
Sesampainya Dimas di percetakan, Nita sudah berada di ruangannya. Begitu melihat Dimas datang, Nita pun segera menjumpai Dimas dan menanyakan kabar tentang Viola istrinya.
"Eh.... mas Dimas sudah datang. Gimana kabar mbak Viola mas. Sudah sehatkan?" tanya Nita pura-pura rama.
"Kamu pasti lebih tau kabar istri aku dari pada aku sendiri sebagai suaminya. Jadi tidak perlu kamu basa basi nanya keadaan Viola. Semuanya sudah basi!" jawab Dimas sambil meninggalkan Nita.
"Apa maksud perkataan mas Dimas barusan. Aku tidak mengerti mas," tanya Nita lagi.
"Jangan pura-pura **** lah Nit. Kamu kan sudah merencanakan semuanya. Sengaja kamu kirim foto aku tidur bersamamu ke wa Viola. Supaya Viola percaya kalau aku punya hubungan khusus dengan kamu. Padahal foto yang kamu kirim itu adalah foto yang sengaja kamu buat. Kamu sengaja menjebak aku kan!!!" tanya Dimas emosi.
"Mas Dimas jangan menuduh aku seperti itu. Mas jangan membalikkan fakta. Mas sudah meniduri aku, sekarang mas bilang aku yang menjebak mas. Kalau mas tidak mau bertanggung jawab, tidak perlu mas katakan seperti itu. Itu namanya fitnah!" ucap Nita dengan sangat berani.
Mas Bambang yang baru saja sampai di percetakan, mendengar pembicaraan Dimas dan Nita segera turun tangan.
"Sudah, sudah.... jangan ribut disini. Tidak baik didengar rekan kerja yang lain. Nanti kita selesaikan baik-baik," ucap mas Bambang menengahi.
Setelah selesai istirahat makan siang, Dimas dan Nita dipanggil mas Bambang untuk ketemu di ruang kerja mas Rizky.
"Begini ya Nita.... coba sekarang kamu berbicara dengan jujur. Foto yang kamu kirim ke wa Viola, itu foto yang sengaja kamu buatkan? Dimas tidak pernah meniduri kamu kan?" tanya mas Rizky pada Nita.
"Mas Dimas memang benar meniduri saya pak," jawab Nita percaya diri.
"Bukti foto-foto itu tidak kuat Nit. Sekarang zaman sudah canggih. Banyak foto editan yang hampir mirip dengan aslinya," ucap pak Rizky lagi.
"Kalau kamu menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat, kamu bisa dituntut loh," ucap mas Bambang.
"Saya ada buktinya pak, jadi gimana saya mau dituntut?" jawab Nita masih mengelak juga.
"Kalau kami punya bukti yang lebih akurat lagi bagaimana? Misalnya kami punya bukti yang menyatakan kalau Dimas sengaja kamu jebak." ucap pak Rizky lagi.
Nita terdiam sejenak. Apakah mungkin pak Rizky, mas Bambang dan Dimas punya bukti yang kuat. Sementara aku merencanakan dan bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain, batin Nita dalam hati.
__ADS_1
"Kalau bapak punya bukti yang kuat lagi ya tidak apa-apa. Bapak tunjukkan saja. Mungkin juga bukti yang bapak punya hanya editan," jawab Nita menantang.
"Coba mas Bambang tunjukkan bukti yang sudah mas Bambang dapatkan," tanya pak Rizky pada mas Bambang.
Kemudian mas Bambang mencolokan plesdis di laptopnya. Betapa terkejutnya Nita mendengar isi percakapan itu. Sedangkan Dimas hanya tersenyum puas menyaksikan semuanya. Tidak disangkanya yang selama ini Nita baik dan rama padanya, ternyata mempunyai maksud jahat terhadap diri dan keluarganya.
"Dari mana mas dapat isi percakapan ini?" tanya Nita dengan wajah merah padam.
"Dari mana kami dapat bukti ini, kamu tidak perlu tau. Yang terpenting sekarang, kamu akui saja semuanya Nit," ucap mas Bambang lagi.
"Maafkan saya mas....," ucap Nita sambil keluar ruang kerja pak Rizky. Dia buru-buru keluar karena malu. Semua kejahatannya sudah terbongkar.
Kemudian Nita masuk ruang kerjanya dan mengambil tas di meja kerjanya. Anggi yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut. Nita keluar dengan buru-buru dan saat ditanya Anggi dia hanya diam saja tidak menjawab.
Nita pergi keluar untuk menjumpai Betty. Pasti ini semua ada hubungannya dengan Betty, batin Nita dalam hati.
"Betty.... ternyata kamu menusuk aku dari belakang ya," ucap Nita dengan sangat marah.
"Kamu kan yang sudah memberikan isi percakapan kita pada mas Bambang? Sementara aku hanya cerita sama kamu saja. Tapi kenapa mereka semua tau!" tanya Nita pada Betty.
"Kenapa kamu menuduh aku. Kan bisa saja saat kita ngobrol ada teman dekat Dimas, ataupun teman dekat mas Bambang. Bisa saja mereka yang merekamnya karena kita kan ngobrolnya di cafe," ucap Betty menyakinkan.
"Tapi aku yakin, kalau ini pasti kerjaan kamu," ucap Nita lagi.
"Nit.... yang namanya bangkai disimpan kayakmanapun pasti akan tercium juga baunya. Makanya jangan pernah menyimpan bangkai," jawab Betty lagi.
Nita hanya terdiam dan mulai menyadarinya. Dia sangat malu pada Dimas, mas Bambang dan pak Rizky yang semuanya sudah tau akan perbuatannya.
"Aku malu Bet.... rasanya tidak sanggup aku untuk balik ke percetakan itu lagi. Semuanya sudah tau," ucap Nita sedih.
"Lebih baik kamu minta maaf pada Dimas. Kemudian kembali pada suamimu. Kasihan anakmu. Suamimu juga masih mengharapkan kepulanganmu. Kamu bisa nikah lagi dan mulai dari nol lagi. Aku akan siap membantu kamu kalau niatnya baik," kata Betty membujuk Nita.
__ADS_1
Sesampainya Dimas di rumah, dilihatnya Viola lagi di kamar menidurkan si kecil. Sedangkan Nauval tidak kelihatan.
"Nauval mana Vi?" tanya Dimas pada Viola.
"Lagi tidur bersama mama di kamar sebelah," ucap Viola datar.
"Vi..... coba kamu dengarkan ini," kata Dimas sambil memperdengarkan isi percakapan Nita dengan Betty temannya.
Setelah Viola selesai mendengar semuanya, dia tertunduk malu pada Dimas. Dia merasa bersalah karena telah menuduh Dimas dan telah cuek pada Dimas.
"Dari mana kamu dapat bukti semua ini Mas?" tanya Viola hampir tidak percaya.
"Kamu tidak perlu tau dari mana aku dapat bukti ini. Aku berusaha mencari bukti ini untuk menunjukkan pada dirimu kalau aku tidak bersalah. Semua ini kulakukan karena untuk mendapatkan cintamu lagi Vi.... Aku sangat menyesal Vi.... Penantianku untuk mendapatkan cintamu akan sia-sia kalau bukti ini tidak aku dapatkan," jawab Dimas sambil mendekati Viola.
"Maafkan aku Mas. Aku telah menuduhmu. Aku tidak percaya padamu. Padahal kamu dengan tulus mencintai aku dan Nauval. Aku sangat kecewa ketika cintaku kamu hianati. Aku.... " Viola tidak dapat meneruskan kata-katanya karena Dimas meletakkan jarinya dibibir Viola.
"Tidak perlu kamu lanjutkan Vi.... Aku yang minta maaf karena lebih percaya pada Nita dari pada istri sendiri. Yang terpenting sekarang, kamu sudah percaya pada aku," jawab Dimas sambil memeluk tubuh istrinya.
Kemudian Viola membalas pelukan Dimas suaminya.
"Aku tidak bisa melihat air matamu Vi.... " ucap Dimas sambil menghapus air mata di pipi Viola.
Hari ini merupakan hari yang paling bahagia bagi Dimas dan Viola, karena kesalahpahaman antara Dimas dan Viola telah menemukan jalan keluar.
- Tamat -
Jika suka dengan novel ini, kasi like and vote ya. Terima kasih.
Jangan lupa baca novel terbaruku ya. Ceritanya seru, dijamin tidak kecewa....
__ADS_1