Pembalap Idola

Pembalap Idola
GETARAN CINTA


__ADS_3

JOGJAKARTA.


Nicken duduk di balkon apartemen Dude. Dia dan Reno sedang ada urusan di Firelli, jadi Nicken ditemani oleh Nicky yang sekarang lagi mandi. Di RS ada Axel yang menjaga Satria dan dia melarang Nicken buat menginap lagi di sana.


Sebenarnya dia bingung, kemana Satria mau bawa dia besok, dan ada urusan apa? Dia cuma khawatir kalau ada media lagi yang nge-gep-in mereka. Dia juga tahu kenapa di RS tidak ada media satupun padahal berita Satria masuk RS ada dimana-mana, ya karena Dude, tapi kalau besok? Tidak mungkin kan Dude juga campur tangan?


“Nih, De.”


Nicky memberikan Nicken susu coklat hangat dan diapun duduk disampingnya.


“Apa yang lo pikirin?”


“Besok Satria minta gue antar dia ke suatu tempat tapi gue enggak tahu kemana.”


Nicky tersenyum. “Sebenarnya apa yang lo rasakan ke Satria?”


Nicken sedikit tersedak lalu menoleh ke Nicky yang lagi menggeser jarinya diponselnya,


“Maksud lo?”


“Iya, sebenarnya lo gimana sama dia? Ini sih penglihatan gue saja ya selama di RS, lo kaya enggak mau Satria kenapa-napa.”


“Gue emang enggak mau dia kenapa-napa, Kak, tapi bukan berarti gue ada perasaan yang lo maksud.”


“Yakin lo enggak punya perasaan lain selain antara fans sama idolanya?”


“What do you expect?" (Lo mengharapkan apa?)


“Serius ya, De, kalau sama Ivan? Kan akhir-akhir ini kalian juga dekat banget.”


“Gue enggak tahu, Kak.” Nicken menatap taburan bintang di langit. “Kadang gue enggak berani mengartikan apa yang gue rasakan ke 2 cowok itu.”


“Kalau misalnya, ternyata 2 cowok itu suka sama lo, siapa yang bakal lo pilih?”


Nicken terdiam sejenak. “Gue enggak bisa jawab lo, karena gue juga enggak akan bisa kasih jawaban buat diri gue sendiri.”


Nicky lalu meraih kepala Nicken ke pelukannya. “Saran gue, kalau emang mereka berdua sayang sama lo, ikuti kata hati lo, karena cuma itu yang bisa menuntun lo.”


Malamnya Nicken semakin tidak bisa tidur, apalagi tadi Satria menelepon lalu tidak lama kemudian Ivan.


Hadeuuh, ada apaan sih nih cowok-cowok kenapa pada bisa kompak banget? Bikin gue galau saja deh. Tapi gimana kalau emang Nicky benar? Kalau mereka sayang sama gue? Dan gue beneran enggak bisa memilih karena mereka berdua..


Nicken tersenyum.


Mereka bisa buat gue nyaman biarpun mereka punya cara yang beda. Bodo ah, semoga saja mereka enggak kaya yang Nicky bilang.


Nicken pun terpejam.


JAKARTA.


Ivan pun tidak kalah galaunya kaya Nicken. Dari awal dia tahu kalau Nicken ke Jogja menemani Satria, dia sudah uring-uringan tidak jelas. Kaya ada kekhawatiran yang tidak bisa dijelaskan atau mungkin dia takut kalau Satria bisa mengambil perhatian Nicken. Ivan lalu mengacak rambutnya yang semakin acak-acakan. Dia lalu membuka pintu balkon kamarnya lalu menyalakan sebatang rokok, dia pun melamun.


Kalau emang Satria bisa kasih lo kebahagiaan lebih dari yang bakal gue kasih, gue bakal rela melupakan perasaan gue, Cken.


JOGJAKARTA.


Besoknya jam 4.50 pagi Nicken yang masih setengah nyawa karena emang masih mengantuk banget sudah menyetir ke arah RS buat menjemput Satria. Dari semalam dia emang sudah mewanti-wanti Nicken buat menjemput dia jam 5.00. Untungnya jarak dari apartement Dude ke RS bisa ditempuh hanya dengan 10 menit kalau dengan kecepatan 150 KM/jam.


Nicken pun sampai dan langsung masuk ke lobby setelah memarkirkan mobilnya yang ternyata Satria sudah duduk manis di lobby, tanpa pengawalan pula. Kayanya Axel tidak tahu kalau pasiennya kabur dari kamar biarpun hari ini Satria sudah boleh pulang, tapi tidak sepagi buta juga kaya sekarang.


Satria pun langsung berdiri dan menghampiri Nicken lalu menariknya ke arah mobilnya. Satria kemudian membawa pergi mobil Nicken dari parkiran dengan kecepatan penuh.


Nicken seperti tidak merasakan apa-apa waktu Satria mengemudikan dia ke suatu tempat yang sampai sekarang dia tidak tahu tujuan cowok ini apa saking kencang mobilnya melaju. Dia kadang melirik speedometer mobilnya yang ternyata hampir 200 KM/jam. Seperti ada sesuatu yang sedang mengejar dia makanya dia menyetir sampai seperti itu. Asal Nicken mau bertanya mereka mau kemana, dia langsung bilang dengan singkat kalau nanti dia bakal tahu tujuan mereka sekarang, yang ternyata ke..


Nicken berjalan perlahan sambil menatap laut dan mendengar deburan ombak sampai ke pinggir pantai. Satria pun mengikutinya di belakang sambil tersenyum. Ternyata Satria membawa Nicken ke pantai yang ternyata ini pantai kebanggaannya orang Jogja. Blossom Beach. Jujur Nicken terpesona. Biarpun suasananya masih gelap, tapi dia bisa lihat kalau pantai ini keren banget, tidak kalah sama Meteor. Satria berdiri di samping Nicken sambil melihat jam tangannya.


“Alhamdulilah kita enggak telat.”


Nicken melihat Satria bingung. “Telat buat apa, Kak?”


Satria tersenyum. Lagi-lagi itu senyuman yang selalu membuat Nicken terpesona. “Tutup mata lo dulu.”


“Kenapa? Kok tutup mata?”


“Lo tuh cerewet banget.”


Akhirnya Satria menutup mata Nicken pakai sebelah tangannya dari belakang Nicken lalu mengarahkan badannya ke arah timur lalu berbisik di telinga Nicken.


“I have a surprise for you and I hope you like it." (Gue punya kejutan dan gue harap lo suka.)


Tidak berapa lama Satria melepaskan tangannya yang dipakai buat menutupi mata Nicken dan Nicken langsung terpana melihat pemandangan yang ada dihadapannya.


“Lo pernah kasih gue pemandangan sunset paling indah yang pernah gue lihat, sekarang gue mau kasih lo pemandangan sunrise paling indah.”


“Ini.. indah banget, Kak.”


Satria tersenyum lalu mengelus rambut Nicken.


“Ini hadiah buat lo karena lo sudah menjaga gue kemarin.”


“You don’t have to say that, but thanks. (Lo jangan ngomong kaya gitu, tapi makasih ya.)”


Nicken tidak bisa memungkiri kalau itu adalah the happiest moment that she ever had (momen paling membahagiakan yang pernah dia rasakan). Apalagi sekarang dia lagi-lagi bersama Satria. Itu bisa dibilang nilai lebih buat kebahagiaannya. Sepertinya dia tidak mau hari ini berlalu, tapi sayangnya tidak lama matahari muncul, awan mendung dan hujan pun merusak hari yang tadinya cerah. Akhirnya mereka berteduh di dalam mobil sambil memandangi pantai.


Satria pun tertawa.


“Maaf ya, jadi rusak deh gara-gara hujan.”


“Enggak rusak kok, Kak, kan tadi sudah sempat melihat sunrise biarpun enggak lama, makasih ya sudah bawa gue ke sini.”


Satria tersenyum sambil mengganguk lalu merubah posisi duduknya jadi menghadap Nicken.

__ADS_1


“Gue boleh nanya sesuatu enggak, Cken?”


Nicken menoleh lalu ikutan merubah posisi duduknya. “Nanya apa?”


“Lo.. Maaf ya kalau gue nanya soal ini.” Satria terdiam sejenak. “Sebenarnya hubungan lo sama Ivan apa? Kalau yang gue lihat kalian kaya ada hubungan lebih dari teman.”


Nicken tertawa. “Gue sama Ivan kaya gue sama Romi kok, sama kaya gue sama lo.”


“Lo yakin? Tapi kayanya.. Ivan suka sama lo.”


“Sok tahu lo. Kita emang dekat, tapi ya masih sebatas sahabat saja.”


“Tapi kalau ternyata Ivan beneran suka sama lo, lonya gimana? Maksud gue, lo bakal terima dia?”


Nicken terdiam lalu menatap wiper mobilnya sibuk menyeka air hujan yang turun di kaca mobilnya. “Gue juga enggak bakal tahu jawabannya apa, Kak.”


Satria lalu meraih tangan Nicken yang membuat dia menatap Satria. “Lo suka sama Ivan?”


“Maksud lo nanya semua ini apa? Lo disuruh Ivan buat nanya perasaan gue ke dia?”


“Enggak kok, gue cuma mau tahu, lo suka sama Ivan lebih dari sahabat apa enggak?”


“Terus urusannya sama lo apa?”


Satria semakin menggenggam tangan Nicken sambil senyum. “Karena gue mau selalu melihat lo bahagia, itu saja.”


Nicken agak terkejut lalu tersenyum sambil melepas tangan Satria dan menonjok bahunya perlahan. “Apaan sih lo, Kak.”


“Tapi gue serius.”


Nicken tersenyum menatap Satria. Saat ini lo yang bisa membuat gue bahagia, Kak.


“Kok lo malah senyum-senyum? Lo belum jawab pertanyaan gue. Atau jangan-jangan, lo sukanya sama gue ya? Hayo mengaku?”


Nicken pun tertawa. “Gue emang sudah lama suka sama lo, Kak, tapi sebatas fans sama idolanya.”


“Tapi kalau guenya yang..” Ponsel Satria berbunyi, ada nama Axel dilayarnya. Satria pun menjawabnya. Setelah beberapa saat dia pun mematikan ponselnya. “Axel panik gue hilang.”


Nicken tertawa. “Ya sudah, kita balik sekarang saja.”


“Gue masih mau sama lo. Ntar kan kita bakal lama enggak ketemu.”


“Kak, lo mau tahu enggak? Lo itu kaya bukan orang yang baru sembuh dari kritis. Gue yakin, luka di kening sama lengan lo itu sudah enggak berasa sakit.”


Satria tertawa. “Kan berkat lo. Waktu lo datang, kaya ada energi positif yang masuk ke gue.”


“Lebay lo.”


Satria kembali tertawa. “Ya sudah, kita cari sarapan dulu ya, habis itu ke apartemen kak Dude.”


“Kita enggak balik ke RS?”


“Axel sudah mengurus semuanya.” Satria pun menjalankan mobilnya.


“Lo enggak usah khawatir, Cken, ini cafe sudah paham banget kalau gue ke sini, mereka pasti enggak bakal membiarkan orang mengambil foto kita, apalagi media atau paparazzi.” Kata Satria waktu mereka sudah duduk. Satria pun memilih meja yang langsung bisa melihat pantai.


“Lo yakin, Kak?”


Nicken celingukan ke arah meja yang ada penghuninya dan pegawai yang seliweran mengantarkan pesanan. Dan mereka pun asyik dengan kegiatan masing-masing.


“Iya bawel. Maaf ya lo jadi basah. Kenapa ya kalau setiap kita jalan, pasti hujan?”


Nicken tertawa. “Ya ampun, Kak, gue enggak apa-apa kok, gue malah khawatir sama lo, lo kan baru keluar RS sudah hujan-hujanan, kalau ntar lo sakit lagi gimana?”


“Kan ada lo yang bakal menjaga gue.”


“Ada Maira, Kak, kalau gue kejauhan.”


Satria langsung membuang pandangannya ke arah pantai yang masih diguyur hujan.


“Dulu, gue sering banget ke sini sama dia, sebelum dia..” Satria berhenti sejenak. “Sebelum dia meninggalkan gue begitu saja.”


“Maksud lo meninggalkan lo gitu saja..?”


Satria menatap Nicken lalu tersenyum. “Dia lebih memilih karir balapnya, Cken. Enggak ada omongan, apalagi pesan, dia tiba-tiba pergi."


Satria terdiam sejenak.


"Tadinya dia di Firelli bareng gue, tapi dia memilih mundur karena alasannya waktu itu ke kak Dude dia mau fokus sekolah dan pindah ke Lombok. Tapi ada 1 event kalau enggak salah di Kaltim, dia juga turun tapi dari Blackhawk Lombok. Dan yang paling gue enggak bisa terima, dari dia pergi sampai kita ketemu di Kaltim itu dan sampai sekarang, dia enggak pernah kasih kabar gue, gue hubungi juga enggak bisa.”


“Padahal kan kalian lama banget pacarannya ya, Kak.”


“Enggak gampang melupakan perasaan selama 2 tahun begitu saja, tapi dia gampang banget meninggalkan gue cuma demi karir dan pas kita ketemu, dia biasa saja sama gue. Kaya enggak pernah ada yang terjadi.”


“Tapi kayanya dia khawatir banget waktu lihat keadaan lo kemarin.”


Satria menatap Nicken dengan bingung. “Maksud lo?”


Nicken lebih bingung lagi menatap Satria. “Kan kemarin dia menjenguk lo waktu lo koma. Emang Axel atau kak Dude enggak bilang ke lo?”


“Enggak ada yang bilang sama gue kalau dia di sini.”


“Gue papasan kok sama dia waktu baru datang.” Satria terdiam dan Nicken meraih tangannya. “Gue yakin banget kalau dia masih peduli sama lo.”


Satria tersenyum dan berbalik yang memegangi tangan Nicken. “Buat gue, apa yang terjadi antara gue sama dia sudah berlalu, Cken.”


“Tapi kalau ternyata dia masih..”


“Sayang maksud lo?” Nicken mengangguk. “Kalau dia emang sayang sama gue, dia enggak mungkin melakukan itu. Sudahlah, enggak usah ngomongin dia lagi, enggak penting dan satu hal lagi Cken, makasih ya.”


“Makasih buat apa lagi?”

__ADS_1


“Berkat lo, gue bisa menerima Bokap lagi. Kalau lo enggak maksa gue buat ngomong sama dia, mungkin sampai kapanpun gue malas ketemu dia.”


“Semarah apapun lo sama dia, dia tetap Bokap lo, Kak, yang harus lo hormati.”


“Makasih ya. Gue bersyukur kemarin gue masuk rumah sakit, gue bisa dijenguk sama lo, hubungan gue sama Bokap dan Axel pun membaik dan ternyata pada akhirnya gue bisa move on dari May.”


Nicken tersenyum dan baru tersadar kalau ada getaran aneh waktu tangannya masih digenggam Satria.


...***...


Nicken memandangi jalanan yang ada di sampingnya. Muka Satria masih tergambar jelas banget di otaknya sekarang. Apalagi ada getaran aneh waktu Satria memegangi tangannya.


Apa iya gue suka sama Satria lebih dari sekedar fans sama idolanya? Tapi Maira? Enggak mungkin Satria bisa melupakan dia gitu saja. Dan kalau dibandingin sama gue, gue enggak ada apa-apanya kan?


Nicky yang lagi menyetir pun sadar kalau adiknya dari tadi melamun. Dia pun tersenyum.


“Sudah sadar kalau ternyata lo suka sama Satria?”


“Apaan sih lo, Ky."


“Gue bisa lihat jelas banget apa yang Satria rasakan. Dan enggak mungkin banget lo bisa bantu dia melewati masa kritis kalau lo enggak spesial buat dia.”


“Tapi, Ky..”


“Maira saja enggak bisa kasih perubahan dikondisi dia, Cken.” Nicken pun terdiam. Nicky meraih tangannya. “Jujur sama diri lo sendiri, De, selalu dengar kata hati lo.“


Nicken pun menyandarkan kepalanya di bahu Nicky dan masih terdiam.


JAKARTA.


Nicken tiduran sambil menatap pintu kaca balkon kamarnya yang terkena tetesan hujan yang pada akhirnya dia keingetan sama Satria. Dia jadi bingung sendiri kenapa dia merasa kemarin masih mau lama-lama sama Satria. Apalagi waktu..


Nicken tersenyum malu kalau ingat Satria memegangi tangannya. Dan kenapa juga bisa kaya ada setrum ditangannya? Nicken berpaling ke ponselnya lalu membuka foto-fotonya sama Satria. Tiba-tiba ada nama Satria dilayarnya. Nicken pun tersenyum lalu menjawabnya.


“Kenapa gue sudah kangen saja ya sama Peri Penyelamat gue?”


“Lebay lo, Kak.” Nicken mendengar Satria tertawa.


“Gue sakit terus saja deh biar tetap ada lo di sini.”


“Ngaco lo. Gue malah enggak mau lo sakit lagi, Kak. Jaga kesehatan lo ya.”


“Cken..” Satria terdiam. Gue sayang sama lo.


“Kenapa, Kak? Halo?”


“Lo met istirahat ya. Jaga kesehatan juga.”


“Iya, Kak, lo juga jangan lupa minum obatnya ya.”


“Iya, bye, Cken.” I love you.


“Bye.” Nicken mematikan ponselnya lalu menghela nafas.


Kenapa sikap lo jadi bikin gue makin bingung, Sat? Gue enggak tahu maksud dari sikap lo ini apa? Dan gue enggak mau berharap banyak karena takut gue cuma kegeeran saja sama lo. Tapi kenapa gue jadi kangen juga sama lo?


Nicken lalu menutup seluruh badannya pakai selimut dan mencoba tidur.


JOGJAKARTA.


“Nih..” Satria menerima segelas coklat hangat dari Dude yang lalu duduk di sampingnya di balkon. “Abis menelepon Cken?”


Satria hanya tersenyum sambil menyeruput coklatnya. “Serius, Kak, dia yang bisa membuat gue melewati masa kritis?”


Dude menghembuskan asap rokoknya. “Tadinya gue juga enggak percaya, tapi pas dokter bilang begitu, dan gue lihat langsung perubahan lo, gue percaya.”


“Dan kenapa lo enggak bilang kalau.. May datang?”


“Axel yang kasih tahu lo? Atau Reno?”


“Cken yang bilang.”


“Gue kaget tiba-tiba dia muncul, tapi gue senang, yang bisa bikin lo sembuh bukan dia tapi Cken, karena apa? Karena gue masih enggak terima atas apa yang dia lakukan ke lo.”


“Gue enggak kenapa-napa, Kak.”


Dude mendengus. “Lo bisa bohongi semua orang, tapi bukan sama gue, Sat.”


Satria tertunduk menatap gelas di tangannya.


“Gue yang paling tahu gimana susahnya lo bangkit, gimana lo berusaha keras menutupi apa yang lo rasakan dan gimana berantakannya hidup lo yang terus dibayang-bayangi sama cewek yang lo sendiri enggak tahu dia dimana."


“Lo benar, Kak. 2 tahun gue hidup kaya gitu, 2 tahun gue pura-pura enggak ada apa-apa, 2 tahun gue menunggu hal yang enggak jelas dan 2 tahun juga gue terus berharap, sampai akhirnya gue sadar kalau hidup gue masih berharga dan..”


“Cken yang akhirnya bisa bantu lo bangkit.” Dude mematikan rokoknya.


“Dia yang bisa bikin gue merasakan lagi jadi diri gue sendiri.”


Dude tersenyum. “Cinta itu perlu diungkapkan, bukan cuma disimpan.” Dia menepuk bahu Satria lalu mengacak rambutnya dan kemudian masuk ke dalam, tapi tidak berapa lama dia keluar lagi. “Terus kapan lo pulang?”


“Lo sudah enggak suka gue di sini?”


“Bukan gitu. Lokan sudah baikan sama Bokap lo, dan pasti dia sudah kangen banget sama anak tunggalnya, jadi saran gue sih, lo mendingan pulang.”


“Iya, besok gue pulang.”


“Enggak mesti besok juga sih.”


“Iya, kapan-kapan gue pulang.”


“Tapi, Sat, jangan kelamaan juga.”

__ADS_1


“Rese lo, Kak.” Dude pun tertawa lalu meninggalkan Satria yang kemudian melamun.


To be continued....


__ADS_2