
Belakangan ini sikap Dimas pada Nita berubah drastis. Kalau Nita menanyakan tentang pekerjaan, Dimas jawabnya yang penting-penting saja.
Kalau Nita akan masuk ke ruang kerja Dimas, maka Dimas pun dengan lembut menolaknya. Segala macam alasan dibuat Dimas supaya Nita tidak masuk ke ruang kerjanya.
Seperti biasa, Nita selalu masuk ruang kerja Dimas.
Nita : "Mas Dimas, ada yang loh yang mau aku tanyakan."
Dimas : "Nanya apa Nit, maaf ya aku lagi sibuk pula loh. Kalau ada yang kurang jelas, tanya pada mas Bambang saja ya."
Nita : "Mas Dimas lagi sibuk ngerjain apa, biar aku bantuin."
Dimas : "Aku mau ujian semester. Jadi banyak tugas dan hapalan. Kan gak mungkin aku minta tolong kamu menghapalkan pelajaran yang mau diuji." Sambil becanda Dimas ngomong pada Nita agar Nita tidak tersinggung.
Nita : "Oh gitu... ya sudah, aku permisi dulu ya mas Dimas." Nita pun segera keluar dari ruang kerja Dimas.
Nita merasa heran juga, biasa Dimas gak pernah sibuk seperti ini. Kalau pun sibuk, biasanya selalu disempatkan waktunya untuk menjelaskan pekerjaan yang kurang dimengerti, tetapi kok hari ini berubah. Ada apa ya, batin Nita dalam hati.
Saat jam makan siang, Nita juga masih berusaha mendekati Dimas.
"Mas Dimas, yok kita ke kantin." tanya Nita pada Dimas.
"Duluan saja Nit, lagi tanggung ini ngerjain tugas kuliah." jawab Dimas
"Kalau gak biar aku tunggu ya." kata Nita lagi.
"Gak usah, kamu duluan saja." jawab Dimas sambil pura-pura sibuk.
Akhirnya dengan sedikit kecewa, Nita pun pergi sendiri ke kantin.
Mas Bambang yang saat itu melihatnya hanya menggeleng-geleng kepala.
Tepat jam enam sore, jadwal kuliahpun selesai. Segera Dimas bersiap-siap akan pulang.
Tiba-tiba handpondnya berdering. Dilihatnya panggilan dari Nita. Buru-buru handpondnya dimasukkan ke saku kemejanya dan tidak diangkatnya.
Dia pun segera menyetir mobilnya menuju jalan pulang. Handpondnya berbunyi lagi, tetapi dibiarkan saja tanpa diangkatnya.
__ADS_1
Hampir sepuluh kali handpondnya berbunyi, kemudian dia berpikir. Kalau sudah bolak balik berdering, itu artinya sangat penting.
Dengan sedikit ragu, akhirnya diangkat juga.
Dimas : "Assalamualakum, ada apa Nit."
Nita : "Mas... tolonglah kemari, mantan suamiku datang. Dia marah-marah, semua barang di kontrakan berserakan dibuatnya. Aku takut mas." kata Nita sambil menangis dalam teleponnya.
Dimas : "Coba minta tolong sama tetangga di dekat situ."
Nita : "Gak ada orang di dekat sini mas. Semuanya entah pada kemana, cepat kemari ya mas Dimas, aku takut." Nita semakin kenceng nangisnya.
Mendengarkan Nita menangis seperti itu, Dimas pun gak tega mendengarnya. Masalah Viola, nanti biar aku jelaskan. Pasti dia akan mengerti, batin Dimas dalam hati.
Dimas pun langsung menuju ke rumah Nita. Saat melewati gang ke rumah Nita, dilihatnya banyak orang lalu lalang. Kenapa Nita gak teriak minta tolong ya, padahal di dekat rumahnya ramai orang, batin Dimas dalam hati.
Sampai di depan rumah Nita, dilihatnya pintu rumahnya tertutup. Dimas pun mengetuk pintu rumahnya. Karena tidak ada jawaban, Dimas pun membuka pintu dan langsung masuk. Kebetulan pintunya tidak terkunci.
Dilihatnya di ruang tamu hanya ada ambal dan TV. Dimas kemudian memanggil Nita lagi, tetapi tidak ada sahutan. Yang terdengar seperti ada orang menangis di kamar.
Begitu pintu kamar dibuka Dimas, Nita langsung berlari memeluk Dimas sambil menangis. Dimas dengan cepat melepaskan pelukannya.
Dimas : "Ada apa sebenarnya Nit?"
Nita : "Mantan suamiku datang mas, dia ngajak aku rujuk. Aku gak mau, terus dia marah. Semua barang-barang di rumah ini dicampakkan." Sambil menangis Nita menjelaskan.
Dimas : "Tapi kamu gak diapa-apa kan?"
Nita : "Memang sih gak, tapi aku takut mas."
Dimas : "Kenapa kamu gak memanggil tetangga di dekat sini?"
Nita : "Saat kejadian tadi, sunyi mas, gak ada orang yang lewat dekat sini."
Dimas pun percaya dengan omongan Nita. Kemudian Dimas keluar kamar Nita dan berjalan menuju ruang tamu.
"Sekarang kita lapor pak RT Nit, biar mantan suami kamu gak berani datang lagi." kata Dimas sambil duduk di ambal diruang tamu.
__ADS_1
"Gak usah dulu lah mas, aku mau menenangkan diri dulu. Biar besok aku yang melapor sendiri ke pak RT." jawab Nita meyakinkan Dimas.
Kemudian Nita pergi ke dapur membuatkan minum untuk Dimas yang sudah dicampur dengan obat tidur.
Saat Nita tiba di ruang tamu, dilihat Dimas sudah berdiri akan segera pulang.
"Jangan pulang dulu mas Dimas, ini aku buatkan minum." Nita segera memberikan minum tersebut pada Dimas.
"Aduh Nit, tak usah repot-repot. Aku mau cepat pulang. Kasihan Viola sudah nunggu dari tadi di rumah." jawab Dimas.
"Minum sajalah dulu." kata Nita sambil memberikan minum itu pada Dimas.
Karena Nita memaksa Dimas untuk meminum air yang telah dibawanya dari dapur, akhirnya Dimas pun meminum air tersebut.
Setelah tiga menit air itu diminum Dimas, Dimas pun mulai merasa pusing dan mengantuk.
Akhirnya dia pun tertidur di ruang tamu. Nita kemudian mengunci pintu rumahnya. Setelah itu dia membuka kemeja dan celana panjang Dimas. Yang ada hanya pakaian dalam saja.
Semuanya sudah direncanakan Nita. Seolah-olah mereka baru melakukan hal yang tidak pantas mereka lakukan.
Lebih kurang setengah jam, Dimas pun terbangun dari tidurnya. Dilihat disampingnya Nita sedang menangis dan hanya menggunakan pakaian dalam saja. Spontan Dimas pun sangat terkejut.
"Mas... kita telah melakukan dosa." kata Nita sambil menangis.
"Apa....?" Dimas seakan tidak percaya dengan apa yang baru dialaminya.
"Kalau sampai aku hamil, kamu harus bertanggung jawab mas." kata Nita lagi.
Dimas hanya terdiam. Pikirannya semakin kacau mendengar omongan Nita. Dia segera memakai kemeja dan celana panjangnya.
Kemudian dia pun segera pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, hatinya tidak tenang. Sebenarnya apa yang sudah aku lalukan, batin Dimas dalam hati.
Dia pun mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, supaya cepat sampai ke rumah. Dia merasa sangat berdosa. Berdosa pada diri sendiri karena telah melakukan zina, berdosa pada Viola karena telah menghianati cintanya.
Sepanjang jalan, pikirannya tidak tenang. Bagaimana kalau sampai Viola tau hal ini? Pasti dia akan marah besar. Pasti dia akan minta cerai. Aku akan kehilangan istri yang sangat kucintai.
Aku juga akan kehilangan Nauval yang telah aku anggap anakku sendiri. Aku juga akan kehilangan calon bayiku. Ya Allah... aku sangat menyesal, bantulah aku dalam menghadapi masalah ini semua, batin Dimas dalam hati.
__ADS_1