Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
kelas


__ADS_3

Hana, Cindy dan ibunya King kini tinggal di kota A. King menempatkan puluhan pengawal untuk menjaga ibunya yang tinggal di salah satu apartemen milik King. Wanita itu akan tinggal disana bersama pelayan dan perawat yang bertugas menjaga dan mengontrol kesehatan ibunya King.


Setelah menghabiskan dua hari di kota A. Atha King dan teman-teman nya kembali ke kota seberang dimana mereka bersekolah.


Perencanaan yang matang telah mereka susun untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh si pelaku.


Jam pelajaran baru dimulai, anak anak kelas 11 IPS 3 berbaris dengan rapi di depan kelas mereka. Semuanya terlihat begitu sempurna, pakaian, warna rambut, sikap dan etika mereka berubah total. Suasana tak biasa benar benar terjadi di sekolah itu, apalagi dengan perubahan drastis pada kelas buangan yang dibenci seisi sekolah.


Jin-ji berdiri di depan kelas mereka mengatur anggota kelas dan memberi sedikit arahan sebelum Ibu Olivia yang ditugaskan badan pengawas pendidikan datang.


Seluruh mata tertuju pada kelas itu, coretan coretan di kelas mereka sudah bersih, taman di depan kelas mereka lebih asri dari kelas lain, bahkan jendela mereka mengkilap saking bersihnya kelas itu. Ruangan yang berubah total dan menjadi rapi dan apik.


Kursi mendiang Kiel dipindahkan ke tengah-tengah ruangan sebagai tanda peringatan bagi mereka, sebagai tanda bahwa mereka telah kehilangan seorang yang sangat berharga bagi mereka. Namun yang ada disana bukan lagi coretan maupun tali bunuh diri.


Meja itu mereka sebut sebagai meja kenangan. Disana mereka menuliskan semua cerita dan gambar kenangan ketika Kiel hidup. Kenangan manis penuh dengan senyuman di masa SMA mereka yang indah.


Saat anak-anak berbaris dengan rapi, dari ujung koridor lantai satu, Ibu Olivia berdiri di sisi itu sambil menatap kelas 11 IPS 3. Dia terlihat gugup, ini tugas paling berat yang dia terima sejak dia menjadi guru. Menghadapi kelas buangan, apa yang akan dia temukan di kelas itu nantinya, apakah dia akan dikerjai oleh anak-anak itu seperti para guru yang memilih hengkang dari sekolah itu, atau mungkinkah anak-anak yang butuh bimbingan orang dewasa itu menerimanya?


Berbagai keraguan, pertanyaan dan rasa takut menghantui pikiran wanita itu. Belum lagi ucapan para guru yang menakut-nakuti Ibu Olivia. Begitu banyak rumor yang beredar tentang kelas buangan itu, dan tak ada satu pun dari rumor itu yang bisa dipastikan benar atau salah.


Dengan langkah kaki yang ragu-ragu, Ibu Olivia berjalan menuju kelas 11 IPS 3.Beliau menarik nafas berkali kali, sangat gugup seolah ini pertama kali dia masuk ke sekolah itu.


Di saat yang sama, anggota kelas yang melihat Ibu Olivia berjalan ke arah mereka langsung tersenyum ceria.

__ADS_1


“ Ibu Olivia datang, ayo jangan pasang wajah masam...” bisik Beer yang dianggukkan oleh teman-temannya.


Sementara itu, Zico si ketua OSIS yang sok punya jabatan penting di sekolah itu tegah berkeliling dan dibuat terkejut dengan betapa rapinya kelas buangan itu, bahkan aura mereka sangat berbeda dengan aura kelas-kelas lain yang mulai tak stabil. Justru kelas lain lebih berantakan dan terkesan kumal.


“ Apa yang terjadi? Apa dunia akan kiamat? Sejak kapan mereka bisa serapi itu?” Zico tak menyangka kalau anak-anak di kelas itu bisa berubah, dan ini adalah perubahan paling drastis yang mereka lihat.


“ Zico, ini parah, apa yang mereka coba lakukan? Kenapa tiba-tiba berubah seperti ini? Ini sangat aneh...” bisik Mike siswa terpintar dari MIPA 1.


“ Aku mana tahu Mike, ini benar-benar gila, atau apa mungkin mereka merencanakan sesuatu? Aku yakin para monster itu akan membuat kekacauan lagi, potong tanganku kalau sampai mereka jadi anak yang penurut, cihhh... itu semua Cuma penipuan publik, tak akan mungkin mereka bisa berubah,” Zico menatap kelas itu dengan tatapan merendahkan.


Sama halnya dengan anak-anak lain di sekolah itu, mereka menyepelekan kelas buangan yang menurut merek tidak ada-apa apanya.


Semua orang masih merendahkan mereka dan menganggap bahwa kelas itu hanyalah sebuah omong kosong yang tidak ada apa apanya. Perubahan seperti apa pun tak akan mengubah status mereka sebagai kelas buangan .


Ibu Olivia dengan wajah gugup berdiri di depan ke sebelas belas siswa itu. Anak-anak menatap Ibu Olivia dengan senyum lembut dan ramah.


“ Siap.. grak...beri salam...” teriak Jin-ji memberi aba-aba.


“ SELAMAT PAGI BU..” teriak mereka dengan penuh semangat sambil membungkuk 90 derajat memberikan penghormatan pada sang guru.


Ibu Olivia terdiam, perempuan itu menatap mereka dengan tatapan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan, mereka tidak seperti yang para guru dan siswa bicarakan, senyuman mereka, keceriaan mereka dan kekompakan mereka sangat bertolak belakang dengan rumor yang selama ini dibangun untuk menghancurkan anak-anak penerus bangsa itu.


Hati kecil Ibu Olivia bergetar, benar kata badan pendidik yang menghubungi beberapa hari lalu terkait pendidikan yang akan dia berikan pada anak-anak itu, mereka mengatakan bahwa kelas 11 IPS 3 tidak sama seperti semua rumor yang beredar di sekolah maupun situs pendidikan, kelas itu adalah pionir dan penerus bangsa yang diisi dengan anak-anak penuh bakat dan memiliki kerja sama tim yang hebat .

__ADS_1


Dan itu sudah mulai mereka buktikan dengan perubahan besar besaran di kelas mereka.


“ baik, selamat pagi, ibu tidak akan bicara panjang lebar, silakan masuk ke kelas dan kita mulai jam pelajaran pertama,” ucap Ibu Olivia dengan senyuman penuh semangat di wajahnya.


Wanita itu mendapatkan kembali semangat dan percaya dirinya, dia yakin bahwa kelas itu memiliki harapan untuk bangkit dan berkembang lebih dari yang orang lain pikirkan.


Melihat Ibu Olivia tersenyum, anak-anak yang tadinya sedikit gugup memikirkan apakah wanita itu akan menerima mereka kini bisa bernafas lega.


Beer melangkah terlebih dahulu, dia mengambil tangan Ibu Olivia dan menyalam wanita itu sebagai tanda penghormatan,” terima kasih mau masuk ke kelas kami Bu, saya sangat bersemangat untuk belajar,” ucap Beer sambil mencium punggung tangan Ibu Olivia.


Hati kecil wanita itu ingin berteriak, bahkan anak-anak yang katanya paling unggul di sekolah itu saja sudah lama melupakan budaya salim tangan jika hendak masuk ke kelas, tetapi kelas ini berbeda mereka mengembalikan semua budaya itu.


Bukan hanya Beer yang melakukannya, semua anggota kelas itu menyalam tangan Ibu Olivia dan mengucapkan rasa terima kasih mereka karena mau masuk ke kelas buangan yang dijauhi semua orang.


Jin-ji masuk paling akhir, dia memeluk Ibu Olivia dengan mata berkaca-kaca,” Terima kasih bu,” ucap pria itu sambil masuk ke dalam kelas.


Ibu Olivia terdiam membeku, “ i..ini bukan kelas buangan, mereka ini anak-anak emas yang disia siakan sekolah ini... bahkan aku... aku sempat meragukan mereka, tetapi mereka adalah emas murni yang siap untuk dibentuk.. ahhhh ke mana selama ini kami? Ke mana selama ini dunia pendidikan yang seharusnya mendidik mereka dengan baik...” lirih Ibu Olvia sambil menatap kelas itu.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen


__ADS_2