Penantian Dimas

Penantian Dimas
Melahirkan


__ADS_3

Setelah bi Ijah memanggil tetangga Viola, merekapun segera berdatangan. Kebetulan pak Tomi yang merupakan tetangga Viola, mempunyai mobil. Pak Tomi dan istrinya bu Susi lah yang membawa Viola ke rumah sakit. Bi Ijah juga ikut mengantar ke rumah sakit.


Sedangkan Nauval yang sedang tidur di rumah, dititipkan bi Ijah pada salah seorang tetangganya yaitu bu Tuti.


Setelah sampai rumah sakit, bi Ijah dan bu Susi menunggu di ruang tunggu bersalin.


"Bi, Dimas sama mama Viola sudah ditelpon?" tanya bu Susi pada bi Ijah.


"Ya Allah bu.... saya sampai lupa." jawab bi Ijah.


"Ya sudah biar saya telpon." ucap bu Susi sambil minta no Dimas pada suaminya. Kebetulan dia tidak menyimpan no Dimas dan mama Viola.


"Gimana bu... sudah ibu telpon?" tanya bi Ijah lagi.


"Sudah bi. Katanya bentar lagi Dimas dan mamanya Viola kemari.


Tidak lama kemudian mama Viola pun sampai ke rumah sakit dan langsung menjumpai dokter yang menangani Viola.


Kata dokter, Viola mengalami pendarahan setelah melahirkan. Karena banyak darah yang keluar, Viola sekarang koma.


Mama Viola hanya bisa menangis dan berdoa. Kemudian bi Ijah dan bu Susi pun pamit pulang.


Saat bi Ijah dan bu Susi akan pulang, mereka berpapasan dengan Dimas yang baru saja nyampe rumah sakit.


"Gimana keadaan Viola bi?" tanya Dimas pada bi Ijah.


"Masih di dalam Mas, mama yang sedang menunggu disana." jawab bi Ijah.


Kemudian Dimas setengah berlari menuju ke ruang bersalin.


"Gimana keadaan Viola ma?" tanya Dimas pada mama mertuanya.


"Masih ditangani dokter Mas. Kata dokter Viola mengalami pendarahan dan koma." jawab mama Viola dengan lemah.


Dimas hanya terduduk lemas mendengar ucapan mama Viola barusan. Kenapa Viola mengalami pendarahan ya. Berarti sedang banyak yang dipikirkannya seperti saat melahirkan Nauval. Tapi apa yang sedang dipikirkannya ya, batin Dimas dalam hati.


"Keluarga dari ibu Viola!" panggil suster yang keluar ruang bersalin.


"Ya, saya suaminya." jawab Dimas sambil berjalan mendekat suster tersebut.


"Bapak dipersilahkan masuk." kata suster itu lagi.

__ADS_1


Kemudian Dimas pun segera masuk ke ruang bersalin dan ketemu dokter.


"Gimana kondisi istri saya dok?" tanya Dimas pada dokter.


"Kondisi istri bapak sangat memprihatinkan. Pendarahannya cukup banyak. Setelah melahirkan, istri bapak koma. Tetapi babynya sehat." jawab dokter menjelaskan.


"Ini pak.... babynya cewek, cantik dan sehat." kata suster sambil memberikan babynya pada Dimas.


Kemudian Dimas menggendongnya dan mengkhomadkannya. (Kalau lahir bayi perempuan dalam agama islam, wajib dikhomadkan. Kalau bayi laki-laki diazankan). Kemudian dipandanginya bayi yang baru lahir kedunia. Terima kasih ya Allah, engkau berikan kami bayi yang sehat dan cantik, batin Dimas dalam hati.


Kemudian Dimas dan mama mertuanya menjumpai Viola yang sedang koma. Mama nya hanya menangis sedih melihat Viola tidak sadarkan diri. Dimas hanya terdiam dan menggenggam erat tangan Viola. Hatinya sangat sedih melihat kondisi Viola seperti ini.


Di Percetakan.


Saat jam kerja berakhir, mas Bambang segera pulang ke rumahnya. Diikuti Anggi yang juga menuju ke rumah mas Bambang.


"Dimas kok belum nyampe ya Nggi." tanya mas Bambang pada Anggi setelah sampai di rumah mas Bambang.


"Iya ya mas.... kan dia sudah tau kalau kita jumpa di rumah mas Bambang!" tanya Anggi lagi.


"Sudah mas kasitau kok tadi pagi." jawab mas Bambang.


"Sudah tiga kali mas telpon, tapi kok gak diangkat juga ya." tanya mas Bambang sedikit heran.


"Mungkin lagi di jalan mas." ucap istrinya mas Bambang.


"Ya sudahlah, kita tunggu saja dulu." jawab mas Bambang lagi.


Sudah setengah jam ditunggu, Dimas pun tidak kunjung datang. Akhirnya mas Bambang menelpon Viola. Tetapi yang mengangkat teleponnya bi Ijah. Saat mau berangkat ke rumah sakit, hp Viola ditinggal di kamarnya.


"Anggi... kata pembantu Viola, Dimas lagi di rumah sakit. Viola melahirkan. Kata pembantunya, Viola koma setelah melahirkan." ucap mas Bambang pada Anggi dan istrinya yang kebetulan menemani Anggi di ruang tamu.


"Ya Allah.... kasihannya mbak Viola. Plesdisnya saya kasi mas Bambang saja ya." kata Anggi sambil memberikan plesdis itu ke mas Bambang.


Anggi pun segera pulang ke rumahnya, sedangkan mas Bambang dan istrinya bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


Ibu Dimas sore tadi sudah sampai di rumah sakit. Mendengar Viola sudah melahirkan, cepat-cepat ibunya ke rumah sakit. Sedangkan nek Sani rencananya besok pagi baru ke rumah sakit, setelah pekerja yang membuat keripik datang.


Betapa terkejutnya ibunya Dimas melihat kondisi Viola yang tidak sadarkan diri. Disamping rasa bahagia karena mendapat seorang cucu, dia juga merasa sedih karena menantunya koma.


Tiba di Rumah Sakit.

__ADS_1


Sehabis magrib, mas Bambang dan istrinya sampai di rumah sakit. Merekapun segera mencari Dimas.


"Gimana kondisi Viola Mas." tanya istri mas Bambang.


"Ya.... masih seperti tadi mbak, belum sadarkan diri. Pendarahannya memang sudah berhenti, tetapi masih koma." jawab Dimas lemas.


Kemudian mas Bambang dan istrinya melihat kondisi Viola yang tidak sadarkan diri.


"Kenapa kok sampai pendarahan begini Mas." tanya istri mas Bambang.


"Gak tau mbak. Padahal setiap bulan rutin periksa kandungan loh." ucap Dimas sambil menjelaskan.


"Ya... namanya musibah. Kita kan gak tau kapan datangnya." jawab mas Bambang.


"Yang sabar ya Mas, banyak berdoa semoga Viola segera sadar." ucap mas Bambang.


"Terima kasih mas." jawab Dimas lesu.


Menjelang isya, mas Bambang dan istrinya pun pulang. Tinggallah ibunya dan mama mertuanya. Kemudian Dimas ingat Nauval yang sedang di rumah. Saat mau menelpon bi Ijah, baru diingatnya kalau hpnya tertinggal di mobil.


Kemudian dia pergi ke mobil untuk mengambil hpnya. Dilihatnya panggilan tidak terjawab dari mas Bambang. Dimas baru ingat, tadi sore ada janji dengan Anggi untuk kumpul di rumah mas Bambang. Ya Allah... sampai lupa aku kalau tadi sore ada janji dengan Anggi dan mas Bambang, batin Dimas dalam hati.


Setelah diteleponnya Nauval, dia pun pergi ke kantin untuk membelikan nasi bungkus buat ibu dan mama mertuanya.


"Bu, ma... makan dulu." kata Dimas sambil memberikan nasi bungkus pada ibu dan mamanya.


"Kamu sendiri mana nasinya!" tanya ibunya.


"Dimas belum selera makan bu. Nanti kalau lapar Dimas ke kantin." jawab Dimas.


"Kamu harus makan Mas, nanti kamu masuk angin loh. Kalau gak selera, dipaksakan biar gak sakit." ucap mama mertuanya.


"Selesai makan, ibu sama mama pulang saja, biar Dimas yang jaga disini. Kasihan Nauval di rumah." kata Dimas pada ibu dan mama mertuanya.


"Jadi kamu nunggu disini sendiri!" ucap mama mertuanya.


"Iya gak apa-apa ma." jawab Dimas lagi.


Kemudian Dimas mencarikan taxi untuk ibu dan mertuanya. Tinggalah Dimas menjaga Viola di rumah sakit sendiri.


Kemudian Dimas mencari kursi untuk duduk. Dia merenung sedih. Kenapa Viola sampai pendarahan seperti ini. Apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia tau masalahku dengan Nita? batin Dimas dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2