
Sebelum meninggal dunia papa Viola telah menulis surat wasiat yang isinya bahwa rumah yang ditempati papa dan mama nya sekarang milik tante Irna. Tante Irna adalah adik papa yang sekarang tinggal di Jerman.
Kemudian sawah yang ada di kampung juga milik tante Irna. Sedangkan ladang yang di kampung sudah diwakafkan papa Viola, setelah kedua orang tuanya meninggal. Itupun sesuai permintaaan orang tuanya sebelum meninggal dunia.
Perusahaan percetakan adalah milik papa Viola. Perusahaan percetakan itu diwariskan papa nya pada Viola anak satu-satunya. Yang mengelola usaha itu diserahkan pada Dimas, sedangkan Viola hanya mengawasi saja.
Rumah yang ditempati Viola sekarang adalah rumah papa mama nya. Jika papa mama nya telah meninggal dunia, maka rumah itu akan jatuh ke tangan Viola.
Itulah isi surat wasiat papa yang ditunjukkan mama pada Viola dan Dimas.
Sudah seminggu Viola dan Dimas tinggal di rumah mama sejak meninggal papa nya.
Hari ini mereka pulang ke rumahnya.
Setelah Nauval tidur, Dimas dan Viola pun ke ruang tengah untuk menonton TV.
"Vi, kita harus mencari rumah untuk tempat tinggal kita. Biar mama kembali lagi ke rumah ini." Dimas minta pendapat pada istrinya.
"Kenapa kita harus mencari rumah baru, apa gak sebaiknya kita tinggal bersama mama disini, lagian mama kan sekarang sudah sendiri." Viola bertahan tidak mau pindah.
"Aku mau mandiri Vi. Aku mau membeli rumah kita sendiri dari hasil keringatku sendiri, dan aku yakin pasti mama setuju." jawab Dimas.
"Apa kamu bisa membelikan aku rumah sebagus ini. Besar dan mewah." tanya Viola pada Dimas.
"Aku akan membeli rumah sebatas kemampuanku. Saat ini aku hanya bisa membeli rumah yang kecil dulu. Kalau nanti ada rezeki, kita beli yang lebih besar lagi ya sayang." kata Dimas sambil membujuk Viola.
"Pokoknya aku mau rumah yang besar dan sebagus ini." Viola pun pergi masuk ke kamar.
Kemudian Dimas pun mengikuti Viola dari belakang. Sampai di tempat tidur, Dimas pun mulai membujuk Viola.
"Vi... kamu kan tau gajiku berapa. Aku juga kerja di percetakan belum lama. Berarti uangku masih sedikit, jadi untuk saat ini aku sanggupnya beli rumah yang kecil saja dulu. Yang penting kita tenang. Dari pada beli rumah yang besar dan mahal, tetapi uangnya minjam. Terakhir kita gak tenang karena dikejar-kejar utang." kata Dimas dengan lembut.
__ADS_1
Akhirnya Viola menyetujui apa kata Dimas. Setelah dipikir-pikir, ternyata benar juga apa kata Dimas.
"Maafkan aku ya Mas, aku terlalu memaksakan kehendakku." kata Viola sambil menggenggam tangan Dimas.
"Gak apa-apa Vi... aku yang minta maaf sama kamu karena belum bisa membelikan kamu rumah yang besar dan bagus." jawab Dimas sambil tersenyum.
"Yang terpenting sekarang ini, kamu sayang sama aku. Itu lebih penting dari segalanya." kata Viola lagi.
"Dari dulu sampai sekarang aku sayang dan cinta sama kamu. Tapi kamu yang gak pernah cinta sama aku." jawab Dimas sambil mengejek Viola.
Viola hanya tersenyum malu mendengar omongan Dimas.
Keesokan Hari.
Seperti biasa Viola menyiapkan sarapan untuk Dimas. Selesai memasak, Viola pun segera memanggil Dimas. Kelihatan Dimas sedang asyik melihat hpnya.
"Mas... sarapan yok. Kamu lagi lihat apa?" tanya Viola pada Dimas.
"Ini aku lagi lihat rumah yang mau dijual. Nanti kita lihat kesana ya." ajak Dimas pada Viola.
Kemudian mereka melihat-lihat dalam rumahnya, dan juga luar rumahnya. Viola tidak ada koment apa-apa. Dimas jadi bingung lihatnya.
Sebenarnya Viola setuju gak ya dengan rumah yang baru kami lihat, batin Dimas dalam hati.
Setelah sampai rumah, Dimas pun segera menanyain Viola tentang rumah yang baru dilihatnya barusan.
"Gimana rumah tadi Vi, cocokkan?" tanya Dimas setelah mereka tiba di rumahnya.
"Rumahnya kecil, halamannya juga sempit. Aku kurang setuju dengan rumah itu." jawab Viola.
"Kan sudah kubilang dari awal, kita membeli rumah sesuai kemampuan kita. Memang sih banyak rumah yang cantik, besar, tapi uang kita gak cukup untuk membelinya." Dimas menjelaskan sambil sedikit emosi.
__ADS_1
"Aku juga sudah bilang sama kamu. Kalau kita belum sanggup beli rumah yang besar, lebih baik kita tinggal bersama mama saja." nada Viola lebih tinggi lagi.
Kemudian Viola berjalan ke belakang meninggalkan Dimas di ruang tengah. Baru beberapa langkah, tangan Viola ditarik Dimas.
"Aku belum selesai ngomong. Jangan pergi dulu. Kita selesaikan dulu masalah ini." nada Dimas agak lebih tinggi.
Viola pun segera duduk kembali dan matanya melihat TV, wajahnya cemberut.
"Sekarang begini saja. Kalau kamu gak mau rumah yang kecil, itu artinya kamu gak mau hidup dengan aku. Yang namanya istri, harus ikut suami baik susah maupun senang. Rumah besar pun kalau namanya numpang untuk apa. Kan lebih bagus rumah kecil tapi rumah sendiri. Kita sudah punya keluarga sendiri. Aku, kamu dan Nauval." Dimas menjelaskan panjang lebar pada Viola.
Keesokan harinya, mama Viola datang ke rumah mereka karena kangen sama Nauval. Viola pun menceritakan keinginan Dimas pada mamanya. Kemudian mama nya menasehatinya.
Setelah mama Viola menasehati anaknya, akhirnya Viola pun mau pindah di rumah yang dibeli Dimas walaupun rumah itu kecil.
"Mama gak ada maksud mengusir kalian dari rumah ini. Mama lebih senang kalian tinggal disini. Tapi kalau Dimas mau lebih mandiri, ya bagus berarti dia tanggung jawab tuk anak istrinya. Dan seorang istri mengikut suami kemana pergi. Susah senang suami, susah senang istri juga. Jadi keduanya harus ikut merasakan." itulah nasehat mama pada Viola.
Seminggu kemudian, Dimas dan Viola pun pindah ke rumah baru.
Dimas sibuk memindahkan perabot rumah, sedangkan Viola mengatur dimana perabot ditempatkan. Sore hari baru selesai dibereskan semuanya.
Sedangkan bi Ijah sibuk mengurus Nauval. Bi Ijah akan tinggal bersama Dimas dan Viola karena Viola nantinya akan sering ke percetakan sesuai isi surat wasiat papa.
"Capek sayang." kata Dimas karena melihat Viola terduduk lemas di teras rumahnya.
"Capek sedikit Mas." jawab Viola sambil minum air putih.
"Sudah, ntar malam aku kusuki ya." Dimas menarik tangan Viola agar segera mandi.
"Apa an sih, narik-narik tangan orang." kata Viola mengikuti Dimas masuk kamar.
"Ayok kita mandi." Dimas mengajak masuk kamar mandi.
__ADS_1
Kemudian Viola pun masuk kamar mandi dan mandi. Setelah selesai gantian Dimas pula yang mandi.
Selesai magrib Dimas dan Viola pun duduk di teras rumahnya melihat orang lalu lalang. Ternyata di kompleks itu orangnya rama-rama. Mereka saling tegur sapa pada setiap orang yang dilihatnya. Viola sangat bersyukur, walaupun rumahnya kecil tetapi lingkungan disitu nyaman dan jauh dari keramaian. Orang yang lalu lalang hanya orang yang tinggal didekat situ.