
Ruangan saat pertama kali aku datang di sini sekarang tampak lebih bersih dan indah. Ornamen dan hiasan dinding terlihat. Lampu hias raksasa yang waktu itu hanya mengantung kini bersinar indah. Aku tak bisa berkata-kata.
Semuanya terlihat begitu berbeda. "Omong-omong kenapa harus melakukan kontrak dulu agar Lyonesse berfungsi maksimal" Tanyaku sambil masih bermain-main dengan memuncul-hilangkan pedang.
"Itu karena butuh pasokan energi yang cukup besar untuk menjalankan semua sistem di sini. Jadi dirancanglah sebuah sistem berdasarkan kontrak Roh. Dimana aku sebagai Administrator yang mengatur mengendalikan pembagian energi dan seluruh fungsi Lyonesse, sedangkan satu pihak lagi sebagai pemasok sumber energi." Jelas Barsha panjang lebar.
"Lalu, kenapa kau memilih diriku? Kenapa bukan Elvi? Kulihat dia cukup hebat. Pasti dia lebih cocok." Aku memberi pendapat.
"Tidak! Memang benar dia cukup hebat dalam pertarungan tapi dia tidak memiliki banyak mana. Jika aku melakukan kontrak dengannya sudah pasti dia akan langsung mati di tempat."
"Maksudmu perlu beberapa kualifikasi agar bisa melakukan kontrak ya? Pantas saja dia begitu kesakitan saat mengisi mana." Aku mengingat ekspresi Elvi kesakitan saat berusaha mengisi mana ke dalam bola kristal.
"Y-ya, semacam itulah. Terlebih lagi kualitas mana dari gadis itu juga sangat buruk, jangankan untuk memberiku wujud, membuat pulau ini bisa terbang saja sudah untung." Barsha menjelaskan dengan nada sedikit kesal.
Sampai di luar ruangan, teriknya matahari membuat pengelihatanku buta sesaat. Setelah beberapa saat mataku bisa beradaptasi. Pemandangan indah di depan mata, di atas awan pulau ini terbang. Langit biru cerah.
Hamparan padang rumput di depan mata. "Sebagai Roh Penunggu Pusaka Lyonesse, Aku menyambutmu. Tuan." Ucap Barsha setelah berlari dan berdiri di depanku.
"Apakah aman terus terbang di sini?" Tanyaku khawatir. Bisa saja pulau ini diserang oleh kerajaan atau sebagainya karena dianggap sebagai ancaman.
"Tenang saja, pulau ini terbang cukup tinggi koq, Sehingga jika ada makhluk darat yang menyadarinya mereka juga tidak akan bisa berbuat apa-apa." Jawab Barsha bangga.
"Oya, omong-omong aku sedikit penasaran dengan mana yang barusan kita bahas." Aku membuka pembicaraan.
"Silahkan."
"Kau tadi bilang bahwa sebagai sumber energi pulau ini harus memiliki jumlah mana yang cukup banyak."
"Benar."
"Dan kau memilih diriku."
"Yap."
"Apakah itu artinya aku punya banyak mana." Tanyaku memastikan.
"Betul sekali. Sangat banyak sampai-sampai cukup untuk menjalankan sepuluh pulau terbang seperti ini."
__ADS_1
"Berarti aku bisa menggunakan sihir?"
"Seharusnya kau sudah bisa menggunakannya." Ucap Barsha. Aku bingung dengan peryataan Barsha barusan.
"Biasanya kekuatan sihir di tentukan dari jumlah cadangan mana yang ada di dalam tubuh. Rata-rata orang biasa tidak bisa menggunakan sihir karena cadangan mana mereka yang terlalu sedikit. Semakin besar cadangan mana semakin mudah sihir terwujud. Dalam beberapa kasus ada yang tanpa sengaja membakar rumahnya karena mengeluarkan sihir tanpa sadar saat dia tidur." Jelas Barsha.
"Dalam kasusmu cukup unik dimana kau tidak memiliki mana yang cukup besar bahkan terlampau abnormal, tapi tidak pernah mengeluarkan sihir." Sambil memegang dagunya Barsha menjelaskan.
'Mungkin karena aku berasal dari dunia lain?' Gumamku dalam hati.
"Untuk sekarang mari kita lihat kecocokan elemen dasar darimu." Ucap Barsha.
"Coba kau bayangkan tanah." Mengikuti instruksi Barsha, aku membayangkan partikel-partikel tanah. Dari debu menggumpal menjadi tanah yang lembab.
"Stop!" Aku membuka mata. Tidak terjadi apa-apa. Di depanku Barsha menatap bingung.
"Jumlah manamu berkurang cukup banyak tapi tidak terjadi apa-apa. Aneh sekali. Mari hentikan dulu latihan hari ini sangat berbahaya jika kau tiba-tiba kehabisan mana." Aku kebingungan. Namun, tetap menuruti omongan Barsha.
"Memang seberapa bahaya jika aku kehabisan mana?" Tanyaku.
"Yah, tidak terlalu bahaya juga sih. Kemungkinan terburuknya pulau ini jatuh karena kehabisan energi." Ucap Barsha.
Kami melanjutkan keliling pulau. Satu bangunan kasti di tengah, sebuah taman, bukit di belakang kastil, dan hamparan pepohonan rindang di luar kastil. Kurang lebih seperti itu gambaran kasar yang ku tangkap setelah keliling pulau bersama Barsha.
Kami kembali setelah selesai berkeliling. menuju kamar Elvi. Saat aku membuka pintu. "Slash" tebasan pedang ke arah leher berhenti tepat sebelum mengenai kulitku. Aku terpatung tidak bergerak.
"Oo... Kukira kau sudah sedikit lebih kuat setelah memiliki pedang. Tapi ternyata sama saja." Sindir Elvi sambil mengembalikan pedangnya ke dimensi saku.
Belum sempat Elvi memasukkan pedangnya, Barsha menyerang. Tebasan vertikal dengan satu tangan. Ditangkis oleh Elvi menggunakan pedangnnya.
"Apa yang barusan kau lakukan?!" Teriak Barsha.
"Kau juga kenapa tiba-tiba menyerangku?!" Balas Elvi.
"Itu karena kau dengan sembrononya mengayunkan pedang jelekmu itu!" Ucap Barsha.
"Apa barusan yang kau katakan?! Beraninya kau menghina pedangku!!!"
__ADS_1
Tebasan demi tebasan di ayunkan, ditangkis. Terlempar kemudian bangkit menghindar. Runtutan pertarungan di level berbeda. Jelas aku sadar diri. Kali ini aku tidak akan bisa menghentikan mereka. Jadi akan kutinggalkan saja mereka berdua di sini sampai semua reda.
Aku yakin mereka berdua akan baik-baik saja. Melangkah keluar, meninggalkan ruangan di mana kedua monster sedang bertarung. 'Andai saja mereka akur. Mungkin aku tidak akan kerepotan'
"Buk, duar, Brak.." Aku termenung duduk di lorong. Mendengarkan suara gemuruh dari dalam kamar Elvi. Entah betapa hancurnya nanti di dalam sana.
***
Setelah menunggu selama dua jam setengah akhirnya pertarungan mereka reda. Sungguh merepotkan sekali merawat dua monster ini. Padahal wajah mereka cukup cantik, mungkin aku sudah jatuh cinta pada mereka jika saja mereka lebih anggun, lemah gemulai seperti wanita biasa.
Aku masuk ke dalam. Seperti dugaanku. Tidak ada yang tersisa. Tempat tidur hancur berantakan begitu pula sofa, meja dan karpet yang tak luput dari amukan mereka. Untung saja dinding dan lantainya cukup kuat sehingga hanya meninggalkan bekas retakan saja.
Di lantai mereka berdua berbaring, Nafas terengah-engah. Pedang Elvi tertancap di langit-langit ruangan. Seri kurasa hasil pertandingan kali ini.
"Lumayan juga dirimu." Dengan nafas terengah-tengah Elvi bicara.
"Justru aku kagum padamu. Sudah lama sejak ada orang yang bisa imbang denganku." Jawab Barsha.
"Aku cukup menyukaimu." Ucap Elvi.
"Sebaliknya aku tidak suka denganmu." Balas Barsha.
"Apa-apaan jawaban itu?!" Ucap Elvi dengan nada tinggi. Bangun duduk memandang ke arah Barsha.
"Habisnya sikapmu yang urakan hampir saja membunuh majikan baru ku." Ucap Barsha.
"Dan lagi kedekatanmu dengan Yosi aku tidak suka itu." Kali ini dengan suara lirih.
"Kukira apa, ternyata nona Roh cemburu." Berdiri mengucapkannya dengan lantang.
"Terserah apa yang mau kau ucapkan, yang jelas aku tidak suka dirimu." Jawab Barsha, berdiri menatap tajam ke arah Elvi. Pandangan keduanya saling bertemu.
Elvi mengambil pedangnya yang tertancap di langit-langit. Menentengnya seakan siap berduel.
"Sudahlah jangan bertengkar lagi!" Ucapku lantang dari balik pintu.
"Eh, Kau di sana?" Ucap keduanya kompak.
__ADS_1
Keduanya saling pandang kemudian berjabat tangan "Kita akhiri untuk saat ini." Ucap keduanya sambil tersenyum. Meskipun yang kulihat genggaman kaku dari keduanya seakan tak rela ini berakhir.