
Aku dan Elvi melanjutkan perjalanan. Elvi memimpin di depan. Karena tertutup oleh rindangnya hutan area di sekitar sini agak gelap.
Elvi dengan riang gembira berjalan. Walaupun tubuh dan bajunya masih berlumuran darah.
Aku melihat Elvi dengan perasaan ngeri-ngeri sedap. Ngeri nya di bagian bercak darah. Mengingatkan ku akan Elvi yang dengan brutal membantai orang, bahkan aku hampir sempat terbantai.
Merinding sambil memegangi leher. Teringat sensasi hampir mati tertebas.
Sedapnya, itu karena area sekitar sini cukup gelap jadi yang kulihat adalah siluet gadis muda yang bersenandung riang gembira.
Ya, meskipun aku tahu Kenyataannya. Wanita yang cukup brutal dan mengerikan.
'Brrr' Merinding tubuhku mengingatnya.
Setelah berjalan cukup jauh tiba-tiba Elvi berhenti. Refleks aku memasang kuda-kuda.
"Apakah ada musuh lagi?" Aku bertanya .
"Bhwaa..." Elvi tertawa sambil menunjuk-nujuk diriku. Jelas aku tak paham apa yang lucu.
"P-pose macam apa itu? Aku tidak pernah melihatnya." Elvi bertanya sambil berusaha menahan tawa.
Aku menyadari tak ada bahaya jadi berdiri biasa. "Ehm... Benar juga ya ini dunia lain mana mungkin mengenal boxing?" Dalam hati bergumam.
"Y-ya, habisnya aku tidak tahu harus berbuat apa. Spontan saja." Memegang leher dan menoleh ke samping. Malu. "Arg... Apa yang barusan ku katakan!?" Teriakku dalam hati sambil menahan rasa malu.
"Haduh..." Menghebuskan nafas panjang. Berusaha berhenti tertawa.
"Kau memang orang yang menarik." Ucapnya sambil menepuk-nepuk punggungku.
"Tak perlu sungkan begitu. Kita sudah sampai koq." Sambil menunjuk ke atas.
Mendongak. Tidak melihat apa-apa. Hanya langit hitam dihiasi bulan dan bintang-bintang. Aku tidak mengerti dengan maksud perkataan Elvi tapi kulihat langit begitu indah.
Kemana saja aku selama ini. Melewatkan keindahkan yang ada dengan percuma. Habisnya di dunia lama ku kalian tahu sendiri bukan. Kita selalu disibukan oleh berbagai macam hal. Mulai dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Selalu lupa mendongak ke atas.
Melihat di keindahan angkasa. Yah, walaupun ingat pun percuma. Di langit kota hanya ada kegelapan semata. memang terkadang ada bulan sih tapi tidak seindah yang aku lihat saat ini.
"Indah sekali" Ucapku sambil mendongak ke atas. Masih takjub dengan pemandangan yang aku lihat.
__ADS_1
"Indah? Apanya?" Elvi menoleh bertanya bingung.
"Langit." Singkat kujawab.
"Hm. Memang indah tapi bukan itu yang ingin aku tunjukan. Melainkan itu." Menunjuk ke suatu arah di langit.
"Bintang? Rasi bintang?" Aku bertanya.
"Haduh..." Nada kecewa.
""Bukan ya?" Aku menoleh ke arah Elvi. Sama sekali tidak paham dengan apa yang dimaksud Elvi. Menunjuk ke atas yang ada di atas kan hanya langit, bulan, bintang, dan pulau besar mengapung di angkasa. Eh pulau mengapung?
Aku mendongak lagi, memastikan. Mengucek mata tak percaya. Sebuah pulau mengapung di angkasa. Ukurannya lumayan besar. Dan lagi semakin mendekat.
"Akhirnya sadar juga kau. Pengamatanmu ini benar-benar payah." Sindir Elvi.
"Kurasa sudah cukup dekat. Ayo!" Memeluk erat diriku. Lagi-lagi sensasi lembut ini. Tak salah lagi dadanya menyentuh dadaku.
"E-Elvi" Aku mencoba memberitahunya.
"Ya, ada apa?" Dengan enteng bertanya.
"I-itu menyentuh." Aku memberi isyarat mata ke arah dada.
"Whuss..." Dengan kecepatan tinggi Elvi melompat ke atas. Aku tersentak, tekanan dan arus angin yang kencang menampar wajahku. Rasanya seperti ada yang hendak merobek wajahku. Nafasku sesak. Kami masih melaju kencang. Aku hampir kehabisan nafas.
Perlahan kecepatan kami berkurang. Untuk sesaat kami seakan berhenti di udara. Posisi kami sekarang lebih tinggi daripada pulau terbang(Untuk sementara disebut begitu agar lebih mudah diingat). Aku melihat bukit hijau nan rindang di atasnya, Sebuah bangunan besar dan bertingkat mirip istana.
Berbinar takjub wajahku. Melihat dunia dari atas seakan mimpiku jadi kenyataan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama.
Belum selesai aku mengagumi pemandangan di atas sini. Jatuh, menukik tajam.
"Aaa..." Adrenalinku terpompa keras. Merinding rasa takut saat jatuh di ketinggian.
Sensasinya masih lebih baik dibandingkan dengan perjalanan kami ke atas sini.
Kecepatan jatuh kami stabil rasanya seperti main terjun payung tapi yang ini tanpa memakai parasut.
Elvi tetap memeluk erat diriku. Mengendalikan arah jatuh ke pulau terbang
__ADS_1
Semakin dekat dengan tanah semakin takut diriku. "Aaa..." Terus berteriak ketakutan.
100 meter dari tanah. 60 meter kecepatan jatuh kami tidak melambat. 50.. 40.. 30.. 20.. 10..
'Wuk. Kretek' tepat setengah meter dari tanah kami berhenti jatuh. Hentakan yang cukup kuat. Kurasa barusan aku mendengar suara tulang ku berbunyi.
Perlahan kami turun menyentuh tanah. Sampai di atas pulau terbang. Elvi melepas pelukannya.
Terjungkal jatuh. Perutku rasanya seperti dikocok, kepalaku pusing, badanku menggigil hebat.
"Wow, pengalaman paling mendebarkan selama aku hidup." Ucapku dalam hati.
Aku merangkak, karena kakiku masih lemas gematar. "Jadi ini rasanya ketakutan sampai tidak bisa berdiri."
Elvi memandang heran ke arahku. Wajahnya seakan bicara " Apakah kau selemah ini?"
Ingin sekali aku menyangkalnya tapi kondisiku saja yang tak mampu untuk berdiri apalagi untuk menyanggah anggapannya.
Nafas tersengal-sengal merangkak hanya bisa menatap Elvi dari bawah sini.
Elvi berdiri menatap kasihan diriku. Jongkok. Mengangkat tanganku. Membantuku berjalan.
Tak seburuk yang aku kira. Memalingkan wajahnya seakan tidak mau menatap wajahku.
"Arg, jangan-jangan dia tidak mau menatap pria lemah sepertiku?" Aku berasumsi.
Padahal sebenarnya dalam hati kecilnya Elvi merasa sangat bersalah.
Melihat dampak tindakannya yang sembrono itu. Tapi Yosi sepertinya salah memahami sikap yang ditunjukan oleh Elvi. Suasana keduanya menjadi canggung.
Kami berdua berjalan cukup jauh. Kondisiku sekarang sudah sedikit lebih baik. Walau sedikit sempoyongan. Ada yang berbeda dari sikap Elvi setelah kami mendarat. Biasanya dia banyak bicara, menggodaku. Sekarang lebih banyak diam.
"Apa karena diriku? Apa karena kejadian barusan? Och. Seharusnya aku lebih bisa menahannya." Gumamku dalam hati. Merenung berusaha memahami masalah.
Sepanjang perjalanan menuju bangunan terdekat Elvi seperti menjaga jarak dariku. Saat aku mendekat dia menjauh. Saat aku menatap dia memalingkan wajah. Seakan tidak ingin dekat dan melihatku.
Yah, aku memaklumi statusku yang sebagai orang asing yang belum lama ini ketemu. Meskipun aku sangat berhutang budi padanya karena telah menolongku. Aku rasa tidak berhak untuk memaksa dirinya untuk bersikap dekat denganku.
Sementara itu dalam pikiran Elvi berkecamuk. Memikirkan cara untuk meminta maaf. Rasa bersalah membuatnya sedikit canggung saat menatapnya. Dia takut jika perbuatannya itu telah membuat dirinya dibenci Yosi.
__ADS_1
Mereka terus berjalan dalam kecanggungan. Di sisi Yosi ingin mencairkan suasana tapi respon Elvi yang tidak biasa membuatnya semakin gugup. Di sisi Elvi pikirannya penuh bayangan sekenario perpisahan yang akan terjadi. Membuat keduanya memutuskan tidak berbicara satu sama lain dalam jangka waktu tidak ditentukan.
Apakah ini akan menjadi awal romansa Yosi dan Elvi? Siapa yang tahu?