
Tatapan Mata Tajam, menghunuskan pedang. Mata Biru. Kulit Pucat. Wajah yang merah berlumuran darah. Terus menebas lawan dihadapannya.
Dalam sekejap dia sudah berada jauh dari ku. Setiap langkahnya mayat berjatuhan. Mungkin orang lain akan ketakutan jika melihatnya. Dia seperti malaikat maut dalam medan perang. Namun, di mataku dia terlihat sedih. Menderita. Takut.
Eh... Aku terbang. Menggelinding. Tidak, aku yang menggelinding. Kepalaku menggelinding.
Saat aku sadar kelapaku sudah tertebas setelah melihat tubuhku sendiri. Berdiri tanpa kepala. Kemudian jatuh perlahan. Pandanganku perlahan menjadi gelap. Gadis itu masih mengayunkan pedangnya. "Ah... Ini akhirnya." Gelap. Sunyi.
"Hey" tepukan di punggung menyadarkanku. Sosok yang menepukku berdiri di sampingku. Tersenyum kepadaku. Aku menoleh balas tersenyum.
"Ada apa denganmu, tidak seperti biasanya" Menarik keras bahuku. Aku sempat kaget.
"Tidak, apa-apa. Kepalaku hanya terasa sedikit pusing." Sambil melepas tangannya dari bahuku. Pikiranku masih terngiang-ngiang.
Apa itu barusan. Mimpi. Ah, masa iya juga aku bermimpi. Tapi kilasan itu terasa sangat nyata. Apakah ini sebuah pertanda.
"Ada apa? Koq dari tadi diam saja?" Orang disampingku bertanya.
"Tidak ada apa-apa koq, kau tenang saja" Oya, aku lupa mengenalkan dia Dani salah seorang kenalan di sekolah baru ku.
"Hmm... Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa di kelas." Sambil menepuk-nepuk punggungku. Dia berlalu.
Aku menghela nafas. Melanjutkan langkah menuju kelas.
Sekilas aku melihat sosok yang ada di mimpiku lewat di depanku. Seolah semua melambat.
Terpesona oleh kecantikannya, gaya berjalan yang anggun. Berpapasan denganku.
Berbalik, menoleh. sosoknya telah hilang. Siapa dia? Kuharap kita bisa bertemu lagi. Semoga dalam waktu dekat.
Kembali berbalik menuju kelas.
***
Bel kelas berbunyi. Aku merenggangkan tubuh. Ah... Sungguh hari yang melelahkan.
Untung saja aku sudah mengerjakan PR hari ini jika tidak. Aku menatap ke arah kelas. Melihat dari balik pintu Dani dan beberapa orang sedang mengerjakan beberapa lembar soal sebagai hukuman. Kurasa mereka tidak akan pulang cepat.
"Yosi cepat pulang! atau kau mau bernasib sama seperti mereka." Kata bu Indra guru matematika yang sedang menghukum Deni.
"Ah, tidak bu. Saya pulang dulu bu." Segera aku meninggalkan kelas. Pulang. Sampai di depan gerbang sekolah.
__ADS_1
Cuaca sore ini cukup cerah. Ini merupakan rekor pulang tercepatku. Ya, kalian tahulah aku dan Dani kerap kali pulang terlambat.
Itu karena kami selalu lupa mengerjakan PR. Namun, kali ini berbeda. Yap. Aku mengerjakan PR. Satu langkah lagi menuju Siswa Teladan.
Jarak antara rumah dan sekolah lumanyan jauh. Namun, karena pulang lebih awal dari biasanya kurasa tidak ada salah sedikit bersantai. Jadi aku mengayuh sepeda perlahan. Sambil menikmati semilir angin berhembus.
Di tengah perjalan aku sempatkan mampir ke sebuah warung di pinggir jalan. Membeli roti dan sebotol teh kemasan.
Sesaat sebelum aku menerima pesananku. Aku sudah berada di tengah padang rumput.
Gelap, beberapa saat mataku beradaptasi baru aku bisa melihat dengan sedikit lebih jelas.
Pijakan kaki ku terasa becek. aku mengecek. Kulihat bukan tanah yang becek karena air, melainkan darah segar yang masih belum kering.
Sesaat kemudian aku menyadari mayat-mayat berserakan di mana-mana.
"Aaa... Tidak. Mundur. Berhenti. Jangan kejar aku!!!" Teriakan. Mencari sumber suara. Menoleh kiri-kanan.
Dari depan sosok sumber suara mendekat. Seorang pria dengan pakaian seperti prajurit abad pertengahan. Zirah rantai tanpa penutup kepala berlari ke arahku. Sambil sesekali menoleh ke belakang.
Sepertinya dia dikejar sesuatu.
"Hey, kau! Cepat lari! Dia da..." Belum sempat kalimatnya selesai diucapkan. Tubuhnya tersungkur ke tanah. Kepalanya terbang. Jatuh menggelinding ke kakiku.
Tanpa kusadari seseorang di belakangku. Bayangan gelap membetuk siluet seseorang memegang pedang. Siap memenggal. Membeku ketakutan.Tidak berani menoleh. Duk. Hentakan keras menghantam leherku. Semuanya gelap. Sunyi. "Bruk." Jatuh tengkurap di tanah yang basah dengan darah.
***
Matahari menyingsing. Sinarnya mengenai wajahku. Hangat, membuka sedikit mataku. Terihat kepulan debu dari kejahuan. Siluet pasukan berkuda atau mungkin rombongan karavan. Aku tidak peduli.
Tak sanggup lagi aku mempertahankan kesadaran. kembali terpejam. Terdengar suara gemuruh kedatangan mereka, semakin lama semakin keras. Semakin Dekat. Kemudian aku tidak sadar lagi.
"Tes. Tes. Tes". Air menetes mengenai wajahku. Terbangun di dalam ruangan gelap, lembab, dan bau. Di depanku jeruji besi.
Aku tidak bisa menggerakan tanganku. Kotak. Berat. Sebuah pasung besi.
Tanganku dipasung dengan kotak besi. Dalam posisi duduk bersandar di tembok leherku terdapat kalung besi dengan rantai tertanam di tembok.
Kakiku terjulur lurus ke depan. Aku hanya bisa berdiri dan duduk saja. Melangkah ke depan juga terbatas.
Aku tidak paham dengan situasi ini. Sepertinya aku ditangkap. Menoleh ke arah samping. Sebelah kiri selku terdapat beberapa tahanan yang cukup menarik.
__ADS_1
Beberapa kukenali sebagai Manusia Setengah Serigala, Setengah Rubah, Manusia biasa, dan beberapa lainnya tidak bisa aku pastikan.
Aku Menggangkat tangan untuk menyapa. Mereka tampak ketakutan. Aku tidak tahu mengapa.
Setelah aku perhatikan aku hanya sendiri di sel ini. Di samping kanan hanya tembok batu. Di depan jeruji besi yang lumayan Tebal.
Sedikit cahaya di sini. Hanya Lorong penjara yang memiliki penerangan.
Aku merasa lelah dan lapar. Tubuhku lemas. duduk. Menunduk lemas. "Dap, dap, dap." Langkah kaki dari lorong semakin mendekat.
Terdengar juga suara decitan. Tak berselang lama beberapa penjaga bersenjatakan pedang, dan pistol revolver (sepengelihatan ku) mengawal seseorang dengan troli. Memberi makanan kepada para tahanan sel sebelah.
Setelah memberi makan para tahanan di sel sebelah. Mereka datang. Berhenti di depan selku.
Akhirnya sesuatu untuk dimakan. Seorang yang tampak sebagai pimpinan rombongan itu tampak menekan-nekan sesuatu di dinding sel ku. Balok besi tertarik oleh rantai ke atas.
Terus menarik hingga aku berdiri dengan tangan di atas. Ternyata di tengah balok besi itu terdapat rantai yang terhubung dengan lubang di tembok bagia atas.
Aku tidak sadar. Mungkin karena terlalu lemas dan lapar. Sekarang aku tidak bisa bergerak. Hanya kakiku yang tidak terantai.
Mereka memasuki sel ku. Pimpinan rombongan itu tampaknya memiliki jabatan tinggi di sini.
Aku pasrah, hanya ini satu-satunya cara untuk bertahan. Aku sudah menyiapkan mental.
Dalam bayanganku dia akan memukuliku atau menusuk dan lain sebgainya. Jika dalam situasi sekarang itu hal yang tidak mustahil bukan. Aku tunggu, tidak ada serangan apapun.
Aku angkat kepalaku. Menatapnya, Jarak kami kurang lebih 2 meter. Seakan menjaga jarak. Dia mengamatiku.
Menggerakan salah satu kaki ku saja sudah membuat mereka waspada. Dia Menulis atau menggambar. Corat-coret papan di tangannya.
Sambil sesekali melihat ke arahku walau dia langsung mengalihkan pandangan saat mata kami bertemu.
Setelah selesai, mereka keluar. Tanpa memberiku makanan. Seorang dari mereka menekan-nekan tembok selku lagi.
Seketika rantai yang terhubung ke balok besi di tanganku longgar. Jatuh terduduk. Hampir saja balok besi itu menimpa kepalaku.
"Bruk" pantatku menghantam tanah.
"Buk" Balok besi jatuh di depan selangkanganku.
Sakit sekali. Kuharap punggung dan bokongku tidak bermasalah. Perutku lapar.
__ADS_1
Apakah menjadi tahanan memang seperti ini. Merenung. Bingung. Beberapa saat lalu aku hanya seorang siswa sekolah menengah yang dalam perjalanan pulang sekolah. Sekarang menjadi tahanan tanpa tahu apa-apa. Kuharap besok mereka memberiku makan.