Pembalap Idola

Pembalap Idola
KESEMPATAN KEDUA


__ADS_3

JOGJAKARTA.


Papa membaca laporan anak buahnya dengan sangat detail. Dia tidak mau satu pun terlewatkan. Dia penasaran sama gadis yang dikabarkan lagi dekat sama Satria. Yang kelihatan banget sudah membuat hidup Satria penuh warna.


Yup. Papa tahu hubungan Satria dengan Maira. Gimana perubahan sikap Satria waktu Maira meninggalkan dia. Biarpun tidak secara langsung, tapi Papa punya banyak cara buat memantau keadaan Satria tanpa Satria perlu merasa diawasi.


“Bisa setting waktu, tempat dan rencana biar saya bisa ketemu anak ini?”


“Bisa, Pak.”


“Buat senatural mungkin, dan saya enggak mau dia tahu saya siapa.”


“Baik, Pak, permisi.” Pria tadi pun keluar dari ruangan. Meninggalkan Papa yang terdiam.


JAKARTA.


Nicken menginjak rem mobilnya dalam-dalam sampai ada bunyi decit ban di aspal jalan sambil kelihatan panik. Astagfirullah! Dia lalu keluar dari mobilnya dan mendapati seorang pria yang berpakaian sedikit lusuh terduduk di depan mobilnya.


“Ya ampun, Bapak enggak kenapa-napa?” Nicken membantu bapak itu berdiri lalu membawanya ke pinggir trotoar dan duduk. “Maaf ya, Pak, saya enggak ngeh Bapak mau menyebrang tadi. Bapak enggak papa?” Nicken melihat lutut si Bapak sedikit memerah.


“Saya baik-baik saja, Neng. Saya juga yang salah enggak lihat ada mobil si Eneng.”


“Tetep salah saya, Pak, ya sudah, kita ke rumah sakit ya.”


“Ya ampun, Neng, enggak usah, orang kaya saya enggak pantes ke rumah sakit, ini mah dikasih obat kampung juga sembuh.”


“Kok Bapak ngomongnya begitu sih? Ayo, Pak.”


Bapak tadi tampak berpikir lalu mengikuti Nicken masuk ke mobilnya dan pergi. “Maaf ya, Neng, mobil si Eneng jadi kotor.”


Nicken tertawa, “Saya enggak memikirkan mobil, Pak, saya memikirkan Bapak.”


Papa pun tersenyum. Dia anak baik dan Satria enggak mungkin salah pilih.


Sampai di rumah sakit seorang dokter dan suster tampak menangani luka lebam di lutut si Bapak. Sebenarnya Nicken melihat ada yang aneh, karena si Dokter dan susternya tampak senyum-senyum ke pasien yang sedang mereka periksa, tapi Nicken tidak berpikiran apa-apa, dia cuma mau si Bapak itu tidak terjadi hal yang serius.


...***...


Papa sudah duduk di bangku belakang mobil Mercedes hitam mewah yang sedang dikemudikan oleh supirnya. Pakaiannya pun sudah berganti jas mewah, bukan pakaian lusuh yang dia pakai waktu bertemu Nicken tadi. Dia pun tersenyum sambil teringat kejadian yang baru dia alami.


Ternyata masih ada anak muda yang peduli sama orang yang lagi kesusahan padahal dia enggak kenal siapa saya. Belum tentu semua orang bisa dan mau kaya gitu. Kamu enggak salah pilih, Sat. Semoga kalian berjodoh.


JOGJAKARTA.


“Kamu bertemu dimana sama anak ini?” Eyang menatap muka Nicken di foto yang diberikan oleh Papa.


“Sony yang mengatur semuanya, Ma.” (Sony adalah pengawal kepercayaannya Papa) “Dan dia anak baik.”


“Kamu pura-pura jadi korban tabrakan?”


Papa tertawa. “Dan berhasil. Saya pikir dia enggak akan peduli sama orang ‘susah’ kaya saya, tapi ternyata.. Intinya Satria enggak salah pilih cewek, Ma.”


“Mama penasaran sama anak ini.”


“Mama tenang saja, ada saatnya Satria bakal bawa dia ke kita.”


JAKARTA.


Nicken langsung panik badai waktu Dude tiba-tiba mengabarkan pakai chat WA kalau Satria masuk rumah sakit apalagi mesti menginap di ICU, berarti ada yang serius banget sama dia. Dia sampai tidak konsen lagi mendengarkan arahan pelatihnya. Awalnya dia tidak percaya tapi Dude berhasil meyakinkan dia.


Aduh gue mesti gimana nih? Sumpah panik.


Akhirnya Nicken bangun dari duduknya dan meninggalkan kelas dan ke-5 orang pembalap lain yang lagi ditatar lalu menuju mobilnya dan keluar dari Nascar dengan lumayan kencang.


Bodo amat ah, gue nekat saja ke Jogja sekarang, soal ijin ntar saja sambil jalan.


Nicken semakin menginjak gas mobilnya. Tidak berapa lama 1 mobil patroli Firelli menyalip dia dan sedetik kemudian ada nama Reno di layar ponselnya.


Mamp** gue, jawab enggak ya?


Akhirnya Nicken memasang bluetooth headset ke salah satu telingannya dan menjawab telepon Reno sambil siap-siap menerima omelan tapi ternyata maksud Reno diluar dugaan dia banget.


“Ikuti mobil patroli Firelli." Perintah Reno.


Sebuah mobil patroli Firelli menyalip mobil Nicken.


"Mereka bakal melead lo ke Jogja. Hidupin lampu hazard lo karena kali ini gue ijinkan lo kabur diatas 150 KM dan lo bakal aman dari patroli tiap wilayah.”


“Kak Reno serius?”


“Gue sama Nicky bakal menyusul. Lo hati-hati ya.”


“Iya, Kak.” Nicken menutup telponnya lalu tersenyum sambil memindahkan persneling mobilnya dan menginjak gasnya mengejar patroli Firelli di depannya.


JOGJAKARTA.


Dude tidak bisa menutupi rasa khawatirnya melihat keadaan Satria dari jendela kamarnya. Ada oksigen yang membantu dia bernafas, selang infus ditangannya, dan juga ada bercak darah di perban yang ada di kening dan juga tangannya.


Dia sama kagetnya waktu kemarin dapat kabar dari patroli yang emang khusus buat mengawal Satria, kalau Satria mesti dilarikan ke RS. Sampai sekarang dia belum tahu penyebab Satria bisa jadi kaya sekarang.


“Dia begitu gara-gara menyelamatkan gue.”


Dude menoleh ke cowok yang sudah berdiri di sampingnya. Lalu menyambut tangan cowok itu dan mereka berjabat tangan.


“Gue Axel, ya mungkin bisa dibilang gue sepupunya, dan lo pasti Kak Dude.”

__ADS_1


“Dia menyelamatkan lo dari apa?”


“Pas jalan pulang sekolah, ada anak Merdeka yang tiba-tiba menghadang gue.”


“Satria cerita tentang enggak akurnya kalian sama Merdeka.”


“Sebenarnya masalahnya sudah kelar, tapi kayanya mereka masih enggak terima. Gue sempat adu mulut sama mereka, dan enggak lama kemudian, Satria menarik gue terus dia terkapar di jalan.”


“Kok bisa?”


“Salah satu dari mereka mengincar gue buat.. ditabrakin pakai motor kaya yang pernah anak Capella lakukan ke anak Merdeka. Dan ternyata..” Axel menatap muka Satria yang kelihatan pucat banget. “Dia mengorbankan dirinya buat menghindari gue dari motor itu.”


Dude menghela nafas sambil menatap Satria. “Kalau sampai dia kenapa-napa.. Gue enggak bakal melepas mereka dan juga.. lo.”


Axel tersenyum. “Gue harap masih ada kesempatan buat memperbaiki hubungan gue sama dia.”


Sorenya, Dude masih tidak percaya melihat cewek yang lagi duduk di pinggir tempat tidur Satria.


Maira.


Cewek yang pernah mengisi hari-hari Satria dulu. Tapi dia juga yang sempat membuat hancur hidup Satria.


Tapi akhirnya Dude tersenyum menatap muka Satria. Dia bisa melihat perubahan waktu Satria kenal Nicken. Biarpun awalnya mereka tidak akur, tapi kelihatan banget kalau Nicken bisa menguatkan hati Satria yang rapuh, karena Maira.


...***...


Mobil patroli Firelli membawa Nicken ke salah satu RS di Jogjakarta. Setelah memparkirkan mobilnya, 2 orang anak buah Dude melindungi Nicken dari banyaknya wartawan yang menunggu di depan RS dan langsung menuju lantai 5 dimana Satria dirawat.


Sampai di ruang tunggu, Nicken melihat Dude sedang duduk di depan kamar Satria. Dude bangun dari duduknya dan memeluk Nicken lalu merangkulnya menuju jendela kamar rawat Satria. Nicken kelihatan kaget banget melihat keadaan Satria.


“Dia belum melewati masa kritisnya. Kata dokter kepalanya kencang banget membentur aspal.”


“Dan gue enggak bisa masuk sana?”


“Bisa kok, Cken, tapi lo pakai baju steril ya.”


Nicken mengangguk lalu masuk ke dalam kamar rawat Satria. Dude kembali duduk disamping anak buahnya.


“Cari anak Merdeka yang menabrak Satria. Ambil rekamannya di dashcam mobil Satria. Gue mau segera. Dan pastikan jangan sampai ada media yang menganggu Satria.”


“Enggak masalah.”


Mata Nicken kelihatan berkaca-kaca melihat Satria yang terpejam. Diapun duduk di kursi samping tempat tidur dan dengan ragu-ragu dia memegang tangan Satria yang bebas jarum infus.


“Hi Kak, ini gue. Lo bangun dong, gue jauh-jauh loh kesini, masa lonya tidur. Gue kan kangen pengen mengobrol sama lo.” Nicken mengelus tangan Satria dan membiarkan airmata jatuh di pipinya, “Please, Kak, lo bangun ya. Jangan tinggalkan gue.”


“Gimana, Dok?” Dude dan Axel berdiri di hadapan dokter yang baru saja memeriksa keadaan Satria.


Diapun tersenyum.


“Sebelum saya masuk, siapa yang menengok dia?”


“Satria enggak kenapa-napa kan?” Axel tampak penasaran.


“Kalau saya boleh kasih saran, suruh teman kalian, Nicken, buat menemani Satria, karena setelah saya periksa tadi, Satria berhasil melewati masa kritisnya dan menunjukkan perkembangan yang lumayan bagus. Dan saya yakin itu berkat Nicken.” Dokter lalu berlalu.


Dude dan Axel menuju jendela kamar Satria.


“Kita yang sudah lumayan lama disini ternyata enggak ada artinya buat dia. Tapi giliran cewek yang jenguk, dia langsung sehat.”


Dude tertawa perlahan sambil menepuk pundak Axel. *Thanks Cken*.


“Ada yang spesial.” Sahut Dude ke Reno sambil melihat Nicken yang sedang bersama Satria lewat jendela. “Enggak mungkin Cken bisa bawa perubahan ke Satria kalau dia enggak spesial. Maira datang, enggak ada yang berarti tapi giliran Cken..”


Reno menoleh ke Dude. “Maira ke sini?”


“Iya, enggak lama dia pergi Nicken datang dan Satria langsung bisa melewati masa kritisnya.”


Reno tersenyum. “Dari awal perubahan sikap Satria ke Cken, sudah bisa gue pastikan kalau ada sesuatu yang Satria rasakan ke Cken.”


“Semoga adanya Cken, dia bisa cepat pulih.”


Nicken duduk di ruang tunggu di samping Axel waktu gantian sama Nicky buat menjenguk Satria.


“Lo sepupunya Satria ya?”


“Lo pasti ceweknya Satria.”


Nicken tertawa. “Ngaco, gue sama Satria enggak ada apa-apa.”


“Serius lo? Kenapa Satria kaya senang banget lo ke sini? Pastikan ada sesuatu diantara kalian.”


“Tadi gue cuma mengancam dia doang kok, kalau dia enggak cepat sembuh gue bakal jutekin dia.”


Axel tertawa. “But thanks ya. Gue harap dia cepat pulih dan gue ada kesempatan buat memperbaiki hubungan gue sama dia.”


Nicken menatap Axel. “Emang kalian berantem ya?”


“Kepo banget sih lo?”


Nicken pun hanya tertawa.


“Ky, adik lo enggak apa-apa? Kalian ke apartemen gue saja sana, istirahat, biar gue yang jaga disini.”


Nicky melihat Nicken dengan kepala di pinggir tempat tidur Satria dan tangannya pun menggenggam tangan Satria. “Enggak apa-apa, Kak, Cken pasti pengen Satria cepat bangun.”

__ADS_1


“Tapi ntar malah adik lo ikutan sakit.”


“Santai saja, Kak. Dia enggak bakal kenapa-napa.”


Tengah malam, jari-jari Satria kelihatan bergerak. Tidak berapa lama pun matanya terbuka dan terlihat menyesuaikan dengan cahaya di kamarnya.


Gue dimana nih?


Dia lalu tersadar waktu tangan kanan yang ada di atas perutnya ada tangan lain. Dia pun melihat Nicken yang tertidur dengan kepala di sampingnya.


Cken? Gue sudah sadar apa masih mimpi? Perlahan dia tersenyum sambil menatap Nicken.


“I’m glad you’re awake." (Gue senang lo sudah sadar.) Satria tersenyum waktu Axel duduk di sampingnya.


Setelah dinyatakan stabil, diapun dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP karena Dude mau pembalapnya dapat perawatan paling bagus, karena Satria aset Firelli yang harus dia jaga.


“I’m glad you’re okay.” (Gue senang lo baik-baik saja.) Axel tersenyum.


“Thanks for saving my life." (Makasih sudah menyelamatkan gue.)


“Ngomong apaan sih lo? Kitakan saudara, Xel, gue punya kewajibanlah menjaga lo.”


Axel terdiam. “Saudara? Gue sampai lupa kalau kita itu sepupuan.”


“Maaf ya kalau selama ini gue pernah bikin salah sama lo, jadi lo benci banget sama gue.”


“Sebenarnya enggak ada yang salah dari lo, Sat. Gue cuma.. ya bisa dibilang gue jealous sama lo. Dari dulu Bokap kayanya lebih akrab sama lo daripada sama anaknya sendiri.”


“Kok lo ngomong gitu sih? Bokap lo sayang sama lo, dia cuma jarang menunjukkan itu sama lo.”


“Saking jarangnya gue sampai enggak tahu kalau dia sayang sama gue apa enggak.”


“Lo pikir bokap gue peduli sama gue? Dia cuma peduli sama perusahaannya. Gue cuma pemanis di rumahnya yang besar itu.”


“Kita senasib ya kalau gitu.” Satria tersenyum. “Maaf ya, Sat. Harusnya gue enggak bersikap kaya yang selama ini gue lakukan ke lo.”


“Lo ngomong kaya gini bukan karena sudah gue selamatkan kan?”


Axel tertawa. “Ya enggaklah, ini dari hati tahu, bukan karena lo sudah menyelamatkan gue.”


“Enggak usah ribut-ribut lagi ya Xel, sodara yang gue punya cuma lo.”


“Mulai saat ini, kita harus saling menjaga, deal?”


“Siap, Bos.”


“Terus Nicken itu siapanya lo?”


Satria pun tertawa.


“Here we go." (Kita sampai.)


Nicken menghentikan laju kursi roda Satria di taman RS. 2 hari kemudian setelah Satria sadar, dokter sudah menyatakan Satria sembuh hanya tinggal proses pemulihan saja, Nicken pun duduk di bangku taman samping Satria.


“Thanks ya, Cken.”


“Lo sudah enggak apa-apa kan, Kak?”


“Enggak kok, kenapa?”


“Ya kan gue mesti balik ke Jakarta, ya biarpun baru lusa gue masuk sekolah.”


“Lo disini saja deh nemenin gue, lo enggak usah balik ke Jakarta.”


Nicken tertawa. “Emang gue babysitter lo? Kan lo sudah sehat, Kak.”


“I’m glad you’re here.” Nicken pun senyum waktu Satria menatap dia. “Tapi gue punya 1 permintaan.”


“Permintaan apa? Tapi belum tentu gue mau mengabulkan ya?”


“Besok gue kan sudah keluar, gue mau minta tolong lo bawa gue ke suatu tempat. Please?”


“Mau enggak ya?”


“Pokoknya lo baru boleh pulang setelah lo antar gue ke tempat itu.”


“Iya bawel.” Satria tertawa lalu mengacak rambut Nicken.


Tiba-tiba..


“Sat?”


Satria dan Nicken menoleh dan melihat seorang pria berdiri tidak jauh dari mereka bersama Axel. Satria langsung memalingkan mukanya.


“Bokap lo mau ketemu lo, jadi gue antar ke sini.” Jelas Axel.


“Gue tinggal ya, Kak?” Tangan Satria menahan Nicken pergi dan Nicken pun tersenyum. “Kayanya ada yang harus lo selesaikan. Jangan buat itu makin berlarut-larut.”


Nicken berdiri lalu mengelus bahu Satria sambil tersenyum ke arah Papa yang juga tersenyum. Dia lalu pergi bersama Axel. Dan waktu mereka menoleh, Papa sudah duduk di tempat Nicken.


“Mereka perlu waktu buat menyelesaikan semuanya.”


Mereka pun tersenyum.


Tapi kok, gue kaya pernah lihat Bokapnya Satria? Dimana ya? Nicken tampak mengingat-ingat.

__ADS_1


To be continued....


Author : Terimakasih yang sudah mampir. Like dan komen kalian sangatlah berarti 🙏


__ADS_2