Pembalasan Psikopat

Pembalasan Psikopat
21


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir telah berlalu, kini saatnya bagi anak-anak untuk pulang dari sekolah. Sama seperti kelas 11 IPS 3, setelah kedatangan badan pengawas pendidikan, masih belum ada yang berubah dengan kelas itu. Ibu Olivia yang diunjuk menjadi penanggungjawab kelas itu masih belum masuk ke kelas mereka, dan seperti biasa, kehidupan kelas itu kosong dan hampa tanpa ada pembelajaran normal selayaknya siswa SMA biasa.


“ Jin kita jalan ke tempat biasa kan?” tanya Alex sambil merapikan kursinya dan memperbaiki kursi mendiang Kiel yang kembali disusun di dalam ruangan itu.


“ Iya, tempat biasa,” ucap Jin Ji.


“ Bagaimana dengan mereka? Apa gak diajak, kan bagian kelas kita juga?” tanya Josua sambil memasang lagi tindiknya.


Jin-ji menatap Atha dan King sejenak, apa dia yakin ingin mengajak dua orang yang baru bergabung dnegan kelas itu? Apa dia yakin kalau mereka tidak akan membuat kekacauan? Mereka juga orang baru dan belum tahu sepenuhnya cerita kelas itu.


“ Ngga dulu deh Jo, belum waktunya,” ucap Jin-ji.


Josua dan yang lainnya menganggyuk paham.


Akhirnya semua siswa pulang dari sekolah. Di parkiran, Atha berdiri di depan mobilnya sambil menghubungi Jack,” Jack aku akan terlambat pulang, kita kesana nanti malam,” ucap gadis itu.


“ baik nona, apa perlu anggota?” tanya Jack dari seberang sana.


“ tidak, katakan saja pada Kevin untuk tidak telalu banyak berbicara, kalau mau memecat langsung pecat saja tidak perlu berbasa-basi, apa dia digaji untuk mengoceh di sekolah ini?” ketus gadis itu.


“ Ehh... ba.. baik.. nona... “ ucpa Jack.


“ kau dengar itu kan Kevin, makanya kerja yang becus,” ucap Jack yang sedang bersama Kevin saat ini.


“ Kau juga kak Jack, sekali lagi kau masuk ke kelasku dengan cara seperti tadi kupotong lidahmu itu,” ucap Atha sambil memutus panggilan telepponnya secara sepihak.


Di saat yang sama King tiba dengan sepeda motornya, “ ayo...” ajak pria itu sambil memberikan helm untuuk Atha.


“ Bawa mobil saja,” ucap gadis itu.


“ aku tak bisa meninggalkan sepeda motorku disini, si Charles, om om yang kau lihat di rumah sakit kemarin akan mengamuk ,” jelas king.


“ Biar anak buahku yang bawamotormu, aku tak bisa baik benda itu, “ ucap Atha .


“ Beri aku alasan,” tegas King.

__ADS_1


“ Trauma!” jawabnya dnegan singkat, padat dan jelas.


King bagai tertampar, setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu sangat singkat dan dingin , tentu saja membuatnya merasa aneh.


“ Baiklah, kau yang bawa?” tanya King.


Atha melemparkan kunci mobil pada King dan masuk ke kursi di samping supir , duduk dengan tenang dan menunggu pria itu.


“ dasar gadis es batu,” King masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil.


“ titip kunci motormu pada satpam, kau ingin itu dibawa atau tidak?” ucap Atha.


“ ahh... iya.. lupa,” jawab pria itu sambil cengengesan.


Setelah menitip kunci, mereka melaju menuju sebuah tempat dimana seharusnya anak -anak Kelas 11 IPS 3 berkumpul. Tempat yang selalu mereka kunjungi setiap tanggal yang sama di setiap bulan.


Atha bersandar, dia menjadikan tangnnya sebagai tumpuan, menatap datar ke arah jalanan yang mereka lewati, belum lagi cuaca yang sedikit mendung membuat suasana murung.


“ Hei... ada yang ingin kutanyakan,” King memecah keheningan diantara mereka berdua.


“ tanya saja, kalau perlu dijawab akan kujawab,” ucap gadis itu tanpa menoleh.


Atha malah menoleh ke arah pria itu, merasa heran dan bingung dengan pertanyaan King, dia pikir pria itu akan menayakan hal yang lebih penting daripada keadaannya.


“ Kupikir kau akan menanykan hal yang lebih penting,” ucap Atha.


“ Tentu itu penting, keadaanmu juga hal yang penting, kau selalu terlihat sedih, ada apa denganmu, apa kau punya hubungan dengan pemilik kursi itu? Kau selalu menatapnya,” tanya King.


“ Apa boleh aku menolak untuk menjawab?” atha balik bertanya.


Gadis ini benar benar sulit dihadapi, King menatap Atha sekilas lalu kembali fokus ke arah jalan,” jawab saja bagian yang ingin kau jawab,” ucapnya.


“ ya, aku memiliki hubungan spesial dengan pemilik kursi itu, sangat spesial sampai aku tak bisa melepaskan kepergiannya, apa itu cukup untuk menjawab rasa penasaranmu?” tanya Atha.


“ Sebenarnya tidak, tapi untuk saat ini akan ku tahan karena kita hampir sampai,” ucap pria itu yang membawa Atha memasuki sebuah lingkungan Tempat pemakaman Umum yang sangat akrab bagi atha.

__ADS_1


“ Kita mau kemana?” tanya gadis itu terkejut.


“ kalau orang itu spesial bagimu, kurasa kau jelas tahu kemana kita akan pergi,” ucap King dengan nada datar sambil memutar kemudi dan melaju masuk ke dalam TPU tersebut sampai mereka berhenti di titik tertentu, salah satu bagian dengan pepohonan yang paling rindang, taman bunga yang indah di sekeliling pemakaman dan suasana yang hangat.


“ Kita keluar dan ikut aku,” ucap pria itu.


Atha dan King berjalan beriringan, gadis itu mengikuti langkah kaki King , mereka lewat dari sisi lain tempat pemakaman itu, berjalan dengan cepat hingga tiba di dalah satu pohon besar di sudut ujung lokasi itu, berdiri disana menatap ke arah sebuah makam yang dibangun sendiri di tengah taman bunga yang indah.


Terlihat anak-anak duduk lesehan disana dengan beberapa hidangan dan minuman yang sering mereka nikmati bersama. Mereka semua berkumpul di makam mendiang kakak laki-laki Atha. Ini hari peringatan ke tujuh bulan pria itu meninggal dunia.


“ a.. apa yang...” mata Atha membulat sempurna, dia tak menyangka teman teman sekelasnya ternyata mengunjungi kakak laki-lakinya. Atha menatap mereka dengan tatapan nanar, hatinya yang terluka menangis melihat betapa kakak laki-lakinya mendapatkan banyak teman baik seperti yang diceritakan oleh kakaknya selama ini.


“ Kakak... ka.. kakak...” batin gadis itu. Dia terdiam membatu, terpaku melihat apa yang sedang dilakukan teman sekelasnya disana, mereka menyanyikan lagu kesukaan mendiang kakaknya, membawakan makanan kesukaan kakaknya dan memakai warna kesukaan kakaknya, warna hitam dan emas. Tersenyum disana dan mengajak mendiang kakaknya mengobrol sekalipun Kiel tak lagi bisa menjawab mereka.


“ Jelas kan sekarang? mereka orang seperti apa, dan apa yang menyebabkan mereka seperti itu di kelas, apalagi saat kau menghancurkan meja Kiel saat pertama kali masuk sekolah itu, Kiel sangat berharga bagi mereka, mungkin lebih berharga dari yang kau rasakan,” ucap king sambil menatap Atha.


Namun gaids itu tiba-tiba meringsut ke atas tanah, dengan suara tercekat, dadanya sesak, air matanya tumpah begitu saja melihat betapa teman teman kakaknya menyayangi pria itu.


“ aku salah sangka... aku salah sangka selama ini... kupikir... kupikir kakakku meinggal karena mereka.. hiks hiks hiks... kakak.. akhhhh.... kak...kata katamu benar,.. mereka orang baik... hiks hiks hiks..... kakkk... ahhhhrhhhhh kak pulang!!!" teriak Atha menangis histeris di dekat King.


Teriakan Atha membuat King terkejut, belum lagi mendnegar kata-kata Atha,” ka.. kakak? Dia kakakmu?” mata King membulat sempurna.


“ Atha...


“ King... apa yang harus kulaukan...? kakakku yang malang meninggal begitu saja.. hiks hiks hiks... apa yang harus kulakukan!!" Atha menangis sesenggukan sambil menatap King denagn hati yang penuh luka.


Teriakan Atha sampai ke telinga Jin-ji dan yang lainnya, sontak mereka menoleh dan melihat Atha menangis di ujung sana.


“ Jin-ji bukankah mereka Atha dan King? Sedang apa mereka disana dan Atha menangis?” tanya Brian yang melihat kedua orang itu disana.


King memapah Atha, gadis itu masih menangis sambil berjalan, hatinya lagi-lagi diuji ketika kata-kata kakaknya dibuktikan dengan apa yang dia lihat saat ini.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2