Pendekar Empat Mata

Pendekar Empat Mata
#7. Kamar Elvi


__ADS_3

Sampai di depan pintu kastil. Pintu besar terbuat dari besi, berwarna hitam. Pola-pola unik menghiasinya. Elvi melepas pegangan tangannya membiarkan aku berdiri sendiri. Maju ke depan pintu. Mengucapkan beberapa kata "Ojo, Di, Ra, U." Setelah itu menekan krista hijau di bagian tengah pintu yang berbentuk setengah bola.


Beberapa saat kristal hijau tersebut menyala memancarkan cahaya hijau terang dibarengi dengan terbukanya pintu. Ruangan luas dengan lantai berdebu. Terdapat beberapa kursi dan meja yang tertata rapi, banyak sekali sovenir dan hiasan mewah.


Contoh seperti lampu gantung di tengah ruangan yang cukup besar dan terlihat mahal. Di dinding terdapat beberapa lukisan pemandangan dan berbagai macam senjata dipajang. mirip seperti lobby hotel tapi sedikit tak terawat.


Ruangan  ditopang oleh enam tiang berukuran sedang berjejer membetuk segi enam dan satu tiang raksasa di tengahnya. Namun, meskipun tampak megah nan mewah tetap saja debu dan kotoran di mana-mana membiaskan keindahan yang seharusnya tampak.


Aku menoleh ke arah Elvi dia berpaling. Seakan mengerti apa yang akan aku ucapakan dia berkata.


"Mau bagaimana lagi, Ruangan sebesar ini mana sanggup aku membersihkannya." Dengan canggung dan malu-malu menjawab. Menyadari aku membuat Elvi semakin tak nyaman aku mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut.


Kami berjalan terus ke tengah ruangan. Sampai di depan tiang raksasa. Elvi mengulurkan satu tangannya seketika dari permukaan tiang terbuka sebuah pintu seperti pintu lift.


Sedikit terkejut, kemudian bersikap biasa. Elvi masuk ke dalam tiang tanpa menghiraukan aku. Keanehan Elvi semakin nampak karena biasanya di situasi seperti barusan dia menertawakan sikapku. Namun tidak kali ini.


Aku semakin was-was. Perasaan aneh tidak menentu.


"Masuklah." Suara lirih dengan nada datar menyadarkan lamunanku. Elvi menatapku dari dalam tiang. Segera aku masuk tanpa berkata apa-apa. Berdiri di samping Elvi.


Pintu di depan kami menutup. 'Whut' hampir saja aku terjatuh karena gerakan naik yang tiba-tiba dari lift di dalam tiang ini. Dalam beberapa detik lift berhenti, pintu terbuka Elvi berjalan keluar diikuti olehku.


Berdiri di persimpangan lorong panjang ada sekitar empat lorong ke depan dan satu lorong yang menghubungkan semua lorong, kami berjalan terus ke depan hingga sampai di ruangan tengah. Sebuah pintu kayu berwana putih. Elvi membuka pintu dan terlihat ruangan lebar seperti kamar hotel bintang lima. Sebuah kasur king size, sofa dan meja ditata rapi di depan pintu.


Jendala besar menghadap ke arah luar dengan korden biru bermotif bunga-bunga. Namun, sayangnya saat ini malam jadi tidak terlihat apa-apa diluar sana.


Karpet merah dengan motif bunga aneka warna melapisi seluruh bagian lantai. Kami memasuki ruangan itu. Elvi mengatakan aku boleh menggunakan tempat tidur dan dia akan tidur di sofa.


Sebagai laki-laki dan seorang tamu aku tentu menolaknya, dia memaksa.


Semakin aku aku menolak dia juga semakin bersikeras. Aku merasa tidak enak dengannya. Jadi aku mengalah dalam hal ini. Segera membaringkan tubuh ke tempat tidur.


Sangat empuk dan lembut sampai-sampai membuatku tidak nyaman. Elvi tidur di sofa panjang di depan pintu. Melihat hal itu aku merasa tidak enak hati tapi aku juga tidak berani berterus terang karena takut membuatnya tidak nyaman.


"Arg... Aku tidak bisa tidur." Kasur yang sangat empuk dan lembut ini membuat badanku terasa pegal-pegal. Tidak terbiasa tidur di kasur mewah seperti ini. Aku menoleh ke arah Elvi yang tertidur. Memastikan dia benar-benar tidur.

__ADS_1


Kemudian aku turun dari tempat tidur mengambil bantal dan tidur di lantai. "Ahh...Ini jauh terasa jauh lebih baik." Merenggangkan tubuh bersiap untuk tidur.


***


Esok harinya aku terbangun. Elvi sudah lebih dulu bangun dan duduk di sofa. Perlahan membuka mata. melihat Elvi sudah bangun segera aku bangkit. Melihat aku yang langsung berdiri setelah bangun membuat Elvi tersenyum menahan tawa.


"Selamat pagi.'" Dia menyapa. Tersenyum lembut.


"S-selamat pagi juga." Aku balas menyapa. Dari ekspresinya aku melihat sepertinya suasana hatinya sekarang jauh lebih baik dari semalam.


"Makanlah, kau perlu makanan untuk mengisi perutmu." Menyodorkan sepiring daging panggang yang tak tahu didapat dari mana.


Aku berjalan pelan sambil mengumpulkan energi kantukku masih belum hilang sepenuhnya. Duduk berlawan dengan Elvi. Menyantap hidangan.


"Enak sekali ini, daging apa ini? Kau sendiri yang memasaknya?" Memuji dan bertanya bersamaan. Menatap Elvi menanti jawaban sambil terus melahap daging panggang ini.


"Ya aku yang memasaknya, enak bukan?" Menjawab dan bertanya bersamaan. Aku mengangguk-angguk cepat memberi jempol karena mulutku penuh dengan makanan.


"Jangan buru-buru, minum dulu.'" Menyodorkan cawan berisi air. Benar saja tak berselang lama aku tersedak. Meraih minuman yang diberikan padaku. Minum.


"Sudah kubilang jangan buru-buru kalau makan. Pelan-pelan saja, nikmatilah." Elvi menasehatiku sambil memperagakan cara makan yang lemah lembut.


"Baiklah, terima kasih atas sarannya." Aku menjawab kemudian melanjutkan makan.


Habis, kenyang sekali. "Terima kasih atas hidangannya" Ucapku pada Elvi.


"Sama-sama, omong-omong di makananmu aku taruh sedikit racun lho." Ucapnya padaku sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Puft.." Hampir saja aku tersedak saat minum.


"Kau bercanda kan?!" Sontak aku bertanya dengan suara keras.


"Ya, aku bercanda." Dengan nada datar, dan wajah iseng nya dia menjawab.


"Huuhh... Kau membuatku mengagetkanku saja." Aku menghela nafas sambil mengelus-elus dada.

__ADS_1


"Tapi daging yang kau makan adalah daging dari perwira yang kau bunuh tadi malam." Ucapnya sambil memegang pipinya.


"Hah... Apa maksudmu?!" Aku bertanya, mengklarifikasi. Jika benar maka itu aku berarti telah menjadi kanibal. Rasa mual di perutku. Membayangkan aku makan daging manusia.


"Hahaha... kau pasti bercanda lagi kan?" Aku kembali bertanya.


Elvi hanya tersenyum seakan menyakinkan bahwa yang dia katakan itu yang sebenarnya. Rasa mual di perutku semakin menjadi. Hampir tak tahan aku ingin muntah.


"Yap, benar sekali aku hanya bercanda." Ucap Elvi sambil menyatukan kedua tangannya di saat aku hampir muntah.


"Kau mau nambah lagi?" Elvi menawari. Aku menolak tawarannya. Sekarang nafsu makanku telah hilang. Rasa mual di perutku masih tersisa.


Elvi tersenyum menahan tawa. "Sungguh kau ini benar-benar lucu ya." Memangku wajahnya dengan kedua tangan dan terseyum melihatku.


Sementara aku duduk lemas di sofa "Candaanmu itu tidak lucu sama sekali." Protesku.


"Jadi, sebenarnya, tempat apa ini?" Aku memandang Elvi bertanya.


"Ini kamarku." Dia menjawab.


"Oh, lalu benda terbang ini sebenarnya apa?" Aku kembali bertanya.


"Emm... Entahlah aku juga tidak tahu." Elvi menjawab. menaikkan kedua pundaknya.


"Bagaimana mungkin kau tidak tahu padahal kau tinggal di sini."


"Yah, bagaimana aku menjelaskannya ya. Intinya aku tidak sengaja menemukan benda ini karena menarik dan cukup layak huni jadi aku tempati deh. hehehe." Elvi menjawab dengan cepat.


"Hmm... Tapi ada yang membuatku penasaran." Ucapku.


"Apa itu?"


"Bagaimana benda sebesar ini bisa melayang dengan stabil, ditambah lagi aku tidak merasakan guncangan apapun. Kalau bisa aku ingin tahu cara kerjanya."


"Kalau itu kurasa aku tahu cara menjawabnya. Ikut aku!" Elvi berdiri dan berjalan ke luar ruangan. Diikuti olehku.

__ADS_1


__ADS_2