Pendekar Empat Mata

Pendekar Empat Mata
#10. Wujud Kedua Barsha


__ADS_3

Sedikit tercengang mendengar fakta pulau ini adalah pusaka.


"O. Begitu ya." ucapku


"Ya, begitulah." Ucap Barsha sambil memandang ke arahku.


"Yah, Aku tidak terkejut lagi sih, setelah apa yang terjadi."


"Omong-omong kau belum memberi tahu namamu. Jadi siapa namamu?" Barsha bertanya.


"Oh, benar juga aku belum sempat memperkenalkan diri namaku Yosi dan gadis yang terbaring di sana adalah Elvi ." Sambil menunjuk ke arah kamar Elvi.


"Hmm. Yosi kah, nama yang unik." Ucapnya menyentuh bibir.


"Begini saja bagaimana jika kita menjalin kontrak, kau sebagai tuannya." Ucap Barsha.


"Eh, kontrak. Maksudmu perjanjian?"


"Ya, hanya saja kontrak dengan roh seperti kami memakai sumpah yang saling mengikat." Jelas Barsha


"Hmm, kenapa tiba-tiba kau ingin kontrak denganku?" Tanyaku curiga.


"I-itu karena perangkat dari Pusaka Lyonesse tidak bisa berfungsi secara maksimal jika tidak ada pemiliknya." Jelas Barsha.


"Dan sudah lama aku kesepian menunggu di bola kristal itu, jadi aku ingin bersamamu. Aku ingin menemani langkahmu. Setidaknya aku bisa membantumu."Mohon Barsha.


"Baiklah, tapi sebelum itu bisakah kau berikan rincian kontrak padaku, aku tidak bisa memutuskan jika tidak tahu apa yang akan kuputuskan." Ucapku.


"Baik." Ucap Barsha sumringah senang. Melambaikan tangan sebuah tablet virtual sepertinya terbuat dari sihir muncul.


Barsha memberikannya padaku. Aku membaca dengan seksama.


...Kontrak Kepemilikan...



Pihak yang mengajukan kontrak harus memberi mahar sebagai bukti perjanjian.


Kontrak di sepakati oleh kedua belah pihak tanpa adanya paksaan.


Pihak Roh berhak meminta dan mengambil mana pemilik tanpa atau dengan izin pemilik.


Pihak Roh wajib mematuhi pemilik kecuali jika perintah yang diberikan membahayakan Roh maupun pemilik dan tidak diinginkan oleh Roh. Jika dari dua situasi di atas satu tidak terpenuhi maka pengecualian tidak berlaku.


Pemilik wajib merawat Roh dengan penuh cinta dan kasih.


Memiliki Roh berarti memiliki semua yang dimiliki Roh.


Kontrak dapat dibatalkan dengan kesepakatan bersama.



...****************...


Aku membacanya, sedikit terkejut. Tujuh statement ini beberapa tampak seperti perjanjian budak tapi juga tampak seperti perjanjian pernikahan.


Barsha menatap meminta menunggu persetujuan.

__ADS_1


"Baiklah, lakukan sesukamu." Mengembalikan papan ke Barsha. Memberi persetujuan.


Menerima papan yang kuberikan dan membuang di udara seketika papan menghilang.


"Ulurkan tanganmu." Ucap Barsha.


Aku mengulurkan tangan di raih oleh Barsha. Lingkaran sihir muncul dibawah kami.


"Tenang saja ini hanya proses kontrak."


Lingkaran sihir itu bercahaya darinya keluar beberapa rantai, satu mengikat diriku satu lagi mengikat Barsha.


Walau terlihat begitu jelas rantai yang seakan mengikat kami berdua tapi aku tidak merasakan apa-apa.


Lingkaran sihir perlahan memudar diikuti dengan rantai yang juga memudar.


"Sudah selesai." Barsha melepas tanganku.


"Sebagai pemenuhan pasal pertama dalam kontrak." Barsha menjulurkan tangan. Beberapa saat kemudian cahaya terang di tangan Barsha.


Meredup dan nampak sebilah pedang. Gagang berukiran tanaman rambat. Bilah pedang hijau gelap. Mata pedang berwarna hijau terang.


"Terimalah. Wujud keduaku. Pedang Lions" Jelas Barsha. Aku menerimanya. Kemudia Barsha menjentikkan jari para golem humanoid berdatangan. Hilir sana kemari. Membersihkan lorong, masuk ke kamar dan sebagainya.


"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba banyak golem berdatangan." Tanyaku.


"Ini merupakan sistem perwatan dari Lyonesse. Ada tiga sistem dalam Lyonesse. Pertama sistem pertahanan dan penyerangan, kedua sistem perawatan dan kebersihan, tiga sistem pengembangan dan pembangunan. Mereka baru berfungsi saat kita telah menjalin kontrak" Jelas Barsha.


Sambil menenteng pedang Lion pemberian Barsha aku mengamati sekitar. Kemudian aku putuskan untuk kembali ke ruangan Elvi diikuti oleh Barsha.


Elvi tampak terkejut. Melihat banyak golem humanoid yang membersihkan kamarnya.


Elvi mengehentikan gerakannya. Kemudian kembali ke tempat tidur. Duduk.


Memasukkan kembali pedang ke dimensi sakunya. "Tolong jelaskan apa yang sedang terjadi." Kata Elvi sambil memegangi keningnya.


"Ya, Bagaimana aku menjelaskan." Aku menggaruk-garuk kepala.


"Yosi telah menjalin kontrak denganku yang mana berarti seluruh pulau ini miliknya sekarang." Ucap Barsha menjelaskan.


"Itu tidak menjawab pertanyaanku." Degus Elvi kesal.


"Begini, pulau terbang ini Lyonesse, hanya bisa berfungsi sepenuhnya jika sudah dimiliki. Jadi aku menjalin kontrak dengan Barsha sebagai pemilik Lyonesse." Jelasku.


"O, jadi kau telah menjalin kontrak dengan Lyonesse." Ucap Elvi.


"Dengan Barsha." Aku membenarkan.


"Itu sama saja." Tegas Elvi.


"Kau tidak apa-apa Elvi." Aku bertanya. Wajahnya nampak kesal dan marah.


"Tidak apa-apa, hanya saja bisa tinggalkan aku sendiri untuk sekarang." Kata Elvi lirih.


"Kalian juga." Ucapnya ke arah para golem humanoid.


Kami meninggalkan ruangan. Melangkah melalui lorong.

__ADS_1


"Kenapa dia?" Barsha bertanya.


"Entahlah, untuk sementara biarkan dia sendiri." Meski aku mengatakan itu tapi aku juga tidak tahu harus kemana.


"Daripada hanya berdiri di lorong mengapa kita tidak jalan melihat-melihat sekitar. Sekalian memperkenalkan pulau ini padamu." ucap Barsha menyarankan.


"Ide bagus." Aku menyetujui.


Kami berjalan di lorong. Melihat pintu-pintu di sekitar lorong.


"Banyak sekali ruangan di sini." Ucapku.


"Itu hanya kamar tamu. Sama seperti kamar Elvi." Jelas Barsha.


"Lebih tepatnya lantai ini adalah ruangan para tamu."


"Hmm, Begitu ya." Aku memandangi sekitar.


Kami masuk ke lift. Turun ke bawah. Pintu terbuka. Ruangan yang sama saat aku pertama kali datang ke sini.


Keluar sambil menenteng pedang Lion. Tanganku sudah pegal, menenteng pedang ke sana kemari.


"Bisakah kau simpan pedangmu. Melihatmu terus menentengnya seakan hendak menebasku." Ucap Barsha.


"Haruskah kubuang saja pedang ini?!" Dengusku kesal. Dari tadi aku juga bingung harus kemana ku taruh benda ini. Pedang tanpa sarung ini.


"Kenapa kau tiba-tiba marah? Kau tinggal melepaskan wujudnya." Barsha melangkah keluar.


"Mudah saja mengatakannya tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Setidaknya kau harusnya mengajariku caranya." Protes ku.


"Eh, kau tidak tahu?!" Tatap Barsha heran.


"Tidak." Jawabku singkat.


"Walau dengan mana sebanyak itu."


"Apa maksudmu, aku tidak paham."


"Eh, sepertinya kau tidak menyadarinya." Ucap Barsha


"Baiklah akan aku ajari. Pertama, coba kau tutup matamu."


"Kemudian, angkat pedangmu dan rasakan."


"Apakah sudah terasa." Aku mengganguk. Pedang kurasakan seperti bagian dari tubuhku.


"Kalau begitu, coba kau rasakan wujud pedangnya." Aku mulai merasakan, seolah melihat setiap detil pedang ini.


"Kemudian rasakan sensasi dari wujud itu memudar dan masuk ke dalam tubuhmu." Aku melakukan apa yang dikatakan oleh Barsha.


Pedang mulai memudar menjadi cahaya dan mengalir ke dalam tangan.


"Wow, keren sekali. Terus bagaimana cara memunculkan nya?" Aku bertanya.


"Tinggal lakukan sebaliknya." Jawab Barsha.


"Baiklah aku coba." Aku membayangkan aliran energi dari tangan menjadi pedang.

__ADS_1


"Wow! Keren sekali!" Seruku kegirangan. Lalu melepas wujudnya lagi dan memunculkan.


Beberapa kali aku ulang-ulang hal itu berkali-kali. Kami berjalan ke ruangan luas yang sedang di bersihkan oleh para golem.


__ADS_2