
Singkat cerita sudah seminggu aku dirawat. Gadis yang membawaku kemari serta menemani ku selama dalam masa perawatan adalah Elvi, dia seorang vampir. Aku sedikit terkejut saat pertama kali mendengarnya.
Bayanganku vampir merupakan moster pengisap darah. Kejam dan tanpa ampun. Namun, berbeda dengan Elvi yang terlihat anggun, cantik, dan juga sangat baik. Bertentangan dengan apa yang digambarkan dalam mitologi yang ku tahu.
Elvi tertawa saat aku memberitahunya mengenai hal yang ku tahu soal vampir. Tertawa terpingkal-pingkal sampai membuatku malu. Salah tingkah.
"Hahaha..." Sambil sesekali memukul-mukul badanku.
"Haduh..." Dia berhenti tertawa. Menunduk mengambil nafas dalam-dalam. Berusaha tidak tertawa.
"Bhwaa..." Dia kembali tertawa saat melihat bingungku. Tawa yang cukup keras sampai menggemma ke seluruh ruangan.
"Sstt.. Elvi, Pelankan suaramu!" Mengangkat tangan dan mendekatkan jari telunjuk ke bibir. Aku memberitahu Elvi untuk memelan suara tawanya. Karena ya tatapan semua orang di ruangan ini mengarah pada kami. Aku tentu merasa tidak enak dan aneh dilihatin banyak orang.
"Ahh.. maaf, maaf. Habisnya reaksimu terlalu lucu. Sudah lama aku tidak tertawa sepuas ini." Menghembuskan nafas panjang.
"Kau ini ternyata cukup menyebalkan juga ya?" Aku mencoba bercanda.
"Hemm... Menurutmu begitu?" Elvi menantapku tajam. Duduk menyilangkan kaki. Menyangga dagu dengan tanganya.
"Tidak-Tidak. Aku hanya bercanda." Aku melambaikan dua tangan ke arahnya sambil menoleh ke arah lain.
Memerah wajahku. Malu. Wajar saja selama ini aku memang jarang berinteraksi dengan wanita selain dengan ibuku. Jadi semacam gejolak anak muda mungkin.
"Puft. Sudah kuduga kau ini memang lucu." Tertawa kecil. Aku tersipu malu.
"Ngomong-ngomong. Sepertinya kau sudah baikan." Dia berkata.
"Hari ini Dokter Memberi tahuku. Kau sudah boleh pulang. Jadi Bersiaplah malam ini kita akan pulang." Aku sedikit tidak paham apa yang dimaksud pulang di sini. Namun, sepertinya dia mau mengajakku pulang ke rumahnya.
Untuk sementara kurasa aku tidak perlu mencemaskan tempat tinggal. Selama dia tidak membuangku sih.
***
Malam harinya. Aku bersiap keluar bersama Elvi. Berpamitan dengan dokter di sana. Sepertinya biaya perawatan sudah Elvi bayarkan.
Keluar pintu. Kudapati lingkungan cukup kumuh. Terlihat beberapa gelandan kurus kering tidur di pinggir jalan. Malam ini tidak terlalu gelap. Bulan Purnama membuat daerah sekitar tampak jelas walau dalam kegelapan malam.
Elvi menarik tanganku. Memberi isyarat agar aku mengikutinya. Kami berjalan menyusuri pemungkiman kumuh ini. Sesekali aku melihat beberapa preman sedang membully seorang anak kecil. Pemabuk berpapasan dengan kami.
__ADS_1
Terus berjalan mengabaikan orang-orang sekitar yang terasa sedang menatap kami. Elvi terus menarik tanganku. Menggenggam erat.
Suasana di sini buruk sekali. Aku hendak bertanya pada Elvi tapi kuurungkan niat. Berjalan cepat.
Setelah sekian lama perjalanan kami sampai di pinggir hutan yang berbatasan langsung dengan daerah kumuh. Elvi menariku masuk ke hutan.
Kami berdua menyusuri hutan. Melalui jalan setapak. Menuju tengah hutan. Aku merasakan situasi yang tidak normal. Aneh rasanya terlalu sunyi.
"Kita diikuti." Elvi Berkata kemudian mepercepat langkah kakinya.
Aku was-was. Melihat kiri-kanan dan belakang. Tidak menemukan tanda-tanda sedang diikuti. Apa Elvi salah mengira. Belum selesai aku berasumsi Elvi mendadak berhenti.
'Buk' Aku menabrak punggung Elvi. Menengok ke depan, melihat apa yang membuatnya berhenti. Tidak ada apa-apa.
"Kita terkepung. Bersiaplah!" Elvi menyeru padaku.
Walau disuruh bersiap aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi aku memasang kuda-kuda boxing bersiap meninju meskipun sebenarnya aku tidak pernah berkelahi ataupun berlatih boxing. hanya gaya-gayaan saja daripada tidak sama sekali.
Beberapa saat kemudian muncul sekitar tiga puluh orang dari balik semak-semak dan pepohonan sekitar. "Hebat juga mereka bisa menbututi kami tanpa mengeluarkan suara" Gumamku takjub dalam hati.
Kulihat dari penampilan mereka sepuluh orang membawa belati, lima orang membawa pistol laras pendek. Sisanya membawa pedang ukuran sedang. Mereka mengepung kami. Mengitari kami.
"Apa maksud kalian aku tidak paham." Elvi bertanya dengan senyuman. Aku gemetar memasang kuda-kuda.
Tidak aku tidak boleh terlihat takut atau mereka bisa langsung menyerangku. Mereka tidak langsung menyerang berarti mereka waspada. Namun, kenyataan bahwa mereka tidak langsung melancarkan serangan diam-diam berarti mereka meremehkan kami?
Uh, aku pusing. Masa bodohlah. Pokoknya aku tidak akan menyerah begitu saja walau perlawananku percuma aku akan tetap melawan sebisaku.
"O, yang aku maksud adalah kakak yang di sana." Menunjuk ke arahku.
"Eh. Aku?" Aku bertanya sambil menunjuk diriku sendiri.
"Ya kau. Sang Monster Gunung Hijau." Menunjukkan poster buronan dengan rupa wajahku.
"Hey nona. Sebaiknya kau menyingkir aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah wanita cantik sepertimu." Salah seorang dari mereka menyuruh Elvi pergi.
"Ya benar, lebih baik kau pergi atau kau juga ingin bermain dengan kami? Jika itu mau mu kau boleh menunggu kami menyelesaikan urusan dengannya." Salah seorang lainnya ikut menimpali.
"Hahaha..." Gelak tawanya diikuti teman-temannya.
__ADS_1
"Genggaman tanganku semakin erat. Jengkel. Benci. Orang yang menyelamatkanku dihina di depan mataku. Rasanya aku ingin menghajar mereka apapun yang terjadi. Amarah.
Elvi Menggenggam tanganku. Mengisaratkan diriku untuk tenang. Yah aku pun juga sadar mau semarah apapun diriku bukan lawan mereka.
"Tuan-tuan sekalian kurasa kalian salah paham. Dia bukanlah orang di poster itu. Dia Suamiku." Kata Elvi sambil memeluk tanganku bak seorang istri yang bermanja kepada suaminya.
"Eh... Apa barusan yang dia katakan?!" Tersentak kaget, beberapa saat aku mulai berimprovisasi.
"Tidak mungkin kami salah. Lihat baik-baik wajahnya sama persi dengan yang ada di poster." Sambil menunjukan poster buronan.
"Tapi itu tidak mungkin. Dia selalu bersamaku. Benarkan Sayang." Memeluk manja ke lenganku. Tersenyum dan menatapku.
Aku bisa merasakan sensasi lembut bersentuhan dengan lenganku. Empuk tapi solid. Seperti sofa bulu. Hampir saja aku reflek menghindar. Namun, situasi menyadarkanku untuk segera berimprovisasi.
"E..ehm. Ya itu benar. Kami selalu bersama." Memalingkan wajah ke arah lain. Malu sekali rasanya. Wajahku memerah.
"Mencurigakan. Kalian tidak seperti penduduk di sini atau jangan-jangan kalian berdua bersengkongkol." Segera mereka bersiap mengarahkan senjata pada kami.
"Waduh, Situasinya makin gawat. Apa yang harus aku lakukan. Pikir. Pikir." Menggumam dalam hati.
"Soal itu kami adalah turis pendatang dari negeri timur." Kata Elvi melepaskan pelukan manjanya. Padahal aku berharap sedikit lebih lama agar bisa lebih menikmatinya.
"Tidak boleh! Mengambil kesempatan dalam kesempitan itu bukanlah pria sejati." Gumamku dalam hati
"Tapi rasanya boleh juga sih. hehehe..." Pikiran kotorku mulai aktif.
"Tidak. Tidak. Aku tidak boleh begitu atau Elvi akan membenciku. Gadis mana yang mau dengan pria rendahan seperti itu" Mengeleng-gelengkan kepala. Menampis godaan yang hampir meruntuhkan pendirianku.
Mereka bingung melihat tingkah anehku. Kemudian berpikir sejenak. Menimbang agrumen-agrumen kami. Kemudian menurunkan senjata.
"Baiklah. Sepertinya ada sedikit kesalahan disini. Maaf telah mengganggu kalian" Mereka menyarungkan senjata mereka. Kemudian pergi ke arah pemungkiman kumuh. Bersebarangan dengan arah tujuan kami.
Lega rasanya, Untung saja mereka percaya. melihat kelompok bersenjata itu pergir. Kami pun segera melangkahkan kaki meninggalkan mereka sebelum mereka berubah pikiran.
"Tunggu sebentar!" Kata Pimpinan kelompok bersenjata itu.
Langkah kaki kami berhenti. Nafasku tersedak. Namun Seringaian misterius nampak di wajah Elvi.
Apakah kami akan ketahuan? Apa yang akan terjadi berikutnya. Jantungku berdegub kencang keringat dingin keluar dari tanganku.
__ADS_1