Penantian Dimas

Penantian Dimas
Dimas Bingung


__ADS_3

Sesampainya di rumah, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Pelan-pelan Dimas membuka pintu kamar agar Viola tidak terbangun.


Dilihatnya Viola sudah tertidur nyenyak. Kemudian Dimas keluar kamar lagi dan duduk di ruang tengah sambil menenangkan pikiran.


Dihidupkannya TV dan dia pun menonton TV. Kebetulan acara di TV film barat tentang pembunuhan. Biasanya Dimas paling suka nonton acara seperti itu. Tetapi karena sedang ada masalah, dia tidak bisa fokus menonton.


Kemudian dia ke dapur untuk mengambil air putih. Sampai di dapur, diambilnya air dari kulkas dan diminumnya. Dia pun duduk di meja makan.


Dilihatnya di meja makan ada toples berisi keripik pisang, kemudian dimakannya keripik pisang tersebut.


Setelah hampir lima belas menit di dapur, akhirnya Dimas kembali masuk ke kamar lagi.


Kemudian dia pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena keringat seharian bekerja.


Selesai mandi, dia pun keluar kamar mandi dan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti. Kemudian Dimas memakai baju ganti. Selesai memakai baju, Dimas pun menjemur handuknya di jemuran handuk yang ada di kamar. Tidak berapa lama kemudian, Viola pun terbangun.


"Sudah lama kamu pulang Mas?" tanya Viola saat terbangun dari tidurnya.


"Belum lama kali kok." jawab Dimas sambil mendekati istrinya.


Viola masih berbaring di tempat tidurnya, kemudian Dimas menghampiri Viola dan mengecup keningnya.


"Maafkan aku ya sayang, tadi mobilnya tiba-tiba mogok, terus aku bawa ke bengkel. Lumayan lama juga aku nunggu mobil dibetulin, makanya aku agak lama pulangnya." kata Dimas bohong.


"Kenapa kamu gak memberi kabar, aku hubungi hp kamu gak aktf. Aku khawatir sekali loh Mas. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu." kata Viola.


"Aku gak apa-apa kok sayang. Hp ku lowbet jadi gak bisa angkat telepon kamu." kata Dimas sambil mengelus-ngelus perut Viola.


"Kamu sudah makan Mas." tanya Viola lagi.


"Sudah, tadi makan di kampus." jawab Dimas bohong lagi. Padahal dia belum makan, karena pikirannya gak tenang gak selera makan.


Kemudian Dimas dan Viola pun tidur. Tetapi Dimas tidak dapat tidur nyenyak, pikirannya tidak tenang memikirkan kejadian barusan.


Keesokan Hari.

__ADS_1


Seperti biasa, pagi-pagi Dimas sudah bangun dan bermain dengan Nauval. Sedangkan Viola sibuk membuatkan sarapan untuk Dimas yang dibantu bi Ijah.


Sejak Viola dan Dimas pindah ke rumah baru mereka, bi Ijah tinggal bersama mereka. Apalagi sebentar lagi Viola akan melahirkan.


Selesai sarapan, tidak berapa lama Dimas pun berangkat kerja. Kalau mau berangkat kerja, bi Ijah langsung membawa Nauval ke belakang. Karena kalau sampai tau ayahnya pergi, dia akan menangis minta ikut.


Kemudian Dimas pun pamit pada Viola untuk pergi kerja.


Tidak berapa lama Dimas pun sampai di percetakan.


Seperti biasa, ketika Dimas sampai di percetaka, Nita juga sudah sampai. Kelihatan Nita pagi ini sangat ceria. Sedangkan Dimas hanya murung saja.


"Kenapa kamu mas Dimas... masih pagi kok wajahnya sudah kusut." sapa Nita pada Dimas.


"Aku hanya sedikit capek. Banyak tugas kampus yang harus aku kerjakan." jawab Dimas sambil berjalan masuk ruang kerjanya.


Dimas merasa heran melihat Nita yang ceria seperti tidak terjadi apa-apa tadi malam. Kenapa Nita kok masih bisa ceria seperti tadi, padahal terjadi sesuatu pada dirinya, batin Dimas dalam hati.


Sedangkan Dimas, wajahnya murung memikirkan bakalan apa yang akan terjadi.


Seandainya semalam tidak kuangkat telepon Nita, mungkin tidak seperti ini kejadiannya. Gimana kalau Nita sampai hamil ya, batin Dimas lagi.


Ternyata mas Bambang memperhatikan kelakuan Dimas sejak pagi tadi. Dimas dari pagi kelihatan murung tidak seperti biasa.


Tepat di hari Sabtu saat jam makan siang, mas Bambang mengajak Dimas makan siang di kantin. Mas Bambang sengaja mengajak ngobrol Dimas. Dari situ mas Bambang sedikit curiga. Sepertinya, ada yang disembunyikan Dimas.


"Kok tumben merokok Mas, gak biasanya kamu merokok." kata mas Bambang saat selesai makan siang dilihatnya Dimas merokok.


"Lagi suntuk mas Bambang, banyak tugas dari kampus." kata Dimas berbohong.


"Tugas kampus atau masalah yang lain." mas Bambang ngomong sambil becanda.


"Iya loh mas Bambang." jawab Dimas sambil tersenyum.


"Kalau mas perhatikan, seperti ada yang kamu sembunyikan Mas. Dari raut wajah kamu, mas bisa lihat ada sesuatu yang kamu rahasiakan yang menyangkut masalah yang sangat pribadi." desak mas Bambang.

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum, tetapi pandangannya kosong.


"Kalau ada masalah yang sangat pribadi yang tidak dapat kamu pecahkan sendiri, mas siap kok mendengarnya. Mudah-mudahan mas bisa memberikan jalan keluarnya." kata mas Bambang lagi.


"Iya mas terima kasih." jawab Dimas sambil tersenyum.


Sebenarnya Dimas masih bingung. Gimana kalau aku curhat pada mas Bambang saja ya. Mana tau mas Bambang bisa memberi solusi. Karena aku sudah gak sanggup memikirkan sendiri, batin Dimas.


Kemudian mereka pun keluar kantin dan menuju ke ruang kerja. Saat akan pisah, Dimas sempat berkata pada mas Bambang.


"Mas Bambang, nanti setelah pulang kerja, kita ngobrol ya. Ada yang mau saya bicarakan." kata Dimas pada mas Bambang.


"Tentang apa Mas, pekerjaan, rumah tangga atau... ." tanya mas Bambang.


"Adalah..... ." jawab Dimas sambil berjalan pergi.


Mas Bambang jadi penasaran. Apa yang akan dibicarakan Dimas pada aku ya. Apakah ada hubungannya dengan Nita, karena beberapa hari ini Dimas terlihat murung dan cuek, batin mas Bambang dalam hati.


Begitu jam kerja selesai, Dimas segera menjumpai mas Bambang. Tiba-tiba Nita muncul di depan Dimas.


"Mas Dimas, bisa aku numpang? Aku gak bawa sepeda motor. Kebetulan tadi pagi saat mau berangkat kerja, hujan makanya aku naik becak." kata Nita pada Dimas.


"Aku mau pergi dengan mas Bambang. Kamu naik becak saja." jawab Dimas sambil berlalu pergi.


Nita kemudian pergi dengan wajah cemberut. Dia kecewa karena Dimas semakin cuek padanya.


Kemudian saat Dimas sampai depan percetakan, diteleponnya mas Bambang memberitau kalau dirinya sudah menunggu di depan gedung.


"Sudah lama Mas....?" tanya mas Bambang saat ketemu Dimas.


"Barusan kok mas Bambang. Kita ngobrol dimana ya mas Bambang." tanya Dimas.


"Gimana kalau kita ngobrol di cafe mbak Wiwin?" tanya mas Bambang pada Dimas.


"Disitu juga bisa." jawab Dimas.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua pun pergi ke cafe mbak Wiwin dengan mengendarain kendaraannya masing-masing.


Dalam perjalanan kesana, mas Bambang bertanya-tanya dalam hati. Ada masalah apa sebenarnya dengan Dimas. Seberapa besar masalahnya sehingga harus mengajak aku untuk bertukar pikiran. Apakah ini ada hubungannya dengan Nita?


__ADS_2