
Hari baru di mulai kembali. Hari Sabtu telah tiba, hari yang paling dinantikan oleh anak sekolah karena menjadi hari terakhir pembelajaran dalam satu Minggu yang telah berlalu.
SMA Pratama kembali beraktivitas sebagaimana biasanya. Anak anak sekolah berdatangan dan masuk ke kelas mereka masing-masing. Seragam olahraga menjadi kode seragam mereka hari ini.
Semua kelas berbaris di depan kelas mereka masing-masing dan berdiri menghadap wali kelas mereka mendengarkan ceramah pagi yang tak bosan-bosannya mereka sampaikan serta pengumuman pelaksanaan ujian yang akan segera dilaksanakan dalam waktu sebulan lagi.
Jika semua kelas diberi pengarahan oleh guru, kelas 11 IPS 3 terlihat murung dan suram. Tak ada guru yang masuk ke sana bahkan wali kelas mereka sudah mengambil cuti cukup lama sampai tak ada yang peduli dengan kelas ini.
Sembilan orang siswa hanya duduk di teras kelas mereka sambil bercengkrama menatap kelas kelas lain yang diberi pengarahan. Kenapa sembilan? Peniel si pria tukang tidur, sudah terlelap disudut kelas bahkan sejak jam lima pagi tadi..Pria itu selalu yang paling awal sampai dan paling lama pulang karena ketiduran.
Atha menatap sekolah itu, dia sudah mendapatkan seragam sekolah yang sama dengan siswa lain. Benar-benar diskriminasi dan pemisahan terjadi dalam sekolah itu. Tak ada yang berniat mendekati kelas mereka satu pun tidak.
Jin-ji, selalu ketua kelas bukannya tak berupaya meminta kehadiran guru, tetapi mereka yang menolak datang ke kelas itu sejak awal sehingga jika kepala sekolah mengusulkan satu guru maka mereka akan menolaknya sama seperti cara mereka ingin menghancurkan sekolah itu.
" Kenapa tidak ada yang masuk ke kelas ini!?" tanya King. Baru saja Atha ingin bertanya, tetapi King mendahuluinya.
" Kau bisa lihat sendirikan? matamu kau pakai atau tidak? tatapan kelas lain ke arah tempat ini sudah seperti menatap penjara yang berisi kriminal, apa menurutmu ada guru yang mau masuk ke kelas buangan? " jawab Brian dengan nada ketus.
" Sebenarnya bukan kami tak meminta, sejak awal kejadian itu, aku meminta pada kepala sekolah untuk mengirimkan pengajar tetapi jawabannya sangat mengesalkan, tak ada yang mau masuk ke kelas yang perlu introspeksi diri!" ucap Jin Ji.
" Semua ini karena si botak kepala bakso itu, seharusnya kepalanya yang dibakar, arkrkhhhh mengesalkan sekali!!!" gerutu Beer sambil mengacak-acak rambutnya.
" Tapi rumor mengatakan kalau kalian yang menolak guru, apa aku salah dengar atau bagaimana!?" kali ini Ayah berbicara. Selalu saja kata kata datar tanpa perasaan bak robot keluar dari bibir gadis itu.
" Hmm... kami menolak karena mereka berusaha menghancurkan kelas ini dan memisahkan seisi kelas, kalau menghapus kelas 11 IPS 3, kami tak terima !" balas Hana.
" Apa karena kursi itu?" tanya Atha sambil berbalik dan menatap mereka.
Melihat tingkah Atha yang mulai memancing perkelahian, King menepuk jidatnya sendiri," Astaga kau ini bisa tidak jangan berkata kasar hah? berbicaralah dengan perasaan, kau itu bukan robot!!!" ucap king sambil menepuk bahu Atha.
" CK... jangan pegang pegang, kau mengesalkan!!" ketus gadis itu sambil menyingkirkan tangan King dari bahunya. Namun King tetaplah King yang menyebalkan, dia malah menarik Atha dan menggenggam tangan gadis itu, mulai hari ini kau jadian!! dia pacarku sekarang!!!" ucap King tiba-tiba.
" Wohooooo... berani sekali man!!!" seru Alex dan Josua yang sefrekuensi.
" Wahhh King Lo sarap ya? tumben deketin cewek!!!" celetuk Jin-ji tak habis pikir.
__ADS_1
Atha juga sama kagetnya, bisa bisanya pria itu sembarang mengatakan sesuatu apalagi di depan umum seperti itu.
Plaakkk... bughh
" Otak udang, kau gila, stress atau apa hah!?? dasar orang sinting, kalau bicara itu pakai otak bukan pakai dengkul!!! pacaran apanya dodol!!" Atha masuk ke dalam kelas dengan wajah kesal dan terus mengoceh.
Anak-anak lain melemparkan tawa mengejek pada King. Pria itu hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya. Atha gadis yang susah diajak kerja sama.
Namun King tersenyum, dia melirik ke sisi lain gedung itu, seseorang menatap kelas mereka dengan serius, sejak awal dia sudah berdiri di bawah sana dan menatap kelas itu, tetapi ketika dia hampir berpaling, King menghentikan langkahnya secara tidak langsung dengan membuat kelas itu tertawa.
"Bagaimana!? apa ini akan berhasil membuat otak dibalik kejadian itu terungkap!? hehhehe.... ini akan menyenangkan..." batin King dengan senyuman licik di wajahnya.
Pria itu berhenti sejenak, mengamati kelas mereka. Ekspresi wajahnya tampak sangat tidak mengenakkan, dia terlihat gusar, setelah bel masuk berbunyi, dia pergi dari sana dengan tatapan tajam ke arah kelas di lantai dua itu.
Sementara itu seluruh kelas telah masuk dan memulai pembelajaran di sekolah itu. Semuanya melakukan pembelajaran normal seperti biasanya. Tetapi tidak bagi 11 IPS 3. Tak ada yang berjalan normal bagi kelas itu.
Mereka duduk berserakan, sesuka hati tanpa ada guru yang mengontrol. Bagi sekolah itu, mereka hanya simbol, jika diusik maka nama sekolah akan terancam anjlok, siswa di dalam kelas itu tak lebih dar sekedar monster bagi warga SMA Pratama.
King menatap seisi ruangan, semuanya datang ke sekolah tetapi melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan, karena tak ada yang mau masuk ke kelas pembuat onar itu.
Atha melirik gadis itu dari ekor matanya sambil mengangguk tanpa menolah sama sekali.
" hmm.. kenapa?" tanyanya dengan nada dingin.
" Kenalin gue Beer, kalau ada yang mau ditanya, tanya sama gue aja," ucap gadis itu sambil duduk bersandar dan menatap Atha.
Atha menoleh sejenak, lalu memalingkan wajahnya lagi," Bukannya kau mengataiku Jal4ng!?" sindir Atha.
Beer terbelalak, gadis di depannya itu masih saja mengingat kejadian tempo hari, padahal Beer hanya ingin menguji sifat Atha dan ternyata gadis itu lulus ujian dari Beer.
Karena peraturan pertama di kelas itu, siapa pun yang baru masuk akan dianggap lawan, ujian yang dilewati akan lulus jika lawan memberontak seperti cara Atha waktu itu, dan tak disangka, Atha gadis yang dikirim ke kelas itu ternyata memiliki sifat yang sama dengan anggota 11 IPS 3.
"Uhuk... hah... hahahah...." Beer tersedak kata-katanya sendiri, gadis di depannya terlalu sulit dihadapi," Hei ayolah, jangan bersikap dingin begitu, kita teman sekelas bukan!?" Hana mengimbuh dan malah merangkul Atha dari sisi lain.
"Lepas!" ucap gadis itu dengan nada dingin dan datar.
__ADS_1
Hana juga terkejut, dia sontak mengangkat tangannya dan menatap Beer sambil menaikkan bahunya.
" Dia sangat keren bukan!?" celetuk Josua, pria kocak yang sedang memakai wig kepala botak menirukan gaya kepala sekolah mereka.
Sambil menggaruk-garuk hidungnya dan lupa kalau itu bekas upil, dia mengambil keripik di mejanya lalu memakannya dengan lahap.
Huwekkkk...
Brian dan Alex hampir saja muntah berjamaah karena tingkah Josua di pria bertindik itu.
" Atha, mari berteman," ucap Jin-ji dengan serius.
" Kenapa aku harus jadi temanmu?" jawabnya sinis.
" Karena pacarmu yang suruh," ucap Jin-ji sambil menunjuk King yang duduk sambil mengangkat kakinya dan menatap Atha, melambaikan tangan sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis.
"Wohoooo...... cieee... cieeee...... keren cuyy!!!!" seru para pria yang salut dengan keberanian si bar bar King.
Atha memutar malas kedua bola matanya,"Cih... norak,. berteman ya berteman, apa hubungannya dengan tiang listrik sialan itu!" ketus Atha.
"Hahahahahhaha........
Mereka semua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban sarkas Atha, gadis itu memang selalu seperti itu.
Saat semuanya asik bercanda, tiba-tiba seseorang masuk ke kelas mereka.
Brakkk.... Brakk.... Brakkk...
" Diam kalian anak-anak tanpa masa depan!!?" pekik orang itu dengan amarah yang memuncak.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 🤗