
Seperti biasa, setiap pagi Viola membuatkan sarapan buat Dimas. Sehabis subuh dia pun langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan Dimas. Sementara Dimas sibuk di ruang kerjanya.
Sebelum pergi kerja, dia menyiapkan laporan dan berkas-berkas yang akan dibawa ke tempat kerjanya. Dia juga rajin melihat di internet contoh model-model surat undangan, kalender, dan lainnya yang biasa dicetak di tempat kerjanya.
"Mas... sarapan sudah siap, ayok kita sarapan sekarang." kata Viola pada Dimas yang sedang asik di depan komputer.
"Iya, bentar aku kesana." kata Dimas sambil mematikan komputernya.
Sampai di meja makan, dilihatnya sudah rapi ditata Viola. Ada sambal ikan teri dan kacang tanah. Ada juga telur dadar.
"Kenapa kok gak diambil nasinya. Gak selera ya." kata Viola melihat Dimas diam saja.
"Semalam pagi sarapan bersama ibu dan nek Sani diambilkan, ya aku pikir sarapan hari ini diambilkan juga." kata Dimas sambil menggoda Viola.
"Kalau mau diambilkan, ya sudah sini biar aku ambilkan." kata Viola sambil mengambil piring Dimas yang kosong.
Seperti biasa, selesai sarapan pagi Dimas pun berangkat kerja. Tapi tidak seperti semalam pagi saat ada ibu Dimas dan nek Sani.
Pagi ini Dimas diantar Viola sampai teras tanpa digandengnya. Mungkin Viola masih malu karena belum terbiasa. Sehingga dia berbuat mesra kalau didepan keluarga Dimas saja.
Saat Dimas mau berangkat, Dimas mengecup kening Viola. Viola sedikit malu dan Dimas hanya tersenyum melihatnya.
"Pa... kapan kita ke rumah Viola. Mama sudah kangen loh sudah sebulan lebih gak ketemu." kata mama Viola pada papanya.
"Besok saja kita kesana, biar minta antarkan Dedi." kata papa.
Jam 14.00 wib mama dan papa Viola sudah sampai rumah Viola dengan diantar pak Dedi yang merupakan sepupu papa.
Viola sangat senang dengan kedatangan mama dan papanya. Apalagi Viola biasa manja pada mama nya.
"Mama kok sudah lama gak kemari. Viola kan kangen." kata Viola sambil memeluk mama nya.
"Kan kamu sudah ada Dimas yang selalu nemani kamu." kata mama nya sambil duduk di ruang tengah.
"Tapi kan beda ma." kata Viola lagi.
"Bedanya dimana. Ya lebih enak sekarang. Dulu kalau hujan deras beserta petir, kamu minta ditemani tidur. Sekarang hujan deras petir, sudah ada yang temani tidur. Tidak takut lagi di kamar sendiri." kata mama sambil tersenyum melihat Viola sedikit malu.
Dia malu pada Dimas, sudah besar masih ditemani tidur.
Setelah cukup lama ngobrol, mama dan papa pun masuk kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Keesokan harinya.
"Mama, papa habis juhur mau dijemput pak Dedi lagi." kata mama pada Viola dan Dimas.
"Kok cepat kali sih ma pulangnya. Besok kenapa pulangnya. Viola kan masih kangen." kata Viola dengan manja.
"Kalau mama papa lama-lama disini, kasihan Dimas gak ada teman ngobrolnya. Kalau sudah ada mama, papa, Dimas gak kamu perdulikan. Kamu ngobrolnya sama mama papa saja." kata papa.
"Gak apa-apa kok pa, yang penting Viola senang." kata Dimas pada papa mertuanya.
"Kalian sudah belanja perlengkapan baby? " kata mama pada Viola.
"Kan masih lama kelahiran ma, masih dua bulang lagi. Ngapain cepat kali dibeli." jawab Viola pada mamanya.
"Jangan bilang seperti itu. Kalau lahirnya prematur, tujuh bulan gimana. Makanya besok segera kalian beli perlengkapan baby. Untuk jaga-jaga manatau cepat lahir. Tapi mudah-mudahan lahirnya cukup umur." kata mama pada Dimas dan Viola.
"Baiklah ma, biar besok kami beli." kata Dimas pada mama mertuanya.
Keesokan harinya saat Dimas akan berangkat kerja, Viola pun minta izin pada Dimas kalau siang harinya dia akan ke kota berbelanja perlengkapan baby.
Tentu Dimas tidak setuju mendengarnya.
"Biar nanti aku yang antar. Kan gak mungkin kamu belanja sendiri. Karena perlengkapan yang mau dibeli kan cukup banyak. Kamu jumpai saja aku di percetakaan. Nanti dari situ kita pergi bersama." kata Dimas pada Viola.
"Kira-kira jam sebelas saja ya, jam segitu aku gak begitu repot." jawab Dimas pada Viola.
Jam setengah sebelas Viola sudah siap berdandan di kamarnya. Kemudian dia pun memesan taxi online.
Tidak berapa lama taxi online yang dipesannya pun datang.
"Bi Ijah... Viola pergi dulu ya." kata Viola pamit pada pembantunya.
"Iya non." kata bi Ijah dari dapur.
Bi Ijah adalah pembantu mama Viola sejak Viola masih kecil. Makanya bi Ijah sudah terbiasa memanggil non pada Viola.
Didalam taxi, Viola menghubungi Dimas mau memberitau kalau Viola sudah otw. Tetapi telepon Viola tidak dijawab. Sampai tiga kali Viola menghubungi Dimas, tetapi gak diangkat juga. Kenapa teleponku gak diangkat? Oh...mungkin Dimas lagi repot, batin Viola dalam hati.
Tidak lama kemudian Viola pun sampai di percetakan.
Setelah sampai, Viola turun dari taxi dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Mau ketemu Dimas Vi?" kata mas Bambang.
Mas Bambang merupakan anggota papa yang bekerja cukup lama dengan papa.
"Iya mas, Dimasnya ada kan." kata Viola pada mas Bambang.
"Oh ada tadi. Masuk saja langsung ke ruangannya Vi." kata mas Bambang lagi.
Viola pun segera berjalan menuju ruang kerja Dimas.
Di dalam ruang kerja Dimas, Dimas sedang memperlihatkan contoh undangan pernikahan dengan model yang terbaru.
"Coba kamu lihat ini Rin, inilah contoh undangan pernikahan yang sedang laris saat ini." kata Dimas sambil memberikan beberapa gambar yang teleh dibrowsingnya dari internet.
"Yang mana pak." kata Rina sambil berjalan mendekati Dimas yang sedang duduk di meja kerjanya.
Tanpa mereka sadari, saat memperlihatkan contoh undangan itu, Dimas dekat sekali dengan Rina. Dimas duduk di kursi, sedangkan Rina disampingnya berdiri sambil melihat contoh undangan tersebut.
Tiba-tiba Viola masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu
Spontan Dimas dan Rina pun terkejut. Dengan terburu-buru Rina pun keluar dari ruang kerja Dimas.
"Hai Vi, kok gak ngasi kabar kalau sudah sampai disini." kata Dimas sambil berjalan mendekati Viola yang masih berdiri dekat pintu.
"Pantas telepon aku dari tadi gak diangkat. Rupanya sedang berduan dengan wanita cantik." jawab Viola dengan sedikit ketus.
"Oh itu..... itu pegawai baru disini. Aku tadi lagi memperlihatkan contoh undangan model terbaru yang sedang laris saat ini." kata Dimas sambil merangkul pundak Viola untuk duduk.
"Memberikan contoh gambar, kan tidak harus berdekatan duduknya." kata Viola dengan sedikit kesal.
Dimas pun segera mendekati Viola dan membisikkan di telinga Viola "cemburu ya," kata Dimas sambil tersenyum.
Wajah Viola langsung merah padam karena merasa malu.
"Siapa yang cemburu. Kamu mau dekat dengan siapa pun aku gak peduli." jawab Viola dengan wajah cemberut.
"Yang aku kesalkan, kenapa telepoku gak diangkat." kata Viola lagi.
Kenapa hatiku sakit saat melihat Dimas dekat dengan perempuan lain. Apakah aku sudah mulai mencintainya, batin Viola dalam hati.
"Sudah Vi, jangan marah-marah. Kasian baby yang ada di perut kamu itu. Aku minta maaf ya, sebab hp ku lowbet jadi gak bisa angkat telepon kamu." kata Dimas.
__ADS_1
Kemudian Dimas menggandeng tangan Viola keluar gedung percetakan. Sesampai di depan gerbang, mereka pun mencari taxi menuju toko perlengkapan baby.