
Aku tak paham maksud seringai misterius Elvi tapi yang ku tahu sekarang kami dalam masalah.
"Hey, nona. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Pimpinan kelompok bersenjata itu berbalik mengarah pada kami.
"Apa itu tuan, yang per ka sa?" Dengan senyum menggoda dia berbalik menjawab diikuti oleh diriku.
"Arahmu datang itu bukankah daerah pemukiman kumuh?" Sambil menunjuk ke arah belakang.
"Ya, benar. Lalu apa masalahnya?" Memiringkan kepala.
"Apa yang dilakukan turis seperti kalian di daerah pemukiman kumuh tempat berkumpul para bandit dan penjahat?" Sang pimpinan kelompok bersiap memegang pistol yang disarungkan.
"Hah… Padahal lebih baik kalian tertipu atau setidaknya meskipun sadar bersikaplah seperti tidak tahu." Elvi menghela nafas, sedikit kecewa.
"Sudah kuduga!" Mereka mengeluarkan senjata menyerang.
Belum sempat Sang pimpinan mengeluarkan pistolnya. 'Slash' tebasan di leher. Kepalanya lepas. Jatuh ke tanah bersamaan dengan tubuhnya.
Semua memapatung. Terkejut. Termasuk juga aku. Berusaha memahami apa yang barusan terjadi.
Tiba-tiba saja Elvi sudah berdiri di depan mayat pimpinan kelompok. Tangan kanannya memegang sebuah pedang.
"Beraninya kau! Duar, duar, duar" Teriak salah seorang yang berdiri di samping pimpinan itu dibarengi suara tembakan.
Menembak dengan brutal ke arah Elvi diikuti oleh tiga orang lainnya.
"Elvi!" Aku berteriak menyeru namanya.
Ku lihat percikan api. Elvi menangkis semua tembakan yang diarahkan kepadanya hanya dengan menggunakan sebilah pedang.
'Tak, tak, tak" mereka kehabisan peluru. Melihat Elvi yang tidak terluka sedikitpun dia yang tadinya berteriak dan menembak merasa ketakutan.
Elvi berdiri, menatap tajam ke arahnya. Refleks mundur selangkah.
"Apa yang kalian tunggu serang dia!" Berteriak ke para bawahan.
Tak ada dari mereka yang bergerak. Bergeming ketakutan. Begitu pula juga denganku.
"Ku bilang Serang!" Menatap bawahnya marah. Seorang dari para bawahan menyeru.
"Oo…!" Mengangkat pedang ke atas maju menyerang diikuti oleh para bawahan lainnya yang juga ikut menyeru.
Semuanya terjadi dalam sekejap mata. Semua orang yang maju satu persatu tertebas. Satu kepala, dua kepala, tiga kepala. Banyak kepala berterbangan.
Beberapa orang di belakang menyadari tidak akan bisa menang memutuskan untuk lari. Namun, Elvi tidak membiarkannya.
Dengan kecepatan di luar nalar langsung menuju ke arah belakang. Memenggal kepala seperti membelah keju.
Pertempuran ini berlangsung singkat. Tidak, ini tak pantas disebut pertempuran melainkan pembantaian sepihak.
Elvi tampaknya begitu menikmati pembantaian ini.
Aku yang dari tadi terpatung tidak kuat menahan mual. Muntah. Melihat banyak mayat, kepala, dan amis bau darah.
Saat aku selesai muntah pertarungan, maksudku pembantaian sudah berakhir.
__ADS_1
Elvi menyisakan satu orang. Yaitu dia yang berteriak dan menembak dirinya.
Laki-laki itu bersipuh ketakutan. Elvi berdiri di depannya mengarahkan pedang ke leher pria itu.
"Jadi, apa yang dilakukan seorang perwira tinggi kerajaan di tengah hutan begini?" Elvi bertanya sambil mendekatkan mata pisau ke leher pria itu.
Aku mendekat ke arah Elvi melangkahi mayat-mayat korban Elvi. Tinggal beberapa langkah ke arah Elvi aku mendekat.
'Wuss' Tebasan pedang ke arahku. Refleks mundur menghindar. Elvi menbasku.
Menatap tajam ke arahku. Sebagian wajahnya berlumuran darah. Aku menggigil ketakutan.
"Oalah, rupanya Yosi. Maaf aku kira masih ada musuh yang tersisa. Hehehe." Bertingkah seperti biasa.
"Oi, Elvi kau baru saja hampir menebasku!" Aku protes.
"Benar. Apa yang salah dengan itu?" Dia bertanya seperti gadis lugu.
"Aku hampir saja mati ditebas olehmu, tidakkah kau merasa bersalah!?" Aku protes pada sikapnya yang dengan enteng mengayunkan pedang ke arahku.
Normalnya dia akan minta maaf. Merasa bersalah karena hampir secara tidak sengaja membunuhku atau sebagainya.
Namun, besar ceritanya dengan Elvi. Padahal aku sudah ketakutan setengah mati. Gara-gara tingkahnya.
"Tapi kau tidak mati kan jadi tidak masalah." Memandangku tanpa dosa.
Aku menepuk jidat. Memaklumi. Mungkin memang itu sifatnya.
Perwira yang diintrogasi Elvi perlahan menjauh dan ingin segera melarikan diri di saat kami berdua sedang berbicara.
Belum sempat berlari Elvi sudah di belakangnya. 'Slash' sekali tebasan memotong kedua kakinya.
"Aarrgh…" Jatuh terjerembab. Berteriak kesakitan. Merayap menjauh.
"Arg, Tolong jangan bunuh aku. Kumohon." Merintih kesakitan memohon.
Entah kenapa suaranya terdengar familiar. Apa aku pernah bertemu dengannya. Tunggu jika kupikir-pikir.
Hanya beberapa orang yang berbicara denganku sejak aku di penjara.
'Jleb' Elvi menusuk salah satu pahanya. "Arg…" Meraung kesakitan.
Jongkok melihatnya. Melihat wajahnya. Mengamati dengan seksama. Mengingat-ingat.
Percuma aku tidak mengingatnya.
"Elvi kau kenal dengannya?" Aku bertanya pada Elvi.
"Eh, apa kau lupa?" Menatapku heran. Wajahnya seakan mengatakan "Kau sedang bercanda?"
"Serius, aku benar-benar tidak tahu siapa dia, hanya saja suaranya terdengar familiar." Aku memberi jawaban atas pertanyaan Elvi yang keheranan.
Wajah perwira itu kecut menahan rasa sakit. Pedang Elvi masih menancap di salah satu pahanya.
"Dia adalah pria yang berpidato saat eksekusimu." Elvi memberi tahu dengan nada manja.
__ADS_1
"Oh, pantas alasan mengapa aku tidak ingat wajahnya dan hanya mengenali suaranya karena aku hanya pernah mendengar suaranya tanpa pernah melihat wajahnya." Hem, semua jadi masuk akal sekarang.
"Kau mau menghabisinya?" Menoleh bertanya ke arah Elvi.
"Ya, rencananya begitu kenapa?" Elvi bertanya.
Wajah perwira itu menjadi pucat mendengar tidak ada harapan untuknya bisa selamat.
"Bolehkah aku yang menghabisinya?" Aku bertanya.
"Eh, hahaha…" Elvi tertawa mendengar aku mengatakan hal yang tidak terduga.
"Hah..." Menghela nafas. Berhenti tertawa.
"Boleh saja"Tersenyum ke arahku.
"Kalau begitu bolehkah aku meminjam pedangmu?" Aku menjulurkan tangan hendak meminjam pedangnya.
'Slas' Elvi menarik pedangnya. memeluk pedangnya segera menjauhkannya dariku.
"Hem…" Perwira itu menahan rasa sakit saat sedang dicabut dari b
"Eh, kenapa?" Aku bertanya. Reaksi Elvi seperti anak kecil yang tidak mau mainannya direbut.
"Pokoknya tidak boleh!" Elvi menegaskan tindakannya.
"Ha.. habisnya berbagai pedang hanya dilakukan oleh sepasang kekasih." Ucapnya lirih.
"Kau bicara apa barusan" Aku bertanya karena tidak begitu jelas mendengar apa yang baru saja Elvi ucapkan.
"Bukan apa-apa." Elvi mengelak. Memalingkan wajahnya. Memerah malu.
Aku heran dengan tingkahnya yang tidak biasa. Melihat sekitar mencari senjata terdekat.
Sebuah belati tergeletak tidak jauh dari kakiku. Aku memungutnya. Sedikit kotor berlumur darah.
Aku mendekatinya. Dia ketakutan merayap menjauh.
"Jangan mendekat. Tolong, menjauhlah. Hi…" Aku menarik rambutnya. Dia memegangi tanganku.
Merintih kesakitan. Walau sudah kehilangan banyak darah dia masih punya banyak kekuatan untuk meremas tanganku hingga terasa sedikit sakit.
Aku segera menyembelihnya dengan perlahan. Darah muncrat dari lehernya. Berontak aku menahan tubuhnya.
Perlahan gerakan tubuhnya melemas. Tangan yang tadi meremas tanganku terkulai lemas ke tanah.
Dia sudah Mati. Aku berdiri, tangan kananku yang memegang belati berlumuran darah. Sebuah lingkaran hitam muncul di samping Elvi.
Elvi menaruh pedangnya ke dalam lingkaran hitam itu.
"Apa itu?" Bertanya kepada Elvi.
"Dimensi portabel, memang kau tidak tahu?" Bertanya padaku seakan itu hal normal.
"Dimensi portabe?! sihir atau semacamnya?!" Antusias aku bertanya. Mendekat ke arah Elvi.
__ADS_1
"Baik-baik akan kujelaskan nanti! Yang penting sekarang kita harus segera meninggalkan tempat ini. Akan buruk jadinya jika seseorang melihat kita di sini."