
***
Keesokan paginya,
Pagi telah menyingsing, Alina yang biasanya akan terbangun segar kali ini dia bangun dengan rasa ngilu di sekujur tubuhnya, pinggangnya pun terasa sangat pegal, dia membuka matanya dan melihat Barata memeluknya sembari tidur dengan nyaman.
“Aku heran apakah dia ini monster? Kenapa dia kuat sekali, banyak mau nya lagi, jika aku punya kesempatan atau sihir aku sudah mengutuk mu dan menjadikan mu ….” Belum sempat hinaan demi hinaan dilontarkan oleh Alina, Barata tiba-tiba membuka matanya.
Alina yang terkejut langsung menutup matanya, dan sesaat kemudian meregangkan tubuhnya, “Aduh, sepertinya aku baru bermimpi, kau sudah bangun?” dengan senyuman gugup dan penuh kepalsuan penyelamatan diri, Alina tersenyum dihadapan Barata.
“Sayang, apakah kau selalu mengatai aku seperti itu? mulutmu pedas sekali, jika orang lain mungkin aku sudah memotong lidahnya, kalau kau, menurutmu hukuman apa yang cocok untuk mulut pedas mu? Hmm?” ucapan pagi hari yang sungguh mengerikan.
Sungguh, Barata ini orangnya memang mengerikan sekali.
__ADS_1
“Me … metong lidah? APA? aku tidak mauu, tolooong! Siapapun tolong, bagaimana ini?” Alina langsung panik, dia menelan salivanya dan menjadi tegang, matanya terbelalak dan dia ingin sekali melarikan diri.
Ya, siapa juga yang mau dipotong lidahnya oleh suami sendiri.
“Tidak akan, aku tidak mau lidahku di potong,” gumam Alina menguatkan tekadnya dan mengumpulkan keberaniannya.
“Aku bersalah, aku tidak sengaja, tadi aku hanya mengigau, sebenarnya aku tidak pernah mengatai mu, aku juga ….” Alina mencoba membujuk dan menunjukkan wajah kasihannya.
Ia sedikit mengintip kearah Barata, tetapi Barata semakin mendekat hal itu membuat Alina panik dan semakin menjauh.
“Hah? kenapa jadi ciuman? Bukankah dia akan memotong lidahku? Katanya dia mau menghukum aku?” ditengah ciuman panas yang tidak bisa ia tolak Alina dibuat kebingungan.
“Katamu kau mau memotong lidahku, kenapa kau malah mencium aku? Tidak adil!” ketus Alina mengernyit, dia seperti sedang dikerjai lagi dan lagi oleh suaminya.
__ADS_1
“Siapa bilang aku akan memotong lidah mu, itu kan orang lain, sedangkan kau adalah istriku, kau berbeda, jadi apakah kita bisa melanjutkannya,” seru Barata menarik selimut yang menutupi tubuh polos Alina.
Mata Barata sudah menjelajah di tubuh Alina membuat Alina sadar dan merasa sangat malu.
“Tidak mau! Dasar kau mesum!” teriak Alina dengan wajahnya yang merah, dia menarik selimut dan kabur ke kamar mandi, dia ingin segera melarikan diri dan mandi agar suaminya ini tidak membuatnya lelah lagi.
“Wah, dia itu memang monster yang memiliki otak kotor, jangan mau tercemar olehnya Alina, kau harus bisa menjauhi nya!” gumam Alina akan berjuang mempertahankan pikiran jernihnya karena sungguh setiap ucapan Barata sangat nakal dan membuat Alina sedikit berpikiran aneh seperti suaminya itu.
“Hehe, dia lucu sekali, apakah itu artinya dia mengajak kami mandi bersama? Ho ho sangat menarik,” seru Barata yang juga hanya mengenakan celana bawahan saja tanpa baju langsung mengejar Alina ke kamar mandi.
Lalu terjadi lagi lah sesuatu yang melelahkan bagi Alina namun sangat menyenangkan bagi Barata.
Setelah beberapa ronde permainan, akhirnya mereka mandi dan turun kebawah untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Alina memakan makanan dalam jumlah yang sangat banyak, dia kelaparan dan merasa sangat lemas, disaat ia makan dia melihat Barata dengan tatapan menyeramkan.
“SI sialan itu, teganya dia menghabisi aku di kamar mandi, dia bahkan tidak melepaskan aku sedikitpun, jika aku tidak makan banyak mungkin aku akan mati,” geram Alina mengunyah makanan dengan begitu bersemangat dan antusias. Dia sangat lelah juga kelaparan karena begitu buaslah suaminya terhadapnya.