Penantian Dimas

Penantian Dimas
Cemburu


__ADS_3

Sesampainya di percetakan, Dimas langsung masuk ke ruang kerjanya.


Tiba-tiba mas Bambang memanggil dari arah belakang.


"Mas... Dimas....." panggil mas Bambang dari belakang.


Kemudian Dimas menoleh ke belakang. "Ada apa mas Bambang?"


"Nanti kamu ada jadwal kuliah, ada yang akan mas bicarakan." jawab mas Bambang lagi.


"Saya hari ini ada jadwal kuliah mas, tapi pulang kuliah nanti bisa kok. Memangnya ada masalah apa mas?" tanya Dimas penasaran.


"Masalah yang semalam. Kamu ke rumah mas saja ya, kalau di cafe gak enak didengar orang." ucap mas Bambang lagi.


"Baiklah mas, pulang kuliah nanti saya langsung ke rumah mas." jawab Dimas.


Tidak lama kemudian, Nita pun sampai di percetakan. Dia langsung ke ruang kerjanya. Dilihat partnernya Anggi belum nyampe. Kenapa Anggi kok belum nyampe ya, batin Nita.


Tidak lama kemudian Anggi pun masuk ruangan kerjanya.


"Kok tumben lama Ngi?" tanya Nita pada Anggi yang baru nyampe.


"Iya... tadi sepeda motorku tiba-tiba mogok. Untunglah ketemu sama pak Rizky. Makanya aku numpang pak Rizky." jawab Anggi.


"Pak Rizky itu orang berpengaruh di percetakan ini loh. Masa depannya terjamin. Nunggu apalagi Nggi!" ucap Nita bersemangat.


"Maksud kamu apa Nit, aku gak ngerti." jawab Anggi bingung.


"Maksud aku.... kamu manfaatkan kesempatan yang ada. Kamu kan cantik, pasti gampang menarik simpati pak Rizky." kata Nita lagi.


"Dia kan sudah punya istri. Berarti kalau aku mau, dijadikan istri keduakan? Banyak laki-laki itu awalnya cinta sama istri kedua, tapi lama kelamaan istri kedua akan dicampakkan dan kembali pada istri pertama. Lagian yang namanya pelakor itu hina loh dimata masyarakat, karena merebut kebahagian orang lain. Yang mau kita dapatkan setelah berumah tangga itu kan kebahagian lahir dan batin. Kalau banyak uang tapi batinnya tersiksa untuk apa. Punya suami tapi kongsi dengan wanita lain, kan gak ada enaknya." jawab Anggi sambil menyindir Nita.


Nita hanya terdiam mendengar omongan Anggi. Benar juga apa kata Anggi barusan, batin Nita dalam hati. Dia hanya terdiam dan sedikit malu. Kemudian dia pun melanjutkan kerjaannya.


Saat jam makan siang, Nita pun masuk ke ruang kerja Dimas. Saat akan masuk ke ruangan kerja Dimas, dilihatnya Dimas sedang asik ngobrol berdua. Begitu tiba-tiba Nita masuk, merekapun terkejut. Begitu juga dengan Nita.

__ADS_1


"Kok tumben kamu disini Nggi!" tanya Nita sambil berjalan masuk dan langsung duduk disamping Nita.


"Aku lagi ada urusan sama mas Dimas." jawab Anggi sambil buru-buru keluar ruang kerja Dimas.


Nita sangat cemburu dilihatnya Anggi ngobrol berdua dengan Dimas.


"Oh... sekarang sudah dapat gebetan baru ya. Dapat yang baru, yang lama dicampakkan begitu saja." jawab Nita dengan nada marah.


"Apa maksud kamu ngomong seperti itu Nit!" tanya Dimas ketus.


"Mas Dimas belakangan ini cuek sama aku, kalau ku ajak ke kantin gak pernah mau, ku ajak ngobrol pun menghindar. Tapi begitu diajak Anggi ngobrol, gak menolak." jawab Nita.


"Dengar ya Nit, aku mau ngobrol dengan siapa pun bukan urusan kamu. Kamu gak ada hak untuk mengatur hidup aku!" jawab Dimas dengan nada tinggi.


"Oh... setelah apa yang kamu lakukan terhadap aku, sekarang aku kamu campakkan begitu saja dan sekarang kamu sedang mendekati Anggi! Kamu apa gak ingat apa yang sudah kamu lakukan terhadap diriku!" jawab Nita dengan nada marah.


"Aku gak ada melakukan apa-apa terhadapmu. Aku hanya tertidur saja!" ucap Dimas tidak mau kalah.


Sengaja Dimas tidak memberitau kalau dirinya sudah dijebak. Nanti setelah buktinya sudak ketemu semua, baru ditunjukkan pada Nita.


Rencana setelah pulang kerja, Anggi dan Dimas ke rumah mas Bambang tuk dengarkan isi percakapan Nita dan Betty.


"Kita lihat saja nanti mas, kalau nanti aku sampai hamil kamu harus bertanggung jawab." ucap Nita lagi.


"Ok.... aku akan bertanggung jawab kalau kamu benar-benar hamil!" jawab Dimas dengan penuh semangat.


Kemudian Nita dengan wajah cemberut keluar dari ruang kerja Dimas.


Setelah dia berada di ruang kerjanya, dilihatnya Anggi sudah disitu.


"Anggi.... sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan mas Dimas, kok tadi kulihat kamu serius kali ngobrol sama dia." tanya Nita curiga.


"Oh itu.... aku gak ada hubungan apa-apa kok sama mas Dimas. Kebetulan ada temanku yang mau nyetak undangan, tetapi minta discount." jawab Anggi bohong.


"Oh gitu.... " kata Nita lagi.

__ADS_1


"Memangnya ada apa Nit, kok kelihatannya kamu cemburu aku dekat dengan mas Dimas." tanya Anggi lagi.


"Bukan gitu maksudku Nggi. Aku kenal dekat dengan mas Dimas. Kamu harus hati-hati dengan dia. Dia itu buaya loh." ucap Nita.


"Oh iya? Aku gak nyangka mas Dimas seperti itu loh. Kelihatannya orangnya baik ya." ucap Anggi pura-pura terpancing omongan Nita.


"Makanya, aku hanya sekedar mengingatkan saja." jawab Nita sambil berlalu pergi.


Ternyata Nita benar-benar kecewa dengan Dimas. Dilihatnya semakin hari Dimas bukan semakin terpikat dengan dirinya, tetapi semakin benci kelihatannya.


Akhirnya, niatnya untuk mengirimkan foto dirinya dengan Dimas dilaksanakan juga.


Jam menunjukkan pukul sebelas siang. Nauval baru saja tertidur, sedangkan Viola rencananya mau ikut tidur siang juga.


Tiba-tiba hpnya berbunyi menandakan ada WA masuk. Dibukanya hpnya, dan betapa terkejutnya dia saat dilihat isi WA yang masuk.


Ya Allah.... kenapa Dimas setega ini, batin Viola dalam hati.


Kemudian diteleponnya Dimas, tetapi jaringan lagi sibuk. Viola hanya bisa menitikan air mata. Aku harus kuat, aku tidak boleh cengeng, batin Viola dalam hati.


Bolak balik diteleponya Dimas, tetapi jaringan masih sibuk juga. Ditunggunya sampai beberapa saat. Tiba-tiba perutnya terasa sakit, dan keluar darah dampai ke betisnya.


"Bi... bi Ijah....!" panggil Viola pada bi Ijah yang sedang di dapur.


"Ya non..... " jawab bi Ijah setengah berlari menjumpai Viola.


"Ya Allah non. .... " jerit bi Ijah saat melihat darah sudah bececeran di lantai.


Bi Ijah pun segera keluar dan minta bantuan tetangga. Sedangkan Viola sudah terduduk lemas sambil memegang handpondnya.


Kemudian Viola dibantu beberapa orang tetangga dibawa ke rumah sakit.


Saat Dimas akan keluar ruangan, tiba-tiba hpnya berdering. Dia pun mengangkatnya dan kemudian terburu-buru keluar.


Nita yang saat itu sedang melihat Dimas dari jauh, tersenyum puas. Rasakan mas Dimas. Akan terjadi perang dunia kedua. Kamu gak akan bisa mengelak mas Dimas. Kamu pasti akan menikahi aku, karena istri kamu sudah tau semuanya, batin Nita dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2