
JOGJAKARTA.
Mobil Satria melaju perlahan, padahal jalan di depannya sepi. Biasanya dia tidak puas kalau tidak lihat jarum speedometernya menunjukkan angka lewat 150 KM/jam kalau jalanannya sesepi sekarang, tapi kayanya dia lagi malas. Lengan kanannya saja ditopang ke pintu mobil yang jendelanya dia buka lebar dan tangannya dipakai buat menopangi kepalanya.
Kenapa perasaan gue jadi enggak karuan begini ya? Tapi enggak mungkinkan tadi gue ngomong jujur walaupun.. Gue enggak bisa membohongi hati gue kalau kemarin itu.. Spesial banget. Maaf ya Cken, gue cuma enggak mau media terus-terusan gangguin lo.
JAKARTA.
“Satria bohong.”
Sekretarisnya menoleh dan menatap Reno dengan bingung.
“Bohong kenapa?”
“Dia tadi bilang kalau..” Sekretarisnya kembali menoleh ke TV di depannya. Reno sengaja menyuruh Sekretarisnya merekam acara Satria tadi. “Kencan mereka enggak spesial, itu bohong.”
“Darimana lo tahu, Kak?”
“Gue kenal banget arti setiap tatapan mata Satria.”
“Jadi maksud lo..” Dia menoleh kembali ke Reno. “Satria beneran cinlok sama Cken?”
Reno hanya tersenyum.
Nicken berjalan menuju mobilnya yang ada di pinggir tribun. Hari ini jadwalnya dia kursus bersama pelatih pribadinya bersama 5 orang pembalap lainnya.
Lagi asyik jalan..
“Hei, Anak Baru!”
Nicken menahan tangannya yang sudah ada di pintu mobilnya. Cuma 1 orang yang manggil gue pakai sebutan enggak banget itu, tapi apa mungkin..
“Sombong banget, dipanggilin enggak nengok.”
Nicken akhirnya menoleh ke arah sumber suara yang asalnya dari tribun dan melihat Satria tersenyum lalu bangun dari duduknya dan menghampiri dia. Nicken celingukan.
“Cari mobil gue? Gue ke sini enggak bawa mobil.” Sahutnya pas sudah di depan Nicken sambil bawa tas kantong dari kertas.
“Kok bisa?”
“Mobil gue lagi di bengkel jadi gue bareng patroli kak Dude.”
“Tumben, ada urusan sama kak Reno?”
“Enggak, gue ada urusan sama lo. Tapi sambil makan yuk, dari Jogja gue belum makan lagi nih.”
“Gue enggak mau, ntar makin ramai kalau ada yang lihat gue makan sama lo.”
“Kalau gitu ke rumah lo saja deh."
“Emang penting banget ya urusan lo sama gue?” Sahut Nicken ketus.
Satria tertawa. “Ini yang selalu gue kangenin dari lo, judes.”
“Ya sudah, nih.” Nicken memberikan kunci mobilnya dan Satria memberikan tas kantongnya. Mereka lalu pergi.
Satria memarkirkan mobil Nicken di depan garasi samping mobil Nicky dan mereka turun dari mobil barengan sama Ivan dan Romi yang keluar dari rumah.
Rumah Romi sama Nicken emang bersebelahan dan antar rumah di komplek mereka tidak memakai pagar pembatas. Tapi dijamin aman terkendali biarpun banyak mobil mewah parkir di pinggir jalan dan maling tidak bakal berani masuk, sesakti apapun mereka.
“Sat?”
Satria tersenyum lalu menghampiri Ivan yang juga lagi menghampiri dia. Mereka berpelukan.
“Apa kabar, Van?”
“Baik, dari Jogja? Kok bisa bareng, Cken?”
“Dia nebeng.” Sahut Nicken semena-mena. Satria pun tertawa lalu menyalami Romi.
“Ada urusan sama cewek judes itu.”
Kali ini Ivan yang tertawa melihat Nicken manyun. “Ya sudah, gue cabut dulu ya.”
“Kalian mau kemana?” Tanya Nicken ke Romi.
“Ada yang Ivan mau beli, gue disuruh nemenin.”
“Kalian hati-hati ya.”
“Bye, Judes.” Romi mengacak rambut Nicken yang langsung dibalas tonjokan di bahunya. Diapun tertawa lalu bersama Ivan pergi menggunakan mobil Ivan. Satria dan Nicken pun masuk ke rumah.
“Jadi lo jauh-jauh ke sini cuma mau mengembalikan baju Nicky saja?” Tanya Nicken.
Sekarang mereka lagi duduk di teras atap rumah Nicken setelah makan sore. Pemandangan dari sini langsung bisa lihat laut dan hanya di teras atap rumah Nicken saja pemandangan sunsetnya paling keren. Satria tertawa setelah minum teh hangatnya.
“Enggak juga sih, soal baju biar ada alasan saja.”
“Alasan buat apa?”
__ADS_1
“Ya ketemu lo lah.”
“Terus ada urusan apa lo sama gue?” Sahut Nicken jutek buat menutupi kalau sebenarnya dia senang Satria sekarang ada di samping dia. Jauh-jauh dari Jogja cuma buat ketemu dia.
“Soal omongan gue di TV kemarin, Cken.”
“Oh soal itu, ya ampun, Kak, lo harusnya enggak perlu repot jauh-jauh ke sini buat ngomongin masalah itu. Buat gue apa yang terjadi sama kita kemarin juga enggak ada yang spesial kok.”
“Tapi, Cken, maksud gue ngomong kaya gitu biar..” Satria menggantung kata-katanya. “Biar media enggak ganggu lo terus.”
Kali ini Nicken kelihatan kaget trus menengok ke Satria yang lagi menatap laut di kejauhan. “Gue enggak mengerti, Kak, maksud lo apa?”
Satria senyum. Senyuman yang bisa buat Nicken selalu terpesona. Dia lalu menatap Nicken. “Buat gue, apa yang terjadi sama kita kemarin spesial banget, tapi gue sengaja mengelak biar media enggak terus-terusan menanyakan hubungan kita sebenarnya.”
“Kan kita emang enggak ada hubungan, Kak, kita sebatas teman, terus sebatas fans sama idolanya, enggak lebihkan?”
“Tapi media mana mungkin terima gitu sajakan? Gue cuma mau mereka berhenti kepo-in kita dan enggak bakal gangguin lo.”
Nicken terdiam melihat sunset di depannya.
“Gue enggak mau gara-gara masalah ini lo jadi menghindari gue.”
“Cari cewek saja, Kak.”
Satria tertawa.
“Lo pikir gampang? Kenapa enggak lo saja yang cari cowok?”
“Lo pikir gampang.”
Mereka pun tertawa lalu terdiam menatap pemandangan sunset di depan mereka.
Gue senang banget lo ke sini, Kak.
“Kenapa enggak menginap saja, Sat? Kan sudah malam.”
“Besok gue sekolah, Vick.”
“Lo tenang saja Vick, buat dia, Jogja - Jakarta cuma dalam hitungan jam.”
Satria tertawa. “Gue pamit ya. Thanks.” Satria memeluk Vicky lalu mengacak rambut Nicken.
“Hati-hati, Kak.”
Satria mengangguk.
“Bilang patroli lo, ketemu di Green Road saja.”
Mereka masuk ke dalam mobil Nicky lalu pergi.
Vicky merangkul Nicken sambil masuk ke rumah. “Cie, ada yang senang banget kayanya.”
“Senang parah banget Kakakku sayang.” Nicken mencium pipi Vicky lalu berlari ke kamarnya dan Vicky hanya bisa tertawa.
Kalah taruhan deh gue.
...***...
“Kalau emang lo suka sama Cken, bilang saja, Van langsung.”
“Ngomong apaan sih lo? Sotoy.”
“Gue emang baru kenal ya sama lo, tapi gue juga cowok kali, gue bisa bedakan mana cowok yang biasa saja sama yang lagi naksir sama cewek.”
Ivan menghela nafas lalu menepikan mobilnya. “Tapi gue enggak ada apa-apanya dibanding Satria.”
“Ya kalau gitu, lo tunjukin dong ke Cken, kalau lo juga bisa masuk hitungan. Selama gue kenal Cken, dia cewek yang enggak macam-macam, asal lo bisa membuat dia nyaman, dia bakal jatuh cinta sama lo.”
“Tapikan enggak gampang, Rom.”
“Emang enggak gampang meyakinkan dia, tapi lo enggak bakal tahu hasilnya kalau lo enggak usaha and belum apa-apa sudah menyerah duluan.”
Ivan terdiam.
“Gue emang enggak bisa bantu lo meyakinkan Cken, tapi gue yakin lo bisa meyakinkan dia pakai cara lo.” Lanjut Romi.
Ivan tersenyum. “Thanks.” Dia lalu kembali menjalankan mobilnya.
“Gue sudah bisa baca maksud lo kok.” Nicky menghentikan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk ke Green Road dan melihat patroli Satria juga berhenti tidak jauh di belakangnya.
“Gue cuma enggak mau dia kenapa-napa.”
Nicky mencopot sabuk pengamannya lalu bersandar di pintu mobilnya menghadap Satria. Satria pun melakukan hal yang sama.
“Ada alasan lain? Secara dia pernah bikin lo malu, kalian slek, terus kenapa tiba-tiba lo jadi berubah banget mau melindungi dia?”
“Gue suka sama adik lo, puas lo.”
Nicky tertawa.
__ADS_1
“Gue pernah bilangkan sama lo, jangan benci sama adik gue, jadi suka beneran kan? Terus tadi sudah bilang ke dia?”
“Ya enggaklah, gila saja lo. Awas ya kalau sampai lo kasih tahu dia. Tapi masalahnya, Ky, dia cuma anggap gue idolanya saja, enggak lebih.”
“Asal lo bisa membuat dia nyaman, gue yakin perasaan dia ke lo bakal berubah. Usaha saja dulu.”
“Gue nunggu sikonnya aman dulu deh.”
“Jangan kelamaan kalau emang lo serius, ntar kalau dia diambil orang, baru menyesal lo.”
“Iya, gue balik ya, thanks sudah mengantar gue.” Mereka berpelukan.
“Hati-hati lo.”
Satria pun turun dari mobil Nicky dan berpindah ke mobil patroli yang sudah berada di samping mobil Nicky. Mereka pun pergi dan Nicky tersenyum.
Jangan sampai lo keduluan Ivan, Sat.
Nicken duduk bersandar di pinggir tempat tidurnya sambil melihat ke arah balkon kamarnya. Jujur masih ada perasaan senang Satria tadi menemui dia jauh-jauh dari Jogja. Mungkin bisa dibilang dia fans yang paling beruntung bisa dapat perlakuan sampai kaya begitu dari idolanya. Apalagi waktu kencan mereka, Satria rela basah-basahan demi dia. Kalau mantannya -yang masih malas dia sebutkan namanya- saja tidak mungkin banget mau melakukan hal itu.
“Ciee yang didatengin idolanya.” Nico tiba-tiba sudah terlentang di tempat tidur di belakangnya dan kepalanya ada di samping Nicken.
“Apaan sih lo, Kak.”
“Kalau gue jadi lo sih, bakal merasa senang banget, De.”
“Gue senang banget pakai kuadrat, puas lo?”
Nico pun tertawa.
“Lo suka sama Satria?”
“Dari dulu, Kak. Lo kan tahu itu.”
“Maksud gue bukan antara fans sama idola, De.”
“Gue belum tahu, Kak. Tapi kalau Satrianya terus-terusan kaya gitu, gue bisa saja jatuh cinta beneran sama dia. Cewek mana sih, Kak, yang enggak luluh kalau diperlakukan kaya gitu.”
“Kalau ternyata Ivan juga suka sama lo?”
“Ya ampun, Kak, jangan bikin gue galau dong, gue lagi mau memikirkan Satria dulu nih.”
Nico tertawa sambil mengacak rambut Nicken lalu memeluknya dari belakang.
Selalu ikuti kata hati lo, Cken, karena bakal ada 2 cowok yang bakal bersaing buat mendapatkan lo.
...***...
“Cken?” Nila duduk di samping Nicken yang lagi bengong di taman belakang. “Kenapa lo?”
“Galau.” Sahut Nicken singkat lalu kelihatan melamun lagi.
“Soal gosip lo sama Satria?”
“Ini pikiran negatif gue saja ya, Satria berubah sikapnya ke gue, karena dia mau balas dendam.”
“Kok lo mikir kaya gitu sih?”
“Ya aneh saja, La, kenapa awalnya dia benci sama gue terus jadi tiba-tiba dia baik sama gue.”
“Ya karena lo emang enggak pantas buat digituin, Sayang. Tapi ya, Cken, Sara sama mantan lo yang enggak mau lo sebutkan namanya itu kayanya sudah bubaran deh.”
“Gue enggak peduli, La.”
“Dengerin gue dulu, kalau kata anak-anak, dia berpaling dari tuh cowok semenjak dia tahu tentang gosip lo sama Satria. Dan kayanya nih, kalau yang sudah-sudah, gue yakin dia bakal menggebet Satria lo itu. Jadi lo mesti hati-hati kalau emang lo enggak mau kehilangan perhatian idola lo itu. Atau mungkin..”
“Mungkin apa?”
“Apa jangan-jangan lo sukanya sama Ivan?” Goda Nila.
“Apaan sih lo? Tapi aneh ya, La, gue lebih nyaman sama cowok menyebalkan yang angkuh itu.”
“Sudah pertanda ini mah, Neng.”
“Pertanda apa?”
“Dia pakai nanya, pertanda kalau lo itu suka sama Satria.”
Nicken hanya terdiam.
Apa iya gue suka sama Satria?
Dugaan Nila terbukti. Waktu Nicken mau ke arah parkiran yang emang mesti melewati belakang kantin biar agak dekat jalannya, tidak sengaja mendengar Sara sama Mantannya Nicken lagi berantem dan dia menangkap 1 hal yang lagi mereka ributkan. Karena dia tidak mau sampai kelihatan sama mereka, dia jadi buru-buru ke arah mobilnya dan pergi dari sana.
Di mobil dia kepikiran sama kalimat yang keluar dari mulut Sara. Dia tidak terima Nicken bisa jadi dekat sama Satria. Dia mau Satria jadi milik dia kaya yang sudah-sudah. Dan satu hal yang membuat Nicken makin cukup tahu sama Sara adalah, dia mengaku sendiri ke mantannya Nicken kalau dia merebut cowok bule Perancis itu untuk membuat bikin Nicken sakit hati saja.
Nicken menghela nafas.
Harusnya gue enggak perlu memikirkannya? Toh si Bule yang enggak banget itu sudah enggak penting lagi dan Satria pun bukan cowok gue, tapi kenapa.. kenapa gue malah takut kehilangan Satria ya?
__ADS_1
To be continued.....