nicken.


“Gue sayang banget sama lo. Gue janji enggak akan pernah meninggalkan lo karena sekarang, hidup gue adalah lo.”


Nicken lalu bersandar di badan Satria yang merangkulnya. “Kalau gitu, jangan pernah tinggalkan gue ya, Kak. Karena hidup gue juga sekarang adalah lo.”


“Enggak akan pernah, Cken.” Enggak akan..


To Be Continued....


AUTHOR : Haii.. Alhamdulilah cerita Nicken dan Satria Part 1 berakhir. Cerita mereka bakal berlanjut di Part 2 dengan judul "UJIAN CINTA".


Terimakasih banyak untuk semua yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca karya aku ini. Mohon maaf apabila ada typo atau jalan cerita yang kurang berkenan.

__ADS_1


Jangan lupa utk like & komen yaa biar aku bisa lebih memperbaiki penulisanku. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih.. Kalian bisa cek juga karya aku yang lain yaaa... See yaaa.. 🥰🥰


Semoga kalian selalu diberi kesehatan..


__ADS_2