
JAKARTA.
Ivan mengendarai motornya sambil setengah melamun. Tadinya dia tidak mau sekolah, masih tidak berani menerima kenyataan kalau pada akhirnya Nicken lebih memilih Satria gara-gara dia kemarin ke Jogja.
Padahal kalau kata Penulis cerita ini, Ivannya terlalu lebay, dia belum tahu perasaan Nicken yang sebenarnya. Kali saja Nicken lebih suka ke dia atau malah tidak suka sama dia atau Satria? Jangankan Ivan, Penulisnya saja tidak tahu sebenarnya Nicken lebih memilih siapa.
Ivan pun sampai di parkiran sekolah. Setelah melepaskan helmnya, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling parkiran mobil tapi tidak menemukan mobil Nicken, hanya melihat mobil Fortuner hitam milik Vicky. Ivan pun menghela nafas lalu turun dari motornya dan menuju kelasnya.
Sampai kelas, dia tetap tidak menemukan Nicken di bangkunya. Hanya ada Nila dan Romi yang lagi mengobrol serta beberapa anak kelasnya dengan kegiatannya masing-masing. Ivan duduk di bangkunya setelah menyapa Nila dan Romi lalu menoleh ke bangku kosong di sampingnya. Nila dan Romi pun menoleh.
“Cken sakit, Van.” Sahut Nila.
“Kayanya sih kecapean gara-gara ke Jogja kemarin.” Romi pun menimpali.
“Sakit apa?”
“Kata Nico sih badannya demam, kalau emang panasnya enggak turun juga sampai ntar siang, dia bakal dibawa ke RS." Jelas Nila panjang lebar.
Ivan terdiam. Jadi dia sakit? Pantesan enggak kelihatan. Ivan mengeluarkan ponselnya lalu terlihat mengetik chat WA lalu kembali terdiam.
JOGJAKARTA.
Hal yang sama juga terjadi sama Satria. Dia kelihatan tidak konsentrasi mendengarkan guru PKNnya lagi mengoceh di depan kelas gara-gara tadi Nicky kasih kabar kalau Nicken demam. Berkali-kali dia melihat ponselnya yang sepi, berharap Nicken membalas chat yang dari tadi dikirimnya.
Parah enggak ya? Kenapa gue jadi khawatir banget begini?
Akhirnya dia menyerah. Diapun berdiri dan minta ijin ke gurunya buat permisi ke toilet. Dia pun menuju kantin lalu duduk di salah satu bangku. Sepi. Karena emang tidak seharusnya dia di sana waktu jam pelajaran berlangsung. Tapi berhubung dia yang punya sekolahan, jadi siapa juga yang berani melarang dia. Dia lalu menelepon Nico karena takutnya Nicken lagi tidur.
JAKARTA.
“Panasnya masih lumayan tinggi, sekarang dia lagi tidur.” Kata Nico sambil melihat adiknya tidur.
“Tapi dia enggak apa-apakan, Nick?” Jelas banget ada kekhawatiran di suara Satria.
“Kalau emang sampai ntar siang panasnya belum turun, bakal dibawa ke RS.”
“Nick, gue minta tolong ya, kabari gue.”
“Iya lo tenang saja, Sat, bye.” Nico mematikan ponselnya sambil tersenyum membelai rambut Nicken.
Lo harus sembuh ya, De, jangan buat 2 cowok itu semakin khawatir sama lo.
JOGJAKARTA.
“Lo ke Jakarta saja sana. Buat pembalap kaya lokan enggak ada masalah jarak jauh begitu.” Sahut Axel yang sedang menikmati somay waktu jam istirahat.
Sejak memutuskan buat berdamai, mereka jadi sering keliatan bareng dan awalnya banyak para penghuni sekolahan yang merasa aneh bin bingung melihat mereka akur karena dari awal kelas 10 siapapun tahu kalau 2 “Pangeran Sekolah” itu selalu menghindari satu sama lain.
“Pengennya sih, Xel, tapi..” Satria meminum teh kotaknya. “Takut ada yang marah.”
Axel agak tersedak somay lalu meminum es teh manisnya. “Bukannya lo cowoknya?”
Satria tertawa. “Emang yang bilang gue cowoknya itu siapa?”
“Jadi lo bukan cowoknya toh? Kok bisa sih lo anggurin cewek secantik dia?”
“Ini gue lagi usaha kali, Xel, tapi gue punya saingan, cowok sekelasnya.”
“Yah, kalau sama sekelasnya, jangan banyak berharap deh. Dari intensitas ketemu saja masih banyakan tuh cowok. Tapi ya gue cuma bisa kasih doa saja ya."
Satria lagi-lagi tertawa.
JAKARTA.
Vicky dan Nico mengamati 2 suster yang lagi sibuk memasang jarum infus ke salah satu tangan Nicken. Yup. Sampai Nicky dan Vicky pulang sekolah, panas Nicken tidak turun dan cenderung bertambah beberapa derajat. Karena takut ada yang makin serius, jadi mereka membawa Nicken ke rumah sakit. Nicky lalu masuk bersama dokter, yang jadi dokter keluarga mereka dan dia pun langsung mengecek keadaan Nicken.
“Kata Om Vian, Cken kena virus, hampir gejala tipes tapi untungnya bukan DBD juga.”
“Dia cuma kecapean saja dan daya tahan tubuhnya lagi tidak bagus.” Jelas Dokter. “Dia mesti bedrest dulu dan kita bakal lihat perkembangannya dalam 2 hari ini.” Lanjutnya lagi. “Kalau gitu Om keluar dulu ya.” Mereka pun keluar setelah Nicky, Vicky dan Nico mengucapkan terima kasih.
“Ivan?"
Ivan tersenyum melihat Nicken sadar. “How do you feel?” (Apa yang lo rasakan?)
“Pusing banget. Lo sendiri?”
“Vicky sama Nico terpaksa harus latihan, Nicky lagi mengambil baju, paling sebentar lagi dia sampai.”
__ADS_1
“Maaf ya, jadi merepotkan lo.”
“Enggak sama sekali kok. Ya sudah, lo istirahat saja ya.” Nicken pun tersenyum.
Satria memarkirkan mobil balapnya di parkiran RS. Dari pulang sekolah dia langsung ke Jakarta karena khawatir waktu dikabari Nico kalau Nicken terpaksa dibawa ke rumah sakit. Diapun langsung mengambil ponselnya.
“Gue sudah sampai, Kak. Patroli lo gue suruh ke tempat kak Kevin. Iya lo enggak usah khawatir, gue bakal hubungi mereka kalau mau balik. Oke.”
Satria mematikan ponselnya lalu terdiam sejenak kemudian keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit.
“Loh, Sat, sudah dari tadi?” Nicky menghampiri Satria yang lagi sibuk sama ponselnya di ruang tunggu depan kamar rawat Nicken. Diapun duduk di sampingnya.
“Baru kok, Ky.”
“Terus kok enggak masuk?”
“Ada Ivan, gue enggak enak."
Nicky tertawa. “Lebay lo. Ayo.” Satria akhirnya mengikuti Nicky masuk ke dalam kamar Nicken. “Hi, Sayang, lihat siapa yang datang.”
Nicken tersenyum waktu lihat Satria masuk. “Hai, Kak.”
“Hai, Sat.” Satria dan Ivan berpelukan. “Dari Jogja jam berapa?”
“Jam 1an, Van, kaget saja dengar dia masuk RS.”
“Berlebihan lo, Kak.” Satria menghampirinya sambil ketawa lalu mengacak rambutnya.
“Ya sudah, berhubung Nicky sama Satria sudah datang, gue balik dulu ya.”
“Kok buru-buru sih, gue jugakan baru datang.”
“Tahu nih, sudah ntar saja, Van." Sahut Nicky.
“Besok gue ke sini lagi deh, ada urusan nih."
“Sok sibuk lo, Van.”
Ivan ketawa.
“Ya sudah, gue pergi dulu ya.”
Ivan tersenyum lalu mengangguk dan pergi.
Satria duduk di kursi samping tempat tidur Nicken. “Pasti gara-gara gue datang deh, dia jadi pergi, maaf ya.” Satria mengelus tangan Nicken yang ada jarum infusnya. Nicken langsung menggenggam tangannya. Satria lalu mengelus rambut Nicken pakai tangan satunya.
Nicken tersenyum. Gue senang lo datang, Kak.
Nicky yang sedang tiduran di sofa hanya tersenyum lalu sibuk dengan ponselnya.
Kenapa gue lebih senang lihat lo sama Satria ya, De? Apa karena gue sudah tahu banget siapa Satria?
Ivan memarkirkan motor sport CBR birunya di pinggir pantai. Setelah melepas helm dia lalu turun dari motornya dan berjalan ke arah pantai lalu duduk di pinggir pantai.
Pasti Satria sudah spesial banget buat lo ya, Cken? Muka lo langsung berubah waktu dia datang dan gue merasa perhatian gue enggak ada artinya buat lo.
Ivan menopangi kepalanya di kedua lututnya lalu mengukir nama Nicken di pasir dengan jarinya.
Gue jatuh cinta beneran sama lo, Cken. Gue takut banget kehilangan lo.
“Ya sudahlah, Sat, bilang saja langsung ke Cken.” Kata Nicky waktu mengajak Satria ke kantin rumah sakit.
Satria sedikit tersedak sama Cappucinonya. “Maksud lo?”
“Ya lo bilang kalau lo itu sayang sama Cken.”
“Kan adik lo enggak suka sama gue, kecuali sama idolanya.”
“Emang lo sudah nanya serius ke dia?”
“Belum sih, tapikan..”
“Ivan sayang sama Cken.” Satria langsung melihat ke arah Nicky. “Tanpa perlu dia bilang, gue bisa tahu apa yang dia rasakan ke adik gue.”
Satria lalu terdiam memainkan cangkirnya.
“Gue juga enggak tahu sih, Sat, kenapa gue lebih suka lihat Cken sama lo. Mungkin karena gue sudah kenal lo lama dan gue yakin lo enggak akan pernah menyakiti dia.”
__ADS_1
“Tapi apa mungkin Cken bisa suka sama gue lebih dari seorang fans ke idolanya?”
“Tanya itu ke Cken, karena dia yang tahu jawabannya. Gue enggak mau lo merasa menyesal pas tahu kalau Ivan sudah bilang perasaan dia yang sebenarnya.”
...***...
Satria agak kaget waktu balik dari kantin tanpa Nicky karena dadakan diminta oleh Reno harus ke Nascar- mendengar suara Nicken yang kaya lagi marah dari depan kamarnya. Satria masuk dan melihat seorang cowok tapi Nicken seperti tidak suka. Kelihatan waktu Nicken menyuruh Satria mengusir cowok itu.
“Sorry, dia lagi butuh istirahat.”
“Cken, *please, give me a chance*." (Tolong kasih aku kesempatan.)
“Kak, please. Gue enggak mau dia di sini.”
“Lo dengar sendirikan?”
Cowok itu menatap Satria.
“English, Kak.”
“Leave her alone." (Jangan ganggu dia.)
“Who are you?" (Lo siapa?)
“You don’t have to know who he is. Just get outta here." (Lo enggak perlu tahu siapa dia. Tolong pergi dari sini.) Sahut Nicken ketus tanpa melihat ke arahnya.
“Cken.. Please give me a minute, just a minute." (Tolong kasih aku waktu sebentar saja.)
“I don’t wanna react too much with you. So please, let her take a rest." (Gue enggak mau bersikap berlebihan, jadi tolong biarkan dia istirahat.)
Cowok itu menatap sinis ke Satria. “It’s not your business." (Ini bukan urusan lo ya.)
“Ok, I’ll call security ‘coz you make the patient so upset." (Oke, gue bakal panggil security karena lo sudah mengganggu pasien.)
Cowok itu menatap Satria dengan kesal lalu melihat ke arah Nicken yang memunggungi dia. Dia akhirnya keluar dan Satria pun menghampiri Nicken lalu duduk di pinggir tempat tidurnya.
“Maaf ya, gue kelamaan ya meninggalkan lo?” Satria mengelus rambut Nicken lalu mengusap punggungnya yang berasa agak gemeteran.
“Gue enggak mau dia ke sini lagi.”
“Iya, Cken, sekarang lo tenang ya.”
Satria perlahan mengelus rambut Nicken yang akhirnya bisa tidur setelah kejadian tidak enak tadi. Tidak lama Nico masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya secara perlahan karena waktu dia buka pintu Satria menaruh telunjuk di bibirnya. Nico menghampiri Nicken lalu mencium keningnya. Kemudian Nico mengisyaratkan Satria buat keluar. Perlahan juga Satria bangun dari duduknya yang di samping kepala Nicken lalu mengikuti Nico keluar.
“Jam berapa dia datang?”
“Jam 7an, Nick. Dia itu siapa? Kenapa Cken bisa benci banget melihat dia?”
“Nathan, mantannya Cken yang sampai sekarang dibenci banget sama dia, bahkan menyebut namanya dia enggak mau.”
“Separah itu, Nick?”
“Dia sudah terlalu sakit hati, Sat, dia selingkuh sama cewek yang enggak banget. Makanya Cken sudah enggak bakal percaya lagi sama cowok itu.”
“Pantesan.”
“Gue boleh minta tolong sama lo?”
“Anything, Nick.”
“Cewek enggak banget itu namanya Sara. Dari dulu dia selalu ganggu hidupnya Cken. Dan yang gue dengar dia ngefans sama lo.”
“Jadi maksud lo?”
“Kasih celah dia buat dekat sama lo.”
Satria tersenyum. “Gue mengerti maksud lo.”
“Gue cuma mau dia dapet balasan atas apa yang selalu dia lakukan ke Cken.”
“Lo enggak usah khawatir, Nick, gue bakal pakai ketenaran gue buat menjebak dia.”
“Iya deh yang tenar.” Mereka pun tertawa.
Gue bakal lakukan apa saja buat lo, Cken.
To be continued.....
__ADS_1
Author : Terimakasih yang sudah mampir. Like dan komen kalian sangatlah berarti 🙏