
"Aku Barsha Roh Penunggu Pusaka Lyonesse." Barsha mengenalkan diri. Aku dan Elvi tidak bisa berkata apa-apa. Sama-sama terkejut. Elvi berdiri hendak menyapa.
Tiba-tiba Barsha langsung memelukku. Menatap tajam ke arah Elvi dengan memasang wajah cemberut.
"Eh, kenapa?" Tanya Elvi bingung. Aku pun juga bingung.
"Aku tidak mau dengan orang jahat." Jawabnya polos.
"Apa maksudmu? Aku tidak jahat koq." Elvi membela diri. Tidak terima dikatakan sebagai penjahat.
"Habisnya kau tadi menyerang kakak ini. Bahkan sampai mecoba memangsanya." Sambil menunjukkan bekas gigitan di leherku. Ya aku juga setuju sih soal itu.
"Tidak kau salah paham soal itu. Aku tidak benar-benar memakannya, hanya sedikit mengambil darahnya." Elvi membantah.
"Ya kau berhenti memangsanya karena dia sadar dan melarangmu kan. Jika tidak entah apa yang akan terjadi." Sambil memeluk erat diriku Barsha berbicara. Wajah Elvi memerah kesal. Tampak marah.
"Sudahlah jangan terlalu meributkan hal yang telah terjadi. Toh aku juga baik-baik saja." Aku berusaha mencairkan suasana. Mencegah konflik berlanjut. Bisa-bisa Bashra dipenggal oleh Elvi.
"Benar yang dikatakan Yosi meskipun aku menghisap darahnya toh dia juga masih hidup jadi aku tidak bersalah." Ucapanku malah digunakan oleh Elvi untuk membela diri seakan aku berpihak padanya.
"Hmph... Padahal aku hampir berhasil menghabisinya." Dengusnya kesal.
Dengan cepat Elvi mengambil pedangnya dan menebas ke arah Barsha yang sedang memelukku.
Dengan mudah Barsha menangkap mata pedang hanya menggunakan dua jarinya.
"Benarkan kubilang kau orang jahat." Ucapnya ke arah Elvi. Memerah mata Elvi, marah.
"Tidak aku bukan orang jahat! Jangan samakan aku dengan mereka!!" Teriak Elvi.
Segera menarik kembali pedangnya, mundur bersiap kembali menyerang. Mata pedang diarahkan ke depan.
"Jangan jauh-jauh dariku!" Barsha dengan satu tangan memelukku satu tangan lainnya bersiap menangkis serangan Elvi.
Secepat kilat 'Tang, tang, tang' Gema suara pedang dan tangan Barsha beradu.
Sangat cepat mataku tidak bisa mengikuti. Yang terlihat hanya bekas pijakan Elvi, angin berhembus, dan kilatan pedang beradu.
Membabi buta Elvi menyerang dari segala arah. Semua serangan mulai dari tebasan dan tusukan ditangkis oleh Barsha.
Setelah sekian banyak serangan dari Elvi Barsha menyerang.
Satu pukulan keras di perut menghempaskan Elvi jauh ke depan, jatuh ke lantai beberapa kali hingga tergeletak tak sadarkan diri.
"Eh, sudah selesai? Padahal aku sudah cukup menahan diri." Ucapnya keheranan.
Menyadari kekuatan Barsha aku hanya bisa pasrah. Satu lagi monster bertambah.
Melihat Elvi tergeletak di lantai tak sadarkan diri aku bergegas menuju ke arahnya. Melepaskan pelukan Barsha.
Awalnya ku kira dia akan segera bangkit kembali ternyata dia benar-benar pingsan.
"Biarkan saja dia di sana, kenapa kau menolong orang jahat." Aku tidak mendengarkan ocehan Barsha.
Karena terlalu khawatir dengan kondisi Elvi. Memeriksa. Barsha berdiri di belakang ku.
Aku berusaha menggendong Elvi. Hendak membawanya ke kamarnya. Melihat aku kesusahan Barsha tak tega.
Dia ikut membantuku. Melambaikan tangan ke depan. Sebuah portal terbuka langsung menuju ke kamar Elvi.
__ADS_1
Membantuku menggendong Elvi. Melewati portal dan membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
***
Pemandangan desa terbakar. Seorang anak kecil meringkuk ketakutan. Pasukan dengan baju putih menyerbu desa.
"Elvi apapun yang terjadi kau tidak boleh keluar." Ucap, seorang gadis berusia sekitar 16 tahun kepada Elvi kecil. Kemudian menutup lantai dengan kayu.
Suara beberapa orang datang. Dari celah lantai kayu dia melihat sosok wanita yang dianggapnya kakak ditusuk dan di penggal.
Air mata mengalir di pipi. Kedua tangannya menutup mulut.
Berusaha tidak bersuara. Seluruh desa dibakar. Penduduk di sana dibantai tanpa pandang bulu.
"Iblis telah muncul di sini, Desa tercemar harus segera dimusnahkan." Kata salah pimpinan pasukan berbaju putih.
"Siapapun yang menentang Dewi Putri akan menerima hukuman surgawi. Terimalah belas kasihan sang Dewi." Beriringan dengan pembantaian dan pembakaran desa.
"Siapa mereka? Kenapa mereka melakukan ini?" Tanya dalam hati sambil berusaha menahan Isak tangis.
Kenangan bersama kakak muncul. Sore itu di pinggir kebun aku dan beberapa anak desa mendengarkan kakak bercerita.
Mengenai pahlawan melawan raja iblis. Elvi kecil mengangkat tangan hendak bertanya.
"Ya, Elvi ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya kakak dengan ramah.
"Kenapa raja iblis berbuat kejam pada manusia?" Pandangan semua anak tertuju padaku, kemudian menoleh ke arah kakak.
Kakak terdiam sejenak sedikit terkejut dengan pertanyaanku.
"Itu karena raja iblis jahat dan ingin menguasai dunia." Jawab kakak
"Apa itu jahat" Elvi kembali bertanya.
***
"Kakak..." Rintih Elvi menangis tersedu-sedu. Di atas tempat tidur.
Aku spontan menggenggam tangan Elvi . Berusaha menenangkan Elvi.
Barsha yang melihat itu tampak bingung. Hendak bertanya tapi mengurungkan niatnya setelah melihat situasi.
Setelah beberapa saat Elvi membuka mata. Bangun, masih tersedu. Sisa isak tangis.
Mengusap air matanya. Melihat sekitar. Kemudian memeluk diriku.
Barsha hendak melompat, aku mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.
Barsha membatalkan niatnya.
"Aku bukan orang jahat." Elvi menangis di dadaku. Aku menepuk-nepuk punggungnya. Berusaha menenangkan.
"Sudah jangan menangis kau bukan orang jahat." Hiburku.
"Benarkah?" Dia bertanya padaku.
"Ya, orang yang menyelamatkanku adalah orang jahat." Ucapku. Elvi terdiam.
"Kenapa?" Aku bertanya. Sikapnya yang aneh membuatku penasaran.
__ADS_1
"S-sebenarnya... Aku..." Kalimat nya terhenti.
"Ya."
"A-akulah orang yang mereka cari."
"Hah. Apa maksudmu." Aku bertanya karena tidak paham apa yang sedang dia bicarakan.
"Maksudku akulah yang Monster Gunung Hijau yang mereka cari. Yang mana dituduhkan padamu."
"Hah!?" Aku tidak percaya dengan ucapannya. Barsha mendekat hendak menyerang. Aku menahannya.
"Maafkan aku, alasan mengapa aku menolongmu saat itu karena aku merasa sangat bersalah padamu." Elvi memohon maaf. Mata berkaca-kaca.
Barsha hendak menyela tapi aku menatap tajam ke arahnya.
Berhenti melangkah. Aku kembali memenangkan Elvi.
"Itu tidak masalah, toh kau tidak membunuhku waktu itu kan dan juga kau telah menyelamatkanku."
Elvi kembali menangis kali ini aku benar-benar tidak tahu kenapa dia menangis lagi padahal aku sudah melakukan yang terbaik untuk menghiburnya.
menoleh ke arah Barsha tapi dia malah memalingkan wajahnya. Ngambek.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jadi aku ikuti saja arusnya. Melepas pelukannya Elvi menyuruhnya beristirahat.
Mengajak keluar Barsha. Mencoba membuka percakapan.
"Omong-omong kau tadi bilang kau adalah roh penunggu pusaka lion.. apalah itu."
"Lyonesse. Ya itu maksudku, apa sebenarnya itu." Aku bertanya.
"Kau benar tidak tahu atau hanya bercanda." menatap heran.
"Aku tidak tahu." Barsha menepuk jidat.
"Sekarang kita ada di mana?" Barsha bertanya padaku.
"Di kastil." Aku menjawab.
"Aya, aku tahu kita di kastil tapi maksudku dimana kastil ini berada."
"Di pulau terbang?" Aku menjawab ragu.
"Yap, betul sekali. Anak pintar." Mendekat dan mengelus-elus kepalaki seperti anak kecil.
Biarlah toh sekarang dia tidak ngambek lagi.
"Jadi..."
"Ya?"
"Dimana itu?" Aku bertanya.
"Apanya?"
"Pusaka Lyonesse" Barsha sangat terkejut.
"Bahkan dengan petunjuk sejelas itu kau masih tidak paham?!" Kata Barsha tidak percaya.
__ADS_1
"Petunjukmu membuatku semakin bingung." Sahutku
"Pulau dan seluruh isinya ini adalah Pusaka Lyonesse!" Jawab Barsha dengan suara keras dan nada tinggi.