Pembalap Idola

Pembalap Idola
LUKA LAMA SATRIA


__ADS_3

JOGJAKARTA.


Seorang cewek duduk sambil memandang pantai dan sesekali menyeruput Latte dari cangkirnya. Matanya menerawang.


Sudah lama banget gue enggak ke sini, dan enggak ada yang berubah.


Kali ini dia pun tersenyum sambil menyentuh layar ponselnya dan melihat foto-fotonya bersama Satria.


Lo enggak pernah berubah, Sat.


Seorang cowok berseragam sekolah yang ditutup pakai jaket hitam duduk di hadapannya. Dia pun tersenyum.


“Hi, Sat, apa kabar?”


“Baik, ada apa? Sorry, gue mesti latihan jam 4. Oh iya, thanks ya kemarin katanya lo jenguk gue.”


“Lo pasti masih marah banget ya sama gue?”


“Apa yang sudah terjadi sama kita, sudah jadi masa lalu buat gue. ”


“Gue melakukan semuanya karena gue punya banyak mimpi, Sat, dan gue enggak mungkin bisa mewujudkan mimpi gue kalau gue tetap stay di sini. Dan lo bisa lihat gue kaya apa sekarang kan?”


“Kalau emang semua mimpi lo itu lebih penting, kenapa lo balik?”


Maira meraih tangan Satria. “Gue cuma mau lo bisa melakukan hal yang lebih dari lo yang sekarang, kaya gue.”

__ADS_1


Satria tersenyum sinis sambil melepas tangan Maira. “Gue enggak perlu hal yang lebih kaya yang sudah lo lakukan. Tapi kayanya lo juga enggak bakal peduli sama apa yang sudah gue lewati di sini. 2 tahun May, 2 tahun gue mencoba bangkit dan akhirnya sadar, kalau lo enggak bisa menghancurkan gue pakai apa yang sudah lo lakukan ke gue. Jadi lo enggak perlu repot mengurusi hidup gue yang sekarang. Oh iya, satu hal lagi, buat gue, enggak mengorbankan perasaan orang lain, jauh lebih penting daripada mewujudkan mimpi gue.”


Satria mendorong kursinya ke belakang dengan kasar sambil berdiri dan pergi meninggalkan Maira yang kini tertunduk diam.


Satria menghembuskan asap rokoknya sambil menerawang ke arah sirkuit yang hari ini sepi. Maira. Satria bertemu dia di jalan. Mereka sama-sama senang melakukan balapan liar, sebelum Dude menemukan bakat mereka dan mereka pun bisa balapan legal di Firelli.


2 tahun, dia pernah jadi cewek yang selalu bisa kasih Satria semangat dalam kondisi apapun. 2 tahun dia membuat Satria tidak bisa berpaling dari pesonanya. Dan selama 2 tahun, dia membuat banyak cewek patah hati. Tapi 2 tahun seperti tidak berarti apa-apa buat Maira waktu dengan mudahnya meninggalkan Satria tanpa pesan satupun.


2 tahun Satria menutup diri. Yang dia lakukan hanya sekolah dan balapan. Tidak ada hal lain yang dia pikirkan kecuali Maira. Dia bukannya tidak ada usaha buat mencari Maira, tapi Mairanya sendiri yang seperti tidak mau ditemukan oleh Satria.


Dan yang paling tahu banget kondisi Satria saat itu, Dude dan Reno, yang pada akhirnya menemukan Maira di Blackhawk Lombok, yang secara kebetulan masuk ke sirkuit yang dikelola oleh adik cewek dari Reno.


Dude pun berhasil mempertemukan Satria dengan Maira di sebuah kejuaraan. Tapi yang Dude lihat, tidak ada rasa bersalah sama sekali di muka Maira, dan itu yang makin membuat Dude sakit hati dengan Maira karena sudah menyakiti Satria yang dia anggap sudah seperti adiknya sendiri.


Tapi pada akhirnya hidup Satria yang suram berubah menjadi cerah sedikit demi sedikit waktu bertemu Nicken. Satria tidak bisa memungkiri kalau Nicken bisa kasih warna lagi ke harinya. Satria ketawa sendiri kalau ingat masa-masa dia sempat slek dengan Nicken. Lalu tersenyum waktu pertama kalinya dia jalan dengan Nicken sebagai tanda perdamaian mereka. Dia pernah rela basah kuyup demi tidak membiarkan Nicken kebasahan terkena hujan. Dan itu tidak pernah Satria lakukan ke cewek manapun termasuk.. Maira.


“Hi, Kak, how’s life?" (Gimana kabar lo?)


“I’m good. Glad to hear your voice." (Baik. Senang mendengar suara lo.)


“Kayanya kemarin kepala lo beneran kebentur kencqng banget ya, jadi lo berubah lebay begini.”


Satria tertawa. “Kapan ke Jogja lagi?”


“Gimana kalau gantian? Lo yang ke Jakarta.”

__ADS_1


“Yakin gue boleh ke sana? Kalau Ivan jealous gimana?”


“Kalau dia jealous, berarti dia emang sayang sama gue dan enggak bakal membiarkan lo dekat sama gue.”


“Ya sudah, ntar gue kabari kalau ke Jakarta. Gue mau lihat tampang Ivan kalau lagi cemburu.”


Nicken pun tertawa. “Lo jangan lupa minum obat terus jangan terlalu capek dulu ya.”


“Kayanya cuma lo deh fans yang perhatian sama gue.”


“Kan lo yang bilang sendiri sama gue, kalau gue itu fans spesial lo, jadi gue mesti spesial juga dong memperlakukan idola gue.”


“Bisa saja lo, Cken, tapi gue beruntung kok punya fans kaya lo. Yang enggak menyusahkan gue.”


“Rese lo, Kak.” Nicken mendengar Satria tertawa.


“Sebenarnya ada yang mau gue omongin, Cken, tapi ntar saja ya kalau gue ke Jakarta.”


“Kenapa enggak sekarang saja?”


“Biar lo penasaran. Kapan lagi mengerjai cewek jutek.”


“Kalau gitu, lo harus secepatnya ke Jakarta ya, gue juga sudah kangen berantem sama lo secara langsung.”


“Iya, lo tunggu gue ya. Bye Cken.” Satria mematikan ponselnya lalu tersenyum menatap muka Nicken yang sekarang jadi penghias wallpaper layar ponselnya.

__ADS_1


Gue juga kangen sama lo, Cken.


To be continued.....


__ADS_2