
Pagi ini matahari tidak menampakkan sinarnya. Langitpun mendung, tinggal menunggu turunnya hujan.
Walaupun pagi ini cuaca buruk pertanda akan turun hujan, tidak mengurungkan niat Dimas untuk tidak berangkat kerja.
"Kelihatan akan turun hujan ya Mas. Hujannya bakalan deras ini." ucap Viola setelah selesai sarapan melihat dari jendela yang ada di dapur.
"Iya ya... kelihatan hujannya bakalan deras ini." jawab Dimas.
Tiba-tiba hp Dimas berdering. Viola yang berada didekat situ langsung melihat ke hp Dimas. Dilihatnya panggilan masuk dari Nita.
"Mas.... ini ada telepon dari Nita tuh." kata Viola pada Dimas.
Dimas sebenarnya malas mengangkatnya, tapi nanti dikira Viola karena Viola disampingnya gak diangkat. Akhirnya diangkat juga hpnya.
"Assalamualakum...ada apa Nit." tanya Dimas dalam teleponnya.
"Aku bisa numpang mas Dimas, disini sudah hujan." kata Nita dalam teleponnya.
"Maaf Nit, aku ada urusan pagi ini jadi agak terlambat ke percetakan." jawab Dimas sambil menutup hpnya.
Setelah Dimas menutup hpnya, Viola pun bertanya pada Dimas.
"Ngapain Nita Mas?" tanya Viola.
"Nita mau numpang ke percetakan." jawab Dimas.
"Jadi.... " ucap Viola lagi.
"Aku malas berurusan dengan dia lagi." ucap Dimas lagi.
Viola terdiam dan tidak berani bertanya lagi. Kenapa Dimas kok sepertinya gak suka sama Nita. Berarti selama ini Nita yang tergila-gila pada suamiku, bukan suamiku yang suka sama dia, batin Viola dalam hati.
Tidak berapa lama hujanpun turun dengan derasnya. Begitu hujan turun, Dimas bermain dengan Nauval di ruang tengah. Dia berniat berangkat kerja setelah hujan redah.
Begitu hujan redah, Dimas pun berangkat kerja. Tetapi Nauval yang sudah terlanjur asik bermain dengan ayahnya menangis saat ayahnya akan berangkat kerja.
"Ayah kerja dulu ya sayang." kata Dimas sambil mencium Nauval.
"Sini sama nenek." kata bi Ijah sambil menggendong Nauval.
__ADS_1
"Nanti kalau ayah sudah pulang kerja bisa main lagi ya." ucap Viola sambil sambil membujuk Nauval agar tidak menangis lagi.
Sampai di percetakan, langsung disambut Nita dengan pertanyaan yang membuat Dimas semakin gak suka pada Nita.
"Kamu tadi pergi kemana mas Dimas." tanya Nita.
"Ada urusan." jawab Dimas ketus.
"Urusan apa mas?" tanya Nita lagi.
"Mau pergi kemana, ngapain, itu bukan urusan kamu." jawab Dimas sambil masuk ke ruang kerjanya.
Anggi yang sedang berada di dekat situ hanya tersenyum saja.
Diam-diam Anggi memperhatikan prilaku Nita. Semua aktivitas Nita di percetakan dilaporkan pada mas Bambang.
Melihat sikap Dimas yang semakin cuek pada Nita, membuat Nita sakit hati. Suatu saat akan kukirim foto kita berdua yang sedang tidur sama mas Dimas, batin Nita dalam hati.
Istirahat Makan Siang.
Saat jam makan siang, Nita masuk ke ruang kerja Dimas dengan membawa 2 bungkus nasi.
Sebenarnya Dimas ingin menolak pemberian Nita, tetapi dia ingat pesan mas Bambang agar bersikaplah seperti biasa agar Nita tidak curiga.
"Ya sudah, letakkan saja disitu. Aku lagi sibuk ngerjakan tugas kuliah." kata Dimas sambil tetap menulis buku yang ada dihadapannya tanpa melihat ke arah Nita yang sudah duduk di depannya.
Akhirnya Nita makan sendiri di ruang kerja Dimas, sedangkan Dimas sibuk dengan pekerjaannya.
Tiba-tiba mas Bambang muncul di ruang kerja Dimas. Merekapun kemudian ngobrol masalah kerjaan. Cukup lama juga mereka ngobrolnya.
Nita menjadi sangat heran. Kenapa mas Dimas tahan ngobrol lama-lama dengan mas Bambang, padahal dia lagi sibuk. Sementara dengan aku, sepertinya mas Dimas menghindar, batin Nita dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, mas Bambang pun keluar ruang kerja Dimas dan menuju ke kantin.
Sampai di kantin, mas Bambang ketemu dengan Anggi. Kemudian mas Bambang mendekati Anggi dan menanyakan apakah Anggi sudah dapat bukti yang dicarinya.
"Gimana Nggi, sudah dapat buktinya?" tanya mas Bambang pada Anggi saat keluar dari kantin.
"Saya sudah dapat buktinya mas, tapi masih belum lengkap. Kalau sudah lengkap, pasti saya kabari." kata Anggi pada mas Bambang.
__ADS_1
"Terima kasih sebelumnya ya Nggi." kata mas Bambang lagi.
Pulang Kerja.
Pulang kerja kali ini Anggi tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia pergi ke cafe yang di wa Betty barusan. Sebelum ke cafe, dia menelepon ibunya dulu, memberitau kalau akan pulang terlambat.
Saat Anggi sampai cafe itu, ternyata Betty sudah menunggu.
"Sudah lama Bet, sorry ya lama nunggu." sapa Anggi pada Betty.
"Gak apa-apa kok, aku juga baru nyampe." ucap Betty pula.
Kemudian Betty dan Anggi memesan minuman dan snack.
"Sudah dapat Bett buktinya... " tanya Anggi sudah tidak sabar.
"Ini semua bukti percakapan aku dan Nita. Semua sudah kumasukkan dalam plesdis." jawab Betty sambil memberikan plesdis tersebut pada Anggi.
"Aku jadi penasaran nih Bett... apa isi plesdis ini?" ucap Anggi lagi.
"Kamu tau, sebenarnya Nita itu naksir berat pada bosnya yang bernama Dimas. Tetapi Dimasnya gak ada respon. Kemudian Dimas itu dijebak. Dimas ditelepon Nita untuk segera datang ke rumahnya. Setelah sampai di rumah Nita, dia dijebak seolah-olah sudah meniduri dirinya. Setelah sebulan berjalan, nanti Nita minta pertanggungjawaban Dimas bahwa dia telah hamil. Itulah rencana Nita sebenarnya." ucap Betty dengan penuh semangat.
"Ya Allah... kok tega kali si Nita itu ya. Bukankah dia tau kalau mas Dimas itu sudah mempunyai istri dan anak. Kok sampai hati dia berbuat seperti itu." ucap Anggi heran.
"Dia memang seperti itu Nggi. Aku sudah bosan menasehatinya. Gak penting suami orang, yang penting banyak uangnya." kata Betty lagi.
"Jadi bekas selingkuhannya yang lama gimana?" tanya Anggi lagi.
"Menurut si Nita sudah kembali pada istrinya yang lama. Nita disia-siakan sama selingkuhannya itu. Setelah puas dia mempermainkan Nita, kemudian Nita dicampakkannya begitu saja. Makanya Nita mau mencari suami yang lebih kaya biar ditunjukkan pada bekas selingkuhannya itu." ucap Betty.
"Oh... jadi itu salah satu tujuan dia mendapatkan mas Dimas." ucap Anggi.
"Tapi kamu harus bisa jaga rahasia ini ya Nggi. Aku juga gak mau nantinya Nita benci sama aku karena aku yang membocorkan rahasia dia." pinta Betty pada Anggi.
"Kalau masalah itu, amanlah. Kamu jangan khawatir Bett. Gak mungkin aku membocorkan masalah ini, sementara kamu sudah membantu aku mencari bukti-bukti ini." jawab Anggi.
Setelah Anggi dan Betty berbincang cukup lama, akhirnya merekapun pulang ke rumah masing-masing.
Dalam perjalan pulang, Anggi berpikir keras. Kenapa Nita setega itu. Padahal dia kelihatan baik dan ramah. Ternyata disamping keramahannya tersimpan segudang keburukan, batin Anggi dalam hati.
__ADS_1