PENGACARA YANI

PENGACARA YANI
10 . Mengerjai Mira


__ADS_3

pagi pun Teleh tiba, membuat Yani terbangun dari mimpi indahnya.


" neng, mbok mau ke pasar, neng di rumah aja ya biar gak kecapean "


" loh kok mbok ke pasar ?"


" sekarang kan udah hari Minggu neng "


" oh iya ya Yani lupa " kata Yani memukul pelan jidatnya


" neng mau tinggal atau mau ikut ? "


" gak papa mbok kalau Yani ikut "


" emang nya neng mau ikut "


" mau " kata yani dengan suara manja, membuat mbok Elis tersenyum.


" yaudah neng mandi dulu biar kita kepasar bersama " kata mbok Elis, setelah itu dengan cepat Yani bangkit dari ranjang nya berlari menuju kamar mandi untuk bersiap.


lama mbok Elis dan Yani menghabis kan waktu di pasar hingga siang hari mereka baru pulang ke rumah, membawa plastik berisikan berbagai macam bahan kebutuhan di dapur .


" yaampun mbok... kok mbok gak bilang sih kalau dipasar itu panas " rengek Yani .


" maaf neng " kata mbok sambil tersenyum .


" tapi seru juga sih mbok, soalnya Yani gak pernah belanja sama mbok nur di rumah, mama marah kalau Yani keluar belanja sama mbok nur " kata Yani merucut kan bibir manisnya, tiba tiba tanpa Yani sadari mata mbok Elis melebar sekejap saat mengetahui ada gama berdiri di belakang Yani , dan mendengar semua perkataan yang Yani keluarkan dengan santainya, melihat reaksi mbok Elis, dengan cepat gama menaruh jari telunjuknya kearah bibirnya mengisyaratkan agar mbok Elis diam, tidak memberi tahukan pada Yani bahwa dirinya ada di belakang Yani saat ini .


" tapi sekarang Yani gak mau lagi ke pasar, panas, yang ada nanti kulit Yani, terbakar mbok " kata Yani kesal

__ADS_1


" yaudah Minggu depan neng gak usah ikut lagi " kata mbok Elis menatap bahan bahan yang mereka beli dan sesekali memegangnya satu persatu.


" mbok gak merasa kepanasan gitu kalau pergi ke pasar ?" tanya Yani penasaran , gama yang mendengar itu merasa Yani adalah perempuan paling bodoh di dunia, sudah tau mbok itu asisten rumah tangga, masih aja nanyak .


" mbok kan dah terbiasa neng, itu kan pekerjaan mbok setiap Minggu "


" iya juga sih " kata Yani berbalik, dengan terkejutnya Yani melebar kan kedua matanya karena ia melihat gama di belakangan nya saat ini, ' dia ?, apakah dia mendengar kalau aku menamai nama asli ku ' batin yani masih menatap kaget melihat gama .


" mbok, buatin saya kopi, tolong antar keatas ya mbok " kata gama setelah itu pergi tanpa menoleh kearah Yani .


" mbok apa dia udah lama berdiri di belakang Yani ?"


" enggak kok neng, den gama baru aja datang "


" mbok gak bohong kan mbok " kata Yani mencipitkan kedua matanya .


" mbok gak bohong neng " kata mbok Elis santai walaupun sebenarnya ia berbohong, Yani tau mbok Elis tak pernah berbohong dengan nya, dan percaya begitu saja dengan mbok Elis.


" baik mbok " kata Yani mengambil secangkir kopi itu lalu pergi meninggalkan mbok Elis di dapur dan pergi menuju kamar gama .


sesampainya di kamar gama Yani langsung mengetuk pintu kamar itu,


" masuk " kata gama dari dalam, dengan cepat tangan Yani membuka pintu kamar gama, memperlihat kan gama yang sedang fokus pada laptopnya saat ini.


" ini kopi nya tuan " kata Yani sambil meletakkan kopi yang ia pegang keatas meja di samping ranjang milik gama, mendengar suara Yani dengan cepat gama menarik tangan Yani yang hampir pergi dari ranjang miliknya, membuat Yani terjatuh di pangkuannya .


" tu,tuan " kata Yani panik melihat gama yang sedang menatap intens kearah nya.


" aku merindukan mu Mira " kata gama berbohong, ia ingin mengerjai Yani karna sudah membohongi dirinya.

__ADS_1


" tuan, tolong lepaskan " kata Yani berusaha mendorong dada gama yang selalu ingin mendekati dirinya, tapi apalah daya nya kekuatan gama lebih kuat daripada kekuatan yang ia miliki, kini gama sudah berada di dekat dengan telinga nya, gama ingin membisikkan sesuatu pada Yani, tapi saat melihat leher mulus Yani semua keinginan untuk mengerjai Yani hilang hanya karena melihat leher mulus Yani gama adalah lelaki yang normal, mana mungkin ia tidak tergoda, berusaha menahannya pun, pria itu malah memilih untuk tidak menahannya , gama langsung saja mengevupnya sekilas tanpa meminta ijin pada Yani, setelah itu ia kembali menatap Yani yang kini wajah nya sudah sangat merah seperti kepiting rebus, gama tersenyum kecil melihatnya .


" tuan " kata Yani sambil mengigit bibir bawahnya, membuat gama tak tahan melihat nya.


" jangan gigit bibir mu Mira, kalau tidak mau aku yang menggigitnya " mendengar itu dengan cepat Mira melepas gigitan nya pada bibirnya . " aku mencintai mu Mira " kata gama lagi. Yani terkejut mendengar nya lalu dengan cepat ia menatap mata gama yang juga menatapnya sedari tadi .


" aku mencintaimu " kata gama lagi, kalimat itu membuat Yani semakin malu, dengan cepat ia mendorong gama dengan kuat agar melepaskan pelukannya pada tubuh mungilnya, dan denhan kemampuannya ia lari secepat mungkin meninggalkan gama sendiri di dalam kamarnya, gama terkekeh melihat tingkah lucu Yani.


" aku benar benar mencintai mu Yani " kata nya pelan lalu tersenyum , mengingat kejadian tadi.


Yani yang kini sudah berada di dalam kamar nya melompat kegirangan mengingat semua kejadian di kamar gama.


" jantung ku " kata Yani sambil memegang dadanya yang masih berdetak begitu kencang sambil tersenyum " aku juga mencintaimu gama " kata Yani kembali melompat lompat didalam kamarnya. " aku mencintai mu gama, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu " kata Yani lalu duduk di pinggir ranjang nya karna merasa lelah saat dirinya melompat kegirangan tadi . "tapi tunggu, tadikan gama bilang cintanya sama Mira bukan sama Yani , jadi gama nya suka sama Mira dong bukan Sama Yani " gumam Yani dengan raut wajah sedih. tiba tiba ponsel Yani berbunyi di balik saku celananya, dengan cepat Yani mengambil ponselnya dan melihat nama yang ada di dalam ponsel itu ' Aldo ' batin Yani lalu mengangkat telpon itu .


" halo do ada apa ?"


" Yan, Rian meninggal "


" apa " kata Yani terkejut sambil berdiri dari ranjang nya .


" dia meninggal yan, dan mayat nya tadi di ditemukan di dalam hotel miliknya, tapi "


" tapi apa do ?!"


" polisi gak mau untuk menyelidiki kasus ini Yan, karna polisi bilang ini bukan lah pembunuhan tapi kecelakaan" kata Aldo, Yani yakin saat ini Aldo sedih, karna Aldo tak bisa melihat orang tidak mendapatkan keadilan walaupun dia sudah tiada sekalipun .


" kamu tenang do biar kita yang akan menyelidiki kasus ini dan setelah itu membawanya ke jalur hukum" kata Yani tersenyum miring, karna ia yakin kematian Rian saat ini ada sangkut pautnya dengan polisi. " sebaiknya kamu kasih tau dewi, biar dia membawa rekan nya untuk membantu kita menyelidiki kematian Rian, dan usahakan jenazah Rian kamu foto do, sebelum dikubur, untuk bahan penyelidikan nanti " kata Yani sebelum mematikan sambungan ponselnya.


saat ini yang ada di fikiran Yani adalah, siapa yang tega membunuh pengacara Rian yang baik hati rela mengorbankan semuanya demi keadilan dah kejujuran, Yani tau betul saat itu Rian berusaha keras membantu pak panto mati Matian saat sidang beberapa hari yang lalu, Rian juga di kenal dengan orang yang ramah, tak pernah kasar pada wanita dan sama sekali tidak pernah memiliki masalah pada siapapun 'siapa yang tega membunuh mu Rian ' batin Yani dengan raut wajah sangat sedih.

__ADS_1


setelah mendengar kabar kematian Rian Yani berusaha meminta waktu pada Gandri untuk mengijinkannya kembali bekerja agar bisa menyelidiki kasus Rian, Gandri tau itu adalah pekerjaan Yani, tanpa basa basi Gandri langsung menyetujui keinginan Yani untuk pergi menyelidiki kasus itu .


" aku pasti akan mendapatkannya Rian, aku yakin pasti dapat " kata Yani sambil tersenyum miring.


__ADS_2