Pembalap Idola

Pembalap Idola
AKURNYA NICKEN DAN SATRIA


__ADS_3

Kejuaraan Ferrari pun tiba. Dari malam Nicken sudah susah tidur memikirkan hari ini. Cuma dia pembalap amatir yang ada di acara semegah ini. Dari di bengkel sampai di sirkuit, tatapan sinis 22 pembalap tidak pernah lepas dari dia. Entah cemburu karena dia langsung jadi anak emasnya Reno ataupun khawatir mereka bakal dikalahkan sama dia sama kaya Satria, yang pamornya sempat turun gara-gara insiden setengah detiknya.


Hanya 1 tatapan yang hari ini keliatan beda. Yup, tatapan mata Satria. Dari di bengkel Satria ikut nimbrung sama Nicky, Ryan dan para mekanik Nicken buat mengecek mobilnya. Sampai-sampai dia kasih tahu Nicken kalau harus hati-hati sama Andra, pembalap yang mengejar mereka di jalan waktu itu.


Bingung sih atas melunaknya sedikit sikap Satria biarpun kadang masih suka membuat kesal. Tapi feelingnya makin diperkuat pas lihat beberapa kali Satria dan dibantu sama Ryan kaya membuka jalan buat Nicken kalau dia sudah kelihatan terpojok tidak bisa kemana-mana gara-gara hampir setengah pembalap menghimpit mobilnya. Dan terlebih Satria juga melindungi Nicken dari Andra yang kayanya nafsu banget mau membuat lecet mobilnya.


Tapi di lap terakhir, Andra berhasil menghimpit mobil Nicken ke pembatas tribun. Dia harus ikhlas salah satu spionnya hancur dan body bagian kanannya lecet parah karena bergesekan sama pembatas tribun. Nicky dan Reno nyuruh buat mendorong mobil Andra biar dia bisa bebas dari himpitannya, tapi itu tidak berhasil, Andra terlalu kuat dan Satria juga tidak bisa mengalihkan perhatiannya.


Beberapa saat kemudian, Andra menjauhkan mobilnya dan waktu Nicken menoleh, Andra sudah bersiap-siap mau menabrakan mobilnya ke mobil Nicken lagi. Sontak Nicken langsung menginjak remnya sampai terdengar bunyi decit serta jejak ban di sirkuit dan asap.


Andra kaget tapi terlambat, diapun pasrah malah samping mobilnya yang menabrak pembatas sirkuit dengan kencang dan ternyata fatal buat dia. Mobilnya terbang dengan posisi terbalik setelah bersenggolan dengan mobil pembalap dari Nextel lalu melintang di tengah sirkuit.


Satria yang tidak seberapa jauh di depan juga ikut kaget lalu membalikkan mobilnya, jadi posisi dia berjalan mundur biar bisa lihat apa yang terjadi. Tepatnya dia khawatir sama Nicken yang kelihatan posisinya tidak aman karena ada mobil Andra yang melintang di tengah sirkuit. Mungkin atas arahan Nicky dan Reno, mobil Nicken tidak masuk ke jalur rumput yang bisa mendiskualifikasi Nascar.


Satria tersenyum waktu Nicken berhasil melewati Andra dengan posisi mobil hampir berhimpitan dengan mobil Andra dan juga tembok pembatas yang lalu diikuti oleh Ryan. Setelah posisinya aman, Nicken dan Ryan tersenyum ke arah Satria. Satria kembali membalikkan mobilnya dan Nicken mengejar di belakangnya. Lagi-lagi mereka tampak bersamaan melewati garis finish bersama dengan mobil Ryan.


“Nih.” Satria duduk di samping Nicken sambil memberikan sebotol air mineral. Dengan bingung Nicken menerimanya. “Tenang saja, sudah gue kasih racun kok tadi.” Sahutnya sambil membuka botolnya lalu minum sampai habis setengah.


Nicken tersenyum lalu meminum airnya dan ikut menatap sirkuit yang masih kelihatan ramai. Beberapa pembalap masih ada di pinggir sirkuit dan di dekat mobil balap mewah mereka sambil mendiskusikan sesuatu. Beberapa karyawan kebersihan Ferrari juga terlihat lagi membersihkan sirkuit akibat insiden mobil Andra yang kebalik. Orangnya sudah dipindahkan ke rumah sakit untuk perawatan yang lebih intensif karena kabarnya dia mengalami patah tulang leher dan kaki kanan.


“Pasti lo makin benci sama gue ya, Kak?”


Satria tersenyum. “Enggaklah, gue sudah kebal sekarang sama media semenjak kekalahan setengah detik gue..”


“Maaf ya, Kak.”


“It’s okay, yang penting, siapapun yang kenal gue pasti tahu kalau saat itu gue sudah berusaha sebaik mungkin, dan hari ini, biarpun seri sama lo, gue enggak kecewa. Dan kalau gue membiarkan rasa kesal gue, berarti gue enggak profesional.”


Nicken tersenyum.


Dia beda banget sama yang kemarin dan dia masih bisa tenang biarpun juaranya masih harus sharing sama gue.


Baru kali ini dia merasa senang bisa mengobrol sama Satria. “Maaf atas ketidak-akuran kita kemarin ya, Kak.”


Satria menoleh ke Nicken lalu tertawa. “Harusnya gue kali, Cken yang minta maaf sama lo. Gue sudah childish banget kemarin. Tapi.. Kalau lo emang memaksa mau gue maafin..”


“Jiah, katanya kan lo yang salah.”


“Dengar dulu, kalau lo emang memaksa mau gue maafin..” Satria terdiam sebentar. “Lo mau nonton sama makan malam sama gue?”


Nicken agak kaget tapi dia langsung ketawa. “Mending enggak usah dimaafin deh, Kak.”


“Tapi gue serius, Cken." Satria berpaling menatap Nicken. "Sabtu besok gimana? Minggu gue sudah mesti balik ke Jogja.”


Nicken menatap Satria. Dia masih belum percaya kalau Satria, ya bisa dibilang mengajak dia kencan, takutnya ini rencana dia buat membalas Nicken dan mempermalukannya. Tapi sayangnya dia melihat keseriusan Satria di matanya.


“Pasti lo gak percaya ya gue ajak jalan?”


“Bukan gitu, Kak, tapi.. gue emang enggak percaya sih.”


“Ya sudah kalau lo emang enggak mau.” Satria ingin beranjak dari duduknya tapi Nicken menangkap lengannya dan langsung buru-buru dia lepas.


“Jam 7, jemput gue. Tahu rumah Nicky kan?”


Satria tersenyum lalu mengangguk. “Oke, jam 7.”


...***...


Keesokan harinya, dari di sekolah, Nicken sudah nervous saja memikirkan nanti malam. Dia tidak cerita sama siapa-siapa karena takut nanti dia dicengin. Jadi dia cuma cerita sama Nicky, karena dari subuh dia tidak ketemu Vicky sama Nico yang hari ini absen sekolah karena harus latihan basket buat Kejurnas minggu depan. Pas bel pulang pun, dia langsung lari menuju mobilnya yang membuat Nila, Aci, Ivan dan Romi bingung.


Malamnya, Satria memarkirkan motor sport 250 cc hitamnya di depan rumah Nicken lalu melihat Nicky yang sudah jalan menghampiri dia. Mereka lalu berpelukan.


“Gue boleh ajak Cken nonton?”


“Ya bolehlah, selama lo bisa menjaga dia dengan sangat baik.”


“Siap, Bos, lo enggak usah khawatir.”

__ADS_1


“Lo mau masuk atau gimana?”


“Gue tunggu sini saja deh.”


“Ya sudah, gue panggil Cken dulu ya.” Nicky lalu masuk dan langsung menuju kamar Nicken.


“Satria sudah di bawah.”


“Kak, gue nervous banget nih. Kalau media tahu gimana?”


“Sudah lo enggak usah khawatir, patrolinya pasti menjaga kalian dari media. Oh iya, pakai jaket, dia bawa motor.”


Nicken mengambil jaket dan memakainya. Dia menghela nafas lalu memeluk Nicky.


“Lo jaga diri ya, Sayang.”


Nicken mengangguk lalu mereka pun keluar.


Setelah Nicken dan Satria pergi, Nicky masuk ke rumah waktu mendengar bunyi telepon rumah, yang setelah diangkat ternyata dari Ivan. Nicky meletakkan gagang teleponnya bareng sama Vicky dan Nico yang baru pulang latihan.


“Dari siapa, Kak?” Tanya Nico.


“Ivan, nanya Cken.”


“Loh emang Ade kemana?”


“Kencan sama Satria.”


“Serius lo, Ky? Bukannya Cken lagi dekat sama Ivan ya?”


“Taruhan yuk, Kak? Gue megang Satria. Dan lo harus megang Ivan. Dan lo jadi wasitnya ya, Nick.”


Vicky tampak berpikir, “Apa taruhannya? DVD player?”


“Kemurahan, 1 set ban saja gimana?” Tawar Nico.


“Deal.” Nicky dan Vicky pun bersalaman lalu tertawa.


Kenapa gue jealous ya, Cken, lo jadi dekat sama Satria? Kenapa gue merasa takut banget kehilangan lo? Ivan pun terdiam.


...***...


“Maaf ya, kita enggak jadi nonton deh.”


Satria tersenyum sambil menatap pantai di depannya.


Rencana nonton dan makan malam romantis yang sudah dibayangkan Satria mesti gagal gara-gara Nicken takut ada media yang melihat terus bikin berita tidak benar tentang keakraban mereka yang lamanya baru hitungan hari. Setelah makan malam di cafe dekat pantai, Satria pun menikmati ‘kencan’ mereka di pinggir pantai yang untungnya lagi diterangi cahaya bulan.


“Enggak apa-apa, Cken. Gue mengerti kekhawatiran lo kok.”


“Kapan-kapan ya. Tapi lo sudah maafin gue kan?”


Satria tertawa. “Ya iyalah. Oh iya, Cken, boleh nanya sesuatu enggak? Lo.. Kata Nicky lo.. Ngefans sama gue ya?”


“Ihg, Nicky rese banget sih?”


“It’s okay, Cken, lo mau tahu enggak? Fans buat gue itu berarti banget.”


“Tapikan enggak perlu frontal banget kasih tahu ke lo. Gue jadi malu nih.”


Satria tertawa lalu menatap Nicken, “Berarti.. Lo fans spesial gue, Cken.”


“Lebay.” Nicken sedikit mendorong badan Satria dan diapun tertawa.


“Pulang yuk, Cken, sudah malam.”


Mereka berdiri lalu menuju motor Satria dan pergi dengan kawalan satu mobil patroli Firelli yang terus mengekor jauh di belakang mereka.

__ADS_1


Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan turun. Satria membelokkan motornya ke arah ruko yang sudah tutup dan berteduh.


“Maaf ya, Cken, harusnya tadi gue bawa mobil saja, jadi lo enggak kebasahan begini.”


“Enggak apa-apa kok, Kak. Gue kasih kabar Nicky dulu ya.” Nicken mengetik chat WA di ponselnya lalu menutup mukanya ketika ada petir. Satria tertawa. “Kok lo ketawa? Gue takut banget sama gluduk tahu.”


“Sorry, sorry, gue pikir lo cuma kaget. Sini.”


Satria mencoba melindungi Nicken di belakangnya sambil salah satu tangannya menggenggam tangan Nicken. Nicken pun hanya bisa terdiam waktu dia agak sedikit memeluk Satria dari belakang karena salah satu lengannya dipeluk Satria.


Besok paginya, Nicken membuka pintu balkon kamarnya lalu duduk di bangku sambil menggenggam mug coklat hangatnya. Sampai detik ini pun dia masih tidak percaya kalau semalam dia jalan sama Satria, cowok yang sudah dia idam-idamkan bisa dekat dari dulu. Apalagi Satria perhatian banget.


“Kayanya enggak reda-reda, Cken. Sudah malam banget, kita pakai taksi saja ya biar lo enggak sakit nanti. Motornya biar taruh sini dulu.”


“Lo yakin, Kak? Kalau motornya kak Reno hilang gimana?”


“Itu urusan gue, yang penting lonya enggak kehujanan. Gue lebih takut sama Nicky daripada kak Reno. Atau lo mau naik mobil patroli gue?” Satria menunjuk mobil patrolinya sedang berhenti di pinggir jalan tidak jauh dari tempat mereka.


Nicken tertawa. “Gue enggak masalah kalau pakai motor.”


“Lo yakin? Hujannya deres, Cken.”


“Yakin, Kak.”


Satria tampak berpikir lalu membuka jaketnya dan memakaikannya ke Nicken yang sudah memakai jaketnya sendiri.


“Lah ini malah ntar lo yang sakit.”


Satria tersenyum lalu meletakan tangannya di kepala Nicken. “Yang penting bukan lo yang sakit.” Satria merapatkan jaket yang dipakai Nicken lalu mereka pun kembali memakai helm. “Siap?”


Nicken mengangguk dan mereka lalu menuju motor dan pergi.


Nicken yang berada diboncengan tidak bisa menutupi rasa senangnya bisa diperhatikan sama Satria yang notabene pembalap idolanya itu. Di sepanjang perjalanan yang hujan, Satria rela basah-basahan demi dia. Dan tangan Nicken pun yang memeluk pinggang Satria tidak boleh sedetikpun terlepas.


Yang lebih membuat Nicken kaya lagi mimpi, waktu sampai rumah dan Nicky meminjamkan bajunya buat Satria karena emang basah kuyup, Satria berpamitan pulang dan untungnya hujannya sudah berhenti, tanpa Nicken duga, Satria mencium keningnya sambil mengucapkan terima kasih.


Kalau Nicken bisa guling-guling karena kegirangan mungkin bakal dia lakukan, tapi dia coba tutupi perasaannya yang lagi demo. Dan dia juga tidak berani mengartikan apa-apa tentang ciuman Satria yang sempat menempel di keningnya itu.


Hal serupa juga dirasakan Satria. Rasa bencinya karena Nicken sempat mempermalukan dia langsung hilang begitu saja dalam semalam. Dia ternyata cewek yang terlalu manis buat dijutekin dan dia menyesal banget pernah bersikap angkuh.


Dia menghela nafas lalu melamun menatap sirkuit yang ada jauh di bawahnya sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangannya. Tanpa dia sadari, Reno sudah duduk di samping Satria lalu mengambil rokoknya dan mematikannya.


“Gue selalu bilang sama lo, rokok itu bisa merusak badan lo.”


“Tumben lo mau keluar ruangan lo? Tanpa pengawalan lengkap pula.” Satria hanya melihat satu kru yang duduk agak jauh dari mereka.


Reno tertawa. “Jemputan lo belum datang?”


“Not yet (belum), tadi kak Dude kasih kabar masih ada yang perlu diselesaikan dulu sama kak Kevin.”


“Terus kenapa lo galau begini?"


“Siapa yang galau sih, Kak?”


“Kalau bukan galau berarti..” Reno menoleh ke Satria. “Fallin’ in love? (jatuh cinta?)”


“Maksud lo?” Dengan bingung Satria melihat Reno yang tersenyum sambil menyentuh layar iPadnya.


“Ini..” Reno menyodorkan iPadnya ke Satria lalu terkejut waktu melihat headline sebuah berita online tentang acara “kencan” Satria sama Nicken kemarin. “Jadi ternyata motor gue dipakai buat kencan toh.”


Satria menggelengkan kepalanya dan mengembalikan iPad Reno.


“Hebat juga paparazi di sini. Dan gue perlu klarifikasi kalau kemarin itu bukan kencan, Kak, kita rencananya cuma mau nonton sama makan malam, tapi ternyata Cken khawatir bakal ada media jadinya habis makan malam kita ke pantai.”


“Kalaupun kencan juga enggak apa-apa, Sat. Semenjak lo putus sama May, gue belum pernah lihat muka lo yang kaya gini lagi pas dekat sama cewek.”


“Apaan sih lo, Kak. Enggak secepat itu juga kali.” Reno tertawa waktu Satria menonjok pelan bahunya. “Kemarin cuma bentuk permintaan maaf gue karena sempat menjudge dia macam-macam.”

__ADS_1


Tidak berapa lama, 3 mobil parkir di depan tribun yang salah satunya adalah mobil Dude, 2 lainnya adalah mobil para patroli Firelli yang bakal mengawal Satria dan Dude menuju Jogjakarta.


To be continued...


__ADS_2