Pendekar Empat Mata

Pendekar Empat Mata
#8. Roh Penunggu


__ADS_3

Aku senang keadaan sikap Elvi telah kembali normal tapi aku juga agak menyesal, karena candaannya selalu saja membuatku jantungan. Kami berjalan arah kami datang. Menuju lift. Masuk ke dalam. Elvi menekan-nekan dinding lift.


Perlahan lift bergerak turun, semakin cepat. Berhenti. Pintu terbuka. Lagi-lagi aku hampir terjatuh karena lift berhenti mendadak. "Apa mereka yang membuat ini tidak mementingkan kenyamanan penumpangnya" Protesku pada pembuat lift.


Sampai di ruangan luas nan gelap, di tengahnya terdapat bola kristal hijau bercahaya.


Kami mendekati bola kristal itu. Setelah jarak cukup dekat aku mengamati dengan seksama. Ukuran bola ini sebesar bola bowling.


permukaan  mulus bersih, cahaya hijau muda yang memancar bersumber dari inti kristal. Redup memancar. Seakan bisa padam kapan saja.


"Apa ini?" Menoleh ke arah Elvi bertanya.


"Inti dari pulau ini."


"O... Apakah cahayanya selalu redup begini?"


"Tidak, biasanya dia bersinar terang. Mungkin sudah saatnya mengisi energinya."


"Energi? Apa energinya?" Rasa penasaranku muncul, kata energi membuatku tertarik. Sumber energi macam apa yang dapat menggerakan pulau sebesar ini.


"Mana." Jawab Elvi datar sambil menatap ke arahku.


"Mana? Apa itu? Seperti apa bentuknya? Bagaimana cara memperolehnya? Dari mana dia..." Dengan antusias aku mengajukan rentetan pertanyaan.


"Tunggu-tunggu, Satu-satu kalau bertanya aku tidak bisa menjawab semuanya pertanyaan bersamaan." Memotong kalimat terakhirku sebelum aku bisa menyelesaikannya


"Mana merupakan bagian dari energi kehidupan. Bisa dibilang sebagai representasi dari energi kehidupan. Wujudnya bermacam-macam.


Paling umum dijumpai berupa elemen dasar seperti Api, Tanah, Air, dan Udara. Namun, tak jarang pula ada yang memiliki lebih dari satu elemen dasar. Ada beberapa orang yang memiliki perwujudan mana di luar empat elemen dasar.


Contohnya elemen cahaya dan kegelapan. Pada dasarnya elemen apa yang kau punya merupakan representasi dari jiwa penggunanya. Mana sebenarnya tidak punya wujud tapi bisa diubah dan diwujudkan." Panjang lebar Elvi menjelaskan


Wajahku sedikit cemberut, merasa sedikit kecewa karena hal yang barusan kudengar adalah sesuatu diluar nalar. Semacam sihir dan sebagainya.


"Eh, kenapa? Apa penjelasanku membosankan?" Elvi bertanya kikuk setelah melihat ekspresi kecewa dariku.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Aku segera mengubah ekspresiku. Kalimat terakhir yang disebutkan Elvi sedikit menarik.


"Mana tidak berwujud tapi bisa diubah dan diwujukan." Gumamku lirih, terdengar seperti teori kekekalan energi. Menarik.


"Yah mau bagaimana lagi ini dunia lain." Kataku lirih. Berusaha meredam kekecewaan ku. Padahal ku harap ada sesuatu seperti sains atau semacamnya tapi tenyata hanya sihir yang luar biasa.


"Ya, kau bicara apa barusan?" Elvi bertanya setelah mendengar ucapanku yang lirih dan samar.


"Bukan apa-apa. Aku hanya ngomong sendiri." Aku mengelak. Menjaga agar rahasiaku soal aku dari dunia lain tidak diketahui.


Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui aku bukan dari dunia ini. Jadi untuk amannya lebih baik aku rahasiakan saja.


"Baiklah garis besarnya aku mengerti, benda ini di suplai oleh semacam kekuatan sihir. Benar begitu kan?"


"Yah, kurang lebih seperti itu."


"Jadi bagaimana cara mengisinya?" Aku bertanya.


"Oh, soal itu. Maukah kau membantuku?" Elvi bertanya dengan nada lembut sambil melipat tangannya.


"Mendekatlah." Aku mendekat.


"Jleb, dua taring menancap di leher." Terpatung kaget. Darahku terus dihisap. Namun anehnya aku tidak merasakan apa-apa. Hanya sedikit nyeri saja di bagian yang dihisap.


"Muah... Apa ini?! Rasa nikmat ini!" Maju ke depan hendak menggigit lagi. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Kuhentikan dia. Kupegang mulutnya hingga moyong.


"Eh... Apa yang kau lakukan?" Nada manja memelas.


"Tidak! Cukup sekali saja, aku tidak tahu apa yang barusan kau lakukan." Tentu saja aku tidak mau mengambil resiko yang tidak aku ketahui. Menimbang keselamatan dan balas budi sudah jelas keselamatan adalah prioritas utamaku.


"Jangan pelit, Aku belum pernah merasakan darah yang begitu kaya rasa seperti milikmu. Begitu nikmat seakan menyantap hidangan mewah penuh rasa." Memelas memohon. Menjelaskan.


"Tidak! Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau terus menghisap darahku, lagipula aku tidak mau mati kehabisan darah." Dengan keras aku menolaknya.


"Cih, dasar pelit!" Berhenti merengek dan berdiri.

__ADS_1


"Tapi, terima kasih atas makanannnya, energiku benar-benar pulih." Sumringah berkata dengan semangat.


"Yo, ini dia." Dia menjulurkan tangannya ke arah bola kristal.


Sekilas aku melihat tangannya bercahaya di barengi cahaya kristal yang semakin terang. Wajahnya tampak kesakitan.


"Arg..." Akhirnya keluar juga suaranya. Mengerang kesakitan.


"Tidak, sudah cukup. Berhenti!" Teriak Elvi sambil berusaha menarik tangannya. Seakan kaku di tahan oleh sesuatu.


Aku segera berusaha menolong Elvi dengan membantunya menarik tangannya. Namun percuma hal itu malah membuat Elvi semakin kesakitan.


Bingung, takut, khawatir jadi satu. Campur aduk perasaanku. Entah bagaimana aku mendapatkan inisiatif. Menjulurkan kedua tanganku ke arah kristal.


"Aku sudah lama menunggu." Suara merdu seorang gadis terdengar di telinga. Mungkin hanya halusinasi. Perlahan kedua tanganku mulai bercahaya. Putih terang. Memejamkan mata bersiap menahan rasa sakit.


Namun, alih-alih rasa sakit justru aku merasa hangat dan nyaman. Aku bisa merasakan energi dari sekujur tubuhku mengalir ke arah tangan dan berakhir dihisap oleh kristal itu.


Tangan Elvi telah lepas. 'Buk' jatuh ke lantai. Nafas terengah-engah. Terlihat begitu letih dan lemas. Sambil berusahan mengatur nafasnya Elvi duduk di lantai melihatku menyalurkan energi. Tampaknya dia masih belum bisa bicara.


Silau sekali cahaya hijau muda bersinar terang dipadu dengan cahaya putih bersih dari lenganku yang cukup terang. Aku dan Elvi memejamkan mata karena silau. Rasanya seperti ada yang menggenggam tanganku. Apakah Elvi? Tidak Elvi terduduk lemas di lantai lalu siapa?


Perlahan cahaya kedua nya meredup. Kini aku bisa melihat dengan jelas sosok yang menggenggam tanganku. Berambut putih bersih mengenakan baju lengan panjang berwana hijau muda. Seorang gadis dengan tinggi separuh badanku kulit putih bersih.


Mata hijau terang. Tangannya terus menggenggam tangangku. "Akhirnya kau datang juga" Dia berkata sambil terus menatapku. Aku terpana takjub serta bingung dengan apa yang barusan terjadi. Lagi-lagi sihir membuatku takjub serta penasaran.


Gadis itu melayang. Perlahan turun hingga kakinya menapak lantai. Kemudian aku kembali merasakan energiku dihisap lagi dan melihat gadis di depanku tubuh dengan cepat. Semakin tinggi dan berisi. Energiku berhenti dihisap dan kini tingginya hampir sepantaran denganku.


Sedikit lebih pendek dariku. Kira-kira keningnya dibawah mulutku. Menyaksikan hal tersebut membuat Elvi ikut tercengang. Terkejut memandang kami berdua.


Kini ruangan gelap menjadi terang benderang. Terlihat ruangan raksasa dengan banyak lantai bertingkat. Yang lebih membuatku Elvi dan diriku terkejut adalah setiap lantai ternyata diisi dengan banyak boneka. Mungkin semacam golem atau robot kalau ada.


Setelah mengagumi sekitar pandanganku kembali ke arah gadis yang masih memegang tanganku.


"Siapa dirimu?" Aku bertanya

__ADS_1


"Aku? Oh namaku Barsha. Roh Penunggu Pusaka Lyonesse." Jawabnya. Dengan wajah ceria ke kanak-kanakan.


__ADS_2