
"Dok, tolong Selamatkan dia!" samar-samar aku mendengar suara.
Aku bisa merasakan tubuhku baru saja diletakkan. Entah di atas meja atau karpet aku tidak tahu.
Beberapa saat kemudian aku baru bisa sedikit membuka mata. Tiga orang berbadan pendek. Menyuntikkan semacam cairan ke kakiku.
Kemudian mengeluarkan semacam pisau. "Dek." Aku tersentak kaget. Memberontak.
Panik. Takut dan takut. Tiga orang itu memegangi ku. Mencegahku untuk pergi. Tetap memegangiku dan memaksa menidurkanku.
Satu orang menyuntikkan sesuatu ke tanganku. Aku menjerit-jerit.
Mengguncang-ngucangkan tubuhku. Meja mereka patah. Aku berhasil lepas.
Segera aku bangkit. Lari menuju pintu keluar. Terpincang-pincang. Rasa nyeri di kaki. Pusing kepalaku.
Pandangan kabur. Tidak sampai lima langkah. 'Bruk' Jatuh. Kembali tak sadarkan diri.
Mereka bertiga kembali berdiri. Mengangkat tubuhku. membaringkan di atas meja lainnya. Mungkin semacam meja operasi tapi terbuat dari kayu dan juga lebih pendek.
"Untung saja kita berhasil menyuntikkan bius tepat waktu."
"Pasien satu ini cukup merepotkan." Satu lainnnya menimpali.
"Mau semerepotkan apapun dia tetaplah pasien. Jangan banyak mengeluh kembali bekerja" Sambil tetap menangani luka ku dia berbicara.
"Baaiik..." Jawab keduanya dengan suara malas keberatan.
***
Membuka mata perlahan. Mendapati diriku terbaring di atas tempat tidur pasien. Di ruangan persegi.
Ada beberapa pasien yang terbaring berjajar di samping kanan-kiriku. Juga ada satu baris lagi di depanku.
"Kau sudah bangun?" Seorang gadis duduk di samping tempat tidurku. Wajah cantik nan manis.
"Em." Menggangukkan kepala. Tampaknya dia gadis yang baik. Aku memejamkan mata sebentar.
"Beristirahatlah. Aku taruh bubur di atas meja. Makanlah saat kau sudah merasa baikan." Berdiri. Hendak pergi.
Segera kuraih tangannya. "Jangan pergi" Dengan suara pelan ku memohon. Baru pertama kalinya ada yang memperlakukanku sebaik ini, sejak aku datang ke dunia ini.
Mana mungkin aku mau melepaskannya. Dia tersenyum padaku. memengang tanganku.
"Tenang saja. Aku akan segera kembali." Dengan berat hati aku melepas genggaman tanganku. Menunduk lesu.
__ADS_1
Mendekatkan wajahnya. Berbisisk. "Jangan khawatir semua akan baik-baik saja." Kemudian tesenyum lalu pergi keluar ruangan.
Melihat ke arah samping. Di atas meja. Semangkuk bubur putih. Aku ambil dan makan.
"Hem... Ini enak sekali!" Awalnya kau tak selera melihat penampilannya tapi rasanya ternyata tidak seburuk yang aku banyangkan.
Dengan lahap aku menghabiskan semangkuk bubur. "Aku mau lagi!" Dalam hati menyeru. "lagi!". Menoleh kiri-kanan.
"Ada apa anak muda? Sepertinya kau sangat menikmati makanan di sini." Salah seorang pasien di sampingku bertanya. Mungkin tingkahku barusan menarik perhatiannya.
Dia menyodorkan semangkuk bubur. "Makanlah! Aku sudah kenyang."
"Benarkah?! Kalau begitu selamat menikmati." Segera mengambil bubur yang dia tawarkan. Dengan Lahap aku makan.
"Hahaha.... Kau aneh sekali anak muda. Bisa-bisa nya begitu menikmati makanan busuk di sini." Dia tertawa sambil memegang perut.
"Jangan menghinaku tuan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya tidak makan selama lebih tiga hari." Protesku tidak terima dia menertawakanku.
"Jangan dibawa serius. Aku hanya bercanda." Mengatakan itu sambil tersenyum kepadaku.
Aku melempar bantal ke arahnya. Tepat mendarat di mukanya.
"Jangan main-main denganku!" Kemudian dia melempar balik bantalku.
Segera aku taruh mangkok ke meja dan menangkap lemparan bantal kemudian mengembalikan lemparannnya.
Ops, sepertinya aku sedikit berlebihan. Kuharap tidak terjadi masalah.
"Lumayan juga. Sudah lama aku tidak merasa sekesal ini." Dia kembali melempar bantal dengan emosi. 'Brak' tiang infus dengan cairan berwana merah jatuh.
Kulihat lagi. Selang infus yang copot dari lenganku mengeluarkan cairan berwana merah. Eh, infus. Aku tidak ingat jika diriku diinfus. Sekali lagi aku amati kondisi tubuhku.
Baru kusadari perban di kepala dan kaki ku. Nyeri di kedua betisku juga baru terasa. Kembali meletakkan tubuh perlahan ke tempat tidur. Tangan kanan ku tempat yang baru saja infus lepas kubiarkan terngatung di samping ranjang.
Semua rasa lelah, sakit, nyeri, dan pusing berkumpul jadi satu. Dan itu semua baru kurasakan sekarang. Lemas tak berdaya. Terbaring di tempat tidur sambil menahanĀ rasa sakit, nyeri, dan pusing yang baru saja kurasakan.
"Hei kau! Jangan bilang kau akan mati!" Panik. Melihat diriku tak terkulai lemas di tempat tidur. Genangan cairan merah di lantai membuat dia semakin panik.
"Dokter! Dokter!'" Dia berteriak sekuat tenaga memanggil Dokter.
Aku terbaring lemas. Kali ini aku tidak pingsan atau kehilangan kesadaran. Hanya saja tubuhku terasa lemas dan sakit.
Seorang gadis kelinci dengan baju perawat datang. Dengan cekatan mendirikan tiang infus dan memasang selang infus kembali ke tanganku.
Aku hanya bisa menoleh melihat gadis kelinci itu memasang infusku. Kemudian menghampiri pria yang tadi melempar bantal kepadaku. Dengan keras menjitaknya.
__ADS_1
"Au... Apa-apaan kau ini!?" Merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Itu karena kau selalu saja membuat masalah!" Gadis kelinci itu kembali membentak pria itu.
"Meski begitu, kau tidak boleh seenaknya memukul pasien yang sedang terluka." Protes pria itu.
"Tidak masalah aku hanya melakukannya padamu saja." Kata gadis kelinci sambil menyilangkan tangan di dada.
"Eh... Apa-apaan itu! Sama sekali tidak adil." Protes pria itu, cemberut.
Gadis kelinci itu mengabaikan pria itu dan mengambil bantal yang tadi dilempar pria itu kepadaku. Sebagian batal itu basah oleh cairan merah infus.
Di keluar membawa bantal yang basah itu. Aku melirik ke arah pria di sampingku. Dia masih memegangi kepalanya. Aku tersenyum.
"Apa lihat-lihat. Jangan pikir kau sudah menang. Aduh-duh" Kembali memegangi kepalanya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu." Berkata lirih kemudian kembali tersenyum.
"Ah. Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena terlalu berlebihan menanggapi." Kata pria itu menghadap ke depan tanpa menoleh ke arahku.
"Gadis kelinci. Kau mengenalnya?'" Aku bertanya. Berusaha mencari topik pembicaraan.
"Kenapa? Kau tertarik dengannya. Kusarankan cari gadis lain kau atau akan menyesal." Katanya sambil Melambai-lambaikan tangan.
"Tidak. Aku hanya penasaran saja. Kelihatannya kau cukup dekat dengannya." jawabku.
"Tidak ada apa-apa di antara kami. Hanya sebatas teman masa kecil. Walau begitu perlakuannya padaku selalu saja menyebalkan." Sambil kembali memegangi kepalanya.
Tertawa kecil. "Yah, kurasa aku tahu bagaimana rasanya." Gumamku.
"Kau juga punya teman masa kecil sepertinya?" Dia menoleh ke arahku.
"Tidak. namun, setidaknya aku tahu betapa sakitnya saat kepala ku dipukul." Menyeringai.
"Apa-apaan itu? Hampir saja aku mengira telah bertemu seseorang bernasib sama denganku." Menghembuskan nafas panjang. Kembali berbaring.
"Kau tahu? Tidak semua orang seberuntung dirimu." Aku berkata.
"Apa maksudmu beruntung?" Miring ke arahku.
"Ya. Coba kau pikir. Masih banyak orang yang nasibnya lebih mengenaskan daripada kita. Seperti mereka yang kelaparan lebih dari tiga hari, atau terpidana mati yang tidak berbuat salah."
"Kurasa kepala mulai bermasalah. Bicaramu sudah melantur tidak jelas." Dia menimpaliku.
Aku tertawa kecil. Mungkin dia benar. Wajar saja setelah apa yang aku lalui. Aneh rasanya jika aku masih waras. Aku perlahan menutup mata. Tidur. Lagi pula aku juga sudah kenyang.
__ADS_1
"Hmm" Aku tersenyum sendiri. Menikmati kasur empuk ini. Setidaknya lebih empuk dari lantai sel bawah tanah. Selamat tidur.