Pendekar Empat Mata

Pendekar Empat Mata
#2. Apakah Ini Akhirnya?


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu. Mereka sama sekali tidak memberiku makanan. Hanya air dalam mangkok. Tubuhku sekarang benar-benar lemas.


Perih perut merintih. "Dap, dap, dap." Langkah kaki yang familiar. Rombongan prajurit berseragram bejumlah lima orang.


Pintu sel dibuka. Dua orang mengangkat bahuku. Satu lainnya mengutak-utik rantai di kalung leher. Melepasnya. Memasangnya kembali ke rantai yang di pegangnya.


Dua orang lainnya bersiap waspada, sambil mengarahkan senapan laras panjang era perang dunia pertama.


Dengan begitu aku dikawal dan digiring keluar. Melewati lorong penjara. Ada banyak suara kiri dan kanan sepanjang melalui lorong. Aku tidak pedulli. Lemas dan lapar.


Sampai di ujung lorong. Nampak tangga menuju permukaan. Formasi Pengiringan. Aku dan satu Orang memegang rantaiku di tengah. Dua orang dibelakang. Dua orang di depan. Masing-masing membawa senapan laras panjang kecuali si pemegang rantai.


Semua senjata diarahkan padaku. Baik dari depan maupun belakang. Mereka berlebihan sekali. Memang apa yang bisa aku lakukan.


Aku tersenyum, menertawakan situasiku saat ini. Raut wajah mereka ketakutan. Dahi mereka berkeringat. Semakin waspada dan sedikit menjaga jarak.


Sampai diujung tangga. Keluar dari bangunan. Silau sekali. Sedikit sakit mataku. Sudah cukup lama aku tidak melihat dunia luar. Sepertinya masih pagi.


Mereka terus Menggiringku. Masuk kereta kuda yang cukup besar. Ditarik empat kuda. Duduk berjajar berhadapan. dua orang bersenjata di samping kiri-kananku. Di depanku si pemegang rantai dan dua orang lainnya. Aku duduk. menatap lantai kereta.


"Kemana kita sekarang?" Dengan suara lemah lesu. Aku bertanya.


Tidak ada jawaban. Aku menoleh ke kiri. Penjaga itu hanya menatap ke arah teman di depannya tanpa mengedipkan mata. Aku menoleh ke kanan reaksinya juga sama. Aku kembali menundukkan kepala.


"Huss.." Hembusan nafas lega dari mereka semua. Heran tapi aku juga tidak bisa bertindak apapun. Mungkin saja setelah ini aku bisa mendapat kejelasan.


Kurang lebih setengah hari perjalanan. Akhirnya kami sampai di tengah kota. Dilihat dari keberadaan istana megah di tengah kota. Kurasa ini ibukota. Aku digiring keluar. Ke plaza tengah kota. Tatapanku terus menunduk, jadi aku tidak tahu apa yang menanti diriku.

__ADS_1


Perlahan aku digiring melalui banyak orang berkumpul. Entah mengapa rasanya ramai sekali di sini. Apa situasi ibukota selalu begini? Terus berjalan. ke tengah plaza. Aku berhenti setelah melihat sebuah tangga. Melihat ke depan.


Sebuah panggung kayu yang cukup luas dengan sebuah Tiang Pancung di tengahnya. Seketika aku sadar apa yang akan terjadi.


"Aaa... Tidak..." Berteriak sekeras mungkin. Suara melengking. Semua yang hadir menutup telinga. Salah seorang penjaga spontan menembak salah satu kakiku.


Sakit sekali, segera berbalik hendak lari. Dalam hati ketakutan. Sangat takut sampai apapun bisa aku lakukan. "Creng" Suara rantai yang mengikatku. Ditarik oleh sang pemegang rantai. Mungkin karena rasa takut yang luar biasa aku menariknya. meskipun leher rasa nya tercekik.


Orang-orang di sekitar segara menjauh. Ricuh. Namun, tetap di sana seakan mereka tidak mau melewatkan kesempatan melihat eksekusiku. Meski hanya satu kaki aku masih bisa berdiri. Melawan. Seperti kambing kurban yang ingin lari dari penyembelihan.


Dua orang penjaga mendekat. Segera aku ayunkan balok besi di tanganku. Membuat mereka menjaga jarak denganku. Di tengah perlawananku.


"Dor" Dari atas panggung seorang perwira menembak kakiku. "Bruk" Jatuh ke belakang akibat tarikan rantai dari para penjaga.


"Arg... Tidak!!! Apa yang kalian lakukan padaku?!" Aku berteriak keras. Para penjaga menyeretku. Ke tiang pancung. Aku sudah kelelahan. Tangan dan kepalaku diletakan di tiang pancung. Dikunci. Energiku habis. Nafas berat. Darah di kedua kakiku terus merembes membasahi celana.


Pria yang tadi menembakku berdiri satu meter di depanku. Di hadapan orang-orang yang berkerumun. Suasana ramai ricuh. Mengambil posisi pidato.


"Di hadapan kalian sekarang ini adalah Monster Gunung Hijau. Sosok yang menyerang dan menghancurkan desa, kota, hingga tembok perbatasan hanya untuk bersenang-senang." Sambil menunjuk ke arahku.


"Hancurnya tembok perbatasan menyebabkan serangan monster tak dapat diatasi. Sehingga menimbulkan insiden penyerangan Monter dua tahun lalu" Sambil mengangkat tangannya ke atas, Mengepal erat.


Raut wajah orang-orang berubah marah. Ada yang terisak sedih, tatapan tajam ke arahku yang sedang terpasung di tiang pemancung.


"Apa-apaan itu?! Aku tidak tahu menahu soal penyerangan atau apapun yang kau katakan!!!" Aku berteriak protes.


"Duk, Plak, Duk." Beberapa pukulan algojo ke kepalaku. Sakit. Pusing. Cukup membuatku diam.

__ADS_1


"Seperti yang kalian lihat sendiri. Dia bahkan masih berani menyangkalnya. Sama sekali tidak merasa bersalah." Sambil menyeka air mata.


"Akan kuberitahu pada kalian semua. Dibutuhkan lebih dari tiga batalion untuk menangkapnya. Dan sayangnya tidak ada dari mereka yang selamat." Sambil menundukkan wajah, menampilkan wajah sedih.


"Mari sejenak kita doakan bagi mereka yang telah gugur di medan perang" Kembali menundukan kepala. Diikuti kerumunan orang-orang yang mendengarkannya.


"Baiklah tanpa berlama-lama lagi mari kita mulai ekse..." Duar. Tiang pancung meledak. menghacukan panggung kayu. Melempar algojo dan semua orang yang berdiri di atasnya. Semua orang berlarian.


Para penjaga yang sempat terlempar segera berdiri melingkari asap hasil ledakan. Sang perwira segera memerintahkan untuk memeriksa ke dalam asap. Mereka Mendekat perlahan ke kepulan asap. memperkecil lingkaran.


Asap mulai memudar. Mereka mendekat perlahan. Siluet bayangan tegak berdiri di tengah. Mereka semakin waspada. Mengangkat dan mengarahkan senjata ke arah siluet hitam.


Angin berhembus perlahan menghapus asap. Jarak mereka tinggal satu meter saat asap semakin tipis dan pandangan semakin jelas. Setelah pandangan jelas. Nampak jelas yang berdiri di tengah-tengah mereka adalah pisau pancung yang tertancap vertikal.


Menyadari aku tidak ada di sana mereka segera berbalik. Menoleh kiri-kanan. Tidak ada jejak. Hilang. Mereka menurunkan senjata.


Sang perwira tampak naik pitam. "Segera, laporkan ke pusat! SEKARANG!!!" Berteriak pada para bawahannya.


Kemudian mereka berlarian meninggalkan lokasi. Sang perwira menaiki kuda hitam. Pergi meninggalkan lokasi.


Tanpa mereka sadari. Disamping pisau pancung yang tertangkap. Aku tengkurap. Mulutku dibungkam oleh tangan seorang wanita yang terasa dingin. Mereka pergi begitu saja meninggalkan kami?


Dia membopong diriku. Memang benar tubuhku kurus dan lebih ringan dari rata-rata berat badan normal. Namun, tetap saja itu berat. Dan dia begitu mudahnya membopongku seperti bayi.


Anehnya tidak ada seorang pun yang menyadari kami. Berjalan menuju lorong kota. Jujur saja ini sangat memalukan. Seorang pria tulen seperti dibopong oleh wanita cantik sepertinya. Terlebih lagi sering kali tubuhku menyentuh dadanya.


Rasanya ingin mati saja saking malunya tapi dia tidak mepedulikannya. Terus membopongku menyusuri lorong. Aku hendak bertanya.

__ADS_1


"Tolong jangan tanyakan apapun sekarang. Kita hampir sampai." Belum keluar suaraku. Dia melarangku bertanya. Jadi aku putuskan untuk tidak bertanya dulu. Pasrah saja berharap bukan hal buruk yang akan terjadi.


Tubuhku lemas. Pusing. Pandanganku mulai kabur. Perlahan semuanya menjadi gelap. Terakhir kali kulihat wajahnya yang menatap lurus ke depan. "Cantik sekali" Sambil tersenyum menutup mata. Mati dibopongan wanita cantik kurasa tidak buruk juga.


__ADS_2