Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
7


__ADS_3

Tatapan mata Atha begitu tajam, namun seketika melunak kala dia mengingat tujuannya pindah ke sekolah yang menelan nyawa kakak laki-lakinya itu.


“ Siapa yang meninggal?” tanya Atha berusaha untuk tetap tenang, dia mengepalkan tangannya di bawah meja dan berusaha untuk tidak gemetar ketika membicarakan kematian kakaknya.


Hana menyunggingkan bibirnya,” kau penasaran?” bisik gadis itu sambil menatap Atha, “ tak akan kuberi tahu, karena kau bukan bagian kelas ini...” bisiknya sambil beranjak dari sana dan meninggalkan Atha yang menatapnya dengan tatapan heran.


“ Sial... sial... sial... ingin kukuliti kau sekarang juga jal4ng sialan!!!” Atha menatap Hana dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa marah dan amukan psikopat di dalam dirinya yang hampir saja keluar.


Atha menarik nafas dalam-dalam, menenangkan dirinya agar tidak mengeluarkan sifat aslinya disini, dia harus jadi siswa yang tenang untuk mencari tahu perihal kematian kakaknya yang misterius, dia yakin ada sesuatu yang aneh dengan kelas itu.


Jika menurut rumor, kelas itu sendiri lah yang menyebabkan pemilik 'kursi bunuh diri' itu meninggal dunia karena perundungan yang terjadi selama berbulan-bulan. Bahkan banyak siswa yang Atha dengar mengatakan bahwa pelaku yang membuat Kiel meninggal adalah kelas itu.


Orang -orang di dalam kelas itu dipenuhi dengan psikopat yang jelas terlihat dari sikap mereka dalam menghadapi orang baru. Mereka langsung menunjukkan batas yang jelas dan jarak yang jauh untuk para pendatang.


Jika mereka memang membunuh Kiel, maka kelas itu benar benar diisi oleh psikopat yang senang melihat bukti kematian korbannya masih tetap bergantung di ruangan itu dengan posisi yang sama tepat seperti ketika pemilik kursi itu meninggal.


Namun bagaimana jika pembunuhnya bukan mereka? Kenapa mereka enggan membicarakan kematian teman sekelas mereka, kenapa mereka memasang benda horor itu disana, kenapa dua rekan mereka di skors? Kenapa Zico terlihat tidak suka dengan kelas itu, dan kenapa para siswa juga membenci mereka padahal tak ada bukti yang mengatakan kalau merekalah yang menyebabkan Kiel meninggal dunia.


Bahkan selama penyelidikan kepolisian, tidak ditemukan tanda-tanda apa pun dari pihak luar dan kasus ini resmi ditutup sebagai kasus bunuh diri. Kasus tersebut diakhir tanpa mencari penyebab lebih lanjut, hal ini membuat geng yang di pimpin Atha menggeram marah.


Jack, pria yang melindungi kelompok itu saat ini berjuang mencari tahu apa yang terjadi tetapi persis sepeti hasil kepolisian, tak ada bukti yang mengarah pada seseorang, semua jejak dan DNA yang ditemukan di ruangan itu adalah DNA dan jejak Kiel serta jejak anak-anak lain yang memiliki perbedaan waktu yang besar sehingga tidak bisa membuat mereka menjadi pelaku.


Kematian Keil yang janggal membuat Atha tak terima, karena dia kenal jelas dengan kakaknya. Begitu masuk ke kelas ini, kejanggalan itu semakin bertambah ketika melihat reaksi anak-anak lain ketika Atha menatap kursi itu dan duduk di dekatnya bahkan menayakan hal itu pada Hana.

__ADS_1


Saat dia bertanya tadi, semua anak yang berada di kelas itu melirik Atha dengan cara mereka masing-masing. Atha terlalu sensitif dengan hal seperti ini dan instingnya mengatakan bahwa mereka semua sedang mengawasi nya.


“ Sebenarnya siapa mereka?” pikir Atha. Mata gadis itu menatap mereka semua dengan tatapan dingin. Bukan hal sulit baginya mencaritahu siapa mereka, tetapi jika dia bertindak gegabah maka penyebab kematian kakaknya akan sulit untuk diketahui, bahkan ada kemungkinan si pelaku sebenarnya akan menghilang.


King melirik gadis itu sambil tersenyum, sebelum tiba di sekolah itu dia sudah mencari tahu lebih dahulu tentang isi kelas yang hany a tinggal sepuluh orang itu. Dia sudah tahu semuanya dan rahasia yang mereka simpan. Tetapi untuk kasus kematian Kiel, tampaknya dia juga tidak bisa membongkar kasus itu karena jelas dinyatakan sebagai tindakan bunuh diri serta semua buukti konkret yang ada dan tak terbantahkan.


“ apa tujuannya masuk ke sekolah ini?” pikir King yang menaruh tangannya menopang dagunya sambil menatap Atha dengan tatapan menelisik, penasaran dan sangat ingin tahu tentang gadis yang kini jadi teman sekelasnya itu tanpa dia ketahui sebelumnya.


Jam pelajaran demi jam pelajaran berlau begitu saja dan tak ada satupun guru yang masuk ke dalam kelas itu. Mereka sama sekali menolak guru dan begitupun sebaliknya, para guru juga menolak para siswa gila itu. Keoala sekolah tidak bisa berkutik karena anak-anak di dalam sekolah itu bisa melakukan apa pun untuk menghancurkan citra SMA Pratama.


“ Apa tidak ada guru yang masuk? Hei kau Jin-ji, bukankah kau ketua kelas?” Atha menghampiri Jin-ji yang sibuk dengan bukunya. Mengetahui Atha mendekat, pria itu segera menutup bukunya yang terlihat sekilas tampak kusut dan ada noda-noda kecoklatan seperti bekas tetasan darah yang sudah mengering lama disana.


Pria itu menutup bukunya dengan cepat dan menaruhnya ke dalam laci dengan santai sambil menatap Atha,” seperti yang kau lihat dan dengar, kelas ini kelas horor, apa menurutmu akan ada guru yang mau masuk dan mengajar di kelas terburuk ini!? yang isinya hanya sekumpulan sampah dan pembunuh?” ucap Jin-ji dengan nada merendahkan bahkan menatap Atha dengan tatapan kesal.


“ Cihh... apa kau siswa rajin? Kelihatannya tidak begitu,” ejek Brian yang tiduran di atas meja guru sambil membaca komik kesukaannya.


Atha hanya diam dan tak peduli, baginya itu bukan serangan yang bagus untuk menjatuhkan mental seseorang,” baiklah, mungkin pemilik kursi itu mati karena satu ruangan dengan manusia tanpa ahlak seperti kalian,” ketusnya sambil berjalan kembali dan mendekati kursi mendiang kakaknya. Tak ada yang tahu kalau kursi itu adalah luka besar bagi Atha. Dia hanya terlalu pintar menyembunyikan perasaannya.


Brakkkk......


Atha menarik kursi itu dan menghancurkan meja berisi kumpulan foto-foto horor bahkan menjatuhkan foto kakaknya sendiri untuk melihat reaksi orang-orang di kelas itu.


Semua mata melongo dan tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Atha. Gadis itu menghancurkan meja itu hingga berantakan lalu menyeret kursi dan berdiri di atas nya memegang tali yang menggantung dari tiang penyangga di atas.

__ADS_1


Gadis itu menatap mereka sambil memegang tali itu, lalu pandangan matanya menelisik seisi ruangan saat dia berdiri di posisi itu. Dia menatap ruangan itu, memegang tali dan memasukkan kepalanya ke dalam tali tambang itu.


Atha membayangkan apa yang dilihat oleh kakaknya ketika pria itu hendak bunuh diri, dia membayangkan apa yang dirasakan kakaknya, sekilas dia bisa tahu bagaiman sebuah perasaan takut menyelimuti dirinya ketika dia memasukkan kepalanya ke dalam lingkaran tali itu


Jantung Atha berdetak kencang, hubungan batin dengan sang kakak terlalu kuat sampai membuat Atha sesak nafas. Air matanya menetes dia merasakan apa yang kakaknya rasakan hari itu.


"Hei apa yang kau lakukan!!!" teriak Alex yang langsung berlari ke arah Atha yang mulai mengikat tali itu di lehernya.


Anak-anak lain juga terkejut melihat apa yang dilakukan Atha, gadis gila dan nekat yang mencoba mengikat lehernya sendiri di dalam ruangan itu.


Atha gemetar, jantungnya berdebar, air matanya mengalir seiring dengan berbunyinya Bel pulang sekolah.


" Atha turun!!" teriak Jin-ji dan yang lain dengan wajah panik.


Atha terhenyak, dadanya terasa sesak, dia semakin yakin akan apa yang dicarinya,"Kakak... tidak bunuh diri!!!!!" gumam gadis itu lalu melepaskan talinya dan turun dari kursi menyambar tasnya dan berlari keluar dari dalam ruangan itu sambil menangis sesenggukan.


Seisi kelas 11-IPS3 dibuat tercengang dengan sifat Atha, mereka semua terdiam, tak ada yang mengejar, Alex menunduk, pelan pelan dia memperbaiki meja dan kursi itu.


Kelas itu hening, rasanya sesak, ada yang mengganjal di hati mereka masing-masing. Beer dan Hana menunduk, air mata keluar dari kedua mata mereka masing-masing.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 🤗


__ADS_2